CANDY
Bukankah aneh kalau di jurnal itu dituliskan bahwa ada seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan Mama? Apakah itu Papa? Rasanya tidak. Mama menggambarkannya berbeda dari Papa. Pasti ada orang lain yang hadir dalam kehidupan Mama dan sempat membuatnya bahagia. Tapi siapa? Aku harus mencari tahu. Mungkin sekadar kenalan. Tapi mana mungkin kenalan kalau dia bisa sangat sebahagia ini. Lihatlah tulisan-tulisannya di halaman-halaman yang baru kupegang. Pasti orang itu sangat berharga baginya. Seperti apakah orang yang pernah membuat Mama bahagia?
Aku akan sangat berterima kasih padanya. Aku harus segera menemukannya. Semua masa lalu Mama akan kuketahui lebih jelas jika aku sudah bertemu orang-orang yang ada di balik kehidupan Mama. Apakah orang itu seperti Dirga? Yang kehadirannya adalah sebuah anugerah pemberian Tuhan. Entahlah. Aku belum berani berasumsi secepat itu sebelum bertemu dengannya.
Aku merapikan rambutku dan mematut bayanganku pada cermin. Kusambar tas sekolahku untuk turun dan berangkat. Aku selalu melewatkan sarapanku karena malas satu meja dengan Mama Rosa dan Nada. Sudah kutebak apa yang akan dikatakan Mama Rosa. Aku sudah hapal karena setiap pagi dia akan menanyakan hal serupa ketika kami bertemu di meja makan.
“Nggak sarapan, Sayang?”
Aku menoleh sebentar. “Nggak usah.” Selanjutnya melenggang. Selalu seperti itu ketika ditanya Mama Rosa.
Nada berlari dan menggamit lenganku. “Berangkat bareng yuk. Nggak usah jalan kaki. Kali ini aja.”
Kulepas tangan Nada dan menatapnya dengan raut muka tidak suka. “Nggak.”
“Ayo dong, please…” Nada memberikan ekspresi memohon. “Sekali aja…”
Kuabaikan Nada dan melenggang kembali. Namun anak itu masih merajuk. Dia berusaha membujukku untuk satu mobil dengannya. Daripada mendengar rajukannya—aku paling benci kalau dia merajuk—lebih baik kuturuti saja.
“Sekali ini saja,” kataku. Aku berjalan menuju mobil. Nada berseru senang kemudian menyusul di belakang dengan langkah riang.
Aku pasti mati kebosanan satu mobil dengan adik tiriku itu. Kalau saja dia tidak merajuk, aku pasti malas satu mobil dengannya.
Sepanjang perjalanan Nada berceloteh, menceritakan padaku kalau dia sedang jatuh cinta. Aku berlagak tidak mendengar omongannya dan masih memandang pemandangan hijau di luar. Nada sibuk dengan celotehannya tanpa memedulikan tanggapanku.
“Aku belum pernah ngerasain ini, tapi yah… dia itu beda banget.” Nada tersenyum-senyum sendiri. “Dia pinter main piano, aku bisa main biola. Wah, pasti seru tuh. Udah nggak sabar buat pentasnya!”
“Pentas?” Mendadak aku seperti tertarik dengan topik pembicaraan Nada kali ini.
“Iya. Ultah SMA. Kan dia sama aku dipasangin buat tampil. Dia yang main piano, aku yang main biola.”
“Siapa sih?” Aku jadi ikut penasaran. Setahuku Nada tidak pernah mencuri-curi pandang dengan lelaki lain.
“Uhm… cerita nggak ya?” Nada terkikik. “Nggak deh. Malu. Hahaha.”
Aku memutar bola mata dan mengabaikannya lagi. Nada masih terus-terusan memuji cowok yang ditaksirnya dan mengatakan kalau sebelumnya dia tidak pernah menyangka akan menyukai cowok itu.
*
Bel istirahat berdentang dua kali. Aku meninggalkan kelas menuju toilet perempuan sekadar cuci muka. Aku menemukan Farah yang terisak di toilet perempuan. Dia tengah duduk di sudut toilet, dekat dengan wastafel, sesenggukan dengan wajah terbenam pada belahan telapak tangannya. Sebelah alisku terangkat mendapatinya menangis seorang diri di sini pada jam istirahat. Kudekati dia dan duduk di sebelahnya. Dia masih tidak mau mengangkat kepalanya untuk memandangku.
“Kenapa lagi? Kamu diganggu lagi?” Aku menghela napas panjang. “Kalau kamu diganggu, bilang aja sama aku. Aku bisa ngehajar mereka. Kamu tuh seharusnya melawan, Far. Bukan menye-menye kayak gini. Yang kuat dong—”
“Aku nggak suka kekerasan,” Farah menginterupsi di tengah isak tangisnya. Dia masih membenamkan wajahnya di paha.
Bola mataku terputar ke atas. Aku kan tidak bilang menyuruhnya menghajar begundal-begundal b******k itu. “Aku nggak pernah bilang kamu harus membalas mereka dengan kekerasan, kan?”
“Mama nggak pernah ngajarin aku jadi preman, Dy.”
Aku tertawa. Tapi segera menghentikan tawaku mencerna kalimatnya. Mama nggak pernah mengajari aku jadi preman, Dy. Aku teringat ucapan Mama saat aku hampir bertengkar dengan temanku. Kalimat itu terngiang begitu saja,
“Mama nggak pernah ya ngajarin kamu kasar. Inget itu.”
Kemudian aku tertawa lagi. “Yah, nggak ada orangtua yang ngajarin anaknya kasar sih.” Kutelan kalimat itu bersama dengan saliva. Aku mengamati dinding polos memikirkan kalimat tersebut, yang terus-menerus terngiang dan berputaran di kepala sampai membuatku membuang napas panjang.
“Terus, kenapa kamu kasar sama banyak orang?” Sekarang Farah bersedia mengangkat kepalanya untuk melihatku. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku melihat mega kelabu di wajahnya yang basah.
“Hidup yang buat aku berubah jadi orang kasar.”
Farah mengusap air matanya. Dia menatapku setelah itu. “Tapi kamu nggak perlu kasar.”
“Hmm... Siapa tahu ada bidadari yang mengubahku jadi kalem.” Tanganku bergerak-gerak membentuk sayap malaikat yang terbang di udara. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding toilet. Sementara Farah sibuk membersihkan mukanya di wastafel. “Emang kamu tadi diapain lagi?”
“Anak-anak rese banget. Mereka nempelin kertas di punggung aku. Terus aku ditertawain satu sekolah.”
“Tulisannya apaan?”
Farah mengelap mukanya dengan tisu. Dia memandangku dari cermin di depannya. “Hngg.” Ia memandangku seakan tak berminat menjelaskan kejahatan yang dilakukan oleh teman-teman.
“Cerita dong. Kamu aja nggak mau terbuka sama aku.” Aku memainkan tali sepatuku yang terlepas.
“Nggak usahlah. Lupain aja, Dy.”
“Ya nggak bisa begitu!” Malah aku yang naik pitam. Aku menghela napas panjang. Kadang aku bingung dengan jalan pikiran Farah. Dia sudah dibully ramai-ramai. Seharusnya dia melawan ketidakadilan itu! Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu tuh terlalu lemah, Far. Harusnya kamu nggak kayak gini.”
Farah terdiam selama beberapa menit. Kepalaku tengadah mengamati wajahnya yang pucat. Tampaknya dia sedang sakit. Aku bangkit dari tempat duduk dan mengusap pundaknya. “Kamu sakit?”
Dia menggeleng. “Nggak kok.”
“Tapi wajah kamu pucat banget loh. Kayak zombie.”
“Aku nggak apa, Dy.”
“Oke…” kataku tanpa suara. Farah terlihat lesu. Dia bahkan terlihat tidak bersemangat. Matanya lebam dan wajahnya pucat. Aku jadi kasihan melihatnya. Sungguh, bullying harus dimusnahkan dari dunia ini.
*
Dirga lewat di depan kelasku saat aku sibuk menyalin catatan Biologi milik Gisha. Perhatianku spontan buyar. Dia sempat menjatuhkan perhatian padaku alih-alih pada kawan-kawannya yang mengajaknya bercanda tawa. Aku melengos melanjutkan mencatat. Sudut mataku melirik lagi padanya, namun dia sudah tak ada. Lewat begitu saja. Aku menghela napas panjang.
Mengapa waktu seakan membelengguku seperti ini? Aku ingin kami hidup normal. Aku ingin menyapanya di jam istirahat dan mengajaknya ke kantin tanpa sorak-sorai memuakkan teman-teman brengsekku yang selalu mencari gara-gara. Aku ingin kami seperti remaja normal. Salah. Aku ingin aku yang seperti remaja normal. Diriku. Bukan Dirga.
“Kamu ada apa sih Dy sama Dirga?” Gisha bertanya di sampingku.
Kualihkan tatapan dari buku menuju ke arahnya. “Nggak ada apa-apa.”
“Kalau nggak salah, katanya sih, kamu sahabat deket kan sama dia? Kenapa sekarang jauhan? Kalian berantem?”
Aku mendengus. Gisha bertanya karena ingin tahu, bukan benar-benar peduli. Aku tak yakin mulutnya tidak ember. Bisa saja setelah mendengar jawabanku, dia akan membocorkannya pada geng ember dan mulai menggosipkan aku di belakang. Aku tak pernah percaya pada siapapun sekarang.
Kugelengkan kepala sebagai jawaban aman. “Kami berteman biasa. Nggak ada yang perlu ditanyakan lagi.” Aku melanjutkan kegiatanku menorehkan tinta di atas kertas. “Lagipula, apa urusan kamu, Gish?”
Gisha gelagapan. Dia menggaruk kepala dan mengusap tengkuknya yang barangkali sudah berkeringat dingin. Tak lagi dilanjutkan obrolan seputar Dirga sedangkan aku melanjutkan kegiatanku menyalin catatan Biologi.
*
Istirahat kedua, aku tak lagi melihat Farah. Ingin kutanyakan pada teman-temannya, tapi itu bukan ide yang bagus. Selain tidak akan menjawabku, mereka pasti peduli setan pada Farah. Aku menghela napas putus asa. Mungkin dia ingin menenangkan diri, siapa tahu. Kubiarkan saja dia menyendiri. Kadang kesendirian bisa membuat seseorang tenang. Seperti yang kurasakan.
Jam istirahat tak pernah kugunakan untuk pergi ke tempat ramai seperti kantin. Tempat ajang bergosip yang malah bikin kuping panas. Aku memilih belakang sekolah saja sebagai tempat untuk ‘nongkrong’. Di belakang sekolah terdapat bangku panjang yang bisa digunakan untuk duduk mengamati pemandangan belakang sekolah yang ditumbuhi rerumputan dan digunakan sebagai lapangan sepak bola. Aku memilih mendengarkan musik dengan mematutkan perhatian menuju lapangan yang kosong.
“Dy.” Seseorang menepuk pundakku.
Aku sontak melepas headphone dan menoleh ke belakang. Dirga sudah muncul dengan senyum seperti biasa. Aku mendengus dan membuang muka menuju ke depan. Tanpa permisi, dia duduk di sampingku, mengikuti arah pandangku.
“Serius amat. Tadi di kelas juga. Ngapain aja?”
Bibirku mengerucut ke samping. “Penting ya tanya-tanya?”
Dia tertawa kecil. Rambutku diacak-acak olehnya. Aku mengerutkan dahi dan menghindari tangannya yang memberantakkan rambutku. Kami berdiam selama beberapa menit seperti manekin di toko pakaian.
“Kamu tuh susah ditebak ya. Padahal kita udah lama bersahabat.” Dirga menengadahkan kepala bersipandang dengan langit cerah. “Dulu kamu tuh cerewet banget. Sekarang jadi pendiem gini. Nggak seru ah.”
“Kalau nggak seru kenapa masih ditemenin?” Sebelah alisku terangkat skeptis tanpa mengubah raut wajah datarku.
Dirga menggeleng-gelengkan kepala. “Dy... Dy. Kapan kamu balik lagi? Aku kangen Candy kecil yang cengeng. My little Candy.”
Rindumu semu. Candy yang kamu maksud tak akan kembali lagi. Dia sudah lama tenggelam di dasar laut yang kelam. Dia telah menjelma menjadi Candy mengerikan yang mirip monster. Yang senang bertengkar. Yang temperamental. Yang selalu mengurung dirinya dalam dunianya sendiri. Dan orang sesempurna kamu tidak akan bisa berjejeran dengan Candy yang sekarang. Kamu akan menelan kekecewaan. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Aku memejamkan mata merasakan desis angin yang menerbangkan sebagian rambutku. Tanpa meminta ijin, Dirga memasang satu earphone di telinga kananku, sedangkan yang lain dipasang di telinga kirinya. Dia menghidupkan musik melalui iPodnya, memutar lagu-lagu secara acak dan berhenti pada satu lagu. Mataku terbuka selama beberapa detik mendengarkan alunan nada lembut di seberang sana.
“Dulu waktu kecil kita suka tukeran earphone terus dengerin musik dari walkman. Rebutan buat dengerin lagu yang disuka.” Dia tertawa.
Aku tersenyum kecil. Kuabaikan cericitannya mengulang-ulang lagi kenangan yang telah tertimbun. Memejamkan mata lagi bercengkerama dengan angin semilir dan celotehannya.