The other night dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I criedYou are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine awayI'll always love you and make you happy
If you will only say the same
But if you leave me and love another
You'll regret it all some dayYou are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine awayYou told me once, dear, you really loved me
And no one else could come between
But now you've left me and love another
You have shattered all of my dreamsYou Are My Sunshine - Johny Cash
Saat Farah terbangun suasana apartemennya Agnes begitu sepi. Sepertinya pemiliknya sudah berangkat. Dengan langkah gontai Farah berjalan ke arah dispenser. Kebiasaannya setiap bangun pagi adalah meminum segelas air putih hangat. Ibunya dulu sering mengingatkannya minuman terbaik di dunia adalah air putih. Walau, rasanya tawar. Karena ibu tidak mau Farah terkena sakit ginjal dan penyakit lainnya. Memikirkan Ibu membuatnya rindu seketika.
Mata Farah memandang ke seluruh ruangan. Sebuah sticky notes kuning mencolok mata tertempel di kulkas. Farah menghampiri sticky notes itu.
" Gue udah masakin lo sarapan ya di atas meja. Kalau mau makan siang, masak telor aja ya sama masak nasi sendiri. Jangan berantakin apartemen gue!" Farah tersenyum kecil membaca pesan itu di sticky notes. Sebenarnya Dio dan Agnes terlihat seperti kakak dan adik. Dio kan bisa dibilang sebagai biang masalah, sudah berapa ratus kali ya Agnes menyelamatkan Dio? Kasian Agnes memiliki sepupu seperti Dio.
Dari obrolannya semalam dengan Dio, Farah sudah tahu jika Agnes orang yang hemat dan selalu memiliki rencana. Farah melihat roti bakar di atas meja yang Agnes sudah buatkan. Farah menarik kursi dan memakan sarapannya pelan-pelan.
Farah berpikir apa yang akan dilakukannya sekarang? Selama ini dia hanya bekerja sebagai wanita penghibur. Dia tidak memiliki keahlian lain. Memangnya menjadi wanita penghibur itu bakat terpendam? pikirnya.
Kini, Farah tertarik pada rak buku di sudut ruangan. Sudah lama ia tidak membaca buku. Selama ini yang ia baca hanya pesan masuk di ponselnya dan artikel di social media.
" Sopan gak ya baca buku orang tanpa izinnya?" Walau bimbang tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jadi, ia mengambil satu buku dan membawanya ke sofa. Farah juga jarang ke mall untuk ke toko buku, kalau jalan sendiri keliling mall rasanya sangat asing tidak nyaman.
" Ketika Jarak Itu.." Gumam Farah membaca novel di tangannya. Ia membacanya perlahan-lahan dan membalik halamannya hati-hati. Farah menghabiskan novel itu hanya dalam dua jam. Farah merenggakan tubuhnya. Ternyata membaca buku se asyik itu.
Tok..Tok..
Suara ketukan di pintu mengagetkan Farah.
Kalau itu Agnes kenapa tidak langsung masuk saja?
Suara ketukan itu tidak juga hilang. Farah membuka pintu itu dengan celah kecil. Menatap tamu di depan pintunya.
" Ini gua Dio! Bawain baju lo tuan putri. Semalam kan gak bawa apa-apa ke sini." Farah membuka pintunya lebih lebar. Farah hanya takut jika Reza menemukan dirinya atau juga Farah takut jika tadi adalah tamu Agnes. Rasanya tidak nyaman menerima tamu saat tuan rumahnya sedang tidak ada.
" Gua bawain semua baju lo. Juga barang-barang lo."
" Makasih ya, Yo."
" Udah kaya sama siapa sih lo." Dio membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak putih.
" Gua beliin lo handphone. Lo sekarang gak megang handphone kan? Udah gua masukin nomor gua dan nomor Agnes juga."
" Lo punya duit?" Tanya Farah ragu.
" Punyalah. Udah pakai aja handphone itu. Udah gua isiin pulsa juga. Kalau lo butuh apa saja tinggal WA aja ya." Agnes berpura- pura menahan air matany, memberikan kesan terharu. Baru kali ini seorang Dio bisa sebaik ini dengannya.
" Lo udah makan?" Tanya Dio, Farah menggelengkan kepalanya.
" Gua juga belom. Semalam cuma makan mie buatan Agnes doang. Kita pesan makan aja ya." Dio dengan cepat menekan-nekan ponselnya dan memesan 2 porsi makanan.
" Lo seharian ngapain aja?" tanya Dio memulai topik pembicaraan.
" Dari tadi si baca buku."
" Yaudah gak apa-apa. Mengistirahatkan kepala lo juga. Eh, maksudnya ngisi kepala lo yang udah lama kosong."
" Gue mau ngapain lagi ya, Yo? Gue kan nganggur sekarang."
" Keahlian lo apa?"
" Gue gak punya keahlian.." Dio tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Farah.
" Hello Farah yang cantik. Muka lo cantik, badan lo bagus, kalau otak lo diasah kayanya pinter deh."
" Maksud lo sekarang otak gue tuh bodoh banget?" ulang Farah dengan wajah sedikit kesal.
" Gak kok, lo itu pinter. Coba sekarang lo bikin akun social media." saran Dio.
" Gak ah. Buat apaan juga? Gue gak punya teman dekat, Yo. Lagian apa hubungannya coba nganggur sama social media? "
" Yaudah, sekarang cita - cita lo apa pas masih kecil?"
" Mau jadi dokter." jawab Farah polos.
" Untung aja gak terkabul, bisa mal praktik orang."
" Tapi, jadi suster juga gak apa - apa." Dio tertawa terbahak - bahak.
" Yang ada pasien pada mau nikahin lo semua," Farah merengut kesal mendengar ucapan Dio.
" Sekarang lo buat social media. Pasang foto lo yang paling cantik. Cantik ya bukan sexy." Perintah Dio dengan tegas.
" Terus abis itu?"
" Udah lakuin aja apa yang gua bilang. Nanti lo liat apa hasilnya." Farah membuka kardus handphone baru itu dan menekan logo i********:. Dia mendaftarkan dirinya dan ignin foto selfi untu postingan pertamanya.
" Kayanya bagusan sekarang lo mandi dulu deh. Muka lo kucel banget. Masa mau foto sekarang?" celetuk Dio, walau sebenarnya tampilan Farah yang hanya mengenakan baju tidur sekarang sangat sexy. Dio rasanya ingin menenggelamkan dirinya dalam tubuh itu.
" Iya juga si. Oke gue mandi dulu. Makasih ya Yo!" Farah tersenyum lebar dan mengambil tas dari Dio yang berisikan semua bajunya. Dalam hatinya Dio bersyukur bisa membantu Farah. Paling tidak Dio tidak kehilangan Farah selamanya. Farah kini menjadi sesuatu yang beharga untuk Dio.
Tak pernah kurasakan cinta
Begitu hebatnya
Sebelum kukenal kamu
Dunia pun kelabu
Dan kau datang membawakan cinta
Yang telah lama kunantiOh kasihku, kau membuat cinta
Jatuh dari mata dan turun ke hati
Tawamu buat aku tersenyum lagi
Oh kasihku, kau membuat dunia
Indah dijalani o-o-wo-o ...
Kuyakini hati kau paling berartiHanya kamu satu-satunya
Yang ada di hati
Andai saja kita berdua
Bersama selamanya
Dan kau datang membawakan cinta
Yang telah lama kunantiOh kasihku, kau membuat cinta
Jatuh dari mata dan turun ke hati
Tawamu buat aku tersenyum lagi
Oh kasihku, kau membuat dunia
Indah dijalani
Jazz - Dari Mata Turun Ke Hati