15

626 Words
Asisten Reza berhasil menemukan di mana tempat Farah mengupload fotonya. Reza bergegas ke tempat tersebut. Dengan tampangnya yang lusuh dan juga rambutnya yang berantakan. Reza meminta semua pertemuan ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Ia menyetir bak orang kesetanan. Walau di hatinya terasa lebih lega setelah ia tahu kekasih hatinya baik-baik saja. Farah memang sudah memutuskan hubungannya dengan Reza. Tapi, Reza tidak ingin hal itu terjadi.  Reza memberhentikan mobilnya sembarangan di depan apartemen. Ia tidak memperdulikan teguran dari satpam. Ia melihat ke atas apartemen. "Lantai 12.." Reza baru saja akan turun dari mobilnya dan melihat Farah berjalan dengan Dio. Reza kembali masuk ke dalam mobilnya. Farah terlihat tersenyum di samping Dio. Reza ingin memeluknya sekarang juga. Tapi, apakah Farah akan menerima pelukannya?  Reza melihat Farah semakin menjauh.  "Aku akan mencintaimu dengan caraku sendiri, Rah.." Reza memutar balik mobilnya. Ia berjanji akan mencintai Farah dengan caranya dan membahagiakannya.  ***  "Sebentar lagi lo nerima endorse deh. Barang-barang lo bakalan keren.." Canda Dio. "Wah, ternyata jadi terkenal di social media cukup cantik aja ya? Kenapa gak dari dulu aja?" "Kan dulu lo bego." ucap Dio dengan nada meledek. "Sekarang gua udah pinter dong?" "Tetap aja bego." Farah mencubit Dio keras dan bertubi-tubi.  "Ampun..ampun.." "Eh, kita sebenarnya mau kemana si?" Dio mengajak Farah keluar tapi tidak memberitahukan kepada Farah kemana tujuannya. Ia hanya tahu ingin membuat Farah tersenyum dan santai sejenak.  "Udah diem aja, bawel ah. Gak jauh dari sini tempatnya." "Gua mau dijual lagi ya?" Dio spontan langsung menoyor kepala Farah.  "Lo udah gak laku lagi!" Farah tersenyum lebar. Ia senang jika dirinya sudah tidak laku lagi untuk para lelaki hidung belang.  "Nah, kita udah sampai." Dio tersenyum puas dan menatap Farah yang juga terlihat senang. "Ini taman kota. Enak banget buat baca buku, cari inspirasi, atau melegakan pikiran." Terang Dio. "Taman kota ini keren banget. Sejuk lagi. Kaya siang hari aja gak akan ngaruh panasnya." Farah berjalan ke tengah-tengah taman menggapai ayunan. Ia duduk dan menendang-nendang pasir agar tubuhnya terayun. "Jangan tinggi-tinggi!" Dio berteriak mengingatkan Farah. Dio menangkap rantai ayunan dan mengayunkannya pelan-pelan.  "Pelan-pelan aja. Biar angin ini yang menyapu wajah lo." Farah memanggutkan kepalanya tidak membantah. Farah menutup matanya dan mencoba merasakan terpaan angin sepoi-sepoi. Farah membuka matanya perlahan, ia mendapati Dio yang menatapnya hangat.  "Lo kaya anak kecil baru naik ayunan."  "Maaf ya kalau lo malu bawa orang norak kaya gua." Dio hanya tertawa. Menurutnya Farah adalah hal berharga. Menghabiskan waktu bersamanya tidak pernah terasa cukup.  "Nanti malam gua harus kembali ke clubbing." "Iya, gua tahu. Lo masih di sana kan." "Besok gua akan kembali lagi ke sini." "Kalau lo capek, gak perlu ke sini." "Kenapa?" "Ya kan masa cuma buat gua aja lo harus ke sini tiap hari." "Farah kok lo gampang percaya diri banget si. Gua emang udah lama gak liatin saudara gua kan." "Oh, bukan karena gua ya?" Dio menggeleng-gelengkan kepalanya. Di dalam hati Farah ia merasa kecewa. Ternyata ia mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.  Dio terus mengayunkan ayunan itu. Dio ingin mengatakannya, tapi ia harus memastikan jika dirinya sendiri tidak akan melukai Farah. Kadang cinta butuh waktu dan dusta.  ***  Drrr..drrrttt... Ponsel Farah terus bergetar. Nomor telfon yang tidak dikenal terus menelfonnya. Seingat Farah hanya Dio yang tahu nomor handphone barunya. Tapi, telfon itu tidak berhenti seakan-akan tidak ingin menyerah sampai Farah mengangkatnya. Farah tidak ingin tertipu dari nomor tidak dikenal itu.  Akhirnya, telfon itu berhenti bergetar. Farah membaca pesan yang masuk. "Selamat malam, kami dari Beauty Agency ingin mengajak Farah bekerja sama dengan Farah. Farah bisa menjadi model profesional di Beauty Agency. Apakah Farah bersedia bekerja sama dengan kami? Kami tunggu kabar baiknya."  Farah mengernyitkan dahinya.  "Apakah benar ini agency? Bagaimana mereka mendapatkan nomorku?" Farah menutup pesan itu dan mengabaikannya. Pikirannya sibuk memikirkan berbagai kemungkinan dari pesan itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD