CANDY
Tadi pagi aku melihat Farah. Namun wajahnya sangat pucat. Sempat kusapa dia, tapi melengos begitu saja. Aku sempat mengejarnya, tetapi tak berhasil menemukannya. Dia lenyap di balik kelokan. Barangkali memang ingin memiliki waktu sendiri dan tak mau diganggu siapapun. Aku menggigit kepalan tangan, sedikit mengkhawatirkannya.
Sore harinya, aku tidak melihat Farah. Mungkin dia sudah pulang karena tidak enak badan. Kulihat wajahnya pucat sekali. Aku jadi mengkhawatirkannya. Mungkin dia butuh istirahat. Aku tidak pernah menawarkan persahabat pada orang kecuali Dirga. Tetapi aku ingin menjadi teman yang baik untuk Farah. Dia terlihat kesepian. Jahat saja kalau aku ikutan menghindarinya. Aku tidak mau disamakan dengan mereka yang tidak memiliki hati.
Nada bilang dia pulang telat karena ada latihan. Aku masa bodoh dengan SMSnya. Untuk apa dia berpamitan denganku? Siapa yang peduli? Aku tidak peduli. Dari tadi aku tidak melihat keberadaan Dirga. Tidak pernah dia menghilang seperti ini. Sepertinya dia sibuk. Dengar-dengar akan ada pertandingan basket melawan sekolah lain. Mungkin Dirga sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti pertandingan itu.
Aku tidak perlu menunggu Dirga. Jujur, walaupun aku berusaha menghindar dari Dirga, kali ini aku ingin dia menemaniku. Aku kesepian lagi di danau tempat biasa aku termenung. Kali ini aku menyibukkan diri dengan musik dan jurnal Mama. Suasana di danau sangat lengang. Bahkan nyaris sepi. Syukurlah, setidaknya aku bisa lebih tenang berada di sini.
Masih kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dibenakku, siapakah orang yang pernah membuat Mama bahagia? Aku harus bertemu dengannya. Selama ini Mama selalu menutupi kenangan masa lalunya. Bahkan dari Papa. Aku tidak pernah mendengar Mama bercerita tentang masa lalunya. Tidak seperti ibu lainnya yang dengan senang hati meceritakan kenangan masa lalu mereka pada anak-anaknya.
Tetapi melalui jurnal ini, sepertinya kehidupan masa lalu Mama tidak seperti kebanyakan anak, sama sepertiku. Bedanya Mama menjalaninya semenjak dia masih kecil.
Bagaimana rasanya jika kalian berada di posisiku? Aku selalu berteriak dalam hati, menanyakan pada Tuhan ‘kenapa harus aku, Tuhan?’. Aku sering merasa iri melihat teman-temanku yang tumbuh seperti kebanyakan anak lainnya. Mereka memiliki apa yang dimiliki kebanyakan anak. Aku tidak. Kehidupanku seolah berbeda, tapi aku tidak tahu kenapa. Aku tidak cukup berani menghadapi banyak hal.
Saat teman-temanku mulai menanyakan ‘mana orangtuamu?’ ketika pengambilan rapot, aku hanya bisa membalas ‘sibuk’. Kenapa? Kenapa menyempatkan waktu sebentar saja rasanya susah? Aku selalu iri meliat teman-temanku yang diambilkan rapotnya oleh orangtua mereka dan memeluk anak-anaknya bangga ketika mengetahui bahwa anaknya mendapatkan rangking.
Aku hanya bisa membuka rapotku dan melihat angka satu yang tertera di situ. Tidak ada yang senang saat aku mendapatkan rangking satu. Papa dan Mama mugkin hanya mengatakan ‘bagus’ atau ‘ya, pertahankan’. Berbeda dengan Dea. Temanku itu selalu diberi hadiah ketika mendapatkan peringkat dua atau tiga. Dia akan diajak jalan-jalan, makan di restoran mahal, dan diberi hadiah. Tapi kenapa aku yang berada di posisi atas tidak dikasih apa-apa? Tidak adil.
Sekarang, mari memulai dengan malaikat itu. Sekarang hanya ada dia. Dia yang akan mengisi bagian akhir jurnalku. Dia yang nantinya akan mendampingiku. Yah, dia berbeda dari kebanyakan cowok yang kukenal. Kalau banyak cowok yang mempermainkanku, menggodaku, dan mempermalukanku, dia tidak. Dia justru membelaku dan mengusap air mataku ketika aku menangis. Aku sungguh beruntung menemukan dia. Seolah-olah hidupku berubah dimulai darinya. Bagaimana caraku membayar semua kebaikannya?
Luna
Rasanya aku ingin menangis membaca jurnal itu. Sepertinya Mama mengalami masa-masa yang sulit. Tapi bagaimana bisa Mama terpisah dari seseorang yang membuatnya bahagia? Aku ingin meneruskan membaca jurnal itu, tapi ponselku terlanjur berdering. Nama Farah tertera di sana.
“Halo?” nadaku naik dua oktaf. “Farah, kamu baik-baik aja, kan? Tadi di sekolah kok ngehindar, sih?”
Terjadi kesenyapan panjang. Helaan napasnya bisa kudengar dari sini. “Candy? Kamu lagi sibuk?”
“Nggak. Kenapa?” Dahiku berkerut-kerut heran
“Ngg...” Ia terdiam lagi.
Perasaanku jadi tak enak. “Farah, kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja. Aku bisa kok temenin kamu ke manapun. Kamu ada di mana sekarang?”
“Aku... aku nggak enak sama kamu. Kamu pasti sibuk...”
“Ya enggak lah. Aku usahakan pasti datang buat kamu, Far. Kamu mau aku temenin di rumah? Rumah kamu di mana?”
Ada suara isak tertahan di sana. Sepasang alisku bertautan saking bingungnya. Kutunggu sampai detik ini, ia tak kunjung memberi tahu masalahnya padaku. Aku mengetukkan jemari di atas jurnal Mama.
“Farah? Kamu jangan bikin aku kalut dong.”
Tuuuut…
Sebelah alisku terangkat. Kenapa Farah mendadak aneh? Aku penasaran apa yang diinginkannya dariku. Maka kutelepon balik saja dia.
Tuuuut…
Tuuuut…
Masih tidak ada jawaban. Aku jadi mengkhawatirkan keadaannya. Aku belum pernah ke rumahnya. Lalu bagaimana aku bisa menyusul dia? Sepertinya Farah mengalami kesulitan dan dia membutuhkan bantuanku. Sebaiknya kutanyakan langsung padanya besok. Mungkin ada hal-hal yang ingin dibicarakannya denganku.
Aku kembali menekuri kata demi kata yang dirangkai Mama dalam buku jurnal tersebut. Walaupun fokus sudah kubangun sangat kuat, tetap saja pikiranku tercecer. Aku memikirkan Farah. Dia tidak pernah bertingkah seaneh ini. Kucoba untuk kembali menghubunginya. Berkali-kali. Pokoknya, dia harus menjawab telepon dariku.
Setelah mencoba menelepon, malah kotak suara yang tersambung. Aku menghela napas panjang. Kuputuskan untuk meninggalkan saja pesan suara memintanya tak usah sungkan-sungkan untuk meneleponku jika ia butuh.
*
Gisha duduk di bangku sebelahku. Dia menyibukkan diri dengan ponsel di tangan sedangkan aku menyelami pikiran. Pena kuketuk-ketuk di atas meja menanyakan kabar Farah. Lantas bayangan Farah tergantikan oleh sosok Dirga. Sesibuk apakah ia? Berulang kali aku melempar perhatian menuju luar kelas sekadar mengharapkan kehadirannya. Lewat di depan kelasku dengan senyum dan tatapan meneduhkan. Lalu melambai. Ada penyesalan dalam diriku karena selama ini mengabaikan lambaian tangan dan senyumnya. Aku mengulum bibir dan mengetuk-ngetuk meja menggunakan pena. Makin keras.
“Lagi ngarepin Dirga lewat, ya?” Gisha bertanya di bangkunya.
Aku spontan menoleh ke arahnya dan menyatukan alis. “Hah? Nggak lah.”
“Ciyeee. Jangan-jangan kamu suka nih sama doi.”
Bola mataku terputar ke atas. “Nggak kok. Kita kan cuma berteman.”
“Tapi teman bisa loh jadi cinta. Saking terlalu nyamannya sampai-sampai nggak pengen berjauhan dan maunya ditemenin terus.” Ia tersenyum menggoda.
Aku mendengus. Ucapannya terputar di kepalaku bagaikan piringan hitam kuno yang pernah menjadi koleksi Mama. Perasaan nyaman seorang sahabat? Yang kurasakan lebih dari itu. Perasaan nyaman ini lebih dari rasa aman. Bukan karena seseorang bertindak protektif pada sahabatnya, lantas dia merasakan kehangatan kakak pada adik. Kehangatan ini lebih dari itu. Setiap membayangkan wajahnya, jantungku berdebar. Makin keras ketika sosoknya mendadak muncul di depan wajahku. Lalu meletup ketika tangannya meraih tanganku dalam genggaman. Dan kakiku akan meleleh tiap mendengar suaranya. Aku bisa menjadi orang sinting yang senyum-senyum sendiri tiap kali memikirkan dirinya. Ketika seseorang menyebutkan namanya, rasanya ada yang menyengat kepalaku dan membuat perutku bergolak. Seolah di dalam sana ada kupu-kupu yang berterbangan kian-kemari.
“Tuh, kan. Kamu senyum-senyum sendiri. Artinya kamu suka sama dia, Dy.” Gisha mencolek-colek sikuku.
Aku menatapnya dengan alis bertautan. “Udah deh. Kepo banget sih sama hati orang.”
“Loh, bukan kepo kok. Tapi kenyataan. Atau kamu nggak sadar ya kalau kamu lagi naksir Dirga?”
“Ish. Aku nggak naksir Dirga. Kami berteman.” Dan kutinggalkan dia yang menatap kepergianku dengan tatapan tanya.
Kakiku melangkah cepat keluar dari kelas. Saat melewati kelas Dirga, kepalaku celingukan mencari sosoknya. Dia tidak ada di dalam. Aku menggembungkan pipi dan menggigit bibir bawah. Kulanjutkan langkah tak mendapatkan dirinya di sana. Siswa-siswi yang duduk di bangku depan kelas atau berlalu-lalang berpapasan dengan langsung melayangkan lirikan serta saling berbisik-bisik riuh. Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan macam begitu. Jika mereka kasar, aku bisa lebih brutal. Untunglah saat ini aku tidak berminat untuk ribut. Berkali-kali aku menarik dan membuang napas, mengatur emosi, dan teringat Dirga yang berusaha sebaik mungkin agar aku tidak bertingkah brutal macam preman. Sejujurnya, aku ingin mengubah diri demi dirinya. Tapi kenapa begini sulit?
Aku duduk di bangku belakang sekolah menghadap lapangan sepak bola. Mungkin saja Dirga muncul secara tiba-tiba seperti waktu itu dan menemaniku bicara. Kulayangkan perhatian lurus ke depan. Pada beberapa murid SMA yang nekad bermain sepak bola di bawah terik matahari. Aku ingat wajah-wajah mereka yang menghuni kelas IPS. Kebandelan mereka pun sudah melalang-buana di telinga guru-guru.
Saat kuselami pikiran yang tak tahu rimbanya, sebuah bola menghantam kepalaku. Sontak, aku terperanjat. Bocah-bocah di lapangan tersebut bersorak-sorai lantang. Kupungut bola yang menghantam kepalaku tadi dan menekannya sampai telapak tanganku memerah.
“Heh, sinikan bolanya!” salah satu dari mereka berteriak. “Woy! Denger nggak lo?”
Dan kulempar bola di tanganku ke sembarang arah, sejauh-jauhnya, lantas melayangkan tatapan sengit pada mereka sebelum melangkah pergi dengan iringan umpatan kasar terlontar dari mulut mereka.
*
Aku sudah jarang melihat Dirga di sekolah. Entah kenapa aku merindukannya. Berulang kali aku mengirim SMS untuk basa-basi, tapi dia tidak membalasnya. Mungkin dia benar-benar sibuk dengan basketnya. Tidak baik kalau aku mengganggunya. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi.
Sama seperti Dirga, Farah tidak kelihatan batang hidungnya. Kulihat bangkunya yang kosong, kemudian berganti memandang bangku Dirga yang juga kosong. Mengapa mereka meninggalkanku sendirian? Kemana sebenarnya mereka? Kata teman-teman sekelasku, Farah ijin tidak sekolah karena sakit. Tapi kenapa dia tidak menghubungiku saja? Setidaknya mengabari keadaannya. Aku mengkhawatirkannya. Meskipun aku sering apatis dengan keadaan orang lain, tapi Farah butuh teman. Dia butuh seseorang di sampingnya. Seperti aku. Itulah mengapa aku tahu apa yang dirasakannya. Dia butuh teman.
Mungkin aku akan mencari alamat Farah dan menjenguknya. Itulah fungsiku sebagai temannya. Aku tidak pernah memiliki sahabat kecuali Dirga. Tapi setidaknya aku bisa berguna untuk orang lain.
Aku sudah bersiap-siap menghentikan taxi untuk pergi ke rumah Farah. Belum sempat kudapatkan satu taxi, seseorang meneleponku. Di display tertulis nama Farah. Segera kuangkat telepon itu untuk menanyakan keadaan Farah. Kuharap dia baik-baik saja.
“Ya?” Aku pun memulai berbicara dan terdengar suara berat dari dalam sana.
Seseorang menjawab dengan nada bergetar. Dia mengatakan kalimat itu dengan lancar. Kalimat yang membuatku syok hingga bibirku gemetar. Saking syoknya, ponselku terjatuh.