Reza berdiri di ambang pintu mengamati Farah yang sedang mundar-mandir membereskan sesuatu. Dengan kuncir kudanya yang mengiringi setiap langkahnya. Lehernya yang jenjang membuat Reza menahan diri untuk tidak menyergapnya. Reza meletakan rasa kagumnya pada perempuan yang tidur bersamanya hanya satu malam itu. Banyak celoteh yang diceritakannya walau belum secara keseluruhan. Reza bisa tahu Farah adalah sosok yang kuat karena sorot matanya memberikan penjelasan itu.
Farah berdiam diri di tengah-tengah mengamati Reza yang memandangnya.
"Hai.." sapa Farah kikuk.
"Hai juga." Balas Reza.
"Mau ketemu Dio?" Tanya Farah dengan wajah tak kalah kikuk.
"Bukan."
"Lalu?" Farah berharap Reza akan menjawab untuk bertemu dengan dirinya.
"Hanya sekedar ingin berkunjung."
"Oh begitu." Farah merasa kecewa dengan jawaban Reza.
"Malam ini kamu kosong?' Tanya Reza.
"Ada pelangggan-pelanggan yang menungguku."
"Bagaimana kalau kamu aku book duluan? Aku book kamu, seperti lima orang yang ngebook kamu."
"Tentu saja." Farah senang, tenaganya tidak akan terbuang untuk lima orang.
"Jam 7 malam. Aku menjemput." Farah memanggutkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Reza beranjak pergi dan mengecup pipi Farah. Pipi Farah bersemu Farah. Reza meninggalkan Farah yang berbunga – bunga dan tidak sabar menunggu jam 7 malam.
Farah akan bersiap-siap dari sekarang untuk malam ini. Dio memperhatikan dua insan yang sedari tadi mengobrol bersama. Dio merasakan sedikit panas, namun Farah memang milik semesta bukan hanya miliknya.Dalam hatinya Dio berharap Farah bisa bahagia bersama Reza dengan kehidupan layak. Farah berhak bahagia.
Dio Poem
Burung-burung di atas sana menatapmu dengan tatapan iri
Mengapa kamu memiliki tubuh lebih indah dibandingakan dengan mereka?
Mengapa kamu yang tidak bisa terbang bisa sebahagia ini?
Mengapa kamu yang penuh luka seakan baik-baik saja?
Jawablah pertanyaan mereka..
Karena aku ingin memandangmu sebagai seutuhnya wanita..
Reza menepati janjinya. Pukul 7 malam Reza menjemput Farah dengan mobil kerennya. Tentu saja menjadi beberapa pertanyaan teman-teman Farah, pengusaha mana yang booking Farah? Beruntung sekali. Farah mengenakan baju terbagus yang ia miliki. Dress yang Farah kenakan menampilakan 2 pundaknya yang putih dan mulus. Siapa pun laki-laki pasti akan berdesir melihat seksinya Farah. Reza mengamit tangan Farah dan membukakan pintu untuk Farah. Reza membawanya pergi dari keramaian bar. Farah merasa malam ini adalah malam yang beruntung untuknya. Kapan lagi seorang pria tampan dan kaya menjemput wanita murahan sepertinya kan.
"Silahkan." Farah tersipu malu, ia tidak pernah diperlakukan sebaik ini oleh seorang laki-laki.
Reza berlari kecil ke arah kemudinya, menutup pintunya sedikit kencang.
"Kemana kita malam ini?" Tanya Farah sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Menikmati langit malam." Jawab Reza penuh misterius. Farah tersenyum menatap keluar mobil. Rasanya dia ingin menampar dirinya sendiri berharap ini bukan mimpi belaka. Kalau pun ini hanya mimpi Farah berharap dia tak akan pernah terbangun.
Sepanjang perjalanan, Reza banyak menceritakan hal yang ia lakukan, selama ia bekerja. Reza sama sekali tidak menyinggung masalah kehidupan percintaannya.
Reza menghentikan laju mobilnya di sebuah restaurant mewah. Seorang pelayang cepat menghampiri Reza membukakan pintu Farah dan Reza. Reza memberikannya tangannya untuk digandeng.
"Reservasi bapak, sudah disiapkan." Reza memanggutkan kepalanya dan berjalan ke atas dengan tangan Farah yang berada di gandengannya. Tak sedetik pun gandengan ini lepas dari tangan Farah.
Reza melepaskan tangannya, dan menarik kursi untuk Farah. Sebuah meja dengan lilin dan bertaplak putih tersedia.
Farah duduk dengan hati-hati.
