4

1086 Words
Farah tersenyum senang saat melihat Reza mengirimkan fotonya saat Reza sedang bekerja. Di foto itu tertulis caption. Work hard, rise a money. Sejak mereka bertukar nomor tak ada sehari pun yang terlewatkan tanpa mengirimkan pesan mesra satu sama lain. Karena Farah sedang kedatangan tamu bulanan, malam ini Farah hanya menjadi pramusaji, ya sampai tamu bulanannya pergi. Farah menghampiri meja bartender. Taka da hari tanpa bekerja bagaimana pun keadaan. "Lagi ada tamu bulanan ya? Makanya jadi pramusaji." Ledek beberapa bartender. Karena Farah termasuk Primadona di PUB, jadi sering diejek. Kalau Farah sedang libur, berarti pendapatan Dio juga turun. Sebagian pendapatan besarnya didapat dari Farah. "Iya, tapi kan kerja tetap harus jalan terus bos." Balas Farah, Farah mengambil beberapa minuman yang sudah tersedia dan melenggang melewati kerumunan orang. Farah meletakan minuman untuk tamu-tamunya sambil mengedipkan sebelah mata. Ada yang beberapa menambahkan memegang tangan Farah seperti tidak sengaja, menepuk pantat Farah, dan memperhatikan Farah bak singa yang lapar. Seperti ramah tamah agar tamunya tetap senang dengannya Farah membalas dengan senyum yang merekah. Kalau sedang beruntung Farah bahkan bisa mendapatkan tambahan tips. Farah kembali lagi dan meletakan tray dengan hembusan nafas lega. "Baru juga ngantar beberapa kali, udah capek amat non." "Gak capek si, cuma kepala lagi gak enak banget nih." "Lo sakit?" sambar Dio dari belakang Farah. "Iya, kayaknya." Dio memegang kening Farah. "Ya sedikit demam si, lo mau istirahat aja?" "Boleh emangnya gua istirahat?" Tanya Farah meyakinkan. Mendapatkan istirahat dari seorang Dio seperti keajaiban. "Ya bolehlah. Daripada lu pingsan, nyusahin banget." "Yaudah gua balik ke kamar dulu." Drrr...drrrt... Handphone di saku Farah bergetar. Farah merogoh sakunya, mendapatkan nama Reza dan foto Reza di handphonenya. Dio mengintip ponsel Farah dari samping. "Reza? Teman gua?" Tanya Dio dengan wajah menyelidiki. "Bukan, bukan. Udah ah gua mau istirahat dulu." Farah menutup ponselnya dengan tangannya dan berjalan cepat menghindari Dio. Dia tipe laki-laki licik. Bisa saja kalau dia menjelek-jelekan dirinya ke Reza. Walau Reza juga sudah tahu siapa dirinya. Dari kejauhan Dio menangkap sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua. Dio tahu, Reza akan mengambil wanita yang selama ini Dio cintai dengan cara yang salah. Saat SMA dulu saja gebetan Dio taka da yang tidak jatuh hati dengan Reza. Dengan kekuatan uang dan tampan semua wanita jatuh dengan mudahnya. Dio jadi ingat bagaimana bisa bertemu Farah beberapa tahun lalu, Farah yang cantik dan beharga untuk hidupnya. *** Beberapa tahun silam, Dio menemukan Farah di depan barnya. Dengan wajah kebingungan dan mata cekung. Terlihat beberapa hari Farah masa remaja itu belum makan dan tidak memiliki tempat pelarian. Dio mendekati Farah yang sepertinya sudah tidak memiliki daya upaya lagi. Saat Dio menatap mata Farah, Dio tahu kalau Farah anak yang terlahir dengan penuh luka. Dio menghampiri Farah, Farah terlihat ketakutan. "Hallo.." sapa Dio dengan suara lembut. Farah hanya terdiam saja. “Saya bukan orang jahat kok.” Dio menggegam tangan Farah yang terlihat gemetaran. "Maaf, kalau saya membuat kamu takut." Ucap Dio mencoba menarik Farah dari depan pintu barnya. Dio membawanya masuk, masuk ke dalam ruangannya di atas bar. Dio dengan cekatan membuatkan secangkir teh, sesekali Dio menatap Farah yang linglung. Dio memberikan secangkir teh itu dan memintanya untuk minum. "Maaf kalau kamu takut saya bawa ke sini. Nama kamu siapa?" "Farah." "Berapa usia kamu?" Farah tetap diam. Dari perawakannya Farah berusia sekitar 16-18 tahun. ­­­­­­"Kamu mau ganti baju dulu?" tawar Dio. Dio memberikannya sehelai baju wanita milik mantan pacarnya dan celana pendek.  Baju yang Farah kenakan terlihat kotor dan ada beberapa sobekan, pasti dingin untuk berdiam diri di depan saja sedari tadi. "Ganti baju dulu sana, kalau bisa sekalian mandi." Dio melemparkan handuk ke wajah Farah. Farah menurut saja. Selesai mandi Farah kembali duduk di hadapan Dio. Di balik kotoran yang tadi memenuhi tubuh Farah, ternyata Farah adalah sosok wanita cantik. Dengan rambut panjangnya dan kulit putih bersihnya. Apalagi tubuhnya yang proporsional. Kalau di Bar Farah pasti laris manis, Farah seperti bunga yang baru mekar dan lebah-lebah siap menghampiirinya. Dio berdeham, menghilangkan kegugupannya. “Kamu dari mana?” Tanya Dio mengalihkan perhatiannya dari kaki jenjang Farah. Farah bisa dibilang tipe ideal laki-laki dengan kaki panjangnya. “Saya kabur dari rumah.” “Rumah kamu di mana?” “Rumah saya jauh.” “Kamu ingat nomor telfon ayah atau ibu kamu?” Farah menggelengkan kepalanya. “Saya bisa bantu kalau kamu ingin pulang.” “Saya gak mau pulang.” Ucap Farah dengan nada datar. “Lalu, kamu mau berdiam di mana? Tanpa tujuan?” “Di sini.,.” “Di rumah saya?” “Iya saya mau jadi pembantu juga tidak apa-apa.” Dio tertawa mendengar jawaban Farah yang lugu.” “Pembantu? Hanya ruangan sekecil ini. Saya juga bisa tangani sendiri.” Farah hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kalau jadi PSK mau?” “PSK?” “Ya PSK, menjual tubuh kamu. Uang yang dihasilkan gak sedikit loh. Bisa untuk memperbaiki hidup kamu. Apalgi kamu cantik, sekali main bisa 1jt malah.” Farah terlihat menimbang-nimbang ucapan Dio, memang Farah sekarang membutuhkan uang untuk segalanya. Jalan menjadi PSK ini tapi kan tidak benar.   “Kamu bisa minum pil agar mencegah kehamilan. Di sini juga para pelanggan biasanya pakai pengaman agar tidak tertular penyakit menular.” “Tapi, saya belum pernah berhubungan.” “Hahaha.. tenang aja gw ahlinya. Gw ajarin nanti.” Farah terbelalak, mengajari berhubungan? Pasti canggung sekali. “Panggil gw Dio aja. Mulai sekarang Gw dan Lo aja ya. Kaku banget kata ‘Saya’.” “Ok sekarang udah malam, waktunya tidur ya.” "Lo tidur di sini ya." Ucap Dio. Sekali lagi, Farah hanya memanggutkan kepalanya. Dio bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Dio mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat Farah sebelumnya, wajahnya tidak asing. Padahal pekerjaannya masih banyak di dalam bar, mengawasi wanita-wanita peliharaannya. Tapi tidak memungkinkan sekarang, karena Farah juga salah satu yang harus ia jaga. Untung saja sekarang bukan akhir pecan, biasanya kalau akhir pecan bar lebih ramai. Dio bahkan sedikit kewalahan. Tapi, keramaian itu juga membuat Dio tambah banyak uang. Selang beberapa jam, Dio keluar dari kamarnya. Farah sudah tertidur pulas, dengan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dio mengambilkan selimut merah, dan menutupi tubuh Farah dengan selimut. Di dalam hati Dio, Dio tahu jika Farah mirip dengan masa lalu yang pernah menyakitinya hingga membuat dirinya seperti sekarang. Dio tidak bisa mengenali perasaan yang menyinggahi sekarang, apakah jatuh cinta atau kebencian? You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life. -Albert Camus
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD