TIGA BELAS

1557 Words
CANDY   Hujan deras mengguyur Lembang. Kutatap setiap tetes air hujan yang turun dengan lembut di kaca jendelaku. Aku duduk bersendang dagu di kusennya. Pikiranku carut-marut. Setiap saat aku selalu termenung. Antara merenungi hidup, Mama, Farah, Dirga, segala hal yang membuat perasaanku halai balai. Aku kabur dari rumah menuju rumah Mama sekedar menenangkan pikiranku setelah kepergian Farah. Bahkan aku bolos sekolah untuk hari ini. Belum ada yang bisa menjawab pertanyaan waktu itu. Andai saja aku tahu apa penyebab pasti kematian Farah. Aku masih belum puas dengan pernyataan yang diberikan ibu tiri Farah. Entahlah, kurasa Farah meninggal bukan karena komplikasi. Sudah berapa lama aku duduk berdiam diri memandangi air hujan dari balik kaca jendelaku? Berkali-kali ponselku bunyi tapi aku malas beranjak dari tempatku seakan-akan kakiku dirantai kuat sehingga membuatku malas untuk bergerak. Namun ponsel di seberang sana masih berdering mengganggu. Antara perasaan malas dan deringan itu bertarung memperebutkan perhatianku. Akhirnya aku memutuskan pada pilihan deringan ponsel di seberang sana. Pasti Nada, pikirku. Ternyata nama Dirga yang tertera di display. Aku canggung. Tapi aku ingin mendengar suara Dirga. Maka kuangkat saja telepon dari Dirga. “Candy?” Aku menghela napas pendek. “Hm?” “Aku nggak akan nanya kamu di mana. Toh kamu nggak bakal jawab. Tapi…” Dirga berhenti sebentar. Terdengar suara ramai di sana; sepertinya Dirga berada di suatu tempat yang ramai. “Jaga diri kamu baik-baik.” “Oke.” “Aku harap besok kamu sekolah lagi. Jangan terlarut dalam kesedihan atas meninggalnya Farah. Biarkan dia tenang di alamnya.” “Oke.” “Jangan tidur larut malam. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Bye, Dy.” Tuuuuuut… Kutarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya pelan. Aku membutuhkan orang. Aku membutuhkan teman. Aku membutuhkan siapapun. Kepalaku berdenyut-denyut. Napasku terengah-engah. Padahal aku tidak melakukan kegiatan apa-apa. Tapi aku merasa kelelahan seolah baru menyelesaikan lari maraton. Aku seperti dicekik seseorang. Kemudian kubaringkan tubuhku di atas ranjang sekadar istirahat. Kupandangi ukiran di langit-langit kamarku dengan pandangan kosong. Bukan ukiran itu yang menarik perhatianku. Aku hanya mencoba membangun kembali kenangan-kenangan yang sempat kudapatkan sewaktu masih kecil. Kalau dibandingkan dengan sekarang, rasanya ingin kupotret kenangan itu, seandainya aku bisa. Aku terbangun dan mataku menangkap jurnal Mama. Kuraih jurnal itu dan menyelesaikan untuk membacanya. Rasa penasaranku terhadap jurnal itu sangat kuat. Bahkan aku ingin membacanya habis hari ini. Ketika aku mulai membuka jurnal itu di halaman tengah, aku menemukan secarik sketsa. Kuamati sketsa tersebut dengan saksama. Tidak kukenal secara pasti, tapi aku yakin lelaki dalam sketsa itu memiliki hubungan dengan Mama. Kubalik sketsa itu. Sebelumnya sudah kutebak dia adalah seseorang yang disebut Mama sebagai orang yang telah membuatnya bahagia. Terdapat sebuah tulisan di belakang sketsa itu. Di sebuah kehidupan selalu ada cinta. Kalimat yang sama sebagai andalan Mama. Mama benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu. Tapi dia tidak pernah menyebutkan namanya. Aku semakin penasaran, siapakah dia? Mengapa kehadiran laki-laki itu begitu misterius bagiku? Mama sengaja menyembunyikannya dari siapapun. Tapi dia mengatakan hanya ada satu orang yang tahu tentang kehidupannya, terutama laki-laki itu. Siapa lagi kalau bukan dokter Diana? Makin lama aku makin tertarik dengan kisah Mama. Dia salah satu wanita yang tegar menjalani kehidupannya. Namun aku menyayangkan ketegarannya yang sirna setelah dia mengakhiri hidupnya dengan obat penenang yang terlalu berlebihan. Kalau mengingat itu, jantungku terasa nyeri. Ingin sekali aku menyusul Mama. Mama selalu mengatakan padaku, jadi wanita harus tegar menghadapi setiap hal. Namun mengapa dia mengingkari ucapannya sendiri? Begitu depresikah dia? Aku juga mempertanyakan kehadiran dokter Diana. Kenapa dia tidak pernah menampakkan diri lagi? Mungkin Mama menemui psikiater tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Atau mungkin juga dokter Diana memiliki cerita lain sehingga Mama kehilangan orang-orang yang membuatnya damai. Entahlah. Aku tidak berani menduga-duga apa yang ada di benak Mama. Yang kulakukan hanyalah diam, memandangi sketsa di tanganku kemudian meneruskan kembali membaca jurnal itu.   *   Bunyi denting piano terdengar menggelegak di tempat sepi ini. Jemariku menekan dengan kasar tuts-tuts piano. Seakan terbawa oleh musik yang sedang kumainkan. Komposisi Schubert yang berjudul D 957 No. 4 Standchen atau Serenade kumainkan dengan sepenuh hati. Piano tua yang kadang dibuat Mama untuk menghabiskan waktunya di rumah ini kini menampakkan kekuatannya lagi setelah berhasil kujamah. Jariku masih menari lincah melompati tuts hitam dan putih. Sesekali memejamkan mata. Sesekali mengintip pada kertas partitur yang sama tuanya. Aku menjelajahi not-not balok dan mendengarkan alunan nada liris ini. Nada-nada yang kuselami seakan menjadi satu-satunya teman yang menemaniku di sini. Aku menyelesaikan Serenade komposisi Schubert dengan pejaman mata. Kuhela napas panjang. Mengamati kertas partitur di depanku. Jariku bergerak impulsif membuka halaman partitur lainnya. Sudut batinku memintaku untuk melanjutkan permainan pianoku untuk menghibur diri. Aku mengikuti keinginannya dengan melanjutkan komposisi lainnya. Jariku berhenti pada salah satu halaman. Aku memainkan Für Elise komposisi Beethoven. Tidak sampai selesai karena jariku langsung bergerak gesit membalikkan halaman dan memainkan melodi selanjutnya. Mozart, Moonlight Sonata. Demikian waktu kugunakan dengan menghabiskan hampir semua halaman partitur yang kumainkan secara bergantian untuk menyibukkan pikiranku sebisa mungkin. Makin lama tekanan pada tuts pianoku menjadi kasar. Aku berhenti pada komposisi Chopin dengan hentakan jari kasar. Kuperhatikan piano di depanku. Aku menekan kedua siku pada tuts-tuts tersebut dan menyandarkan telapak tangan dengan jemari saling berkaitan di tengkuk. Menekan kepalaku di atas barisan tuts sambil merasakan helaan napas, debar jantung, dan darah yang mengalir deras dalam kepala. Aku kesepian di sini.   *   DIRGA   “Ayo, ayo. Mulai permainannya!” Pak Handoko bertepuk tangan begitu memasuki ruang musik. Aku yang sudah memosisikan diri di balik piano bersiap menjalankan jari-jemariku di atas tuts. Kepalaku celingukan mencari-cari keberadaan pasangan bermainku. Pak Handoko bertolak pinggang sadar bahwa aku satu-satunya orang yang ada di ruang musik ini. Lebih tepatnya, aku yang lebih dulu datang. Pak Handoko membuka mulut ingin menanyakan keberadaan pasangan bermainku, sampai kehadiran seseorang yang menenteng case biolanya membuat pelatih musik itu membuang napas lega. “Nada, kenapa baru sampai di sini?” Nada ngos-ngosan. Ia meletakkan case dan membukanya. Dipungutnya biola berwarna hitam berukiran tanaman rambat. Ia tersenyum penuh maaf. “Maaf, Pak. Tadi saya ada ujian,” katanya menjelaskan keterlambatan. “Ya sudah. Ayo main. Dapatkan chemistrynya ya.” Pak Handoko mengelus dagu mengamati kami beberapa langkah di depan. Aku menoleh ke arah Nada. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan menyengir kuda. Kepalaku tergeleng-geleng membalas cengiran itu. Aku memberi kode padanya untuk berkonsentrasi lagi dan segera memainkan biolanya. Ia memosisikan biola di apitan dagu dan pundaknya. Lantas dalam sekali helaan napas, mulai digeseknya dawai biola itu, memainkan komposisi Vivaldi dengan iringan piano yang kumainkan. Pak Handoko mendengarkan dengan saksama. Keningnya berkerut-kerut dalam mendengar adanya nada yang sumbang. Tangannya terangkat pertanda berhenti. Aku dan Nada menghentikan permainan musik ini. Pak Handoko berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia menghampiri kami. “Kurang ngefeel,” katanya. Ia bertepuk tangan. “Ayo. Dibangun lagi feelnya. Dalami nadanya. Nada, kamu kurang menjiwai.” Nada menggaruk kepalanya dan mengulum senyum canggung. “Dirga, kamu juga kurang konsentrasi.” “Maaf, Pak,” ujarku. Pak Handoko meminta kami mengulang sekali lagi yang lebih menjiwai. Kami memulai dari awal. Aku singkirkan untuk sementara waktu pikiranku mengenai Candy dan membangun fokus dari awal untuk mendapatkan feel. Nada mulai berhasil menguasai permainannya dengan nada yang larat dan pas. Aku mengimbangi dirinya. Sekitar dua jam kami berlatih ekstra. Sampai suara tepukan tangan Pak Handoko menyudahi latihan hari ini terdengar. Ia meminta kami terus mempertahankan yang seperti tadi. Aku dengan fokusku dan Nada dengan penjiwaannya. Pak Handoko meraih tasnya dan berpamitan pergi, meninggalkan kami berdua di ruang musik. Aku menjatuhkan jemariku di atas barisan tuts piano dan membuang napas pendek. Nada meraih botol air mineral dan meneguknya. Ia mendesah. Dihampirinya aku dan duduk di sampingku. Aku menyisihkan tempat duduk untuknya agar ia lebih leluasa duduk di kursi yang tak lebar ini. “Mikirin Candy, ya?” tanyanya seraya memain-mainkan tuts-tuts piano di depannya serampangan sampai menimbulkan suara samber. “Candy kalau suka ngilang emang bikin kepikiran kayak gini,” jawabku. Nada melirik ke arahku. “Ke mana sih dia? Aku penasaran pengen tahu keberadaan dia tiap kali ngilang. Emang kamu nggak tahu, Nad?” Nada mengangkat bahu. “Pernah loh aku ngikutin dia, tapi nggak ketemu. Nggak kekejar. Nanti kalau dia pulang aku samperin ke kamarnya deh. Terus aku kasih tahu kalau kamu nyariin terus-terusan dan bikin kepikiran.” Aku tersenyum. “Aku cuma nggak habis pikir kenapa dia berubah. Mungkin aku yang kurang peka dan perhatian.” Nada terdiam. Tampaknya ia tidak mau memperpanjang topik seperti itu. Ditunjuknya piano di depan kami. “Mainin lagi dong buat aku. Tapi yang bagus ya. Jangan kayak tadi. Kamu nggak fokus.” “Baik, Tuan Putri.” Aku mencubit pipinya, membuat Nada mendesis dan menepuk tanganku kesal. Sekali lagi kumainkan piano di depan kami demi permintaan Nada. Schubert – Serenade. Lagu yang senang sekali didengar Candy. Katanya, Mamanya sering memainkan Serenade. Hal itu membuat Candy lebih akrab mendengarkan komposisi Schubert yang satu ini. Aku menghapal Serenade di luar kepala. Sebab dulu sewaktu masih kecil, aku rela belajar dan menghapal not-not balok komposisi ini demi menyenangkan hati Candy. Ia akan bertepuk tangan girang mendengarku menyelesaikan lagu ini. Nada mendengarkan dengan saksama. Ia diam seribu bahasa, tidak membuka mulut sekecap pun. Mungkin tidak mau membuyarkan suasana yang telah kubangun dari jalinan nada ini. Kupandang dirinya. Ia tersenyum, lantas mendekatkan kepalanya di bahuku. Jari-jariku masih berkeliaran di sepanjang tuts sampai komposisi selesai. Aku menyentil rambut Nada dan mengacak-acaknya. Ia tertawa dan meninju bahuku kesal. Lantas dirapikan lagi rambutnya dengan bibir mengerucut ke depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD