Farah meletakan ponselnya di dalam laci. Ia tidak mau lagi berurusan dengan Reza. Ia akan membuat dirinya bahagia malam ini. Karena ia pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Mungkin sudah puluhan missed call dari Reza karena mengkhawatirkan Farah. Tapi, Farah tidak peduli. Menurut Farah, Reza pantas mendapatkan hukuman seperti itu.
Farah berdandan lebih menor daripada hari biasanya. Ia mengenakan dress yang lebih pendek, dress merah. Membungkus tubuhnya semakin hot. Matanya menelusuri seisi bar dari tangga. Ia akan mencari tamu terkaya dan termenyenangkan malam ini.
Farah menemukan laki-laki paruh baya sedang minum sendiri di meja bar.
Farah menembus ramainya orang-orang yang sedang berjingkrakan mengikuti irama musik.
"Hai.." Sapa Farah dan menggeser kursi di depan laki-laki paruh baya itu.
"Hai." Sapanya singkat.
"Kamu sendiri?" Tanya Farah memastikan laki-laki di depannya hanya sendirian.
"Ya seperti yang terlihat." Farah tersenyum penuh arti.
"Gun, pesan minuman yang alkoholnya lebih berat." Ucap Farah. Gunawan menatapnya heran. Tidak biasanya Farah meminta minuman dengan alkohol yang lebih berat.
Karena itu adalah permintaan, Gunawan memberikannya. Dalam sekali minum Farah menghabiskannya.
"Wow kamu kuat juga ya minumnya.." puji laki-laki itu, melihat Farah meminum, minumannya dalam sekali tenggak.
"Mau coba juga?" tawar Farah. Laki-laki itu memanggutkan kepalanya, mengiyakan ajakan Farah untuk minum.
"Gun pesan 6 gelas lagi." Gunawan menurut saja dan menyajikan 6 gelas.
"Cheers!" Farah dan laki-laki itu minum dengan cepatnya sampai keduanya mabuk.
"Nama gua Farhan." ucap laki-laki paruh baya itu terhuyung-huyung. Farah tertawa,
"Mas Farhan mau main?" tanya Farah yang sudah mabuk berat.
"Wah boleh tuh." Farhan tertawa terbahak-bahak. Siapa yang akan menolak tawaran dari perempuan cantik seperti Farah?
Farah mengecup pipi Farhan. Tentu saja Farhan semakin mabuk kepayang. Farah membantu Farhan berjalan menuju kamarnya. Keduanya sangat mabuk sampai tidak sadar ada sepasang mata menatapnya dengan amarah.
Jantungku berdetak cepat
Inilah waktu yang tepat
Segera aku bersiap
Jangan sampai ku terlambatMalam ini malam minggu
Kau menunggu di rumahmuSelamat malam dunia
Ku siap 'tuk berpesta
Tunggu aku di sana
Bertemu oh babySelamat malam dunia
Gairahku berpesta
Kita lewati malam
Berdua oh baby
Jikustik - Selamat Malam Dunia
***
Farah dengan liarnya melucuti pakaian Farhan. Farhan tak melakukan perlawanan. Farah mengecup buas Farhan sampai Farhan mengigit bibirnya karena Farah benar-benar menyerangnya. Farah menguasai permainan ini dengan baik.
Farhan membalik tubuh Farah.
"Hei lady, slow down.." Farah tersenyum.
"Permainan ini, bahkan kamu akan melupakannya kan?" Tanya Farah, mengingat Reza juga sama saja dengan laki-laki hidung belang di depannya.
"Tidak juga.." Jawab Farhan.
"Bullshit. Setiap laki-laki hanya ingin kenikmatan. Setelah mendapatkannya, perempuan itu akan dicampakan bagaikan sampah."
"Kamu terlalu berpikiran negative tentang kaum kami, nona.." Farhan mengulum bibir Farah. Menikmati lipbalm Farah dengan rasa jeruk.
"Your lips so nice.." Bisik Farhan dengan tangannya yang menguasai tubuh Farah.
"You know, my body not free."
"I know.. i will pay to you. Tell me how much?" Farhan terus meluapkan rasa nafsunya pada wanita ini.
"Deal." Farah akan melayani tamunya bak seorang raja. Ternyata uang lebih nikmat daripada cinta yang kemarin ia berikan pada Reza dengan tulus.
Farah membiarkan Farhan menjelajah setiap inci tubuhnya.
Farah mendesah karena kenikmatan dari Farhan. Farah langsung menyelesaikan permainan itu. Farhan tampak kewalahan sekaligus menyukainya.
"Thankyou girl.." Bisik Farhan dan membanting tubuhnya ke samping Farah.
Tanpa terasa air mata Farah mengalir. Dadanya terasa panas, ia teringat Reza.
***
Farhan memberikan Farah 10 lembar uang merah.
"Thankyou my lady. I'll go to here later, if i want you.." Farhan membelai rambut Farah, Farah memanggutkan kepalanya.
Pada akhirnya tubuhnya adalah milik semua kaum adam. Bukan hanya milik Reza. Seperti dugaan Farah, dunia malam jahat ini tidak akan melepaskannya dengan mudah begitu saja.
Farhan meninggalkannya dengan senyuman puas. Farah membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak mempedulikan lagi kasurnya yang berantakan karena permainan panasnya tadi dengan Farhan. Farah menarik selimut menutupi tubuhnya. Kesenangan hanya sesaat, hatinya masih perih mengingat telfon yang ia terima tadi pagi.
Pintu kamar Farah terbuka perlahan.
"Farah.." panggil suara yang tak asing lagi di telinga Farah. Farah langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Gak mungkin." gumam Farah.
"Aku hanya kebanyakan minum." ucap Farah mencoba menghempaskan suara yang sedari tadi berputar di kepalanya.
Sosok itu mendekatinya, terduduk di sisi ranjang..Wajahnya terlihat lelah.
"Reza! Ngapain lagi kamu disini?"
" Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu engga balas pesanku?"
" Hah? Pesan kamu penting banget ya?"
" Farah kamu sebenarnya kenapa si?" Tanya Reza tidak mengerti. Farah meninggalkan apartemen, tanpa mengatakan apa-apa ke Reza. Ponselnya Farah bahkan mati, sampai Reza tidak tahu harus menghubungi siapa lagi untuk mengetahui keadaan Farah sekrang.
" Reza, cukup. Kamu jangan pura-pura bego." Reza menatap Farah tak mengerti.
" Kamu udah punya istri dan anak. Kata kamu.." Farah menahan air matanya.
" Kamu bilang, akulah satu-satunya!" ucap Farah dengan nada berteriak, tidak bisa lagi menahan emosinya.
Reza tampal kaget. Bagaimana Farah bisa tahu?
" Farah tenang.. ini gak seperti yang kamu bayangkan."
" Kamu mau mengatakan kebohongan apalagi, Za?"
" Aku akan bercerai dengan istriku. Aku akan meninggalkan anakku. Kita akan hidup bahagia. Menikah memulai segalanya dari awal." Farah tertawa dan menatap nyalang Reza.
" Kamu tega meninggalkan mereka? Za, aku gak sangka orang berpenampilan baik seperti kamu itu.. berhati iblis!"
" Farah, aku cuma cinta sama kamu. Aku gak cinta lagi sama Agnes."
" Aku gak peduli! Kita sudahi hubungan ini. Kamu lebih baik pergi Za, pergi!" Farah tidak ingin ada anak broken home yang merasakan perih seperti dirinya, Farah tidak mau lagi ada anak yang menjadi bajingan seperti dirinya karena perpisahan orang tua dan luka batin yang diderita. Semua cukup hanya Farah yang merasakan. Kalau memang perpisahan ini bisa menjadi jalan terbaik, lebih baik berpisah. Istri Reza lebih membutuhkan Reza dibandingkan dirinya sendiri. Mungkin, untuk saat ini Farah akan kesulitan menemukan cinta kembali atau bahkan tidak akan pernah menemukan cinta kembali karena sudah tidak percaya.
" Oke Farah kalau ini mau kamu. Tapi aku akan tetap mencintai kamu.. walau kamu membenci aku." Reza meninggalkan Farah yang terisak.Reza rasanya ingin memeluk Farah, tapi Farah tampak menolaknya. Reza tidak ingin keadaan semakin buruk, Farah mungkin hanya butuh waktu untuk bisa tenang. Saat waktu sudah tepat, Reza akan menjelaskannya.
Reza tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pernikahan itu dikarenakan sebuah kecelakaan. Rio lahir karena sebuah kecelakaan juga. Hatinya tidak tulus mencintai. Rio hanya Reza anggap sebagai anak yang hanya harus dinafkahi, bukan untuk dicintai..
"Farah.. kamu akan sadar betapa aku mencintaimu." Reza meninggalkan bar itu dengan janjinya yang akan dia tepati.