"Untuk makanan sudah aku pesankan. Aku tahu kamu pasti suka."
Reza menunjuk ke arah langit.
"Cuacanya sedang bagus. Aku tidak salah memilih tempat ini untuk kita."
"Langitnya indah," gumam Farah.
Pelayan membawakan makanan dan botol wine.
Keduanya makan dengan suasana yang hening. Farah tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.
"Farah.." panggil Reza.
"Terimakasih sudah menemani makan malam ini."
"Tidak, harusnya aku yang berterimakasih." Farah meletakan pisau dan garpunya dan bangun dari duduknya. Farah berdiri di balkon. Menatap lampu malam sepanjang kota itu.
"Indah." Reza melingkarkan tangannya di pinggang Farah. Membuat Farah sedikit menegang. Reza meletakan wajahnya di pundak Farah.
"Bagaimana rasanya menjadi diri sendiri?"
"Hmm.. lelah."
"Bukannya lebih lelah menjadi berpura-pura bahagia?"
"Iya itu lebih melelahkan."
"Rasanya aku iri dengan seisi alam ini. Yang bisa menjadi diri mereka sendiri dan bahagia dengan caranya masing-masing."
"Kamu tidak bahagia?"
"Aku bahagia hanya saat bersamamu." Ucap Farah dan memutar tubuhnya. Farah memegang wajah Reza yang ia rindukan beberapa minggu ini. Reza yang selama ini ia hanya bisa dengar dari telfon dan bertukar pesan lewat w******p. Wajahnya yang hanya ia bisa liat di pesan juga ponselnya. Sekarang, Farah dapat memegang fisiknya. Seperti mimpi.
"Aku ini perempuan jalang. Hanya pemuas hawa nafsu laki-laki. Aku bukan wanita baik-baik. Kamu memperlakukanku seakan-akan aku adalah wanita baik dan sempurna untukmu."
"Farah jangan berbicara seperti itu."
"Aku ini kotor. Kamu memiliki kastamu sendiri." Farah mengucapkannya dengan nada bergetar. Walau sedari tadi hatinya berlonjak senang, ia tahu dia tidak pantas untuk Reza. Ia bagaikan seorang Cinderella.
"Aku hanya wanita semalammu dan.." Reza mengecup bibir Farah, membuatnya berhenti berbicara. Air mata Farah mengalir tanpa ia bisa hentikan lagi.
Reza melepaskan ciumannya, dan menatap wajah Farah.
"Mungkin ini terlalu cepat, aku mencintaimu Farah." Farah menatap mata Reza mencoba mencari kebohongan dan sebagainya yang hanya akan menyakitinya.
“Banyak wanita baik dan berpendidikan di luar sana tapi, tidak lebih baik daripada dirimu. Jadi, kamu tidak perlu merasa berkecil hati dengan keadaanmu. Kita bisa merubah keadaan menjadi lebih baik..”
Reza menatap mata Farah dalam-dalam. Nyatanya mata itu tidak berbohong, mata itu menatap tulus. Farah tidak pernah mendapatkan tatapan sedalam ini. Farah yakin Reza adalah laki-laki pilihan Tuhan, yang akan mengakhiri semua penderitaannya.
"Terimakasih Reza. Ini pertama kalinya seseorang mengatakan cinta tanpa kebohongan."
"Farah berhentilah bekerja untuk laki-laki lain," pinta Reza.
"Aku tidak bisa.."
"Bukannya kamu membenci pekerjaan itu?"
"Iya, tapi aku memiliki kontrak dengan Dio."
"Aku akan membicarakannya dengan Dio."
"Reza, jika aku berhenti.. Dimana aku akan tinggal? Bagaimana bisa aku mendapatkan uang?"
"Aku mampu memberi kamu kehidupan."
"Aku bisa memberi kamu apartemen, uang, dan fasilitas." Lanjut Reza tanpa ragu.
"Reza, aku tidak ingin merepotkanmu." Tolak Farah.
"Kamu bukan beban dalam hidupku. Kamu adalah harta terbaik di hidupku. Aku ingin kamu menjadi bagian hidupku dan hanya untu aku."
Entah kenapa, hati Farah merasa takut dan senang dalam waktu bersamaan. Menurut Farah semua cinta ini terlalu cepat, tapi Farah juga tidak ingin lama-lama berkubang dalam dunia mala,. Bagaimana kalau khayalannya tidak seindah kenyataannya nanti?
Nothing in life is to be feared, it is only to be understood. Now is the time to understand more, so that we may fear less.
- Marie Curie