7

1055 Words
Dio memainkan bola kecil di tangannya. Pikirannya melayang jauh, ia memikirkan siapa yang membuat Farah selalu menghilang setiap malam dan membayarnya dengan harga mahal. Seharusnya Dio merasa senang, karena penghasilannya tentu saja bertambah.   Hanya saja Dio teringat lagi, tentang omongan Farah untuk meninggalkan club dan tentu saja meninggalkan dirinya. Menyudahi semua ini. Dio mendecak kesal untuk menghilangkan isi kepalanya yang penat karena memikirkan Farah. Mata Dio melihat ke bawah. Di dalam bar malam yang lampunya temaram Dio bisa menangkap bayangan Farah. Dio tak tahan untuk tidak mengikutinya. Dio menuruni tangga dengan langkah cepat sebelum kehilangan Farah. Dio mengikutinya perlahan. Malam ini Farah menggunakan dress putih dengan rambutnya digerai. Dio mengintip dari balik dinding. Dio kaget ketika melihat Reza yang menjemput Farah. "Yang benar aja?" gumam Dio. Reza mencium mesra kening Farah dan membukakan pintu mobil penumpang untuk Farah. Hati Dio terasa panas, temannya sendiri tidak mengabarinya jika ke tempatnya. Ia mengambil Farah pelan-pelan dari tangannya.Dio bertanya dalam hatinya, kenapa saat bersama Reza dDio cemburu? sedangkan saat Farah bersama laki-laki lain di luar sana Dio tidak mempermasalahkannya. Dio menatap mobil itu perlahan pergi meninggalkan tempat ini. Dio memang ingin Farah mendapatkan yang terbaik, tapi Dio tidak sangka waktu cepat mengambil Farah seperti ini. Rasanya Dio belum rela melepaskan Farah. *** "Kita langsung ke apartemen aja ya." Ujar Reza sambil menatap fokus jalanan di depannya. "Capek banget ya hari ini kerja?" Tanya Farah dengan nada khawatir. "Iyalah capek banget. Bawahanku tuh pada gak bisa kerja kayaknya." Farah mengelus pipi Reza. "Mungkin mereka butuh liburan." "Iya aku juga mikir gitu si. Tapi, kalau perusahaan baru langsung ada libura, kinerjanya belum kelihatan sayang. " " Yaudah kita ke apartemen langsung aja.Kamu udah makan?" "Sudah tadi di kantor. Tapi kalau kamu mau makan, aku mau nemenin." "I will cook in your kitchen." Reza tersenyum lembut. Membayangkan Farahnya memasak dengan apron melekat di tubuhnya. Membayangkan Farah dimana pun memang membuat laki - laki menjadi senang. *** Sesampainya di apartemen Reza, Farah langsung membuka pintunya. Terang saja Farah kan memiliki kunci password apartemen Reza. " Kamu sudah hafal pascodenya?" ledek Reza melihat Farah menekan pascode tanpa melihat ke ponselnya. " Iyalah, aku hafalin tahu setengah mati." Reza menyalakan lampu  dan menyalakan mp3 player di meja ruang tamu. Farah langsung melesat ke kulkas, Farah dari tadi di mobil sudah merencanakan apa saja yang akan dimasaknya. Farah mengambil beberapa butir telur dan mengambil kornet juga bawang bombay. Farah melepaskan dressnya dan mengenakan apron. Reza memperhatikan setiap lekuk tubuh Farah yang hanya dibungkus apron. Farah menguncir rambutnya membuat leher jenjangnya terlihat lebih jelas. Reza mendekati Farah dan memeluk tubuhnya dari belakang. Farah masih asik mencincang bawang bombay. " Kamu cantik." bisik Reza. Farah tersenyum. " Jangan nempel-nempel dulu dong. Aku susah buat masak mas.." " Abisnya kamu nyaman banget si." Reza membalikan tubuh Farah. " Aku belum cuci tangan dan masih bau bawang." ucap Farah. Farah memberikan satu tangannya ke hidung Reza.  " Kamu emang mau masak apa si?" tanya Reza masih bermanja - manja di pundak Farah. " Mau masak omelet dan nasi goreng." Farah mencoba melepaskan pelukan Reza. " Mas nanti ya, aku sekarang bau bawang, bau dapur tahu." " Gak apa-apa kamu bau makanan terus jadi makin nikmat." Reza melepaskan tali apron yang melekat di tubuh Farah. Menampilkan pakaian dalam Farah. Farah meletakan pisaunya dan meletakan bawang bombay yang sedang dicacahnya tadi.  Perlahan-lahan Reza menyentuh tubuh permaisuri di depannya. Tubuh Farah yang seksi semuanya sempurna. Siapa yang tidak akan terbawa nafsu melihat wanita sexy di depannya sedang memasak. Reza membalikan tubuh Farah ke wajahnya. Reza mencium Farah perlahan, lalu keduanya terbawa suasana. Meski pun di dapur, permainan keduanya kian memanas. Farah sampai melupakan perutnya yang tadi meronta lapar. Deru nafas keduanya membuat malam itu semakin indah. Reza adalah sebuah candu dari sebuah kenikmatan. Karena melakukan kegiatan ini dengan cinta, bukan hanya nafsu belaka. *** Suara alarm Reza membangunkan keduanya dari tidur yang nyenyak. Reza mengecup kening Farah yang masih meringkuk di balik selimut. "Good morning sunshine.." Farah membuka matanya perlahan dan tersenyum lembut. "Morning darl.." "Aku harus berangkat pagi. Ada janji sama client.." Farah duduk perlahan dan menyibak selimutnya. Menampakan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam. "Gak mau sarapan dulu?" tanya Farah. "Sekretarisku nanti akan membelikanku sarapan. Aku gak ada waktu lagi." Farah mendekati Reza dan memeluk tubuhnya. "Oke. Selamat bekerja bosku!" Reza mengacak-ngacak rambut Farah. "Sana mandi terus kamu bisa jalan-jalan deh." "Shopping maksud kamu?Aku lagi gak mau beli apa-apa." "Yaa.. kamu mau menimbun uang kamu di ATM begitu saja?" Farah tersenyum lebar. "Aku akan menggunakannya saat aku ingin menggunakannya." Reza tahu wanita di depannya mencintainya tulus bukan karena uang. Di dalam hatinya Reza sedikit merasa resah. Entahlah rasa resah apa yang tersimpan di hatinya. *** Farah merasakan perutnya lapar, karena semalam Farah gagal makan malam karena serangan Reza. Farah merasakan pipinya memerah karena mengingat kejadian semalam. Itu adalah kesan bercinta paling berbeda yang Farah pernah temui. Biasanya hanya di ranjang saja, ini di dapur. Apalagi banyak barang - barang beling di dapur. Tapi, Reza seperti tidak memperdulikannya. Tetap saja asik bermain sampai puncak kenikmatan. Farah membuka ponselnya dan mencari makanan delivery yang bisa menghilangkan laparnya, Farah rasanya malas untuk memasak. Farah memilih Kepeci untuk disantapnya. Untuk makanan itu datang paling tidak membutuhkan 30 menit, dan Farah sabar menunggu. Farah menatap langit langit. Farah membayangkan semuanya akan indah jika ia bisa menikah dengan Reza. Farah hanya wanita satu satunya untuk Reza. Farah merasa bahagia, kenapa tidak dari dulu Reza ada di hidupnya memberi warna yang berbeda seperti ini. Drrrtt... " Heh lo kemana kok gak pulang?" Farah membaca pesan dari Dio dengan kening berkerut. Dio nih memang ahli banget merusak suasana hati. " Kepo deh lu, nanti gw kasih duit. " " Gw nanya lo di mana bukan nanya duit!" " Sejak kapan lo peduli gw bukan duit gw?" " Terserah lu lah, yaudah nanti setoran ya lo!" " Ya." Farah sudah menduga Dio mencarinya bukan karena khawatir tapi karena meresahkan setoran yang Farah biasa kasih. Dio mana mungkin melepaskan uangnya. Farah benar benar berharap bisa lepas dari semua itu secepatnya. Farah memejamkan matanya, membayangkan semua dengan indah. Hari ini kudendangkan Lagu yang ingin kunyanyikan Terkenang semua kenangan Yang telah kualamiIngin kubuka lembar baru Untuk meneruskan hidupku Tak mau lagi kesedihan Selimuti dirikuSemua orang ingin bahagia Menjalani hidup di dunia ini Ingin kubukakan jawaban Misteri kesenangan yang sejati Ceria - J-Roks
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD