DUA PULUH SATU

1711 Words
Aku tidak pernah merasakan rasa sakit seperti ini. Mungkin kesedihanku ini bisa membunuhku secara perlahan. Dan suatu saat nanti akan menjadi pisau tajam yang akan menikamku diam-diam. Tapi aku tidak serapuh itu. Aku masih terus berusaha mengembangkan impianku tanpa memedulikan apa kata orang. Aku akan terus berkarya, menciptakan simponi-simponi indah. Di sini, seperti biasanya aku menulis melodi untuk kumainkan. Sudah lama aku ingin tampil secara gemilang di sebuah pertunjukan besar. Namun, mengapa tidak ada yang mau mendukungku? Mengapa aku seolah berdiri sendiri, menatap ke ribuan mata, dan tidak ada yang bersorak memanggil namaku? Dia, yang kukira selalu ada di sebelahku, memberiku semangat, justru hilang. Aku tampak bagaikan semut kecil di sini, menelan kenyataan bahwa aku tidak bisa mencapai impianku. Mama dan Papa tidak pernah menyetujuiku untuk menjadi musisi ataupun pianis. Mereka selalu memaksaku menjadi apa yang mereka inginkan. Aku mungkin tidak bisa menentang keputusan mereka lagi. Walaupun dengan berat hati, aku mulai sedikit mengubur impianku, yang entah kuharapkan ada yang bersedia membangunnya untukku. Siapa tahu suat saat nanti akan ada seseorang yang bisa membangun impian besarku, memiliki sebuah pertunjukan musik besar. Mungkin aku bisa mengajarkan keindahan melodi yang kuciptakan pada anak-anakku suatu saat nanti. Mengajarkan bagaimana caranya mengekspresikan apa yang ada di hati serta pikiran kita ke dalam sebuah melodi. Bisakah suatu saat nanti mereka menghidupkan impianku? Luna     Bunyi denting piano terdengar menyeruak di antara keheningan rumah besar dokter Diana. Seorang diri di rumah itu, Luna memainkan jemarinya yang dengan gemulai menari lincah di atas deretan tuts piano. Sesekali ia berhenti untuk mencoret dan menulis pada kertas partitur yang sudah digambari not-not balok buatannya. Lantas kembali memainkan nada-nada indah yang dihasilkan oleh piano milik dokter Diana. Hanya di rumah itu Luna bisa mengeluarkan bakat terpendam dan ekspresinya. Ia tak pernah berlatih di rumah karena selain tidak punya piano, ia dilarang memainkan alat musik apapun yang menurut ibunya sangat bising dan bikin sakit kepala. Kadang di sekolah, Luna menyusup ke dalam ruang musik sekadar menghidupkan keyboard dan memainkannya secara otodidak. Keinginan bermusiknya sangat tinggi. Tapi sekali lagi, orangtuanya tidak mendukung bakatnya sama sekali. Luna bersyukur dokter Diana memiliki piano di rumahnya. Ia bisa mengembangkan bakat bermusiknya. Walaupun jika ia tidak bisa mewujudkan keinginan dan harapannya menjadi seorang pianis, setidaknya ia sudah banyak belajar. Gadis itu mencoret-coreti kertas partitur, berpikir, memainkan pianonya, dan mencoretinya lagi. Hal itu dilakukan berulang kali sampai kedatangan dokter Diana membuatnya mengalihkan perhatian. Dokter Diana mengusap rambut Luna dan mengamati pekerjaan Luna pada kertas partitur di depannya. “Wah... ini buatan kamu?” tanya dokter Diana takjub. Luna mengangguk dan menampakkan senyum lebarnya yang memenuhi wajah jelitanya. “Iya. Ini saya sendiri loh yang buat. Dokter mau dengerin, nggak?” “Boleh boleh. Aku mau dengar. Coba mainkan.” Dokter Diana duduk di samping Luna. Dengan perlahan, Luna memainkan lagi piano itu. Denting yang ditimbulkan dari piano itu berbunyi sangat larat dan lirih. Gadis itu memejamkan mata untuk mendalami dan menjiwai nada-nada yang ia ciptakan. Dengan saksama, dokter Diana juga mencermati nada-nada buatan Luna. Ia mengangguk menemukan keselarasan dan keindahan yang diciptakan oleh tangan ajaib Luna. Begitu menyelesaikan lagu buatannya, Luna melemparkan tatapan pada dokter Diana, meminta pendapatnya. Giginya yang putih dan rapi dipamerkan. “Keren banget. Kamu memang punya bakat bermusik. Kenapa nggak kamu kembangkan?” Dokter Diana mengusap rambut Luna. Luna mengamati jari-jarinya yang diletakkan di atas tuts piano. Wajahnya menampakkan kemurungan. “Nggak ada yang semangatin dan dukung.” “Loh, kan masih ada aku yang semangatin Luna.” Wajah Luna terangkat. “Masa sih, dok? Dokter suka ya dengerin aku main piano?” Ada secercah harapan dan rasa senang yang terlintas di kedua mata Luna yang berbina-binar bak kerlip bintang di langit gelap. Dokter Diana mengangguk. “Tentu. Coba mainkan lagu kamu yang lain. Ada, nggak?” “Ada!” jawab gadis itu penuh semangat. Dokter Diana terkekeh mendengar jawaban bersemangat Luna. Didengarnya lagi satu lagu dari Luna yang lebih riang. Temponya lebih cepat daripada yang tadi. Saking terbawa suasana dan terhanyut oleh alunan nada yang dimainkan oleh Luna, dokter Diana menggerakkan kepalanya. Menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri. Tangannya pun ikut-ikutan bergerak mengikuti ketukan nada. Begitu menyelesaikan permainannya, Luna menatap dokter Diana meminta pendapatnya. “Bagaimana, dok? Bagus?” “Bravo, Luna!” Dokter Diana bertepuk tangan sangat keras. “Aku berharap kamu bisa mengembangkan bakat kamu yang ini. Ah, kamu sangat mahir memainkannya. Kamu latihan di mana selama ini? Sangar mana?” Luna menggelengkan kepala. “Nggak di sanggar kok, dok. Aku latihan di sekolah diam-diam. Ya... nyuri-nyuri kesempatan dan waktu pas yang lain lagi nggak pakai ruangannya.” “Hm... padahal kamu berbakat banget. Sayang kalau dilewatkan. Sering-sering latihan. Siapa tahu, kamu bisa jadi pianis terkenal.” Kepala Luna terangguk lagi. Tangan dokter Diana mengusap rambutnya. Ia melanjutkan permainannya, didengarkan dokter Diana dengan saksama, dan hal itu dilakukan sampai ia kelelahan.   *   Tahu baru pulang, Mama Luna berseru keras. Ia menjewer telinga gadis itu dan memukulinya. Luna hanya berdiam diri dipukul berkali-kali di dalam kamarnya. Padahal badannya sampai memar. Tetap saja yang dilakukan olehnya hanyalah berdiam diri. Ekspresinya sangat datar. Tidak menampakkan emosi apapun. “Dasar anak nakal! Udah berapa kali dibilang jangan main jauh-jauh! Kamu ke mana aja, hah?!” teriak wanita itu makin menggila. Tubuh Luna dipukuli lagi. Setelah puas, Mama Luna berhenti dan berseru lantang. “Sekali lagi kamu kabur dan nggak pulang-pulang, kamu tanggung sendiri akibatnya! Dasar anak tak tahu diuntung!” Ditinggalkan Luna seorang diri di kamarnya, duduk meringkuk di sudut kamar. Gadis itu menekuk kakinya dan dipeluk. Musik Schubert seolah bergaungan di telinganya. Ia duduk dalam lamunan panjang. Suara kaca jendelanya yang diketuk samar membuat Luna mengalihkan perhatian. Wajahnya terangkat. Ia memandangi kaca jendela kamarnya. Gadis itu merangkak mendekati jendela kamarnya. “Hey,” seseorang berbisik di balik jendela kamarnya. “Siapa itu?” Luna berbisik pelan. Ada ketukan lagi. “Luna, ini aku.” Luna mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia kenal suara itu! Luna mendekatkan telinga dan telapak tangannya pada jendela dengan kaca buram yang tak terlalu jelas menampakkan orang di baliknya. “Kamu... siapa?” bisiknya. “Bukalah, Luna” “Dika?” Gadis itu bertanya dalam bisikan. “Itu kamu?” “Bukakan jendelanya.” Buru-buru Luna membuka jendela kamarnya. Saat dilihat seseorang yang telah berdiri di balik jendela itu, Luna mengatupkan tangan pada bibir. Matanya berbinar-binar. “Dika!” ia berbisik keras. “Sshhh... ayo ikut aku.” Sahabatnya datang lagi! Luna tidak mampu berkata-kata. Bibirnya seolah terkunci. Yang dilakukannya hanyalah mengikuti perintah Dika untuk mengikutinya. Ia patuh pada perintah itu. Diikutinya Dika keluar rumah dan melompati dinding pagar seperti dulu. Mereka berjalan berdua menyusuri jalanan sepi sore menjelang senja itu. Dika meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat. “Kamu ke mana?” tanya Luna dengan suara bergetar. “Aku cariin kamu.” Giginya dibenamkan pada permukaan bibir bawahnya sekadar menahan diri agar tidak menumpahkan air mata yang terlanjur tergenang di pelupuk matanya bagaikan danau kecil. “Aku sendirian.” Dika menyeka air mata yang berkumpul di pelupuk mata Luna dan turun membasahi kedua pipinya. “Kan kamu sekarang udah punya temen,” balas Dika diikuti senyum manisnya. Luna tertegun sejenak. Ia memikirkan apa maksud perkataan Dika baru saja. Teman? Maksudnya dokter Diana? Ia menggeleng perlahan. “Dokter Diana emang temenku. Tapi aku lebih butuh kamu,” katanya lirih. “Yakin kamu lebih butuh aku? Bukan dokter Diana?” Dika bertanya memastikan. Mengangguk, Luna menggenggam balik tangan Dika. “Iya. Aku lebih butuh kamu daripada dokter Diana. Bahkan aku butuh kamu lebih dari apapun di dunia ini.” “Kalau gitu... ikut aku aja. Yuk.” Senyum merekah terkembang di bibir Luna. Ia mengikuti saja ke manapun Dika pergi. Tidak peduli akan dibawa ke mana. Ke luar kota, luar pulau, luar negeri, ke ujung dunia sekalipun akan ia ikuti! Yang penting baginya adalah Dika ada di sini. Kali ini ia tidak akan membiarkan Dika pergi lagi. Ia akan terus berada di sisinya dan tidak akan melepaskannya. Mereka sampai di suatu tempat. Seperti sebuah bukit dengan puncak yang tinggi. Luna bahkan tak sadar bahwa kakinya sudah menapaki rerumputan dengan aroma yang damai. Ia berdiri di puncak, memandangi panorama kotanya yang terlihat mengecil di depan sana. Seperti barisan semut yang mengerumuni gula. Dika masih menggenggam tangannya. Ia menunjuk ke depan. “Bagus, ya?” Luna mengangguk. “Iya. Bagus banget.” Ia menoleh ke samping. “Aku nggak pernah tahu ada tempat sebagus ini.” Perhatiannya dilabuhkan ke seantero tempat. Dilihatnya pepohonan dan rerumputan hijau yang mengitari beberapa rumah kayu kecil. “Kamu mau ikut aku, Lun?” tanya Dika. Luna menoleh lagi menuju Dika. “Ikut ke mana?” “Kamu jauh lebih membutuhkan aku atau dokter Diana?” “Kan udah aku bilang aku lebih butuh kamu.” Dahi Luna dikernyitkan. Ia tidak butuh apapun. Tidak butuh penanganan psikiater. Tidak butuh obat. Tidak butuh terapi. Apapun yang ditawarkan dokter Diana yang malah membuatnya risau, tak akan lagi dipilihnya. Ia membutuhkan Dika, bukan dokter Diana. “Bener?” “Bener.” Dika melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luna. Hal itu membuat Luna menyatukan alis bingung. Dilihatnya Dika yang berjalan ke depan, perlahan-lahan, kakinya bergerak ke depan seperti berjalan di atas angin. Ia melangkah sangat santai. “Mau ke mana?” tanya Luna. “Aku mau tunjukin kamu tempat yang lebih indah daripada ini, Lun.” Dika menoleh ke belakang. Tangannya terulur pada Luna. “Mau ikut?” Luna menimbang sejenak. Dipikirkannya ajakan Dika. Ia menggigit bibir bawahnya, masih berpikir selama beberapa detik. Pada akhirnya, gadis itu mengangguk. Ia meraih tangan Dika dan menggenggamnya, membuat Dika mengangkat sudut-sudut bibirnya membentuk senyum merekah. Ia melangkah makin ke depan diikuti Luna yang berjalan perlahan di belakangnya. Sampai suara seseorang menegur dan membuat fokus Luna terpecah. “Eh, Nak! Ngapain di sana! Nanti jatuh!” Seorang wanita yang mengenakan daster berlari tergesa-gesa menghampiri Luna. Beberapa orang yang mendengar seruan itu keluar dari rumah kayu mereka. Wanita berdaster tadi langsung menarik Luna menjauh. “Kamu ngapain? Mau terjun???” Luna menatapnya bingung. Ia menoleh ke tempatnya berdiri tadi, tapi Dika tidak ada di sana. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. “Ada apa?” “Kenapa?” “Kenapa itu?” “Anak siapa tuh?” Pertanyaan-pertanyaan mulai mengalir dari mulut orang-orang. “Anak ini tadi nyaris terjun ke jurang!” Dan Luna hanya menatap kosong pada orang-orang yang mengerumuninya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD