New York City, 4 tahun kemudian.
"Terima kasih, semoga Anda puas," aku menyapa ramah kepada salah satu pelanggan toko cake yang sudah hampir 3 tahun aku bekerja di tempat ini. Derian's Cake adalah toko kue yang cukup terkenal di kota New York, aku termasuk beruntung bisa bekerja di tempat ini.
Setiap hari pengunjung selalu ramai hingga mengantri untuk membeli kue di sini dan itu membuatku selalu sibuk setiap harinya, namun aku senang. Walaupun gaji di sini tidak sebesar saat aku bekerja di perusahaan terdahulu sebelum aku hamil, namun upah disini sudah lebih dari cukup untukku bisa bertahan di kota besar ini bersama dengan putraku Aaron yang kini berusia 3 tahun.
"Permisi, nona bisa anda pilihkan semua kue disini yang terbaik?" tanya seorang pelanggan saat aku tengah sibuk menata beberapa kue di etalase besar.
"Tentu sa-.., astaga Pamela?!" seruku spontan saat itu juga, saat tahu kalau pemilik suara itu adalah sahabatku sendiri, Pamela.
"Kau mengejutkanku saja!" tegurku dengan senang dengan kedatangan yang mengejutkan.
"Hehehe, kau sibuk sekali sampai tak melihat aku sejak tadi," sahutnya dengan senyum mengembang. Kulihat penampilannya hari ini begitu cantik, dengan rambut pirang keriting berombaknya yang seksi dan dress hitam yang melekat indah di tubuhnya yang ramping namun berisi.
"Kau cantik sekali hari ini, apakah kau akan berkencan?" godaku.
"Tentu saja, karena itu aku datang kesini untuk mengunjungimu," sahutnya dengan senyum sumringah.
"Maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Besok kau mau kan Nat, datang untuk interview di Lennar Corporation?" bisiknya padaku seraya mendekatkan wajahnya padaku dengan ekspresi serius.
"Hah, Lennar Corporation?" aku bertanya bingung.
"Ya, tentu saja ini kesempatan bagus bagimu, Nat. Sam yang memberikanku informasi itu semalam, jika di sana sedang membutuhkan beberapa orang karyawan dan posisi sekretaris. Kau harus mencobanya Nat, aku yakin kau bisa lolos karena kau wanita cerdas!" sahut Pamela menjelaskan dengan suara rendah.
"Aku harap kau tak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada Nat, kau tahu kan Lennar Corporation adalah perusahaan kontruksi besar di New York. Hidupmu dan Aaron akan lebih terjamin nanti jika kau bisa bekerja di sana," ucap Pamela berusaha membujukku karena tahu keraguanku saat itu.
Aku mengerjapkan kedua mata ini mencoba berpikir dan bingung.
"Percayalah padaku, Natalie sayang. Apa salahnya mencoba bukan? Jika kau bersedia kau datanglah besok pagi kesana, okay?!" tutur Pamela menyemangatiku.
"Baiklah, Pam akan aku pikirkan. Terima kasih ya informasinya," sahutku seraya tersenyum lebar.
"Sama-sama, honey," Pamela menyahut lirih.
"Okay, kalau begitu bisa tolong bungkuskan kue coklat dan vanilla itu, Nona!" perintah Pamela berakting dengan sikap genitnya padaku dan aku hanya tersenyum menuruti perintahnya.
***
Pagi ini aku berdiri menatap gedung mewah yang menjulang tinggi dengan hati yang berdebar. Lennar Corporation, seperti yang Pamela informasikan kemarin padaku.
Entah kenapa aku merasa gugup, mungkinkah karena aku sudah cukup lama tak bekerja di sebuah perusahaan seperti dulu sejak aku hamil? Ya, memang diusia kehamilanku saat empat bulan aku harus terpaksa mengundurkan diri dari perusahaanku yang terdahulu karena aku tak mungkin terus bekerja dengan perut membuncit bukan? Apalagi statusku saat itu adalah single, aku tak mau orang-orang di kantor akan berpikiran buruk padaku.
Dan sekarang seperti saran yang di berikan Pamela padaku, aku harus berani mencobanya lagi untuk bisa memperbaiki kehidupanku agar lebih baik lagi. Demi Aaron putraku karena dia adalah harta terbesar dalam hidupku satu-satunya, aku harus bisa menjadi wanita sekaligus ibu yang tangguh untuknya.
Setelah menghembuskan nafasku pelan, akupun melangkah mantap berjalan dan masuk ke gedung besar Lennar Corporation dengan sejuta harapan.
***
"Bagaimana interview tadi, Nat? Apakah berjalan dengan lancar?" Pamela bertanya di sambungan telepon malam itu saat aku tengah sibuk menyiapkan s**u untuk Aaron.
"Berjalan lancar Pam, hanya saja aku tidak yakin aku akan diterima disana nanti." Sahutku pesimis.
"Hey, kenapa kau bicara begitu?! Yakinkan dirimu, Natalie kalau kau bisa melewatinya, setidaknya kau sudah berusaha melakukan yang terbaik bukan tadi di sana?"
"Tentu saja, Pam. Hanya saja persaingan disana cukup ketat, karena memang posisi yang diberikan tidak main-main, semoga saja aku bisa lolos salah satu diantaranya," harapku.
"Bagus! Berjuang Natalie! Aku yakin kau bisa lolos! Jika kau lolos nanti kau harus mentraktirku bistik, okay?!" Pamela berseru penuh semangat.
"Hahaha.., tentu saja. Kau dan Sam, kita berempat akan pergi ke restoran bersama nanti!" sahutku penuh keyakinan.
"Ngomong-ngomong, Aaron sedang apa? Apa dia tidak merengek jika kau sibuk bekerja selama ini?" Pamela bertanya perhatian.
"Aku bersyukur, dia anak penurut dan tidak cengeng, Pam. Abel dapat menjaga Aaron dengan baik juga, jadi selama aku bekerja Aaron tidak pernah rewel saat aku tidak bersama dengannya selama ini," jawabku menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu, kau jadi bisa fokus dengan pekerjaanmu ya," sahut Pamela di sebrang sana.
"Mom, mana susuku?" tanya Aaron seraya menyentuh lembut kakiku dengan tangannya yang kecil.
"Iya sayang, sebentar lagi ya," sahutku seraya membungkuk mengusap lembut rambut hitamnya, warisan dari sang ayah.
"Wah, apakah itu si kecil Aaron?!" pekik Pamela di telepon.
"Biarkan aku bicara sebentar padanya, Nat. Aku merindukannya!" pinta Pamela.
"Baiklah.
Bibi Pamela ingin bicara padamu sebentar sayang...," ucapku seraya menyalakan mode loudspeaker di ponsel milikku itu.
"Hallo, sweety heart!! Apakah kau merindukan bibimu yang cantik ini?!"
"Bibi, Pam! Kapan kau dan uncle Sam akan mengajakku jalan-jalan lagi?!"
"Wah, kau benar-benar rindu kami ya! Hehehe, tentu saja jika kau mau weekend besok kita bisa bertemu lagi, Aaron sayang."
"Benarkah?! Aku senang kalau begitu!" Aaron tertawa senang mendengarnya, aku hanya menatap bahagia dengan pandangan sendu Aaron di depan mataku sekarang seraya menghembuskan nafasku dengan berat ketika melihat wajahnya, selalu bayangan Chris Raven tak pernah hilang dari pikiranku.
***