14

1390 Words
Mata Farah memandang ke seluruh ruangan. Sebuah sticky notes kuning mencolok mata tertempel di kulkas. Farah menghampiri sticky notes itu.  "Gue udah masakin lo sarapan ya di atas meja. Kalau mau makan siang, masak telor aja ya sama masak nasi sendiri. Jangan berantakin apartemen gue!" Farah tersenyum kecil membaca pesan itu di sticky notes.  Dari obrolannya semalam dengan Dio, Farah sudah tahu jika Agnes orang yang hemat dan selalu memiliki rencana. Farah melihat roti bakar di atas meja yang Agnes sudah buatkan. Farah menarik kursi dan memakan sarapannya pelan-pelan. Farah berpikir apa yang akan dilakukannya sekarang? Selama ini dia hanya bekerja sebagai wanita penghibur. Dia tidak memiliki keahlian lain. Memangnya menjadi wanita penghibur itu bakat terpendam? pikirnya.  Kini, Farah tertarik pada rak buku di sudut ruangan. Sudah lama ia tidak membaca buku. Selama ini yang ia baca hanya pesan masuk di ponselnya dan artikel di social media.  "Sopan gak ya baca buku orang tanpa izinnya?" Walau bimbang tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jadi, ia mengambil satu buku dan membawanya ke sofa.  "Ketika Jarak Itu.." Gumam Farah membaca novel di tangannya. Ia membacanya perlahan-lahan dan membalik halamannya hati-hati.  Farah menghabiskan novel itu hanya dalam dua jam. Farah merenggakan tubuhnya. Ternyata membaca buku se asyik itu.  Tok..Tok.. Suara ketukan di pintu mengagetkan Farah.  Kalau itu Agnes kenapa tidak langsung masuk saja?  Suara ketukan itu tidak juga hilang. Farah membuka pintu itu dengan celah kecil. Menatap tamu di depan pintunya. "Ini gua Dio! Bawain baju lo tuan putri. Semalam kan gak bawa apa-apa ke sini." Farah membuka pintunya lebih lebar. Farah takut jika tadi adalah tamu Agnes. Rasanya tidak nyaman menerima tamu saat tuan rumahnya sedang tidak ada. "Gua bawain semua baju lo. Juga barang-barang lo." "Makasih ya, Yo." "Udah kaya sama siapa sih lo." Dio membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak putih. "Gua beliin lo handphone. Lo sekarang gak megang handphone kan? Udah gua masukin nomor gua dan nomor Agnes juga." "Lo punya duit?" Tanya Agnes ragu. "Punyalah. Udah pakai aja handphone itu. Udah gua isiin pulsa juga. Kalau lo butuh apa saja tinggal WA aja ya." Agnes menahan air matanya. Baru kali ini seorang Dio bisa sebaik ini dengannya.  "Lo udah makan?" Farah menggelengkan kepalanya. "Gua juga belom. Semalam cuma makan mie buatan Agnes doang. Kita pesan makan aja ya." Dio dengan cepat menekan-nekan ponselnya dan memesan 2 porsi makanan.  "Lo seharian ngapain aja?" tanya Dio memulai topik pembicaraan. "Dari tadi si baca buku." "Yaudah gak apa-apa. Mengistirahatkan kepala lo juga." "Gue mau ngapain lagi ya, Yo? Gue kan nganggur sekarang." "Keahlian lo apa?" "Gue gak punya keahlian.." Dio tertawa terbahak-bahak. "Hello Farah yang cantik. Muka lo cantik, badan lo bagus, kalau otak lo diasah kayanya pinter deh." "Maksud lo sekarang otak gue tuh bodoh banget?" ulang Farah dengan wajah sedikit kesal.  "Gak kok, lo itu pinter. Coba sekarang lo bikin akun social media." saran Dio. "Gak ah. Buat apaan juga? Gue gak punya teman dekat, Yo." "Sekarang lo buat social media. Pasang foto lo yang paling cantik. Cantik ya bukan sexy." "Terus abis itu?" "Udah lakuin aja apa yang gua bilang. Nanti lo liat apa hasilnya." Farah membuka kardus handphone baru itu dan menekan logo i********:. Dia mendaftarkan dirinya dan ignin foto selfi untu postingan pertamanya. "Kayanya bagusan sekarang lo mandi dulu deh. Muka lo kucel banget. Masa mau foto sekarang?" celetuk Dio, walau sebenarnya tampilan Farah yang hanya mengenakan baju tidur sekarang sangat sexy. Dio rasanya ingin menenggelamkan dirinya dalam tubuh itu.  "Iya juga si. Oke gue mandi dulu. Makasih ya Yo!" Farah tersenyum lebar dan mengambil tas dari Dio yang berisikan semua bajunya. Dalam hatinya Dio bersyukur bisa membantu Farah. Paling tidak Dio tidak kehilangan Farah selamanya. Farah kini menjadi sesuatu yang beharga untuk Dio.  *** "FarahAdis.." Dio mengetikan nama itu sebagai username Farah. "Sekarang lo udah cantik. Foto deh, terus kita posting pakai hastag." Farah merapihkan rambutnya tersenyum ke arah kamera. Bibirnya yang merah merekah tersenyum. Dio sampai harus menelan salivanya karena melihat wanita cantik di depannya bergaya.  Farah menggeser duduknya sampai dadanya mengenai lengan Dio.  "Benar-benar deh gua harus tahan nafsu sama ini perempuan.." Batin Dio.  "Nah, sekarang kita posting pakai caption dan hastag supaya orang yang mencari kategori sama dengan hastag bisa nemu foto lo. Nanti perlahan followers lo naik." "Wah keren juga ya." "Dulu bukannya lo juga punya IG ya?" "Punya cuma buat liat foto orang sama snapgram terus hapus deh." Dio menggeleng-gelengkan kepalanya.  "Begini nih kalau pare siomay dikasih nyawa." Ledek Dio. Farah hanya memanyunkan bibirnya mendengar ejekan Dio.  "Sekarang, handphone ini sah jadi milik lo ya."  "Makasih Dio," Dio bangun dari duduknya dan mengacak-ngacak rambut Farah yang masih basah.  "Jangan kaya kemarin lagi ya, Far. Gue.." TOK..TOKKK.. "Iya sebentar!" Teriak Farah. "Makanan kita sudah datang!" Seru Farah berjalan ke arah pintu. Farah membawa 2 kotak makanan dan langsung ia letakan di atas meja.  "Tadi lo mau ngomong apa?" Tanya Farah menatap Dio yang sudah duduk di sebrangnya. "Gak ada. Gue laper. Udah ah makan." "Oke!" Farah membuka kotak makanan di depannya dan memakannya lahap. Diam-diam Dio menatap perempuan di depannya. Farahnya kini sudah bertambah dewasa. Kau lah alasan aku bisa Kau lah alasan aku bertahan Kau lah alasan aku ingin menjadi yang terbaik ***  Reza dengan resahnya terus mencari Farah yang tidak ada kabarnya. Berkali-kali Reza menekan nomor yang sama. Bahkan sampai ia hafal di luar kepala nomor Farah. Tetap tak ada jawaban. "Kamu di mana si Farah.."  Saking gelisahnya Reza membatalkan semua pertemuannya hari ini. Dia ingin berfokus mencari Farah. Ia takut jika Farah melukai dirinya sendiri.  "Kenapa si Farah susah sekali mendengar penjelasanku terlebih dahulu.." Ucap Reza frustasi. Sarapan yang sudah disiapkan sekretarisnya di apartemennya tidak ia sentuh sama sekali. Kegelisahan hatinya mematikan indra perasa juga rasa laparnya.  Tak ada sautan pula, tangannya membuka i********:. Ia mencari Farah Adista tapi tak ada juga. Tangannya terus bergerak mencari dari semua hastag itu. Matanya terhenti pada satu postingan perempuan dengan rambut panjang tersenyum manis dengan mata indahnya.  "Farah." Detak jantung Reza terasa berhenti. Perempuan yang ia cari sedari tadi baik-baik saja. "Diupload 20 menit yang lalu." Reza mengklik profil @farahadis tapi percuma. Tak ada  kejelasan dia berada di mana.  Namun, nafas Reza terasa sedikit lega. Paling tidak ia tahu Farah baik-baik saja. Tidak terluka atau diculik. Tiba-tiba saja kepala Reza mencetuskan ide untuk meminta Adit melacak Farah dari postingan instagramnya. Reza menelfon Adit dan memberikan usernama Farah.  Kini, ia tinggal menunggu saja di mana belahan jiwanya sekarang berada.  *** "Farah, kayanya lo berbakat jadi artis deh. Masa baru Upload dalam satu hari ini lo udah dapat like 7000 likes! Gila sihh.." Puji Dio tidak percaya menatap likes yang didapat Farah. "Emang lo udah pakai IG sejak kapan?" tanya Farah penasaran. "Udah dari satu tahun lalu dan gua cuma punya 305 followers. Lo udah dapat 4k followers." Farah tertawa.  "Bisa dilihat ya mana yang berkualitas untuk dunia media yang mana." Ejek Farah. "Jangan sombong dulu! Kalau lo populer bakal lebih capek lagi. Dari atas sampai ujung kaki penampilan lo bakal diperhatikan sama netijen maha benar." Farah tersenyum tipis. "Manusia-manusia yang menilai seseorang dari luarnya saja udah biasa gua hadapin kok." "Iya juga ya. Lo kan kuat." "Daripada gua cuma jadi beban buat lo sama Agnes kan lebih bagus kalau gua punya pekerjaan."  "Iya bener juga si. Oke gua akan dukung lo! Kalau ada yang berani ganggu lo, lo bisa ngadu ke gue." Dio menunjuk dadanya. "Emang mau lo apain?" "Eyes with eyes, comment with comment. Kalau dia nyakitin lo dengan ibu jarinya, ya gua bakal balas lebih nyakitin daripada kata-katanya yang ia lempar ke lo." Farah bertepuk tangan. Dio benar-benar menghibur dan berbeda daripada Dio yang dulu. Padahal dulu Farah takut dengan Dio. Ternyata Dio sebaik ini.  "Super Dio Man!" Ledek Farah. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal dengan saling melempar candaan ringan mereka.  "Kalau gua berhasil, gua akan menjemput adik gua. Gua akan membuatnya bahagia dan lepas dari kekerasan bokap gua." "Iya good girl. Pasti Tuhan dengar doa lo. Ide lo mulia banget Far.." "Makasih ya Dio. Gua gak akan bisa ganti kebaikan lo walau dengan uang sebanyak apa pun.." Dio menatap lembut Farah.  "Asal lo bahagia dan sehat semua itu udah cukup buat gue. Gue tulus membantu lo.." Entah kenapa saat Dio mengatakan seperti itu, pipi Farah terasa panas. Farah tahu ada yang salah dengan hatinya sekarang. Tapi, Farah juga tahu kalau ia bukan perempuan yang mudah jatuh hati. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD