CANDY
Untuk menghibur Farah, aku mengajaknya pergi. Sebagian dari diriku yang masih memiliki simpati memintaku untuk mengakrabkan diri dengan gadis malang ini. Mungkin karena kesamaan nasib? Ah, seharusnya aku tidak mengasihani diri sendiri dan menganggap ia lebih beruntung. Pada kenyataannya tidak.
“Tahu, nggak? Kamu tuh beruntung banget loh,” katanya di tengah langkah saat kami mengunjungi sebuah taman untuk menikmati semilir angin sore hari.
“Beruntung kenapa?” Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga. Kutunjuk sebuah bangku dekat tukang es krim agar kami dapat mengobrol lebih santai.
Berdua, kami duduk di samping tukang es krim. Aku memesan dua es krim dengan rasa coklat dan vanila. Kuangsurkan es krim vanila untuk Farah yang menerima dengan canggung. Ia mengamati es krim tersebut seakan-akan melihat sesuatu yang buruk.
“Beruntung kenapa?” sekali lagi aku bertanya, mengulang yang tadi.
“Karena kamu masih punya Dirga dan Nada.”
Aku menghela napas panjang. Memang ia tak tahu kalau aku tidak akrab dengan Nada? Walaupun bersaudara tiri, aku tak pernah menunjukkan kedekatanku dengan Nada. Setiap kali Nada mencoba menghampiriku dan mengajakku makan siang—bergabung dengan gengnya—aku menolak. Yah... selain menghindari cibiran teman-teman gengnya. Teman-teman Nada bahkan mengernyitkan kening saat Nada menghampiri dan mengajakku untuk ikut bersama mereka. Aku tahu tak seorang pun dari mereka yang menyukaiku. Lagipula, peduli setan. Aku lebih baik tidak memiliki teman daripada memiliki teman tapi tukang gosip dan tukang bully.
“Sudahlah.” Aku menjilat es krim di tanganku yang mulai lumer. Kupandangi Farah yang enggan menjamah es krim di genggamannya. Sampai-sampai es krim putih tersebut meleleh menyentuh telapak tangannya. “Kenapa nggak dimakan?”
Ia menggeleng. “Aku... aku...” Ia menggigit bibir bawahnya.
“Takut?” Tak kusangka, responku adalah tertawa sinis. “Persetan apa kata orang, Far. Makan aja.”
“Tapi aku takut tambah gendut.”
“Kamu ngapain sih dengerin kata teman-teman? Mereka itu iblis. Jangan pernah menyerah sama iblis.” Aku kembali menjilati es krim coklatku. Farah masih enggan. Atau barangkali menimbang-nimbang akankah memakan es krim pemberianku itu. “Kalau kamu nggak mau, aku makan aja. Sini.”
Ia menggeleng. “Eh, jangan, Dy. Kan kamu yang beliin. Jadi nggak enak kalau nggak kumakan...”
“Lah, makanya. Makan dong. Anggap aja itu tanda pertemanan kita sekarang.”
“Teman?” nadanya terdengar sumbang seolah-olah kata ‘teman’ adalah kata paling aneh dan asing dalam pendengarannya.
“Kenapa? Nggak suka ya berteman sama aku?”
“Bukan gitu sih, Dy. Tapi... Aku... nggak terbiasa punya teman.”
Napas kuhela kasar. Setelah menghabiskan es krim cone di tangan, aku menjilat jari-jemariku sampai bersih. Kini, Farah bersedia memakan es krim pemberianku, walaupun dengan ekspresi aneh.
“Mulai sekarang kamu nggak usah takut. Kalau mereka ngejahilin kamu, aku akan hajar mereka sampai kapok.”
Senyum kecil terkembang dari bibir Farah. Ia menggumamkan kata terima kasih dan kembali menikmati es krimnya lebih lahap dan bersemangat.
*
DIRGA
Untuk ke sekian kali, aku menghubungi ponsel Candy. Tak ada jawaban darinya, membuatku mendesah frustrasi. Di belakang, Nada mengintip ponselku dan bertanya dengan ekspresi panik.
“Belum ada jawaban, ya? Aku SMS ya nggak dibales dari tadi,” katanya muram.
“Mungkin dia lagi pengen sendirian.”
Bibir Nada makin tercebik. Ia menekuri ponselnya dan mencoba menghubungi Candy, meski ia tahu bahwa saudara tirinya tersebut tak akan peduli pada panggilan dan pesannya. Pesan serta telepon dariku saja tidak digubris, apalagi Nada yang tampaknya tidak disukai Candy.
Pada akhirnya, Nada menyerah. Ia menghembuskan napas pendek dan memasukkan ponsel ke saku. “Ih... selalu deh. Candy ke mana sih? Aku kan khawatir.”
“Nanti kita cari bareng-bareng ya, Nad.”
Ia memandangku tanpa mengubah wajah memberengutnya. “Tapi kan aku khawatir, Ga. Nanti kalau terjadi sesuatu sama dia gimana?”
Kuusap bahunya menenangkan. “Enggak, Nad. Berpikir positif dong. Candy nggak bakal kok aneh-aneh. Aku kenal dia. Biarpun kita jadi punya jarak dan nggak kayak dulu, aku yakin Candy nggak suka yang aneh-aneh. Dia pasti cuma pengen sendiri.”
Nada mendesah. Kakinya dihentak, melangkah pergi menuju mobilku untuk segera kuantar pulang—atau ikut mencari keberadaan Candy bersama-sama.
Di tengah jalan, pikiranku berkelebat. Candy, di mana kau sekarang? Sementara Nada berceloteh menceritakan ini dan itu, aku hanya menanggapi dengan senyuman serta anggukan. Sementara pikiranku berkelana jauh memikirkan keberdaan Candy.
Dan keanehannya sejak kematian ibunya.
*
Beberapa kali aku mendapatkan SMS dari Nada yang menyuruhku pulang. Dirga juga sudah mencoba menelepon. Tapi aku tidak mengubah posisi di tempatku saat ini. Setelah mengobrol dengan Farah, rasanya aku ingin mengunjungi makam Mama. Awalnya Farah menawarkan diri menemaniku. Tapi kau tahu sendiri kalau aku lebih suka kesendirian. Jadi aku menolak tawarannya.
Keadaan pemakaman sedikit lengang. Jarang kutemui orang yang melayat kemari. Sedangkan aku sendiri paling menyukai suasana sepi seperti ini; mungkin karena kebiasaanku yang sering kesepian. Kemudian aku akan memulai bercerita semua keluh kesahku pada Mama. Mengapa Tuhan secepat itu memanggil satu-satunya orang yang memahamiku? Orang yang selalu berusaha untuk menjaga dan melindungiku? Orang yang selalu membelaku ketika semua orang jahat padaku? Tidakkah ada yang bisa menjawab pertanyaanku untuk saat ini saja?
Aku tidak pernah menangisi hal bodoh. Tetapi aku tidak akan memungkri kalau pikiran dan batinku sudah lama menyimpan luka yang menganga. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan atau takdir yang membuatku seperti ini. Aku hanya bertanya, sekali lagi, mengapa harus aku? Mengapa bukan orang lain saja yang mengalami hal seperti ini sedangkan aku cukup bersantai bersama keluarga lamaku, duduk di depan televisi sambil meneguk coklat panas jika hujan mulai turun, dan mendengarkan obrolan hangat orangtuaku?
Rasanya terlalu bermimpi. Tapi aku tidak takut memimpikan hal itu.
Pernah aku berpikir sekali dua kali, apakah yang akan terjadi padaku ketika aku memulai kehidupan masa dewasaku? Ketika aku sudah mengenal baik kehidupan yang sebenarnya. Dan ketika aku mengawali langkah baru untuk meninggalkan luka lamaku. Tetapi, aku tidak bisa membayangkan hal semacam itu sedangkan kehidupanku untuk saat ini saja sudah kacau balau.
Mengapa aku tidak pernah membayangkan kehidupanku nantinya bersama Dirga? Misalnya kami berdua menikah dan tinggal bersama anak-anak yang kami cintai. Atau justru Dirga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Papaku? Entahlah, aku tidak berani membayangkan hal semacam itu. Bagaimanapun juga itu semua tabir yang belum boleh kubuka dan kuketahui. Namun aku berhak berangan-angan kan? Dan itulah angan-anganku. Tinggal bersama Dirga dan di kelilingi anak-anak yang kami cintai.
Aku memang tidak habis pikir. Bagaimana bisa aku membayangkan hal seperti itu dengan sahabatku sendiri? Terlalu absurd memang. Bagaimana kalau nantinya Dirga akan memilih orang lain menjadi pasangan hidupnya sedangkan aku masih merana, menyayat-nyayat tubuhku, dan berusaha menelan puluhan pil dalam satu tenggukan? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Setelah cukup puas memandangi batu nisan di depanku, yang terlihat seolah mengajakku bersantai sebentar, aku berdiri untuk meninggalkan tempat pemakaman. Sebenarnya aku malas pulang. Aku memang sering pulang malam. Terkadang sampai tidak pulang. Dan orang-orang mulai mencurigaiku bertindak hal yang lebih brutal lagi. Tapi tidak, aku tidak seperti itu. Aku keluar dan tidak ingin pulang karena aku ingin menenangkan pikiranku. Biasanya aku akan tidur di rumah Mama. Papa tidak pernah tahu aku sering pulang malam karena dia lebih mengutamakan pekerjaan berharganya daripada anak kandungnya sendiri. Mama Rosa akan mencariku, tapi tidak memberitahu Papa. Mungkin takut dimarahi atau tidak ingin menambah masalah. Sedangkan Nada, dia memang sering mencariku bersama Dirga. Tapi tidak pernah berhasil menemukanku.
Kali ini aku pergi ke rumah Mama lagi. Sudah beberapa Minggu rumah ini tidak kusinggahi. Aku tidak tega kalau meninggalkan semua kenanganku bersama Mama di sini. Mama selalu mengajarkanku apa artinya kekuatan bagi seorang perempuan. Dia selalu mengajarkan padaku kalau sebagai wanita, aku tidak boleh seenaknya saja ditindas. Tetapi kerap kali aku menangis ketika teman-temanku mulai meneriakiku sebagai anak dari perempuan gila, Mama akan segera datang dan membelaku dari kumpulan anak-anak itu. Sampai saat ini pun aku akan tetap mengingat pesan-pesannya padaku. Sampai detik ini, aku akan terus menjaga pesan itu agar tidak ikut rapuh seperti kekuatan batinku.
Ini keempat kalinya ponselku bunyi dan tertera nama Dirga di displaynya. Aku sengaja tidak mengangkat telepon Dirga. Heran, kenapa dia tidak merasa bosan? Kenapa dia tidak berhenti melakukan itu dan membiarkanku pergi sesuka hati? Mungkin nalurinya sebagai sahabat menuntunnya tetap demikian. Tapi aku justru merasa membuatnya kerepotan.
Kuabaikan telepon Dirga. Aku beres-beres, menata barang-barang, dan mencari keberadaan barang lama yang disimpan Mama. Aku membongkar kardus lusuh di dalam gudang. Saat itu aku sedang penasaran dengan rahasia masa lalu Mama. Dia tidak pernah bercerita apa-apa padaku tentang masa lalunya. Namun dia mengatakan padaku kalau dia menyimpan sebuah jurnal, yang berisi segala keluh kesahnya. Aku jadi penasaran seperti apa buku itu.
Aku berteriak kegirangan dalam hati ketika menemukan kardus lusuh yang diletakkan di sebelah sepeda miniku. Segera kubuka dan kubongkar cepat saking tidak sabarnya. Mataku terpaku pada sesuatu. Sebuah buku tebal yang sampulnya sudah tampak lusuh. Aku membersihkan debu yang menyelimutinya. Kemudian mulai mengamati, memeriksa, dan membuka isi di dalamnya.
Ya Tuhan. Aku terkejut bukan main ketika melihat barisan-barisan kalimat yang ditulis rapi. Terdapat beberapa bagian di setiap kata yang tampak seperti sebuah penekanan. Atau penulis jurnal ini sangat tertekan ketika menulisnya. Aku semakin yakin jurnal ini milik Mama setelah melihat selogan yang selalu diucapkan Mama padaku ketika aku masih kecil.
Di tiap kehidupan selalu ada cinta.
Begitulah bunyinya. Karena telah berhasil menemukan benda yang sempat dirahasiakan Mama, aku segera beranjak dari gudang untuk membaca isinya. Penasaran sekali apa yang membuat Mama tidak mau menceritakan semua masa lalunya. Dia bahkan sering marah dan kesal tiap kutuntut untuk menceritakan masa lalunya.
Aku duduk di atas batu besar di samping taman yang berhadapan langsung dengan sebuah kebun luas milik Mama. Udaranya memang sejuk, anginnya bersahabat dan sering membuatku terlena ketika aku mulai termenung sendirian di atas batu tersebut.
Barisan-barisan kalimat rapi telah kutemui. Di bagian pertama Mama sudah mulai menceritakan isi pikirannya dan aku membacanya dengan saksama. Entah kenapa aku justru merasa seperti ditikam secara diam-diam dari belakang ketika melihat tulisan itu.