SEBELAS

1593 Words
CANDY   Suasana berkabung yang kulihat saat ini terlihat aneh. Padahal aku sudah pernah melihat upacara pemakaman, tapi entah kenapa yang ini terasa aneh. Salah satu temanku telah tiada, menyusul Mamaku ke surga. Kulihat beberapa orang yang menampakkan kesedihan mereka dengan air muka yang berbeda-beda. Aku sendiri menutupi ekspresi sedihku dengan kacamata hitam. Kupandangi ibu Farah yang menangis sambil memeluk batu nisan anaknya sedangkan sanak famili yang lain berusaha menenangkannya. Di seberang sana aku melihat beberapa teman sekolahku. Betapa munafiknya mereka. Mereka datang seolah ikut berbela sungkawa, padahal di sekolah merekalah yang sering memberikan bullying pada Farah. Ingin rasanya kucakar wajah mereka saat ini juga. Aku tidak menyangka bahwa salah satu temanku pergi secepat itu. Padahal baru beberapa hari ini aku dekat dengannya. Apa penyebab kematiannya? Aku akan menanyakan hal ini. Tapi aku bingung, harus bertanya pada siapakah aku? “Farah mengalami komplikasi,” kudengar penjelasan itu seolah Tuhan menyampaikan pertanyaanku pada orang-orang yang bersedia memberitahuku. Seseorang berdiri di sebelahku. Sama seperti keluarga Farah lainnya, mata wanita itu sembab. “Dia menjalani diet ketat.” Farah meninggal karena menjalani diet ketat? Sebelum aku membuka mulutku untuk bertanya, wanita paruh baya itu melanjutkan kalimatnya lagi. “Farah bilang dia punya teman baik, namanya Candy. Sepertinya kamu anak yang namanya Candy itu?” Aku mengangguk. Senyum ramah terlukis di bibirku. “Anda… siapa?” “Aku ibunya.” Aku mengangkat sebelah alisku keheranan. Ibu? Yang benar saja! “Hah? Lalu…” Kutunjuk seorang wanita yang menangis di depan pusara Farah. Aku melemparkan pandangan bingung. “Aku ibu keduanya.” Dia tersenyum tulus. “Farah itu anak yang baik. Mungkin ini cara Tuhan membebaskannya dari belenggu dunia yang acap kali dia anggap tak adil.” Kenapa Farah tidak pernah bercerita padaku kalau dia memiliki dua ibu? Pantas saja Farah sangat tertekan. Selain bullying itu, Farah pasti tertekan dengan lingkungan keluarganya. Barangkali ia merasa kasih sayang ayahnya terbagi dengan ibunya yang lain. Selain itu, kasih sayang ayahnya pada dirinya bisa juga terbagi dengan saudara tirinya. Aku bisa memahami kondisi seperti itu karena sedang mengalami. Papa tak lagi sepeduli dulu. Nada menjadi anak kesayangannya. Posisiku seakan tergeser oleh Nada. Hal itu membuatku makin merasa ditenggelamkan dalam keterasingan. “Anda tinggal serumah dengan Farah dan ibu kandungnya?” Wanita itu mengangguk. “Papanya Farah tidak pernah membedakan anak-anaknya. Dia selalu bersikap adil. Tetapi terkadang Farah merasa cemburu tiap Tiara, anakku, mendapatkan hadiah. Mungkin itu wajar. Tiara juga seperti itu.” Seperti yang kuduga. Farah mengalami kecemburuan sosial. Tetapi, mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal dari semua ini? Kematian Farah seakan memiliki rahasia yang lain. Yang tidak ada sangkut pautnya dengan kecemburuannya terhadap saudara tirinya. Aku mencium bau yang tidak beres dari tragedi ini. Aku mengalihkan pandangan ke atas tanah berumput di bawah kakiku. Kalau saja aku tahu Farah seperti ini, aku pasti lebih sering mengajaknya berkumpul denganku. Daripada dia menyimpan kesedihannya sendiri tanpa mengajakku. Aku sungguh menyesali kepergian Farah. Dia tidak layak mendapatkan semua ini. Dia pantas hidup seperti anak lainnya. Seperti aku, mungkin Farah adalah korban kekerasan hidup. Korban penindasan. Korban bullying. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana aku setelah ini.   *   Aku menyendiri di kamar sepulang dari tempat pemakaman. Kupeluk erat lututku sambil menyandarkan daguku di atas lutut. Benarkah Farah meninggal karena komplikasi? Rasanya aku kurang mempercayai fakta itu. Aku harus tahu yang sebenarnya. Kalau tidak, selamanya aku akan diselimuti rasa penasaran. Aku masih belum beranjak dari tempatku, padahal suara ketukan dari luar sudah kudengar. Seperti biasa, bibi akan mengantarkan makanan ke kamarku. Tapi kali ini aku malas beranjak dari kamarku. Aku masih mematung, pikiran-pikiranku dipenuhi oleh Farah. Apa yang sebenarnya disembunyikannya dariku? Dia bahkan tidak bercerita apa-apa perihal ibu keduanya. “Non?” “Taruh di depan pintu! Ribet banget sih kamu ah!” teriakku kesal sambil melempar bantal ke arah pintu kamar. “Baik, Non.” Terdengar suara baki diletakkan di atas lantai yang disusul dengan suara langkah kaki menjauh. Aku membenamkan wajahku pada kedua telapak tanganku sambil meredam suara teriakan kesalku. Akhirnya, aku meringkukkan badan di atas lantai sambil memegangi kepalaku yang pusing dan dipenuhi pikiran-pikiran tentang Farah. Meskipun perutku keroncongan, aku tidak nafsu untuk makan. Aku lemas, tapi tidak berselera menjamah makanan di depan kamarku. Hal-hal yang menghantui pikiranku saat ini bukan hanya tentang kematian Farah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah Farah bunuh diri gara-gara sering menerima bullying, atau itu semua murni karena dia sakit? Aku butuh seseorang untuk menjawab pertanyaan itu.   *   DIRGA   “Ga, kok ngelihatin hape mulu sih? Ada apaan?” suara Nada terdengar di antara kecemasanku. Sekian kali aku memerhatikan ponsel dan membanjiri kotak masuk Candy dengan pesan-pesan sekadar mempertanyakan keadaannya. Tidak ada satu pun pesan yang kukirim padanya berbalas. Aku mengetuk-ngetuk jemari di atas meja, memikirkan keadaannya di rumah. “Enggak. Candy dari tadi kok nggak ada kabar ya, Nad? Dia baik-baik aja, kan? Soalnya aku nggak enak SMSnya nggak aku balas kemarin,” jawabku. Mataku kembali mengekori ponsel yang tergeletak di samping cangkir teh chamomile yang masih hangat di malam sedingin ini. Nada menghembuskan napas panjang. “Dari tadi dia nggak mau keluar. Udah aku ketuk pintunya berkali-kali. Tapi tetep nggak dijawab.” Nada bersendang dagu. Bola matanya bergerak menuju ke atas. Pada awan gelap yang diselimuti kabut tipis kelabu yang melindungi gemerlap bintang yang sinarnya lebih temaram daripada malam cerah biasanya. “Dia dari mana seharian tadi?” “Dari pemakaman Farah. Tahu, kan? Anak kelas sebelah. Tadi pagi dikubur. Teman-teman banyak yang datang ngelayat.” “Farah?” Sepasang alisku bertautan dengan kening berkerut dalam. Nada mengangguk. Ia menyendokkan rainbow cake di depannya ke dalam mulut dan mengunyah perlahan. Bukankah Farah itu siswi yang dibela Candy waktu itu? Aku teringat pertengkaran Candy dengan Jega. Ada seorang gadis yang dibela Candy karena telah dipermalukan Jega di depan umum. Aku baru tahu kalau gadis itu sudah tidak ada. “Kayaknya deket sama Candy sebelum meninggal,” Nada melanjutkan. “Candy kan nggak mudah deket sama orang,” aku menyimpulkan. Kuangkat cangkir milikku dan mendekatkan bibir dengan tepi cangkir. “Di sekolah, Candy nggak suka kumpul sama temen-temen sekolah.” Kulanjutkan gerakan tanganku mendorong minuman tersebut ke dalam kerongkongan. Nada mengangguk setuju. “Setahuku kan yang deket sama dia cuma kamu, Ga. Ah... harusnya aku berterima kasih sama Farah. Seenggaknya kan Candy masih mau membuka diri untuk berinteraksi dan bersosialisasi sama orang lain.” Aku mendesah. Benar. Candy tak pernah mau membuka diri pada orang lain. Makanya aku heran, ia bisa berdekatan dengan orang baru seperti Farah. Sekaligus mencemaskannya karena teman barunya itu sudah pergi secepat ini. Seharusnya aku ada di sampingnya saat ini untuk memberikan hiburan. Kucoba sekali lagi mengirim SMS dan kali ini meneleponnya. Aku memberi kode pada Nada agar memberiku waktu untuk menghubungi Candy. Nada mengangguk mempersilakan aku menelepon saudari tirinya. Ponsel Candy tidak aktif. Aku tersambung pada kotak suara. Kuberikan pesan pada Candy berharap ia akan membuka dan mendengar pesan tersebut. “Candy, kamu baik-baik aja, kan? Aku cemasin kamu. Maaf ya akhir-akhir ini aku sedikit sibuk. Kalau kamu butuh apa-apa, hubungi aku ya. Aku pasti datang ke sana dan temenin kamu. Telepon balik ya, Dy. Please.” Lantas kumasukkan lagi ponselku ke dalam saku, sebab aku merasa tidak enak hati pada Nada yang sejak tadi memerhatikanku dan malah kuabaikan. Nada menghabiskan pesanannya. Ia membuang perhatian menuju ke tempat live show kafe yang menampilkan performa sebuah band dalam membawakan beberapa lagu. Aku ikut memerhatikan tempat Nada melayangkan perhatiannya sambil mengulum senyum. Lalu beralih menuju gadis itu. Kuperhatikan ia dari samping selama beberapa saat. Sadar kuperhatikan, Nada berpaling menuju ke arahku. Wajahnya bersemu memerah. “Ih, kenapa ngelihatin aku?” tanyanya malu-malu seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Ada yang aneh dariku?” Buru-buru ia bercermin menggunakan ponsel, mematut wajahnya dan memeriksa apakah ada yang salah dengan wajahnya. Aku tertawa kecil. Kusingkirkan ponsel dari balik wajah jelita Nada. “Enggak. Nggak ada yang salah sama wajah kamu, Nad.” “Terus kenapa ngelihatin aku kayak tadi?” Sebelah alisnya terangkat skeptis. “Kamu cantik sih.” Lagi-lagi Nada memerah malu. Ia menutup mukanya dan tertawa cekikikan. “Ah masa sih? Jangan bikin GR dong, Ga.” “Lah, siapa yang bikin GR. Emang cantik kok.” Perlahan, ia menjauhkan tangan dari mukanya yang memerah. Nada tertawa lagi. Ia mengaduk-aduk minumannya dengan canggung. Seakan tak ingin semakin keki, ia kembali mengamati performa band yang sekarang membawa sebuah lagu dari Bryan Adams yang berjudul Heaven. “Oh ya, Nad. Nanti kalau kamu pulang, tengokin Candy lagi ya,” kataku, membuat Nada memalingkan perhatian menuju ke arahku. Nada mengangguk mengiyakan. Ia menjilat bibirnya. “Kamu sayang banget ya sama Candy?” “Itu pertanyaan retoris, Nad.” Aku tersenyum simpul. “Nggak perlu dijawab, kan? Pertanyaan yang nggak butuh jawaban.” Napasnya dihela pendek. Tangannya kembali mengaduk-aduk minuman di depannya. Sesekali perhatiannya dicurahkan padaku, sesekali dilempar ke seantero tempat untuk menghindari kontak mata. “Oh...” Ia menundukkan kepalanya. “Kalau sama aku, sayang juga nggak?” Mendengar pertanyaan itu, aku terkekeh. Tanganku terulur ke depan untuk meraih rambutnya dan mengacak-acaknya. Ia menghindar dan mendesis jengkel. Nada paling kesal kalau rambutnya kuacak seperti itu. Dibenahi lagi poninya ke samping dengan bibir masih mengerucut ke depan bagaikan kuncup bunga mawar merah. “Itu juga pertanyaan retoris sebenernya.” “Ah kamu mah gitu.” Bola matanya terputar kesal. “Apa gara-gara kita bertiga udah berteman lama?” Aku tersenyum. Tak kujawab pertanyaannya. Aku memilih untuk mengalihkan topik dengan membicarakan komposisi Shubert dan Beethoven. Nada sangat antusias setiap kali membicarakan musik, seperti halnya Candy waktu masih kecil dulu, sebelum dia berubah menjadi orang asing seperti sekarang...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD