SEMBILAN BELAS

1644 Words
DIRGA   “Darling, are you okay?” Mama berseru dari balik pintu. Diketuknya pintu kamarku beberapa kali. Aku memijat pelipis, bangkit dari ranjang, dan meraih kenop pintu. Saat pintu terbuka, kulihat Mama yang berdiri dengan kedua alis bertautan. Ia mengamatiku dengan saksama mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kenapa, Ma?” Ia menyentuh dahi dan pipiku. “Kok kamu kelihatan pucat, Sayang? Kamu nggak apa, kan?” nadanya berganti menjadi panik. Aku tertawa kecil. “Aku kecapekan abis nemenin Candy dan ngerayain ulang tahunnya, Ma.” Mama menganggukkan kepala. Tatapan skeptisnya masih membelengguku. Ia memerhatikan sekali lagi. “Hm... ya udah. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Mama ya.” Aku tersenyum. “Tenang aja, Ma.” “Eh... iya. Candy apa kabar? Dia udah nggak pernah ke sini sih. Mama jadi kangen sama dia.” “Dia baik-baik aja. Nanti pasti ke sini kalau ada waktu. Kan lagi masa-masa sibuk.” “Okay...” Mama mengangguk lagi. “Mama di depan. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja.” Aku mendecakkan lidah. “Ma, aku kan udah besar. Kalau butuh apa-apa ya ngelakuinnya mandiri.” Mama meraih puncak kepalaku dan memberantakkan rambutku. “Banyak-banyak istirahat, Ga. Kalau bisa, kamu jangan terlalu banyak kegiatan di sekolah,” katanya, mulai mencemaskan kesehatanku. “Mama perhatikan kok kamu sibuk banget.” “Sebentar lagi kan ada pertunjukan. Dirga mau ngasih yang terbaik buat sekolahan bareng Nada.” “Pokoknya kamu jangan sampai drop.” “Ma...” Aku menyentuh dan mengelus bahu Mama. Kurangkul ia. Mama mengusap-usap telapak tanganku. “Dirga bukan anak kecil lagi.” Mama menghela napas panjang. Ia menepuk pipiku lembut. “Ya sudah. Istirahat sana.” Ia lantas meninggalkan kamarku. Aku menutup pintu, berbalik badan, dan menghela napas panjang.   *   CANDY   Aku masih memikirkan kejutan ulang tahunku dari sahabat sekaligus orang yang kucintai. Bagaimana perasaanku saat ini? Aku tak dapat menggambarnya dengan jelas. Bahkan saat ini aku tersenyum-senyum sendiri tiap mengingatnya. Di meja belajarku, aku menulis ulang lirik yang dinyanyikan Dirga malam itu. Sekaligus mendengarkan lagunya dari iPodku. k****a barisan kalimat yang kususun rapi membentuk bait-bait. Ada kalimat yang paling kusuka di lirik itu. Aku memberinya tanda dengan stabilo berwarna hijau muda.   You’ll never love your self half as much as I love you You’ll never treat your self right darling But I want you to If I let you know I’m here for you May be you’ll love your self like I love you   Kemudian ekor mataku bergerak, menangkap kotak barang berhargaku. Ada dua permen di sana. Yang satu berukuran kecil, yang satu lagi besar. Di bagian batangnya memiliki pita berwarna merah. Kuraih kedua permen tersebut. “Aku kangen Candy yang dulu. Candy kecil yang cengeng, selalu mengadu kalau lagi dijahilin temen-temen, Candy yang nggak suka berantem, Candy yang ceria, Candy yang suka tertawa… Little Candy.” Aku masih terngiang-ngiang ucapan Dirga waktu itu. Dia merindukan aku yang dulu. Aku yang berbeda seratus delapan puluh derajatdari sekarang. Aku yang tidak mudah sedih, marah, dan sakit. Rasanya ingin kucoba menghidupkan kembali sosok itu. Aku ingin mencoba meninggalkan sejenak perasaan kacau yang ada di pikiran dan hatiku. Bisakah aku menjadi little Candy seperti dulu lagi? Kamu pasti bisa, Candy, suara-suara di pikiranku berusaha memberi semangat. Semakin kupikir-pikir lagi, kurasa memang tidak ada salahnya mengembalikan sosok little Candy. Candy yang ceria, tidak suka bertengkar, yang berusaha membuat orang di dekatnya bahagia. Kugenggam kedua permen tersebut dengan pikiran melayang dan bertanya-tanya. Senyuman simpul terulas dari bibirku. Aku pasti bisa menjadi Candy yang dulu. Aku tidak mungkin membuat Dirga kecewa. Dia pasti senang mendapatkan aku kembali. Aku melebarkan senyumku ketika kuputuskan untuk datang ke rumahnya. Kurapikan kembali barang-barang di atas meja belajarku. Selanjutnya mencari tas selempang dan bergegas ke rumah Dirga.   *   Ketika seseorang membuka pintu dan melihatku berdiri di depan rumahnya, aku memberikan senyuman lebar dan mengulurkan sesuatu padanya. Dirga tampak curiga melihat perubahan air mukanya secara tiba-tiba. Namun diterimanya juga coklat pemberianku. “Ada angin apa nih?” tanyanya bingung. “Sekarang aku mau kamu yang nemenin aku pergi,” kataku masih mempertahankan senyumku. Dirga masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Dia tampak bingung. Namun, kutarik juga tangannya dan mengajaknya pergi. Walaupun masih diselimuti rasa bingung dan tidak percaya, akhirnya dia menurut juga. “Mau ke mana nih?” tanyanya. “Udah, kamu bawa aja mobil kamu. Nanti juga bakal tahu tujuan kita ke mana.” Aku melebarkan senyumku. “Oke… mumpung ada yang seneng nih kayaknya.” Dirga menyengir. Aku ikutan tertawa dan memasuki mobil Dirga setelahnya. Dia mulai melajukan mobilnya sesuai perintahku. Aku sengaja tidak memberitahunya dulu tujuan kami. Sama seperti yang dilakukannya kemarin malam, aku akan memberikan kejutan untuknya. Kejutan atas kembalinya diriku yang dulu, meski dalam tahap percobaan. Setelah sampai di tempat yang kuinstruksikan, Dirga memandangku aneh. Dia tampak bertanya-tanya mengapa aku mengajaknya ke sana, ke sebuah bukit tempat kami biasa bermain bersama. “Kamu mimpi apaan sih, Dy? Mendadak aneh gini?” tanyanya diselingi tawa pelan. Aku pura-pura tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Tanpa menjawab pertanyaanya, aku keluar dan mengajaknya untuk segera keluar juga. Meski masih memperlihatkan wajah bingungnya, akhirnya Dirga mengikutiku juga. “Masih inget dong ini di mana?” seruku ke arahnya. “Inget lah. Aku nggak bakal ngelupain tempat ini.” Dia tertawa. Kami berdua duduk memandangi panorama indah di sana. Suasananya sungguh menyenangkan. Udaranya terasa sejuk, membangkitkan semangatku mengembalikan Candy yang dulu. Aku memejamkan mata merasakan angin yang berembus. “Ada yang aneh dari aku nggak?” tanyaku setelah itu. “Aneh? Kamu emang aneh sih dari dulu.” Aku membuka mata dan meninju bahu Dirga pelan. “Enak aja.” “Emang bener, kan?” Kami berdua tertawa bersama. Kukeluarkan sebuah kamera dari tasku, menghidupkannya dan mulai memotret panorama di padang tersebut. “Kalau gini, aku jadi ngerasa kayak kembali ke masa kecil kita deh,” kata Dirga memandangku. “Mmm… rasanya, ada yang baru aja kembali. Seseorang yang aku kangenin.” Aku berhenti memotret dan mengalihkan pandanganku ke samping. Kuberikan senyuman sama yang diberikan little Candy. “Little Candy is back.” Dirga mengamatiku dengan ekspresi fluktuatif, antara bingung dan senang. Aku kembali menyibukkan diriku memotret. Setelah kulihat hasil dari jepretanku, mendadak Dirga merebut kamera itu. Aku berusaha mengambilnya namun dia berdiri dan berlari menjauh seraya memamerkan kameraku. Aku masih berusaha mengejarnya untuk merebut kembali kamera itu. Kami berlarian menjelajahi bukit. Aku berusaha mengejar Dirga dan berseru memanggilnya agar segera mengembalikan kameraku. Namun dia tidak mengindahkan perintahku. Dia justru memotretku secara candid. Dan tertawa melihat hasil jepretannya. Seharian ini kami menghabiskan waktu bersama. Aku menganggapnya sebagai perayaan ulang tahunku. Dirga senang melihat aku yang dulu. Aku menyukai apa yang kami lakukan hari ini. Rasanya seperti kembali ke masa kami masih menjadi anak-anak. Seperti saat itu, kami sering meniup gelembung, berkejaran, bersepeda, tertawa bersama, dan banyak lagi. Teringat olehku saat aku terjatuh dari sepeda dan aku menangis karena lututku berdarah, Dirga menggendongku. Saat di mana aku dijahili anak-anak lain, Dirga membelaku. Saat-saat seperti itulah yang kurindukan. Kami berhenti setelah cukup kelelahan. Aku berbaring, melihat hasil jepretan yang kami ambil berdua. Melihat semua hasil jepretan itu, aku pun tertawa. Dirga merebut kameraku untuk melihat hasilnya. “Bagus juga.” Dia tersenyum. “Ngomong-ngomong, coba jelasin sama aku, kenapa kamu mendadak berubah? Pasti ada yang berhasil bikin kamu berubah kan?” Aku mencebikkan bibir. “Pastinya ada. Dia udah berhasil mengembalikan aku yang dulu. Mungkin nggak sepenuhnya, tapi seenggaknya aku udah berusaha.” Kukembangkan senyuman lebar. Dirga berbaring di sebelahku. Tidak terasa hari sudah mulai sore, langit tampak mendung dan siap mencurahkan air hujan menyentuh bumi. Kami berdua memandang gumpalan awan gelap di atas, bergerak saling berdesakan seolah awan-awan tersebut terjebak dan berusaha saling mendahului. Mungkin sebentar lagi turun hujan. Pasti mengasyikkan kalau sudah hujan. “Aku suka lihat senyum kamu yang itu,” kata Dirga tiba-tiba. Dia menoleh ke arahku dan mengembangkan senyum yang membuat persendianku lemas. “Udah lama ya senyuman itu hilang. Rasanya ada yang aneh kalau nggak ngelihat senyuman yang bisa bikin aku ikutan senyum.” Aku terdiam sebentar. “Gimana rasanya ngelihat senyuman kayak gitu?” “Rasanya nggak ada kesedihan dan rasa sakit yang dipendam. Pasti ada kebahagiaan dari senyuman itu.” Aku menyembunyikan ekspresi senangku seketika, menahan bibirku agar tidak bergerak memberikan senyuman malu. Aku mau saja memberikan senyum seperti tadi, sebanyak mungkin, demi membuatmu senang. Itu sudah cukup bagiku. “Sampai kapan little Candy ada di sini?” tanyanya, menghilangkan ekspresi senangku seketika. Aku menoleh ke arahnya dan mengedikkan bahu. “Bisa saja sebentar, lama, atau bisa juga selamanya.” “Aku harap dia ada di sini. Selamanya.” Dirga tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk tanpa membalas ucapannya. Kembali kuamati awan mendung di atas sana. Ketika kurasakan tetesan di pipiku, baru kusadari gerimis mulai datang. Semakin lama semakin deras. “Aduh, hujan nih.” Dirga berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku. “Balik yuk. Nanti kalau kamu sakit gimana?” Aku menyambut uluran tangannya. Kami berdua berlari menuju mobil yang terparkir lumayan jauh dari tempat kami beristirahat. Mendadak aku justru ingin menikmati hujan ini. Sudah lama aku tidak keluar untuk hujan-hujanan. Tapi benar kata Dirga, aku bisa sakit karena imunku sendiri tidak kebal. Maka, kami berdua segera memasuki mobil agar terhindar dari air hujan. Separuh bajuku sudah basah kuyup. Aku menggigil kedinginan dan Dirga menangkap gigilanku. Dia meraih sebuah jaket di jok belakang. Diulurkannya jaket tersebut padaku. “Nih, biar nggak kedinginan.” Aku menyambarnya dan memakainya agar mendapatkan kehangatan. “Makasih.” “Pulang aja yuk, nanti orang rumah nyariin kamu.” Tanpa membalas, aku hanya menganggukkan kepala. Dirga mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya menjauhi bukit. Kusandarkan kepalaku di kaca mobil, mengamati butiran-butiran air hujan yang turun di kaca dengan gerakan perlahan. Keadaan di luar tidak tampak jelas karena air di kaca mobil menghalangi pandanganku. Tak terasa mataku tertutup dan aku terlelap kelelahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD