PROLOG
PROLOG
Dua tahun lalu....
Malam itu, Arabella menangis dengan menenteng sepatunya dan berjalan di pinggiran jalan dengan penampilan yang cukup menyedihkan. Arabella tidak menyangka kekasihnya berkhianat. Yang lebih membuat Arabella marah adalah kenapa harus Liana? Sekertarisnya yang sudah Arabella anggap teman baik selain Girls Knight.
Ini keterlaluan.
Pikiran Arabella kalut. Hatinya sakit dan kepercayaannya hancur oleh dua orang yang pernah ia yakini tidak akan menyakitinya. Tetapi kenyataan berkata lain ... Mereka berdua mengkhiantinya. Menyakitinya begitu dalam.
Sepanjang jalan Arabella terus menangis. Ia tidak memedulikan banyak kendaraan yang berlalu-lalang atau pun orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh dan kasihan, mungkin. Hingga, Arabella berhenti. Dia menarik napas dalam-dalam dan bertekad untuk melupakan semuanya. Dia memakai kembali sepatunya lalu membenahi penampilannya. Arabella bersumpah untuk tidak akan lagi menangisi b******n itu lagi.
Selesai. Semuanya benar-benar selesai malam ini. Arabella lalu menghentikan taksi dan mengatakan tujuannya. Kalau kesetiaannya selama ini tidak bisa membuat lelaki yang dicintainya menetap, maka sudah seharusnya dirinya bisa menjadi lebih bebas.
Persetan.
L'After Club, Nyon—Switzerland | At 10 : 54 pm.
Arabella menatap kelab malam di depannya dengan pandangan baru. Dengan gerakan mulus Arabella berhasil memasang kacamata hitam guna menutupi mata sembabnya. Setelah membenahi penampilannya yang cukup berantakan, Arabella sudah siap untuk lepas. Beruntunglah dia karena dapat menggunakan make up dengan benar hingga menyelamatkan wajahnya meski poin penampilan masih jauh dari kata baik.
Arabella menyeret kedua kaki jenjangnya dengan langkah anggun dan penuh pesona yang tampak dari rasa percaya dirinya. Arabella tidak peduli apa yang akan terjadi padanya sampai di dalam sana, karena yang dia inginkan adalah lepas. Bebas dari semua hal buruk yang baru saja datang padanya. Dengan senyum kosong dibibirnya, Arabella menggumam penuh janji. "Let's have fun...."
Dentuman musik menyambut Arabella begitu menjejakkan kakinya di sana. Dia menurunkan kaca matanya sejajar dengan hidungnya hanya untuk mengamati keadaan sekitar. Tanpa memedulikan semua yang ada di sana; orang-orang, musik bahkan pria-pria yang terang-terangan menatapnya, Arabella berlalu ke meja bar dan berkata pada bartender untuk menyajikan brandy dengan kadar alkohol tinggi untuknya. Arabella butuh mabuk. Dia hanya ingin melupakan apa yang baru saja ia lihat dan membuktikan dirinya masih baik-baik saja tanpa pengkhianat seperti mereka.
Bersenang-senang, bebas dan lepas.
Semua ini akan berlalu...
Dengan tanpa hadirnya mereka di hidupnya. Seharusnya itu menjadi kabar bagus. Karena setelah ini Arabella tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi ketika melakukan tugas bersama Girls knight. Dan juga tidak harus menerima ocehan panjang setiap kali dia pulang dengan tubuh yang luka.
Ya ... Dia bebas. Mulai dari malam ini hingga seterusnya. Tidak ada aturan juga tidak ada pengekangan.
"Berengsek! Kau kira aku tidak bisa sepertimu, b******n?! Aku bisa...." Arabella mulai meracau tidak jelas di tengah kesadarannya yang mulai menipis. Arabella sudah tidak peduli dengan apa pun yang dia ucapkan. Inilah yang Arabella mau. Mabuk hingga dia bisa melupakan si k*****t itu. "Aku bisa lebih liar darimu, asal kau tahu...." racaunya linglung.
Arabella menidurkan kepalanya ke meja bar ditemani dengan suara alunan musik yang menggema di seluruh ruangan. Hinggar binggar seolah mengajak Arabella untuk menari, tetapi kepalanya pening. Arabella butuh sesuatu ... Ah, tidak ... Dia membutuhkan seseorang. Melampiaskan amarahnya sekaligus memadamkan api dalam dirinya.
Arabella marah, frustrasi dan lelah.
Kenapa kenyataan begitu kejam padanya? Dia sudah berusaha menjadi yang terbaik. Namun, lagi-lagi usahanya dipatahkan dua pengkhianat di hidupnya. Kenapa...
"Dasar b******n tak tahu diri!" teriak Arabella dengan suara yang teredam karena kedua tangannya membingkai seluruh wajahnya—membenamkan wajah cantiknya dalam lipatan tangan. "s**t!" Arabella mengerang begitu gelas brandynya sudah tergeletak kosong. Arabella kembali memesan—kali ini dia memesan wishkey satu botol. Namun, ketika hendak meminum langsung dari botolnya, seseorang menghentikannya.
"Mabuk tidak memberi solusi, Girl." suara serak nan seksi itu mengalun di telinga Arabella. Memaksanya untuk mengangkat wajah hingga mata sayunya dapat melihat seorang lelaki asing yang tengah menatapinya terang-terangan.
"Bukan urusanmu." gumam Arabella tidak peduli.
Lelaki asing itu meneliti penampilan Arabella yang terlihat kacau. Wajah yang memerah karena alkohol dengan riasan yang seadanya. Rambut cokelat mudanya tergerai indah, tapi sedikit kusut—sementara pakaian yang gadis itu kenakan masih berupa pakaian kantor namun sudah tidak beraturan.
Well, cukup menyedihkan.
Arabella semakin merasa pusing. Kepalanya seperti berputar. Arabella butuh tidur, tetapi dia masih ingin minum. Namun, sepertinya tidak perlu lagi. Tepat ketika Arabella berdiri dari duduknya, tubuhnya limbung—hampir saja jatuh jika lengan lelaki asing itu tidak sigap meraih tubuhnya.
Bau maskulin seketika memenuhi indera penciuman Arabella begitu lelaki asing itu melingkarkan lengannya—menahan tubuhnya. Mata biru Arabella berkabut, pusing dan mabuk mendominasi dirinya. Dengan matanya yang sayu, Arabella menengadah—memperhatikan lelaki di depannya sambil mengerjap.
Rambut cokelatnya berkilau di bawah cahaya yang temaram dengan warna mata yang senada dengan warna rambutnya semakin terlihat indah. Di tambah lagi bibir merahnya yang merekah. Wajahnya terlihat familiar tetapi Arabella terlalu pusing untuk dapat mengingatnya. Yang Arabella tahu dengan pasti adalah merasakan tubuh kokoh lelaki itu yang menempel padanya. Tinggi, kuat dan tampan. Wajah dan penampilannya terlihat sangat sempurna.
"Kau mabuk." kata lelaki asing itu.
Arabella menggeleng pelan. Tersenyum lalu meringis begitu pening kembali mendera kepalanya. "Aku tidak mabuk. Kepalaku hanya sedikit pusing." elaknya.
"Hampir jatuh dan kau bilang sedikit?"
Seketika Arabella menatap lelaki itu kesal. "Who care? Baru hampir. Jangan berkata seolah kau meng—Akhh! Berengsek!" umpat Arabella terjatuh begitu lelaki itu melepaskan rengkuhannya darinya. "Sakit...." rintih Arabella dengan wajah memerah dan bibir yang mengerucut.
Lelaki itu hanya menatapnya datar kemudian mengulurkan tangannya.
Arabella mendengus sambil mencebik. "Kakiku sakit. Gendong aku," keluhnya seraya merentangkan kedua tangannya ke atas seperti anak kecil.
Tanpa mengatakan apa-apa, Lelaki itu lalu mengangkat Arabella dan mengajaknya bicara, tetapi Arabella hanya meracau tidak jelas. Sesekali tertawa dan tiba-tiba kembali murung. Moodnya naik turun. Tidak mendapat informasi apa pun dari Arabella, akhirnya lelaki itu membawanya ke hotel terdekat.
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu sembari memindahkan Arabella ke kamar hotel.
Arabella memicing dan tiba-tiba mendorongnya hingga terjatuh ke ranjang. "Secepat itu kau melupakan namaku?!" Arabella menamparnya cukup keras. Mata sayunya berkilat penuh kekecewaan sambil terus mengoceh. "Berengsek! Beraninya kau mengkhiantiku, Carl! Aku mencintaimu tapi kau merusak kepercayaanku...." erangnya dengan nada putus asa.
Arabella mencengkram kerah baju lelaki itu dengan tatapan marah sebelum menempelkan bibirnya—mencium bibir lelaki itu dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. "Aku membencimu...," isaknya tersendat-sendat.
Lelaki itu sempat terkejut. Hampir saja dia berteriak marah, tetapi begitu menyadari gadis dipelukannya ini menangis, seluruh amarahnya menguap begitu saja. Ada perasaan khawatir yang sejenak mengambil alih dirinya. Dengan gerakan lembut dia mengangkat satu tangannya menghapus air mata gadis itu yang kian terisak di atas pundaknya. Rapuh dan rentan. Gadis yang tidak dia ketahui namanya itu tampak seperti seekor burung dengan satu sayapnya yang patah.
Oh, astaga ... Sejak kapan dia menjadi begitu peduli dengan orang lain?
Perlahan dia mendekap gadis malang itu, memberi usapan-usapan halus di belakang punggungnya seolah menenangkannya. Dan benar saja, semua itu tidak sia-sia ketika dia merasakan napas teratur gadis itu di pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya dia menghabiskan waktu bersama seorang wanita tanpa melakukan sesuatu. Hanya tidur. Benar-benar tidur.
***
Pagi harinya...
Cahaya lembut menyelinap dari celah-celah gorden kaca, mengusik sepasang manusia yang tenggalam di dalam selimut dengan masing-masing saling memeluk. Arabella mengerjap-ngerjap ketika cahaya itu seolah memaksanya untuk membuka mata. Kepalanya masih berat begitu pening masih menguasai dirinya.
Arabella kembali menutup matanya, merasa lelah sekaligus nyaman. Dia tidak pernah tahu kalau kamarnya menjadi lebih wangi dan maskulin. Apalagi dengan selimut beserta guling yang terasa hangat menyelimuti tubuhnya.
Maskulin?
Arabella masih enggan membuka mata dan sebagai gantinya dia menjalankan satu tangannya untuk meraba-raba—mencoba tidak peduli. Sampai, tangannya tiba-tiba berhenti menyadari apa yang dia sentuh terasa sangat kokoh seperti tubuh seorang pria.
Wait ... Tubuh?!
Arabella hampir memekik menyadari dia tertidur di atas tubuh lelaki asing. Dia pun menutup mulutnya dan berusaha bangun ketika kepalanya masih terasa pusing. Sepertinya dia terlalu mabuk semalam.
Arabella kemudian turun dari ranjang dan mengambil tas juga sepatunya. Dia mengamatinya sekilas, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan selembar cek—meletakkannya di atas meja dan menulis sebuah note yang ditindih dengan japitan rambut miliknya.
'Isi berapa pun yang kau inginkan. Bye-bye.'
Sebelum benar-benar pergi, Arabella menyempatkan diri melirik lelaki asing itu yang masih terlelap dengan posisi menyamping. Arabella tidak dapat melihat dengan jelas karena wajahnya tertutup lengan berototnya yang terdapat sebuah tato serigala di sana. Well, di lihat dari sisi mana pun lelaki itu tampak sempurna. Dan tentunya selain menjadi teman tidur satu malamnya.
____________________________________
JANGAN LUPA TINGGALKAN VOTE,
KOMENTAR AND SHARE YA BABY'S!____________________________________