BAB SATU ~ Casanova meets player

2281 Words
BAB SATU Casanova meets player Seorang wanita keluar dari mobil Lamborghini aventador berwarna hitam perpaduan dengan biru neon. Wajah cantiknya terpancar memesona dengan kacamata hitam yang melengkapi penampilannya. Rambut cokelat mudanya berkilauan seiring cahaya matahari menyertai langkah kakinya yang panjang sementara sebelah tangannya menenteng tas branded keluaran chanel terbaru. Cantik, kharismatik dan penuh pesona. "Hai, Candy." Gadis yang di panggil Candy itu mengangkat wajah dan tersenyum padanya. "Lama tidak melihatmu, Ara. Seperti biasa?" balasnya. Wanita cantik itu mengangguk kemudian mencari tempat duduk di dekat jendela. Tempat favoritnya. Namanya Arabella Alison: Pembisnis muda yang menggeluti bidang desainer pakaian. Selain karena kecantikan dan keanggunan dirinya, dia juga terkenal karena prestasinya yang gemilang. Dia juga di kenal sebagai player. Well, sosoknya yang memesona dan anggun tidak membuat namanya buruk meski kisah cintanya tidak pernah lebih dari satu minggu. Kuat dan memikat. Arabella Alison adalah kombinasi sempurna sebagai wanita idaman para kaum adam. Arabella lalu membuka kacamatanya dan meletakkannya di samping gelas ice green tea yang baru saja datang. Ia tersenyum cantik pada pelayan lelaki itu dan membuatnya salah tingkah. Arabella tersenyum miring menyadari itu lalu meminum minumannya dengan anggun. Beberapa lelaki yang duduk tidak jauh darinya terang-terangan menatapinya sambil tersenyum. Ketika Arabella selesai dengan minumannya, ia lalu beranjak dari sana dan segera keluar—sengaja meninggalkan kacamatanya di atas meja. Arabella yakin salah satu dari lelaki tadi akan mengambilnya dan berusaha mencari perhatiannya. Well, trik lama. Arabella mendekatkan ponselnya ketika sebuah panggilan terpampang di layar ponselnya. "Merindukanku, Mom?" kekehnya memasuki mobil. "Kau jelas tahu kesalahanmu, Ara. Cepat pulang untuk bersiap." Arabella menjawab 'iya' sebelum menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya untuk bergegas pulang. Karena kalau dirinya telat, Ibunya pasti akan mengomel panjang lebar. Hari ini Arabella memang memiliki janji pada orang tuanya kalau dia akan menggantikan mereka untuk pergi ke pesta topeng dengan rekan bisnisnya, Samuel Anderson. Entah kenapa, orang tuanya selalu memaksanya untuk bersama dengan Samuel. Padahal, dia dan Samuel hanyalah teman dekat semasa kuliah dulu—yang memang sejak zaman kuliah lelaki itu pernah menyatakan perasaannya. Tetapi Arabella menolaknya, menurut Arabella Samuel terlalu baik dan lebih cocok menjadi kakak daripada kekasih baginya. Arabella memarkirkan mobilnya kemudian memasuki mansion di mana Ibunya sudah berkacak pinggang di dalam kamarnya. "Kenapa kau tidak pernah menghargai waktu, Ara? Cepat mandi. Mommy akan membantumu bersiap." omel Megan, Ibunya yang selalu cerewet jika bersangkutan dengan laki-laki bernama Samuel itu. "Tidak perlu membantuku, Mom. Aku bisa bersiap sendiri." Arabella mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan meninggalkan ibunya yang tengah menatapnya kesal. "Juga, jangan pernah bertanya padanya lagi mengenai hubungan kami." peringat Arabella yang hanya di balas dengusan Megan. "Memangnya kenapa kalau seorang ibu menanyakan status untuk anak gadisnya?" gumam Megan mendumel sebelum beranjak keluar. Satu jam berlalu Arabella sudah siap dengan penampilannya. Gaun biru tua yang menjuntai dan pas membungkus tubuhnya dengan belahan cukup panjang dari atas lutut hingga mata kaki. Arabella meneliti riasannya sambil menyunggingkan senyum menawan. Well, perfect. Arabella menuruni tangga dan melihat Samuel sudah di bawah sana bersama kedua orang tuanya—terlihat antusias setiap kali Arabella hendak pergi dengan lelaki itu. "Bisa kita berangkat sekarang?" interupsi Arabella membuat mereka mengalihkan atensi. Samuel sempat terpana beberapa saat sebelum Arabella berdeham dan berpamitan untuk mereka segera berangkat. Dia tidak akan membiarkan Ibunya kembali mencari-cari kesempatan untuk menggoda mereka. Di dalam mobil Samuel terus mencuri pandang ke arahnya dan Arabella menyadarinya. "Kau sangat cantik malam ini, Ara." Sontak perkataan Samuel membuat Arabella menoleh dengan wajah terluka yang dibuat-buat. "Jadi selama ini aku jelek, begitu maksudmu?" tanyanya membuat Samuel salah tingkah. "Bukan begitu, Ara. Kau jelas tahu kalau kau selalu cantik. Tapi untuk malam ini kau sangat cantik." ralatnya. Arabella terkekeh geli di kursinya. "Santailah, Sam. Aku hanya menggodamu." katanya sambil mengerling. Ketika mobil mereka sampai di tempat acara, Samuel lalu turun lebih dulu dan membantu Arabella sebelum akhirnya mereka sampai di dalam. Mereka berdua sudah mengenakan topeng masing-masing dan berbaur bersama tamu undangan yang lain. Setelah menyapa pemilik acara, Samuel berpamitan ke toilet dan meninggalkan Arabella sendiri. Dengan dengusan tidak peduli Arabella mendekati meja yang penuh dengan makanan dan mencicipi salah satu hidangan di sana. Menikmati pesta dengan di temani minuman juga iringan musik yang mengalun indah di sepanjang acara. Mata birunya menjelajahi isi ruangan yang didominasi para pejabat dan sekelas dengan laki-laki tampan kebanyakan. Well, jika tidak dalam situasi bersama Samuel, Arabella tentu saja akan menikmati pesta dengan menebar pesonanya—memikat para lelaki yang bisa dia jadikan mainannya. "Maaf membuatmu menunggu." Samuel menyunggingkan senyumnya, mengangkat gelasnya dan mengajak Arabella cheers. Arabella hanya mengulas senyum ketika merasakan minuman yang mengalir di tenggorokannya. Arabella benci pesta tetapi dia sering kali terjebak di dalamnya. Dan tentu saja hal itu tidak lepas dari campur tangan orang tuanya. Mereka berbincang sejenak hingga alunan musik berganti klasik. Lagu endless love berputar menggiring para pasangan melaju ke lantai dansa. Samuel mengulurkan tangannya mengajak Arabella untuk berdansa. "Dance with me, Ara?" Arabella sebenarnya ingin menolak, alih-alih mengutarakan ketidakinginannya, dia malah menerima uluran tangan Samuel. "Okay." balasnya. Mereka mulai berbaur dengan banyak pasangan yang menari di lantai dansa. Sudah menolak perasaannya, Arabella tidak akan tega menolak ajakannya juga, bukan? Mereka mulai menari seirama dengan musik. Pelan dan romantis. Suasana yang cukup membangun chemistry. "Kudengar Carl akan segera menikah. Apa kau akan hadir, Ara?" tanya Samuel membuka obrolan. Lelaki itu cukup mengerti mengenai kisah cinta Arabella dengan Carl Walter. Mantan kekasih yang pernah mengkhianati Arabella dulu. Pertanyaan itu sempat membuat Arabella terdiam beberapa detik, menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringaian. "Kenapa tidak? Aku mengenal mereka baik, tidak masalah bagiku." jawabnya santai, seolah meyakinkan. Samuel tersenyum lembut padanya, "Ya, aku tahu kau tidak akan menangisi b******n itu lagi. Apa kau ingin pergi denganku?" tanyanya lagi. Belum sempat Arabella menjawab, gerakan bertukar pasangan sudah lebih dulu menginterupsi percakapan mereka. Arabella sedikit sangsi sebenarnya. Dia tidak tahu apakah dirinya akan cukup kuat melihat mereka berbahagia setelah mengkhianatinya beberapa tahun lalu, atau... "Finally I found you, Baby." suara serak seseorang yang tengah menari dengannya itu terdengar halus namun berat. Suara ini ... Arabella seperti mengenal suaranya, ditambah lagi aroma tubuhnya yang familiar. Arabella mendongak, terpengarah. Apalagi ketika tatapan mereka bertemu—udara seakan berderak diantara mereka. Mata cokelat indah itu ... Arabella memperhatikan lelaki itu lekat-lekat, tetapi percuma, lelaki itu menggunakan topeng yang senada dengan jasnya—biru dongker, membuat Arabella kesulitan mengenali. Wajahnya terlihat familiar, tetapi di mana dia pernah bertemu dengan lelaki ini, ya? "Apa kau ... Mph, tidak ... Kita, apa kita saling mengenal?" tanya Arabella masih mencoba meneliti wajah lelaki asing itu. Lelaki itu tertawa pelan dan memutar tubuh Arabella—menariknya kembali ke dalam pelukannya hingga punggung Arabella terasa hangat menempel dengan tubuh depannya. "Kita tidak saling mengenal, tetapi kita pernah berbagi tempat tidur." bisiknya dengan suara rendah. "A—apa?" Tubuh Arabella menegang entah karena suara lelaki itu atau kata-katanya. Atau malah ... Keduanya? Entahlah... Arabella merasa familiar dengan suara ini tetapi siapa? Arabella berusaha mengingat-ingat. Tidak saling mengenal tetapi pernah berbagi tempat tidur? Arabella mengingat satu orang. Ketika dirinya mabuk dua tahun lalu ketika di Swiss. Astaga ... Apakah benar dia orangnya? "Melihat responmu, sepertinya kau mengingatku." ucap lelaki itu lagi. Harusnya, setelah lagu berganti mereka harus bertukar pasangan. Namun, lelaki asing ini terus menahannya dan kembali memutar tubuhnya hingga sekarang mereka berhadapan. "Apa yang kau lakukan? Kita harus berganti pasangan." kata Arabella mencoba mengalihkan. Tetapi suara kekehan lelaki itu membuatnya mau tidak mau menatap mata lelaki itu. Dan, ya ... Warna matanya cokelat jernih sama persis seperti lelaki di malam itu. Arabella sempat terpana beberapa waktu, terpengarah seraya membasahi bibirnya yang terasa kering. "Apalagi yang kau inginkan? Aku sudah memberimu cek. Kau bisa menulis berapa pun angka yang kau mau." mata biru Arabella berkilat, menatapnya berani. Sudah kepalang basah untuk menghindar. Lelaki itu mengunci tatapan Arabella dan menyelami mata birunya yang menenangkan. Sejak pertama kali bertemu, mata indah itulah yang membuatnya terpaku pada gadis dipelukannya ini. "Aku tidak butuh uangmu, Nona Arabella Alison." Arabella lagi-lagi tercenggang. "Kau ... Kau tahu namaku?" tanya Arabella dengan wajah bodoh. Lelaki itu menyeringai, menghentikan tarian mereka ketika musik sudah selesai. Alih-alih melepaskan Arabella, lelaki itu malah semakin mendekatkan wajahnya dengan tubuh yang masih menempel. "Tidak sulit bagiku untuk mengetahui wanita player sepertimu." bisiknya dengan suara menggoda. Sialan. Arabella berdecih. Meletakkankan satu tangannya pada pundak lelaki itu, sementara jemarinya yang bebas menyentuh d**a bidangnya dengan gerakan menggoda. Bibirnya mengukir senyum menawan. "Kalau begitu tidak perlu basa-basi. Apa maumu?" "Kau." jawab lelaki itu cepat. Arabella menarik bibir, menyeringai. "Kau tahu ketika menjadi kekasihku, hubungan itu tidak akan berjalan lama. Juga ... Kau harus bersedia menjadi atm berjalanku." jelasnya sambil tersenyum. Memang benar. Arabella memang player, tetapi itu tidak menurunkan standar laki-laki yang boleh menjadi kekasih atau pun selingkuhanya. Siapa pun mereka pada akhirnya hanya akan menjadi atm berjalan untuk Arabella dan tidak boleh menuntutnya lebih dari sekedar pelukan atau pun ciuman. Arabella dengan tegas menekankan batasan dalam dirinya. Hal itu dia lakukan untuk pertahanan diri, membangun benteng kehidupannya yang telah rusak. Arabella tidak akan membiarkan siapa pun mereka menyakitinya. Tidak akan pernah. Lelaki yang tidak Arabella ketahui namanya itu tersenyum miring. Terlihat menawan sekaligus memikat. Arabella tidak pernah tahu kalau ada laki-laki versi dirinya selama ini. Senyumannya sungguh berdampak pada tubuh Arabella yang rentan dengan sentuhan. Karena sejauh dia berpetualang, siapa pun mereka tidak pernah ada yang sampai membuat seorang Arabella berdebar seperti saat ini. "Untuk yang terkahir aku bersedia. Tapi aku tidak mau yang pertama." Arabella menaikkan satu alisnya. "Maksudmu?" "I want your body. Not the status with you." bisik lelaki itu dengan menunjukan smirknya yang mana membuatnya terlihat semakin tampan. Tidak, Ara. Dia gila! Dan apa katanya? Ingin tubuhku? Batinnya mencemoh. "You're too naive, Bastard!" "Yes, that's me." seringainya. Arabella tidak tahan lagi! Siapa pun tidak boleh mempermainkannya. Hanya dirinya. Ketika dia hendak melepaskan diri, lelaki itu malah semakin merengkuh pinggangnya posesif. "Get off!" sentak Arabella pelan. Ya, lord ... Mereka masih di dalam pesta. Tidak bisakah lelaki gila ini melihat keadaan?! Lelaki itu kembali berbisik. "Not until you answer me." bisiknya dengan suara berat, dan serak. Astaga ... Suaranya terdengar begitu seksi di telinga Arabella. Kalau saja lelaki gila ini tidak menyebalkan, Arabella sudah pasti tidak keberatan mengencaninya. Tetapi sayang, sikapnya terlalu mencerminkan penjahat kelamin. But, He's indeed a Lovely bastard. Meski menyebalkan, Arabella harus mengakui kalau lelaki itu memang b******n yang cukup tampan. Arabella mendesah panjang. "Kau ... Siapa namamu?" Arabella mengalah. Dia harus menyelesaikan ini secepat mungkin. "Kau bisa memanggilku, Honey." Naif! Lelaki ini memang benar-benar di luar dugaan. "Percaya diri sekali. Kau terlalu memandang dirimu tinggi." cibir Arabella malas. Lelaki itu tampak menikmati setiap perubahan ekspresi Arabella. Ia tersenyum miring. "Keenan Maxfield. Apa itu cukup membantumu mengingat bagaimana sosoknya, Baby?" Keenan Maxfield? Arabella merasa tidak asing dengan nama itu. Kalau tidak salah ia pernah membaca artikel tentangnya. Lelaki muda yang sukses dengan bisnis senjata juga menggeluti dunia perhiasan. Dan ... Well, Arabella tentu tidak lupa bagaimana reputasinya seputar wanita. He is a true Casanova. Arabella mendeham singkat. "Okay, Mr. Keenan Maxfield. Dengarkan aku baik-baik, aku tidak pernah melepaskan tubuhku. Jika kau ingin bersamaku berarti itu hanya sebatas status saja. Mengerti?" "Tidak." "Ken!" Keenan menyeringai. "Yes, Baby? I heard you but I do not want that." "Bastard!" "I'm." setelahnya Keenan mencium bibir Arabella sekilas. Hangat dan lembut. Arabella tidak mengira kecupan Keenan cukup memberi sengatan aneh dalam dirinya. Astaga, ini hanya kecupan kenapa dadanya sampai berdebar-debar? Keenan menyeringai seraya menyentuh bibir Arabella yang masih terpaku. Tampak terkejut dengan respon dirinya sendiri. "Ini baru permulaan, Baby." bisiknya. Arabella mendelik kesal. "Kau—" "Ara?" Panggilan itu sontak membuat Arabella menoleh, terdiam beberapa saat sebelum menyunggingkan senyumannya—tatapannya tampak mencemoh. Well, Ini kali pertama ia bertemu dengan Carl juga Liana setelah dua tahun lamanya mereka berperan sebagai seorang yang tidak saling mengenal. Meski wajah mereka tertutup topeng, tetapi Arabella bisa dengan mudah mengenali mereka. "Hai...," sapa Arabella. "Kudengar kalian akan menikah. Apa berita itu benar?" tanya Arabella seraya memainkan kukunya. Tampak tidak terpengaruh dengan tatapan bersalah Carl padanya. Liana menyeringai puas. "Maaf, Ara. Tetapi kabar itu memang benar." balasnya sambil tersenyum. Arabella terkekeh merdu, merasa lucu. "Untuk apa minta maaf? Bukankah penggoda memang cocok dengan pengkhianat?" kekehnya sambil memainkan ujung rambutnya. Tampak menikmati perubahan wajah Liana yang sudah memerah. "Ara! Aku tahu kau masih marah, tetapi ucapanmu sudah keterlaluan." sahut Liana marah. Arabella menarik senyum—menyeringai. "Bagian mana yang keterlaluan? Aku hanya mengatakan kebenaran. Apa itu salah?" kekehnya dengan pandangan menghina yang sangat kentara. Carl menatap Arabella penuh sesal. "Ara, maafkan kami. Aku dan Liana tidak bermaksud—" Arabella mengangkat satu tangannya, menyuruhnya untuk berhenti. "Aku tidak peduli apa pun mengenai kalian. Dan ya, kalau aku memiliki waktu aku usahakan meluangkan waktuku menghadiri acara kalian." Arabella lalu menggandeng lengan Keenan manja. "Sayang, kau tidak keberatan dengan itu, bukan?" manjanya dengan suara imut yang dibuat-buat. Keenan tersenyum miring. "Whatever makes you happy, Baby." bisiknya lembut. Arabella tersenyum, lalu mencium Keenan dihadapan mereka hingga Liana menarik Carl pergi dengan menghentakkan kakinya. Melihat itu Arabella tersenyum puas. Dia Arabella Alison. Tidak sulit baginya membuktikan dirinya bisa mendapatkan yang lebih dari seorang Carl Walter. Tetapi, Arabella melupakan sesuatu. "Kau terlihat menyedihkan." Arabella menoleh kesal. "Tutup mulutmu!" "Dengan bibirmu lagi?" kekehnya. Arabella mendengus keras. "Sialan! Jangan pancing aku untuk menghajarmu, Berengsek!" Keenan menyeringai disertai kilatan jahil dimatanya. "Dengan apa? Menggunakan tubuhmu? Atau—" "Hentikan ocehanmu! Dasar penjahat kelamin!" Arabella baru hendak beranjak ketika Keenan lebih dulu menariknya ke dalam pelukan, mendekapnya posesif seolah takut kehilangannya. "Aku sudah lama mencarimu. Jadi, mana mungkin aku membiarkanmu pergi dengan mudah, Baby?" bisiknya dengan nada kepuasan. Sementara tubuh Arabella meremang merasakan helaan napas hangat Keenan dilehernya—mengecupnya di sana hingga membuat darah Arabella berdesir hebat. Sialan! Ini tidak bisa dibiarkan!! ____________________________________ JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE, KOMENTAR AND SHARE YA BABY'S!____________________________________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD