2

1542 Words
Entah sudah berapa banyak orang yang menawarkannya untuk menjadi wanita 'peliharaan'. Farah selalu menolaknya. Padahal hidupnya akan terjamin dengan uang-uang dari sugar daddy. Apalagi Farah hanya akan melayani satu laki-laki saja. Sayangnya, Farah bukan tipe wanita yang bisa diatur dan berdiam diri di rumah. Apalagi disembunyikan dalam sangkar emas. Ia ingin melebarkan sayapnya dan kecantikannya. "Oy minta segelas bir dong." Gunawan yang sudah hafal dengan Farah langsung memberikannya. "Gimana mbak? Lancar?" Farah meminum bir dalam satu tegukan. "Ya lancar dong. Gua kan profesional. Kenapa? Mau nyoba?" goda Farah. "Gak mbak." "Gua ajarin deh buat pemula." Gunawan hanya tersenyum malu. "Yelah udah 17+ masih aja malu." Farah meletakan gelasnya yang sudah kosong dan bertopang dagu menatap sekitarnya. Farah melihat sekerumunan orang-orang yang melompat-lompat mengikuti iringan lagu. Kadang music ini bisa memekakan telinga tapi memang harus diakui musik ini menjadi pelarian yang tepat bagi orang seperti Farah, melarikan diri dari semua pertengkaran kedua orangtuanya. Farah membayangkan apakah dirinya akan lebih baik jika masih bertahan dalam rumah yang panas seperti itu? Farah melarikan diri semenjak satu tahun lalu. Saat itu Farah benar-benar frustasi, apa yang harus dilakukannya? Usianya baru 19 tahun. Belum lulus kuliah dan tidak punya sanak saudara untuk membantunya di saat frustasi seperti ini. Beberapa hari Farah rela tidur di pinggir jalan dan tidak mandi berhari-hari. Makan seadanya dengan sisa uang miliknya. Saat seperti itulah Dio menemukannya. Dio memang saat itu sedang bingung karena wanita malam miliknya ada yang mengundurkan diri dengan alasan ingin taubat. Walau dalam keadaan kucel Dio bisa melihat Farah pasti cantik. Saat itu Farah ditawari sebagai seorang SPG. Tentu saja Farah mau. Menjadi SPG hanya kedok selama sebulan. Dio menawarinya uang lebih besar lagi. Dio juga mengiming-ngimingi hidup Farah akan lebih baik jika menuruti kemauannya. Karena tidak ada keahlian dan jalan lain Farah akhirnya belajar bagaimana menjadi wanita nakal. Dio mengajarinya cara menggoda laki-laki hidung belang. Dio memodalinya dengan pakaian-pakaian seksi. Awalnya Farah takut tapi karena terpaksa Farah jadi terbiasa. Ternyata melayani orang-orang dengan karakter berbeda tidak terlalu buruk. Farah menjadi primadona hingga sekarang. Usianya masih muda 20 tahun, memiliki rambut indah pirang idaman para pria, bibir mungil, badan langsing bak gitar spanyol, dan suara seksi yang berhasil ia latih untuk membangun hubungan. Kadang Farah juga terpikirkan apakah ayah dan ibunya mencarinya? Apakah ayah dan ibunya sudah berbaikan? Tapi saat Farah tersadar bagaimana rasa sakit itu melukai dirinya, ia membuang pikiran untuk kedua orangtuanya. Dia tidak peduli jika orangtuanya melabeli ia dengan label anak kurang ajar sekali pun. "Eh bengong aja lo!" Seru Bella duduk di depan Farah. "Ya nih gua ngerasa gak enak badan." "Yelah kenapa emang? Pelanggan lo tadi gak cucok ya?" "Pelanggan gua tadi ganteng keleus." "Wah enak dong. Gua udah dapat 2 pelanggan nih malam. Rasanya badan gua rentek deh." "Minta gih sama Gunawan beras kencur." Canda Farah. "Lo kira ini jualan jamu tradisional. Ini bar coy!" Bella tertawa terbahak-bahak. "Ada mangsa arah jam 12." Ucap Farah melihat lurus. Cowok tampan bertubuh tinggi. Cowok itu sibuk dengan ponselnya ditengah keriuhan club mala mini. "Yaelah jangan-jangan itu mau transaksi barang kali Rah." "Ngapain transaksi di tengah kerumunan gitu deh?" Tanya Farah heran. Mata Farah terus memperhatikan cowok tinggi itu. Ingin kakinya menghampiri tapi ia enggan. Ia tidak ingin diacuhkan. Tapi cowok itu tipenya. "Farah!" panggil Dio mengalihkan pandangan mata Farah. "Ada tamu mau minta ditemenin. Lo mau gak nemenin?" "Tamunya dimana?" "Ikut gua." Farah turun dari kursinya dan berjalan mengikuti Dio. Kursi panjang kosong dengan tirai menjadi tempat Dio berhenti. "Lo tunggu sini. Gua panggilin tamunya." Farah hanya memanggutkan kepalanya menurut. Biasanya tamu yang minta ditemani tidak minta making love. Hanya minta ditemani minum saja paling muluk hanya kecupan. Tak lama Dio datang dengan tamu yang dimaksud. Farah membelalakan matanya. Ternyata laki-laki ini adalah cowok yang sejak tadi ia perhatikan. "Ini Mas Reza. Ajakin dia santai ya." Ucap Dio. Reza tersenyum ramah. Farah membalas senyum itu dan mengambil sebotol bir dan gelas kosong. Farah menuangkannya untuk Reza. Reza membuka jasnya dan menjatuhkan tubuhnya di samping Farah. Reza menyambut gelas pemberian Farah. "Baru pulang kerja?" Tanya Farah basa-basi. "Ya di sini karena ada bisnis. Maksud gua di daerah sekitar sini." "Pasti capek ya?" "Ya capek banget si. Makanya gua mau santai-santai di sini sambil ditemani ngobrol." Farah menggeser duduknya mendekat Reza. Reza tidak menghindar justru seperti merasa nyaman. "Udah lama kerja di sini?" Tanya Reza. "Baru setahun." Jawab Farah jujur. "Masih fresh dong ya?" "Hahaha.. fresh darimana coba?" "Kalau udah kerja di dunia malam lebih dari 2 tahun tuh udah gak fresh." Jelas Reza. Tangan Reza beralih ke pinggul Farah dan merangkulnya. "Masa sih? Baru tahu loh." "Punya Sugar Daddy?" "Engga. Gua gak suka dikekang." "Enakan bebas lepas kayak sekarang?" "Iya enakan kaya sekarang." Reza menghabiskan minumnya dan meletakan gelasnya. "Tahu penginapan dekat sini?" Tanya Reza. "Iya tahu. Kebetulan teman gua kerja di sana." "Bisa antar?" Farah melihat Reza heran. Kalau memang ingin make love kenapa harus ke penginapan? Kamar di club ini juga kan bagus. "Tenang aja bayarannya 2 kali lipat." "Mau kapan diantar?" "Sekarang aja." Farah berdiri lebih dulu disusul Reza. Reza merangkul pinggul Farah seperti tidak ingin melepaskannya. "Farah!" Dio memanggilnya membuat langkahnya terhenti. "Bawa nih tas." Dio memberikannya tas tangan. Farah melihatnya heran. "Udah bawa aja. Temani Reza ya!" Reza tersenyum sekilas dan menarik Farah untuk berjalan bersamanya. Dalam hati Dio berharap Farah bisa membuat Reza puas. Reza adalah sahabat Dio. Dio terlalu banyak mencicipi wanita. Semoga Farah bisa mengikuti permainan Reza. Farah menunjukan penginapan Stay Here. Stay Here terkenal dengan penginapan dengan fasilitas lumayan bagus setara dengan hotel. Cocok dengan tipe orang seperti Reza. Bagian customer penginapan Stay Here sudah hafal dengan Farah. Farah tidak melulu ke Stay Here untuk melayani tamu. Kadang dia tidur di sini untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelewat lelah di malam hari. Mbak Retno langsung memberikan kunci untuk room 26. "Wah udah akrab banget ya sama pegawai di sini." Ucap Reza. "Ya begitulah. Pekerjaan ini membuat saya meiliki banyak link." Jawab Farah bercanda. Penginapan ini sederhana dengan 5 lantai dan menaikinya dengan tangga. Harganya juga murah. Farah berjalan ke kamar nomor 26. Kasur dengan ukuran besar untuk dua orang menyambut mereka. Farah sudah hafal untuk menyalakan ac dan menyalakan televisi. "Mau mandi dulu?" Tanya Farah yang duduk di ujung kasur. "Lo duluan aja yang mandi." Perintah Reza. Di penginapan ini disediakan kimono untuk sehabis mandi. "Ya si gua emang gerah." Farah meletakan tas yang sedari tadi di tentengnya. Farah mengambil handuk yang masih terlipat rapi di dalam lemari. Farah masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Reza yang asik dengan remote tv. Farah menyalakan shower dan memilih air panas. Air panas memang mampu membuat santai tubuh yang lelah. Farah mengambil sabun beraroma buah yang sudah disediakan oleh penginapan ini. Krek... Pintu kamar mandi terbuka, sontak Farah membalikan tubuhnya yang masih penuh dengan sabun. Reza memperhatikannya dari balik pintu. "Mau mandi juga?" Tanya Farah sambil membasuh dirinya. Reza membuka kemejanya dan melepasnya sembarangan di depan kamar mandi. Disusul melepas celana kerjanya dan pakaian dalamnya. Farah sedikit menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang untuk Reza membashi tubuhnya dengan air panas. Farah bisa melihat dengan jelas tubuh Reza pemilik roti sobek di perutnya, ototnya yang membuat wanita meneguk air liur, dan rahangnya yang keras membingkai wajahnya. Tampan. Reza membasahi rambutnya dan memperhatikan Farah yang dari tadi terpaku di tempatnya. Reza mengusapkan jarinya di bagian tubuh atas Farah. Membuat Farah menggigit bibir. Reza mendekatkan wajahnya. Farah bisa merasakan degupan jantungnya yang memburu. Mata tajam Reza menatapnya dalam. Reza semakin mendekat dan mengecup bibir Farah. Kecupan yang dalam dan membuat Farah bisa merasakan inilah sesungguhnya sebuah ciuman. Farah membalas ciuman itu dengan rakus. Seakan tidak ingin melepaskan ciuman ini selamanya. Farah melingkarkan tangannya di leher Reza agar posisinya lebih nyaman. Reza melepas ciumannya dan menciumi tubuh Farah. Desahan keluar dari mulut Farah. Farah tidak bisa menahan betapa dirinya menikmati ini. Reza menciumi bagian pundak Farah begitu bergairah. Kumis tipis Reza menggelitik. Sekali lagi, Reza mencium bibir Farah dalam. Farah melepasnya dan bergantian menciumi tubuh Reza. Reza membiarkan Farah menjelajah tubuhnya di bawah basahnya air panas. Reza mengangkat tubuh Farah yang ringan keluar dari kamar mandi dan membawanya ke kasur. "Lo buka ta situ." Perintah Reza. Farah menumpahkan isi tas itu di atas kasur. "Apaan nih?" Tanya Farah bingung. "s*x toy. Gua prefer yang bulu-bulu itu." Reza menunjuk alat tongkat panjang dengan bulu-bulu di puncaknya. Farah hanya menurut saja dan merebahkan dirinya di atas kasur. Reza memainkan permainan itu di atas tubuh Farah. Farah tidak mampu bergerak, dengan gerakan lincah dari mainan itu Farah hanya bisa mendesah. Farah memang sering melayani laki-laki tapi hanya Reza yang memiliki permainan seperti ini. Farah menangkap tangan Reza yang masih bergerak dengan mainan itu di atas tubuh Farah. "Stop." Bisik Farah. Farah menarik Reza ke pelukannya. Farah merebut mainan itu dan melemparkannya. Ia ingin memimpin permainan ini. Farah meloncat ke atas tubuh Reza. Membiarkan rambut basahnya menetes di atas tubuh Reza. Farah menciumi Reza dengan ganas membuat Reza melupakan semua permainannya. Permainan ini menguras tenaga Farah begitu juga dengan Reza. Hingga desahan berakhir dan puncak kenikmatan. Farah menjatuhkan tubuhnya di samping Reza. Reza memeluk tubuh Farah dan mengecup kening Farah. "Thanks." Farah bisa merasakan wajahnya memerah karena ucapan terima kasih Reza. Ia tidak pernah dihormati seperti layaknya wanita oleh seorang pelanggan. Farah mengambil selimut dan menutup tubuhnya dengan selimut.     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD