3

1038 Words
Setelah malam singkat itu bersama Reza, Farah tidak bisa melupakannya. Walau sudah melayani pelanggan-pelanggan lainnya. Farah tetap merindukan Reza. Inilah pertama kalinya Farah jatuh cinta dengan pelanggannya. Biasanya Farah tidak pernah bermain dengan hati, kali ini berbeda. Reza sosok laki-laki yang membekas di hati dan pikirannya. Setiap malam Farah memandang kerumunan orang yang asik mengikuti dentuman musik. Farah berharap Reza ada di salah satu dari mereka. Namun nyatanya hanya harapan kosong.Reza pasti sibuk dengan bisnis yang diurusnya. Mana ada waktu untuknya kembali ke kota ini hanya untuk menemui Farah. Memang siapa Farah? hanya pelacur tidak beharga. Farah bahkan berpikir, jika suatu saat nanti ada yang menculik dan membunuhnya tidak akan ada yang mencarinya. Karena sosoknya tidak beharga, untuk apa lagi dicari. Farah ingin lepas dan hidup seperti perempuan lainnya yang dimanja dan dicinta. Andai semua mimpi tidak sesulit melewati tingginya gunung. Saat pagi hari Farah terbangun, Reza sudah tidak ada di sampingnya. Reza sudah pergi dan meninggalkannya sendiri. Reza hanya meletakan kartu nama miliknya di atas meja da nada catatan untuk menghubunginya. Karena Reza belum membayar jasa Farah yang telah memuaskannya. Reza memang laki-laki yang tidak biasa memegang uang cash, biasanya Reza selalu menggunakan kartu kredit atau transfer. Farah memperhatikan kartu nama di tangannya yang sudah sepekan ini hanya ia perhatikan saja tanpa dihubungi. Sebenarnya Farah menghubungi Reza bukan untuk meminta bayarannya tapi ia rindu dengan pemilik suara berat itu. Karena tidak pernah ada laki-laki menghargai Farah, seperti yang Reza lakukan. Farah bangun dari kursi favoritnya di bar. "Mbak udah ada pelanggan?" Tanya Gunawan melihat Farah yang pergi begitu saja. Biasanya Farah pantang pergi tanpa seorang pelanggan yang ia dapat. Farah hanya mengacungkan jempolnya saja. Farah sedang tidak mood memuaskan pelanggannya. Malam ini ia ingin memuaskan dirinya sendiri dengan menghubungi Reza. *** Farah menekan nomor Reza di ponselnya lalu menghapusnya lagi. Ia menatap layar ponselnya yang kosong. Apakah perempuan seperti aku cocok untuk menghubunginya? Tapi hati Farah terus mendorongnya. Rasa rindu ini sudah tidak tertahankan. Farah menekan kembali nomor itu dan menahan nafas selama nada sambung berbunyi. Pikirannya sibuk apa kata pertama yang akan ia ucapkan saat Reza mengangkat telfonnya. "Hello.." Farah menelan ludahnya susah payah saat mendengar suara berat itu. "Hello.." suara itu kembali menyadarkan kesadarannya yang sempat hilang. "Ya he.. hello." Ucap Farah terbata-bata. "Ini siapa?" "Saya Farah. Apakah masih ingat?" dalam hatinya Farah berharap Reza ingat dengannya, karena sepekan ini pikiran Farah hanya dipenuhi Reza seorang. "Oh Farah. Iya tentu saja masih ingat. Ngomong-ngomong kamu ada nomor rekening kan?" "Ada." Farah menjawab singkat pertanyaan itu. memang benar perempuan murahan tetap saja murahan. "Bisa kamu kirim nomor rekening kamu via WA?" "Iya bisa." Lalu keheningan terjadi beberapa detik. Keduanya mencari topik pembicaraan yang menarik. "Bagaimana kabar kamu?" Tanya Reza. "Saya baik-baik saja." "Syukur;ah. Saya sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan. Saya harap bisa banyak berbicara dengan seseorang." "Bukannya di sana juga banyak wanita malam?" Reza tertawa mendengar ucapan Farah. "Di sini memang banyak tapi tidak fresh." "Kapan mau mampir lagi?" Farah berharap Reza akan menjawab secepatnya. "Kalau sudah lenggang, saya langsung ke sana. Kangennjuga sama Dio." "Oh kangennya sama Dio?" "Ya Dio kan teman SMA saya. Sohiblah gitu." "Oiya? Dia gak pernah cerita tentang kamu." "Kan dia sibuk menjajakan dagangannya." Canda Reza. "Farah, mimpi kamu apa?" Tanya Reza dengan nada serius. "Belum tahu, tapi yang pasti aku ingin adikku dan keluargaku bahagia." "Sederhana. Tapi, memiliki makna yang dalam." Jawab Reza. Suara Reza membuat hati Farah tenang, ada laki-laki yang bisa ia ajak bicara bukan hanya melakukan aktifitas s*x saja. Lalu obrolan-obrolan lainnya bergulir menemani Farah yang sendirian di dunia ini. Farah merasa dunia sekarang sudah sedikit adil dengan menghadirkan Reza di hidupnya walau mungkin Reza hanya sementara untuknya. *** Farah terbangun dari tidurnya dengan perasaan bahagia yang tak pernah ia dapat sebelumnya. Biasanya Farah berharap ia tidak bangun kembali di pagi hari. Tapi pagi ini berbeda. Dia segera mencari ponselnya. Reza mengirimkan pesan singkat via whatsapp.. "Selamat pagi. Have a nice day ada puisi buat kamu.." For Though I Hope She Loves Me For She Has Kissed My Mouth Thought I Am Like A Stricken Bird Who Cannot Reach The South. Tonight I Know She Loves Me And My Heart Is Very Glad For Her Kiss Was Just As Wonderful As All The Dreams I’ve Had Danielle Alexandra   Farah menatap lama tulisan tersebut. Farah mengklik profil Reza dan senyuman bahagia makin terpancar di wajahnya. Membaca puisi itu membuat hati Farah terasa hangat. "That's sweet.." "Thank you. Anothe poem coming soon.." Farah tersenyum kecil. Pastinya puisi-puiis itu adalah hal yang Farah paling tunggu-tunggu. Puisi-puisi itu mewakili isi hati Reza. Siapa yang tidak senang saat membacanya. Farah senang sampai rasanya semua bewarna merah cinta. Farah keluar dari kamarnya dan ingin lari pagi. Hitung-hitung olahraga dan menyegarkan hatinya. Farah mengganti bajunya dengan pakaian olahraga. Pakaian olaharaga favoritnya biru. Jelas menampakan lekukan tubuhnya dari atas dan bawah. Tidak heran semua orang yang olahraga pagi di taman, saat melihat Farah merasa kesal. "FARAH!!!" panggil Dio dengan suara menggelegar. Farah menghentikan langkahnya. "Kenapa si? Pagi-pagi udah teriak-teriak aja!" protes Farah dengan suara kesal. Hal ini bisa merusak moodnya yang baik pagi ini. "Lo semalam gak kerja ya?" Farah memanggutkan kepalanya. "Kenapa? Kan ini bukan tanggal PMS lo." "Gua lagi gak mood aja. Udah deh gua juga butuh libur kali." "Awas lo ntar malam gak kerja lagi. Lo kira kamar yang lo tidurin itu free?" Dengus Dio dan meninggalkannya begitu saja. Farah menatap kepergian Dio dengan tatapan sayu. Sebenarnya ia ingin lepas dari dunia malam hanya saja apa lagi yang ia bisa lakukan selain pekerjaan haram ini? Untuk memiliki uang banyak, pekerjaan yang cocok hanya seperti ini saja. Farah meneruskan niatnya lari pagi dengan music di telinganya. Saat rasa putus asa datang, mendengarkan lagu dari The Script memang hal yang pas. Seperti memberikan kekuatan lebih untuknya.  All the hurt, all the lies, All the tears that they cry When the moment tears just right They seem fire in their eyes Cause he's stronger than you know A heart of steel starts to grow When you've been fighting for it all your life You've been struggling to make things right That's how a superhero learns to fly Every day, every hour Turn the pain into power When you've fighting for it all your life  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD