Farah terus mendapatkan kiriman bunga-bunga bertuliskan kalimat romantis maupun kalimat permintaan maaf.
" Farah indahnya bunga bunga ini, tidak mengalahkan kecantikan abadi mu."
" Farah, aku akan memberikan segalanya. Tapi, maafkanlah aku.."
"The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even heard, but must be felt with the heart."
" True love is not a hide-and-seek game; in true love, both lovers seek each other."
dan ratusan kalimat lainnya agar Farah kembali memaafkan dirinya dan kembali ke pelukannya.
Berkali-kali juga Farah membuang semuanya ke tempat sampah. Dio menjaga hati Farah agar Reza tidak menemuinya walau Reza berani membayar mahal.
"Dio kalau lo berhasil membuat gw bisa nemuin Farah, gw akan kasih lo duit yang banyak." Dio menggeleng menolak. Menurut Dio sekarang, itu semua bukan tentang uang tapi juga soal perasaan. Farah bukan barang yang bisa dijual belikan seenaknya. Farah juga pasti tidak ingin kalau Dio memberikannya ke Reza.
Hari-hari Farah sebagai wanita malam berjalan seperti biasa. Di sela-sela melayani tamu-tamunya rasa sakit itu masih menghujamnya. Farah menahan tangis itu sebisa mungkin. Ia tidak ingin tamunya tidak merasa puas. Farah tahu luka hati tidak mungkin cepat sembuh, semua butuh waktu. Farah hanya butuh waktu menenangkan hatinya yang belum juga bisa menerima kenyataan.
Setelah mereka (pelanggan) mendapatkan rasa puas itu dari Farah, Farah bergegas pergi. Farah tidak ingin mendengarkan keluhan keluhan dari konsumennya apalagi kalau itu keluhan masalah rumah tangga.
Dio memperhatikan Farah yang terus menerus sedih walau wajahnya tersenyum. Dio tahu senyum palsu dan senyum kebahagiaan yang asli.
" Rah, lo udah merasa baikan?" tanya Dio. Farah meneguk minumannya.
" Gua udah baik-baik aja kok."
" Rah, tadi ada om-om tuh mabok banget sebelah sana. Kayaknya nasibnya kaya lo gitu deh.'
" Patah hati maksud lo?" Dio tertawa membenarkan ucapan Farah.
" Biasanya Rah kalau om-om patah hati terus dideketin cewek kayak lo gini. Duitnya ngalir Rah."
" Kelihatannya tajir gak?"
" Biasa aja si."
" Ah enggak mau. Abis main gak dibayar. Capek doang kali."
" Paling gak hibur gitu. Biar dia gak minum ngelamun terus banting botol."
" Iya iya. Hitung-hitung amal aja gitu ya."
Farah menghampiri laki-laki yang konon patah hati kata Dio. Farah menghampirinya dan terhenti di tempatnya.
Om-om yang patah hati itu ternyata Ayahnya. Farah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Farah mengurungkan niatnya untuk mendekati laki-laki itu. Sialnya laki-laki itu menahan tangan Farah.
" Temani saya di sini." Pintanya. Farah bimbang. Ia tidak ingin ayahnya tahu jika dirinya yang sudah menghilang dari rumah selama 2 tahun ternyata bekerja sebagai wanita murahan seperti ini.
" Maaf saya tidak bisa." Tolak Farah. Tetapi genggaman laki-laki itu lebih kuat dibandingkan tenaga Farah.
" Sebentar saja." Farah membalikan tubuhnya, memperlihatkan wajahnya. Laki-laki itu menatapnya dalam.
" Kamu.." Farah menggigit bibirnya sendiri gugup. Apa yang akan Ayahnya lakukan?
" Farah?" Farah menahan air matanya. Ayahnya mengenalinya walau Farah berdandan semenor ini.
" Kamu ngapain di sini?" Tanyanya dengan nada bingung.
" Ini tempat tinggalku." jawab Farah dengan nada sedikit bergetar.
Ayahnya menggelengkan kepala. "Bukan. Ini bukan tempat tinggalmu. Ayah sudah mencarimu kemana-mana!" teriaknya mengalahkan suara musik. Karena hal itu beberapa mata memperhatikan keduanya dan penuh dengan rasa penasaran.
" Ayah?Peduli padaku?juga Adikku? " Tanya Farah tidak percaya. Farah tahu sifat kasar Ayahnya. Bahkan karena kekasaran itu Ibunya harus merenggut nyawa. Lalu, adiknya diambil panti asuhan dan masih saja Ayahnya memaksa adiknya Farah tuk pulang dan menculiknya juga dari panti asuhan. Sayangnya Farah tidak. Karena, Farah diminta menjaga ayahnya yang frustasi setelah kehilangan ibunya. Padahal penyebab kehilangan ibu karena tangan ayah yang kasar memukul, melempar barang, dan terus menyiksa ibu batin atau pun fisik.
"Pulang nak. Kita kembali lagi menjadi keluarga." ajak ayahnya dengan suara melembut.
" Aku bahkan tak sudi melihat ayah lagi! Setelah semua perbuatan yang ayah lakukan."
Farah bangun dari duduknya dan Ayahnya menahan dengan wajah lebih keras. Wajah yang Farah takutkan.
"Anak jalang! Cepat pulang! Berani-beraninya kamu melawan saya!"
Plak...
Tangan kasar itu memukulnya lagi. Pukulan yang selama ini Farah terus hindari. Farah sudah menutup matanya bersiap akan pukulan kedua.
Tapi tak ada lagi pukulan yang datang ke wajahnya. Farah membuka matanya pelan-pelan.
Reza menahan tangan itu.
" Jangan kasar dengan perempuan. Dia kekasih saya." Ucap Reza yang membuat Ayah Farah tertawa.
" Kamu mau punya kekasih bekas banyak orang seperti ini?"
" Saya tidak keberatan." Reza melepaskan tangan itu.
" Kalau anda masih ingin selamat. Keluar dari tempat ini sekarang. Jangan pernah kembali lagi."
" Memangnya kamu siapa bisa memerintah saya?""
" Anda akan menyesal jika tidak pergi sekarang." Ayah Farah menatap Farah dengan wajah tidak terima. Farah bergetar di tempatnya berdiri. Semua kenangan yang ingin ia hapuskan kembali lagi. Rasanya begitu menyakitkan. Ayah Farah pergi dengan terhuyung-huyung.
" Kamu gak apa-apa?" Tanya Reza menghampiri Farah. Farah hanya menggelengkan kepalanya.
" Farah lo gak apa-apa?" Tanya Dio yang menyeruak dari kerumunan. Dio mendengar keriuhan saat Farah ditampar laki-laki mabuk itu.
Farah hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Ayo kita ke kamar kamu. Tenangkan diri kamu." Dio memicingkan matanya.
" Lo ngapain di sini lagi, Za? Lo gak sama istri lo?"
" Ini bukan waktunya kita debat."
" Jangan sok pahlawan! Gara-gara lo Farah kemarin tuh dia jadi lemah."
"Dio gua bakal beli Farah berapapun harganya. Tapi Farah jadi milik gua dan dia gak akan kerja kaya begini lagi." Dio terdiam. Ia memikirkan ucapan Reza. Pastilah ia mengingkan uang itu. Tapi di satu sisi dia juga tidak ingin kehilangan Farah.
Reza menggegam tangan Farah.
"Rah ayo kita tenangin diri kamu." Farah mengikuti genggaman tangan Reza. Dio hanya bisa menatap perginya Farah. Padahal dari kemarin Farah terus menerus menolak kehadiran Reza.
Andai saja saat Farah sedang disakiti Dio ada di sampingnya. Mungkin Farah tidak akan mempercayakan laki-laki bajingan itu.
Dear diary
Kuingin cerita kepadamu
Tentangnya
Yang dulu singgah di hatikuSejak itu
Hidupku jadi bahagia
Karena dia sellalu ada di hidupkuTapi kini dia menghilang
Dan tak tahu entah di mana
Diaryku 'ku merindukannya
Pujaanku, engkau ada di mana?Telah habis air mata
Tak sekedar kata-kata
Telah kucurahkan
Harusnya aku berlari
Sampai ke ujung dunia
Untuk mencarinyaTapi kini dia menghilang
Dan tak tahu entah di mana
Diaryku 'ku merindukannya
Pujaanku, engkau ada di mana?Tapi kini dia menghilang
Dan tak tahu entah di mana
Diaryku 'ku merindukannya
Pujaanku, engkau ada di mana?Tapi kini dia menghilang
Dan tak tahu entah berada di mana
Diaryku 'ku merindukanmu
Pujaanku
Pujaanku
Pujaanku
Engkau ada di mana
Dear Diary - Ratu