TUJUH

1606 Words
CANDY   Hujan turun rintik-rintik. Aku merindukan hujan seperti ini yang mengingatkanku pada Mama. Aku akan duduk di depan jendela, mengamati tetes demi tetes air hujan yang terlihat dari balik kaca jendelaku sedangkan aku hanya cukup melamun. Jika hujan sudah turun, entahlah, rasanya pikiranku damai. Seolah-olah Tuhan memberikan bantuannya dengan mendinginkan kepalaku melalui tetesan hujan. Aku menengadah, mengamati awan mendung di atas dan mendengar rintikan hujan menggelitik telingaku. Selama beberapa menit aku memejamkan mata. Kemudian merasakan hawa yang sejuk itu. Baunya memang khas, bau yang damai dan tenteram. Bau petrikor. Suaranya pun indah, melebihi suara-suara burung yang berkicau di pagi hari. Ingin aku melompat dan berlarian ke sana-kemari di bawah hujan. Tertawa cekikikan. Dan bercandaan bersama Dirga. Aku masih ingat betul kapan terakhir kalinya hal itu kulakukan. Saat semuanya masih terlihat baik-baik saja. Saat aku masih tinggal di rumah Papa bersama Mama. Terlalu manis untuk dilupakan. Dan kejadian menyenangkan seperti itu hanya datang sekali dalam kehidupanku. “Yuk.” Dirga mengagetkanku. Aku membuka mata dan melihat dia sudah berdiri di sebelahku dengan senyuman merekah. Kutengok ke sekeliling arah. Sekolah sudah hampir sepi. Tak ada yang menyapaku ketika segerombolan anak melewati kami. Yang ada justru Dirga yang disapa. Aku sudah biasa menghadapi hal semacam itu. Dan aku tidak keberatan kalau tidak disapa. Toh kehadiranku di sini dianggap maya oleh sebagian besar anak. Aku sudah terbiasa akan hal itu. “Masih hujan,” kataku pendek. “Mmm… oke, tunggu sampai hujannya sedikit reda ya.” Dirga melepas jaketnya, kemudian menanggalkannya di pundakku. “Biar nggak kedinginan.” Aku tersenyum sebentar sebagai gantinya ucapan terima kasih. Pandangan kosong kulabuhkan pada tanah basah di depanku. “Kemarin kamu kemana, Dy? Udah ketemu Nada, belum? Dari kemarin dia khawatir nyariin kamu,” kata Dirga membuyarkan lamunanku sebentar. Aku tidak mengalihkan perhatianku, tapi aku menjawab pertanyaan itu. “Pergi seperti biasanya.” “Kemana? Kenapa nggak pernah bilang?” Aku membisu sejenak. Memikirkan kata-kata mana yang pas. Atau justru menimbang-nimbang akankah kukatakan padanya bahwa aku memiliki tempat lain untuk berteduh? “Sebaiknya kamu nggak usah tahu.” Akhirnya kupandang juga dia, menghindari rasa curiga yang akan dilemparkannya padaku. “Nggak usah nyari aku lagi.” “Kenapa sih, Dy? Aku kan sahabat kamu.” Dirga menarik napas pendek. “Please, kita udah bersahabat lama. Tapi kamu nggak pernah mau terbuka sama aku sejak Mama kamu meninggal.” Itu karena aku sendiri bingung harus menyikapinya kayak gimana, batinku. “Aku kan udah bilang, sebaiknya kamu nggak usah tahu. Aku yakin kamu bakal nyesel udah kenal dan pernah hidup sama aku.” Aku tersenyum sedikit miring. Dirga mendengus kesal. Mungkin membiarkanku menyendiri bukanlah pilihan yang akan diambilnya. Dirga akan menyalahkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu yang buruk padaku. Itulah salah satu alasan aku tidak mau melibatkan Dirga ke dalam kehidupanku. Tidak bisa. “Oke.” Terdengar desahan frustrasi di sebelahku. Tampaknya Dirga mulai mengalah. “Tapi asal kamu tahu ya, aku nggak akan pernah menyesal pernah hidup sama kamu.” Hujan sudah mulai reda. Rintiknya tidak sederas tadi dan Dirga menggandengku menuju mobilnya. Dia bilang kalau hari ini dia membawa mobil biar bisa mengantarku pulang dan tidak akan membiarkanku capek. Aku menampakkan sikap tidak peduli pada alasannya, namun di dalam hati aku benar-benar senang. Ia masih peduli. Seharian ini aku tidak melihat Nada. Dirga bilang Nada tidak enak badan gara-gara terlalu capek mencariku kemarin. Aku agak kasihan padanya. Tapi kebencianku padanya mengalahkan rasa kasihanku. Rasa kebencianku terlalu kuat dan tidak bisa digeser sedikit oleh rasa kasihan itu. “Jadi, Nada di UKS seharian ini?” tanyaku sambil memandangi pemandangan hijau basah pasca  hujan dari balik kaca jendela mobilnya yang berembun. “Ya, dia dijemput sopir. Tapi pas aku bilang kalau kamu sekolah, dia senang banget.” “Oh.” “Cuma bagian pas kamu berantem yang nggak dia suka.” Aku memandangnya. “Kok kamu cerita?” “Kan dia masih saudara kamu. Dia khawatir sama kamu, Dy.” Kuhela napas pendek. Khawatir? Nada? Haha. Dirga mengeraskan suara musik dari dalam radionya. Aku tidak memedulikan lagu apa yang sedang diputar, karena aku sendiri sibuk dengan pikiran-pikiranku. Sejak hidupku berubah drastis, jarak antara aku dengan Dirga sangat jauh. Bagaikan aku berada di selatan sedangkan Dirga jauh di utara. Rasanya asing tiap kali berdekatan dengannya, tidak sedekat dulu ketika kami masih kecil. Aku ingin bergerak dan menggodanya seperti saat kami masih kecil. Tetapi tanganku seolah mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Aku memilih untuk diam. “Oh ya, kamu inget nggak pas Papa aku ngasih satu permen lolipop, terus kita berebutan dan aku menang?” Aku mengalihkan pandanganku ke samping. “Ya. Kenapa?” “Waktu itu kamu cengeng banget, ya. Kamu nangis gara-gara aku berhasil ngerebut permen itu. Terus aku nggak tega ngelihat kamu nangis. Jadi, aku kasihin permen itu ke kamu.” Dirga tertawa pelan. Sepertinya dia sengaja memutar kembali kenangan-kenangan yang sempat hinggap di otakku dan membuatku merasa bahagia. “Ya. Aku emang cengeng waktu itu.” Aku tersenyum. “Terus kamu pernah bilang kan kalau…” “Mama ngasih nama Candy buat aku biar bisa membuat orang lain tersenyum. Membuat kesan manis seperti sebuah permem.” Aku tersenyum hambar. “Tapi Mama melupakan bagian dimana sebuah permen akan hancur kalau diinjak.” Dirga mengamatiku. Dia tampak seperti berpikir dan seolah memintaku memberikan waktu untuknya. Aku mengabulkan pikirannya. Jadi, aku membiarkannya membisu. “Aku sayang sama kamu, Dy. Aku nggak bisa ngelihat kamu sedih.” Dirga menghela napas panjang. “Tapi, kamu yang sengaja ngebuat jarak di antara kita. Kita udah kayak bukan sahabat lagi.” Sekarang aku yang membisu. Sebenarnya aku penasaran. Apakah Dirga menyayangiku sebagai sahabat, adik, atau justru lebih? Seperti apakah dia menyayangiku? Apakah seperti aku? Yang menginginkan lebih dari kata sahabat? “Mungkin aku masih perlu waktu.” “Sampai kapan?” Aku menggeleng perlahan. “Nggak tahu.” “Candy, kamu itu udah banyak berubah tahu nggak.” Dan kamu nggak tahu alasan aku berubah. Aku juga bingung akan apa yang terjadi denganku sebenarnya. Aku menghela napas pendek tanpa menjawab kalimat Dirga lagi.   *   Mama Rosa terlihat senang aku pulang. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih pada Dirga sudah mengantarkanku. Karena tidak mau basa-basi, aku ngeloyor pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun pada Mama Rosa. Tetapi baru beberapa langkah memijaki anak tangga, Mama Rosa memanggilku. “Candy, kamu kemana aja, Nak? Mama sama Nada nyari ke rumah temen-temenmu tapi mereka bilang kamu nggak ada di rumah mereka.” Kalau dia memang peduli dan sayang padaku seperti dia menyayangi anaknya sendiri, dia pasti tahu kalau aku tidak pernah punya teman dekat. Nada mungkin sudah tahu aku paling anti bersosialisasi. Dia juga tahu kalau aku tak punya teman. Hanya Gisha yang bersikap lumayan baik padaku. Meski begitu, ia tak akan mau berteman akrab dengan orang macam diriku. Apalagi untuk menampungku di rumahnya. Kali ini aku sedang ingin berkata sopan padanya. “Saya cuma pengen sendirian kok.” Lalu meneruskan langkahku kembali. Rasanya terlalu jahat kalau aku menghakimi Mama Rosa yang berusaha baik padaku. Tapi... aku terlanjur membencinya. Dia penyebab kehidupan kacau seperti ini. Dia penyebab orangtuaku bercerai. Dia penyebab Mamaku depresi hingga kehilangan kontrol dan over dosis obat penenangnya sendiri. Dia penyebab aku mengalami depresi. Dia penyebab aku sering menyakiti diriku sendiri. Dia penyebab aku dibully. Rasanya sulit menerima semua itu dan mengubahnya menjadi cinta. Aku tidak akan main-main mengambil kata cinta untuknya. Sesampainya di dalam kamar, aku membanting tasku ke sembarang tempat. Kuobrak-abrik laci mejaku hingga menemukan sebuah kotak berukuran sedang. Kubuka kotak tersebut, mendapatkan beberapa benda yang sangat berarti bagiku. Seperti foto-fotoku bersama Dirga saat kami masih kecil. Pita berwarna ungu pemberian Dirga yang pernah diikatkan di rambutku. Flower crown yang pernah dibuat Dirga—bunga-bunganya sudah kering tapi aku tidak mau membuangnya—ketika kami masih kecil. Dan sebuah lolipop yang masih terbungkus plastik dengan pita berwarna merah di bagian batangnya. Ingin rasanya kuputar ulang masa-masa kecilku. Sungguh tidak adil kalau semua kebahagiaan itu harus diganti dengan kehidupan seperti ini. Kuamati fotoku bersama Dirga. Aku masih ingat saat itu Papaku yang mengambil gambar itu. Waktu itu keluargaku dan keluarga Dirga piknik bersama. Dirga dan aku bermain layaknya anak kecil lainnya. Kami saling berkejaran, meniup gelembung di atas bukit, dan saling menggelitik. Semuanya nyaris sempurna. Dan aku bahagia. Tapi semuanya berubah. Semuanya mengubahku seperti ini. Kehidupanku berubah drastis. Aku kehilangan Mama, aku kehilangan momen-momen indah seperti itu, aku kehilangan kebersamaanku dengan Dirga semenjak dia mengenal Nada, aku kehilangan masa-masa remaja yang seharusnya membuatku bahagia. Semua orang menganggapku gila. Tapi mereka tidak akan pernah tahu seberapa pahitnya kehidupan itu. Dan aku lelah menjalani ini. Aku lelah harus bersabar. Sampai kapan? Apakah ini akan berlanjut sampai nanti? Di tangan kananku masih kugenggam lolipop yang sempat kurebutkan bersama Dirga hingga aku menangis. Aku masih ingat betul bagian itu. Dirga merasa bersalah membuatku menangis. Kemudian dia mengusap air mataku dan menyerahkan permen itu sambil berkata, “Jangan nangis. Maaf. Ini buat kamu. Tapi jangan nangis ya. Aku jadi ngerasa bersalah tiap ngelihat kamu nangis kayak gini.” Dan sekarang, aku kembali menangis mengingat itu semua. Kalau dulu Mama akan selalu melindungi dan membelaku ketika orang-orang mengolokku, sekarang Dirga seolah menggantikan Mama sebagai tamengku. Seperti Bima yang menamengi Drupadi. Cerita pewayangan itu mengalir jernih dalam pikiranku. Waktu kecil, Dirga sesekali memainkan wayang kulit yang dihadiahkan kakeknya yang seorang budayawan. Bersama-sama kami memainkan wayang itu seperti anak kecil yang baru berkenalan dengan mainan baru. Ia menggerak-gerakkan wayang Bima dan Drupadi, mengucapkan dialog di antara keduanya dalam bahasa Indonesia dan tak jarang membuat aku tertawa geli. Wayang-wayang itu masih tersimpan di rumah Dirga, dipajang di ruang tamu sehingga orang lain dapat menikmati keindahan seninya. Aku merindukan semua kenangan itu. Benar-benar merindukannya hingga ke puncak kepalaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD