CANDY
Setelah kupikir-pikir untuk apa Dirga meminta ijin padaku kalau dia sedang belajar bersama Nada? Untuk apa dia memberiku infromasi kalau dia mulai dekat dengan Nada? Aku hanya bisa melihat layar ponselku, berharap ada SMS atau telepon dari Dirga. Tetapi tidak ada apapun di sana kecuali gambar wallpaperku, Ludovico Einaudi, komponis favoritku.
Aku menghela nafas pendek. Kurasa ada baiknya Dirga berdekatan dengan Nada. Dia memiliki aktif, seperti Nada. Dengan begitu dia tidak akan membuang waktu dengan mencariku tiap aku menghilang. Dia akan senang kalau kesibukannya tidak terganggu olehku. Tapi aku tak bisa memungkiri bagaimana kacaunya aku kalau nanti akhirnya Nada yang akan dipilihnya menjadi pendamping hidup.
Duduk bersendang dagu di kusen jendela, aku mulai memikirkan masa depanku. Lagi, angan-angan itu merangsek secara tidak sopan, bertengger di pikiranku. Baik, kalian menang. Aku memang menyukainya. Aku jatuh cinta padanya, sejatuh-jatuhnya. Ini kali pertamanya aku merasa cemburu mengetahui sahabatku dekat dengan saudari tiriku.
Mari berpikir realistis. Dia tak akan menjadi milikku. Sudah pasti, dia memilih wanita lain untuk dijadikan pendampingnya karena aku, baginya, hanya sebatas sahabat. Tidak lebih. Maka, berhenti berangan-angan bahwa aku akan hidup bersamanya, berakhir bahagia seperti akhir sebuah roman picisan. Akhir kisahku pasti semuram kisah Amba yang ditolak Bhisma.
Aku tak tahu akan menjadi apa dan hidup bersama siapa.
*
Ternyata Dirga baru menghubungi setelah Nada pulang. Dia minta maaf padaku tidak memberinya kabar. Untuk apa dia minta maaf, toh aku tidak mau terlalu lancang ikut campur dalam urusan pribadinya. Sesaat setelah balasanku kukirim padanya, dia meneleponku.
“Hai, Dy. Maaf ya seharian ini aku nggak bisa nemenin kamu.”
Aku tertawa pelan. “Buat apa minta maaf? Bagus dong kamu punya kesibukan lain sama Nada, daripada sibuk nyariin aku mulu.”
Terdengar desahan nafas dari sana. “Hmm… aku kira kamu bakal marah kalau aku ngajak Nada belajar tanpa sepengetahuan kamu?”
Kalau tahu begitu kenapa dia tidak menghubungiku? Aku segera menghapus pikiran itu dan menjawab. “Nggak apa.”
“Eh, nanti malam mau nggak nemenin aku?”
“Kemana?”
“Aku mau ngasih kejutan buat kamu.”
Dirga mengajakku untuk memberikan kejutan? Kejutan seperti apa yang akan diberikannya padaku? Belum-belum aku sudah penasaran dan tidak sabar menerima ajakannya. Jarang-jarang aku menerima ajakan Dirga. Mungkin Dirga bisa mengembalikan kenangan ketika kami masih kecil. Aku sungguh merindukan kenangan itu.
“Hm... aku mau.” Senyum bermain di bibirku. Jantungku berlonjakan gembira. Ini tak pernah terjadi padaku...
*
Nada tidak memberikan komentar apa-apa saat Dirga mengajakku pergi. Aku menemukan mereka sedang asik berbincang dan bercandaan saat aku turun dari tangga menuju pintu depan. Dirga mengalihkan pandangannya ke arahku dan mengembangkan senyuman lebar.
“Udah siap, kan? Yuk.”
Aku mengangguk dan berjalan mendekatinya. Nada tersenyum ke arahku, tapi seperti biasa pula, kuabaikan dia. Dirga menggandengku dan aku hanya mengamati tangannya tanpa berkata apapun. Dalam hati aku benar-benar senang. Seperti saat dia menggandengku dulu, bercanda bersama, tertawa bersama, rasanya sungguh membahagiakan.
Rupanya dia mengajakku ke tempat favoritku, danau yang tak jauh dari rumah kami. Keadaan di sana sungguh ramai; aku baru ingat kalau ini adalah hari Sabtu, semua orang menghabiskan malam Minggu di sini. Danau ini akan terlihat manis di malam hari. Lampu-lampu taman yang menghiasi membuat keadaan di sana bergemerlapan. Apalagi suasananya yang terlihat sangat istimewa. Aku belum pernah kemari malam hari setelah kehidupanku berubah. Terakhir kali aku kemari saat malam ketika keluargaku dengan keluarga Dirga memberikan kejutan ulang tahunku di sini.
“Lihat deh, makin bagus, kan?” tanya Dirga ketika dia mengajakku berhenti di samping danau. Aku mengangguk. “Udah lama ya kita nggak ke sini kalau suasananya bagus kayak gini.”
Aku tidak membalas. Kutundukkan kepalaku, menyembunyikan ekspresi senduku. Bukannya senang, aku justru sedih. Seharusnya aku senang bisa mengulangi kembali setidaknya sedikit hal yang ada di masa laluku.
“Kok sedih gitu sih?” Dirga menyadari perubahan ekspresiku.
“Eh, nggak kok,” balasku singkat.
“Aku mau ngasih kejutan sama kamu. Tapi… jangan ditebak dulu dalam rangka apa.” Dirga tersenyum jahil. Dia menggandengku dan berjalan cepat mengajakku ke suatu tempat.
Aku terkejut ketika kami berhenti di depan deretan lampu berwarna-warni. Sungguh menakjubkan, apalagi dekorasi yang diciptakan di sana sungguh tempat istimewa. Aku belum pernah menemukan hal seindah itu di sini. Rasanya seperti mimpi, dan aku tidak mau terlalu cepat dibangunkan.
Dirga menggandeng tanganku mendekat ke tempat itu. “Ini sebagian kecil kejutan yang aku siapin. Nunggu yang lainnya, mending duduk dulu deh.”
Aku turuti saja keinginannya. Kami berdua duduk di atas rerumputan dan Dirga menyambar sebuah gitar di sebelahnya. Kemudian memainkannya dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Aku tidak bisa berkata apa-apa saking senangnya. Untuk apa dia memberikan kejutan seperti itu? Belum pernah aku mendapatkan kejutan seperti ini. Dan ini pertama kalinya seseorang memberiku kejutan semanis ini.
“Seperti… kembali ke masa kecil dulu,” kataku tiba-tiba. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menyuruhku mengatakan itu. Kata-kata itu keluar begitu saja.
Dirga berhenti bernyanyi, kemudian tertawa. “Masih ingat rupanya?”
Aku baru ingat saat Dirga mengajakku ke tempat ini di pagi hari, menghabiskan waktu bersama beberapa hari sebelum kehidupanku berubah drastis. Aku menganggap saat-saat itu adalah saat terakhir kami bisa menjadi anak kecil yang bahagia dan tidak pernah tahu arti rasa sakit.
Aku mengingat tempat ini. Di sinilah Dirga dan aku berebut permen sehingga aku menangis. Kemudian dia memberikan permen itu dan segera minta maaf telah membuatku menangis.
“Tentu aja aku inget,” kataku. Dan aku tersenyum kalau mengingat-ingatnya. “Kamu yang bikin aku nangis di sini.”
“Kan aku udah minta maaf.” Dirga tertawa. Dia tampak mengingat-ingat juga kejadian itu. Setelah itu dia meraih sesuatu tak jauh dari tempat dimana dia meletakkan gitarnya. Diulurkannya sebuah lolipop ukuran besar ke arahku. “Sekarang kamu bukan little Candy lagi, kan? Nih.”
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Kuraih permen itu dan memandanginya. Ternyata sama seperti permen yang kudapatkan dulu. Sama-sama memiliki pita berwarna merah. Bedanya lolipop yang ada di tanganku saat ini ukurannya lebih besar daripada yang dulu. Melihat permen di depanku saat ini, aku justru ingin menangis, mengingat-ingat saat Dirga mengusap air mataku dan memberikan lolipop yang kami rebutkan. Sekarang aku punya dua. Yang satu adalah saksi masa laluku. Dan yang ini akan menjadi hadiah terbaik yang pernah kudapatkan.
Dirga berbaring sambil mengamati bintang-bintang di langit. Hari ini malam terlihat cerah. Aku cukup bersyukur hujan tidak turun malam ini. Malam jadi kelihatan lebih indah, bintang-bintang tidak terhalangi kabut atau awan mendung.
Aku ikut menikmati bintang di langit hitam itu sambil berbaring di sebelah Dirga. Udara saat itu tidak terlalu dingin atau hangat, namun sanggup membuatku nyaman dan mengadaptasikan kulitku.
“Aku kangen Candy yang dulu,” kata Dirga tiba-tiba.
Aku menoleh ke samping kananku. “Candy yang seperti apa?”
“Candy kecil yang cengeng, selalu mengadu kalau lagi dijahilin temen-temen, Candy yang nggak suka berantem, Candy yang ceria, Candy yang suka tertawa…” Dirga memandangku setelah itu. “Little Candy.”
Aku belum membalasnya. Pikiranku saling memberi dukungan padaku agar aku mengatakan yang sejujurnya pada Dirga apa yang kurasakan saat ini berbeda dari luarnya. Apakah Dirga akan memahamiku? Atau justru dia menganggapku gila seperti anak-anak lainnya? Selama ini Dirga juga mengajari tentang kebahagiaan, tapi aku yang tidak pernah memedulikan itu. Aku terlalu sibuk memikirkan kesengsaraanku.
“Aku juga,” kataku kemudian.
“Jadi, kita sama-sama kangen little Candy.”
Aku mengembangkan senyuman simpul, masih memakukan pandanganku ke langit kelam di atas sana. Bintang-bintang berjejer, bersinar tampak lebih terang daripada biasanya.
“Waktu bisa mengubah apapun.” Aku menghela nafas pendek. “Mungkin suatu saat nanti kamu bakal tahu kalau sebenernya little Candy masih ada. Sampai saat ini.”
Terdengar tawa cekikikan tak jauh dari tempat kami. Mereka barangkali menghabiskan malam ini berpasangan, berpegangan tangan, berpelukan, merasakan dunia hanya milik berdua sedangkan yang lain numpang. Bahagiaku mungkin tak sama seperti bahagia mereka. Bahagiaku sungguh sederhana. Seperti saat ini, berbaring di sebelah orang yang kusayangi.
“Terus, kamu kemanain little Candy? Kenapa justru dia hilang dan pergi, ngubah kamu kayak gini?”
Aku masih belum membalas. Kubiarkan dia bertanya-tanya di dalam pikirannya dulu. Tak beberapa lama akhirnya aku menjawab pertanyaannya. “Mungkin kamu yang belum menemukannya. Mungkin kamu harus bisa berusaha menemukan sosok itu.”
Dirga tidak menjawab lagi. Kami terjebak dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku bahkan tidak tahu berapa lama kami berada di sini. Sepertinya sudah larut malam. Aku ingin beranjak melihat jam pada ponselku, namun setiap hal yang ingin kulakukan seolah terhalangi oleh sesuatu. Aku terlalu nyaman dengan posisi seperti ini sehingga malas melakukan apapun, meski dalam gerakan kecil.
“Sebentar lagi, kamu bakal lebih dewasa lagi. Iya, kan?” Dirga menatapku sambil tersenyum.
Aku memberikan pandangan tanya. Tetapi dia mengalihkan pandangannya dariku bersamaan dengan suara kembang api yang terdengar cukup keras. Aku terkejut bukan main, mengalihkan perhatianku ke atas dan melihat kembang api yang berwarna-warni menghiasi langit.
“Selamat ulang tahun, Candy.” Dirga tersenyum lebar.
Aku mengangakan mulutku, terkejut dan masih bingung. Baru kusadari bahwa ini adalah hari ulang tahunku. Aku melupakan hari ulang tahunku sendiri, tapi Dirga masih mengingatnya. Aku tidak percaya dia memberiku kejutan seperti ini, untuk memberi hadiah di hari ulang tahunku.
Sambil melihat kembang api di atas sana, mataku terasa basah. Aku menangis. Menangis karena senang sekaligus sedih. Dirga sanggup menghidupkan kenangan kami sewaktu kecil. Dia sanggup membuatku tersenyum dan merasa sangat bahagia. Namun di sisi lain aku sedih. Sedih memikirkan bagaimana jika suatu saat aku kehilangan dia untuk kehidupannya sendiri?
Aku tidak akan pernah melupakan hadiah paling indah yang pernah kudapatkan. Ini lebih dari cukup. Aku sangat menyukainya sehingga membuat emosi dalam diriku memuncak, dan aku menangis karena itu.
Selamat ulang tahun, Candy. Selamat ulang tahun, Candy. Aku bergumam pada diriku sendiri.