DELAPAN

1589 Words
Aku tidak pernah membayangkan bahwa terluka adalah salah satu hal favoritku. Aku tidak pernah mengira kalau luka termasuk ke dalam kehidupanku. Setiap saat aku bertanya, apakah aku harus merasakan luka itu selamanya? Apakah aku bisa bertahan? Aku sudah mengatakannya, sekian kalinya kudengar benda-benda yang dilempar dengan suara ribut di ruang tengah atau dapur. Aku sudah terbiasa. Dan tidak pernah ikut campur. Kini aku cukup menyumpal telingaku dengan kedua tanganku ketika aku sedang belajar dan keributan itu kembali datang. Terlalu menyebalkan kalau setiap aku jalan pun semua orang akan melemparku dengan olokan mereka. Mereka akan memberikan kata-kata menyakitkan. Mereka akan memperlakukan aku layaknya binatang. Pernah aku sekali menonjok salah satu temanku ketika dia mulai mengolokku. Tapi hal itu tidak pernah kulakukan lagi semenjak aku mengenal seseorang. Seseorang yang mengajariku bahwa kekerasan tidak baik dilakukan. Seseorang yang justru mengatakan aku sempurna di matanya. Seseorang yang tidak memandang bagaimana kebanyakan orang memandangku. Dia bahkan mengabaikan bekas cakaran kukuku sendiri di pipiku. Dia tidak pernah mempermasalahkan apapun kekuranganku. Tapi aku mengira dia sama seperti yang lainnya. Aku sudah memintannya untuk tidak ikut campur dan membiarkan aku mati saat aku berusaha mengakhiri hidupku. Tapi dia tetap membujukku. Tidak tahu kenapa, aku menuruti perkataannya. Dan semenjak itu kami dekat. Aku senang tiap berada di dekatnya. Dan aku harap dialah orang yang sanggup mengubah hidupku menjadi lebih baik. Haha. Dunia memang aneh. Aku bahkan masih belum mengerti kenapa harus ada hitam dan putih?  Semua orang memang jahat, awalnya aku berpikir seperti itu. Tapi tidak untuk dia. Dia berbeda. Dia akan membawaku pergi dan membuatku tersenyum kembali. Bagaimana rasanya cinta itu? Dia yang memberikan jawaban itu. Setiap kehidupan ada cinta. Selama aku hidup, belum pernah kudapatkan hal semacam itu. Dan dia hadir seolah mengajarkan apa itu yang namanya mencintai dan dicintai. Dia akan selalu ada saat aku merasakan kekecewaan. Saat aku terpuruk. Saat aku hendak melakukan hal-hal gila. Dengan sikapnya yang lembut, dia akan menyingkirkan pisau atau benda-benda tajam yang ada di tanganku. Dia akan mengusap air mataku dan memelukku hingga aku tenang. Dia akan mengatakan “Jangan menangis” kalau aku mulai beruraian air mata. Sungguh, begitu baiknya Tuhan menghadirkan malaikat untukku. Aku bahagia di sampingnya. Dia yang memberikan cahaya baru utukku.   Luna   Malam hari seperti biasa, Luna menulis pada buku hariannya. Ada senyum menari riang di bibirnya yang memenuhi wajah. Wajahnya lebih berbinar daripada biasanya. Ia menorehkan pena di atas kertas, membentuk rangkaian kalimat dengan mata mengawasi langit-langit. Berangan-angan nun jauh. Dibacanya lagi jurnal tersebut sebelum ditutup dan dimasukkan ke dalam laci. Ia tak ingin seorang pun menemukan curahan hatinya. Tidak ada yang boleh membaca buku harian itu kecuali atas ijinnya. Perhatian Luna berpindah dari sampul buku harian menuju jendela yang diketuk dari luar. Gadis itu celingukan. Seseorang, dari balik kelambu putih berenda-rendanya, terlihat mengetuk-ngetuk dan melambaikan tangan padanya. Dengan segera ia mengangkat badan, melenggang panjang-panjang menghampiri jendela. Disibaknya kelambu putih dan membuka jendela kamarnya. Aroma rumput basah yang dibawa oleh angin semilir merasuk dalam penciumannya hingga membuat matanya terpejam selama sedetik saja. “Hai!” Dika sudah memasang cengiran lebar sebagai sambutannya. Luna melongokkan kepala ke luar jendela sekadar mengamati keadaan di sekitar rumahnya. Pekarangan dalam keadaan sepi. Satpam barangkali tertidur di pos jaga. “Kamu ngapain di sini?” gadis itu berbisik. “Mau ajak kamu keluar. Ayo.” Dika melambaikan tangan lagi meminta Luna mengikutinya. Menggigit bibir bawah, Luna sedikit menimbang-nimbang. Namun pada akhirnya ia mengikuti kemauan Dika dengan melompat melewati jendela, merangkak ke bawah, dan menutupnya lagi sebelum berlari berdua melintasi halaman berumput. Sialnya, pintu gerbang tertutup. Hal itu membuat Luna menggembungkan pipi dan mendesah putus asa. “Tenang aja. Tadi aku manjat kok.” Dika menunjuk tembok yang memagari rumah Luna. “Gila kamu, Dik. Nggak ah. Nanti kalau jatuh gimana?” “Aku aja bisa, masa kamu nggak?” Sebelah alis Dika tertarik mencemooh. “Kan kamu cowok!” “Apa bedanya cowok sama cewek? Ayo. Aku duluan deh. Aku bantu kalau udah sampai.” Dika mendorong pelan bahu Luna. Gadis itu memutar bola mata. Pada akhirnya, ia mengikuti permintaan Dika dengan memanjat tembok dibantu sebuah kursi kayu yang sengaja diletakkan di taman untuk para tukang kebun yang istirahat dari pekerjaan bersih-bersih. Dika yang lebih dulu berada di luar tembok mengulurkan tangan ke depan bersiap menangkap tubuh Luna. Namun sial, Luna justru menimpanya hingga mereka terjatuh dan mengaduh kesakitan. “Ssshhh jangan berisik!” Dika mengatupkan tangan pada mulut Luna yang nyaris mengerang keras. Gadis itu menepuk tangan Dika. “Ih! Kamu ini. Aku jadi jatuh, kan.” Dika menyengir kuda. “Maaf, deh. Ayo lanjut.” Mereka beringsut berdiri dan menepuk-nepuk celana membersihkan noda serta rumput yang menempel. Keduanya berlarian kecil di tengah kegelapan. Dalam gandengan tangan Dika, Luna berlari mengikutinya. Entah ke mana. Ia tidak tahu. Yang penting, Dika tidak menculik atau menyakitinya. Luna yakin dan percaya pada cowok itu. Rupanya, Dika membawa Luna sedikit jauh dari komplek perumahan. Mereka berhenti di sebuah taman tempat mereka pertama kali bertemu. Dengan menyusup melalui pagar besi yang rusah dan meninggalkan lubang menganga, mereka mengendap-endap memasuki taman yang seharusnya ditutup dan dikosongi pada jam-jam seperti ini. “Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” “Aku mau nunjukin kamu sesuatu, Lun. Ini waktu yang tepat. Abis ujan soalnya.” Aroma kedamaian terbawa oleh angin. Dari aroma rumput segar dan tanah basah yang bercampu jadi satu dengan dingin yang menyusup di permukaan kulit mereka berdua. Luna mengusap-usap telapak tangannya yang kedinginan. Ia mengekor di belakang Dika yang terus melambaikan tangan memintanya mengikuti dirinya. Dan berhentilah mereka di depan danau yang dipenuhi angsa putih yang pernah menjadi saksi pertemuan mereka. Luna ternganga melihat kunang-kunang berterbangan mengitari danau. Terbang rendah di atas air. Ada pula yang mengelilingi pepohonan yang dililit oleh lampu-lampu warna-warni. Ia mengatupkan telapak tangan pada bibir. Terperangah pada keindahan yang dilihatnya. “Bagus banget, Dik!” bisiknya nyaris seperti teriakan. “Bagus, kan? Kunang-kunangnya bakal muncul sehabis ujan malam hari. Nah kan di sini kalau malam nggak pernah didatengi pengunjung. Jadi ya... kayaknya nggak ada yang tahu tempat ini bakal jadi cantik kayak begini kalau malam abis ujan.” Dika tersenyum. Luna tak berhenti mengagumi keindahan yang mengelilinginya. Ia menghampiri danau makin dekat. Diulurkan tangannya ke depan meminta sambutan salah satu dari ribuan kunang-kunang yang kelap-kelip di sekitar danau. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lebar. Seekor kunang-kunang hinggap di atas telunjuknya. Sinarnya berpendar-pendar putih kekuning-kuningan. Luna mengamati makhluk tersebut dengan saksama. Sampai akhirnya terbang lagi di udara. “Kok kamu tahu sih tempat ini bisa jadi sebagus ini?” Luna masih tak memercayai pandangannya. “Ya... waktu itu iseng sih lewat. Terus dari luar pagar, aku lihat ada kelap-kelip di danau. Nah kebetulan waktu itu ya ujan deres. Makanya aku pengen ajak kamu ke sini buat lihat bareng. Cantik, kan?” Luna mengangguk. Tangannya diraih Dika. Diajaknya gadis itu berdansa berdua di bawah remang-remang kunang-kunang yang mengitari seakan keduanya adalah sepasang pangeran dan putri dari negeri dongeng. Musik dihidupkan melalui pikiran Luna. Ia membayangkan musik bermain di kepalanya, sesuai permintaan Dika, mengiringi dansa mereka yang makin larut makin intens. Tak henti-hentinya Luna mengumbar senyum senang. Demikian pula dengan cowok di depannya. Mereka bertukar senyum dan tatapan. Pandangan mata Dika pada gadis di depannya begitu lembut. Dika mengangkat tangannya ke atas hingga membuat Luna berputaran di bawah tangan mereka yang terangkat. “Aku nggak pernah ngerasa sebahagia ini, Dik,” bisik Luna di depan wajah Dika. “Kamu satu-satunya orang yang berhasil membuat aku senyum.” “Ah masa?” “Serius.” “Bagus dong. Aku juga seneng kalau kamu seneng. Jangan sedih lagi, ya. Selalu ingat di benak kamu. Aku akan ada di samping kamu. Di manapun kamu melangkah, aku selalu mendampingi kamu.” Jari-jari Dika menyusuri rambut Luna yang panjang lurus. “Kenapa kamu mau deket-deket sama aku? Kamu tahu nggak kalau aku dijauhi orang-orang karena mereka nganggep aku berandal, nakal, dan aneh?” “Orang yang nggak punya hati aja yang tega berbuat begitu ke kamu. Jangan diambil pusing, Lun. Anggap aja mereka itu nggak nyata.” Senyum Luna makin sumringah. “Mereka nggak nyata.” “Dengan begitu kan kamu bisa lebih senang.” Mereka bergerak lincah lagi. Irama jantung Luna sudah menghentak-hentak. Jantung itu berdebar kencang menyentuh d**a. Setiap kalimat yang dilontarkan Dika padanya terdengar begitu manis. Sungguh, tak tahu harus diungkapkan bagaimana rasa bahagianya. Setidaknya, Dika ada saat ini untuk dirinya. Persetan apa kata orang. Persetan olokan-olokan itu. Persetan manusia-manusia jahat itu. Anggap mereka tidak nyata, Luna. Luna mengangguk dalam hati. Ia tak akan memedulikan orang-orang jahat yang selama ini selalu melemparkan cacian yang jahat padanya. Langkah dansa mereka melambat. Kini mereka bergerak lebih pelan. Nyaris tak ada jarak yang memisahkan di antara mereka. Yang ada mungkin hanyalah angin yan lewat di sela-sela keduanya. Mereka saling berdiam. Namun langkah kaki masih terus bergerak. Demikian pula dengan genggaman tangan keduanya. Dika membenamkan dagu di puncak kepala Luna. Mencium aroma ceri dari rambut tersebut. Bekas sampo yang menyatu dengan air sore tadi. Sementara Luna menghirup aroma surgawi yang dibawa oleh tubuh Dika. Mereka masih membisu. Terdengar bunyi jangkrik mengerik yang seolah ikut menjadi pengantar musik dansa bagi mereka. “Dika,” bisik Luna kalem. “Kamu jangan tinggalin aku, ya. Aku nggak punya siapa-siapa.” Dika tersenyum simpul. Dipandangnya kedua mata Luna yang penuh pengharapan. Ada binar permohonan sekaligus rasa tak ingin kehilangan yang tertangkap oleh manik matanya. Dika mengangguk. “Kan udah aku bilang, aku akan selalu ada di sisi kamu, Luna.” “Kamu janji?” “Janji!” Luna menunjukkan jari kelingkingnya. Mereka saling menautkan kelingking pertanda pertukaran janji. Kemudian kembali melanjutkan dansa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD