CEO dingin

987 Words
New York City, Lennar Corp. "Natalie, tolong kau siapkan berkas-berkas investor proyek kita di Denver, Colorado dan segera kau bawa masuk ke ruanganku secepatnya!" sebuah perintah dari CEO Ethan Jones yang merupakan atasanku di sambungan teleponku siang itu. "Baik, pak segera akan saya siapkan," jawabku saat itu juga. Ini adalah hari ke lima aku bekerja di Lennar Corporation. Setelah dua hari aku banyak melewati masa tes yang cukup selektif, akhirnya aku bisa lolos menjadi salah satu pelamar yang beruntung dapat bekerja di perusahaan besar ini sebagai sekretaris dari pemimpin perusahaan yang bernama Ethan Jones. Keberuntungan memang sedang berpihak padaku, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar itu sekarang. Selang waktu beberapa menit aku pun membawa berkas yang diminta oleh beliau ke ruangannya. Tok.. tok.. tok "Permisi, Pak. Saya sudah membawa berkas yang anda minta tadi," ucapku dengan nafas sedikit tertahan, karena jujur ini untuk kedua kalinya aku akan bertatap muka dengan CEO Ethan Jones setelah awal perkenalan kami waktu aku masih menjadi calon karyawan di perusahaan ini. Dia adalah seorang CEO yang masih cukup muda, mungkin usianya sekitar tiga puluhan dengan wajah yang tampan namun tegas dan selalu tanpa ekspresi. Hal itulah yang membuat banyak karyawan di perusahaan ini takut dengannya. "Masuk!" perintahnya dari balik pintu, maka segera saja aku masuk ke dalam ruangan yang berukuran luas dan mewah itu. Tampak Mr. Jones sedang sibuk dengan beberapa file dan berkas yang ada di atas meja kerjanya. Tatapannya kini beralih padaku, dengan langkah pelan namun pasti aku mendekati mejanya dan menaruh beberapa berkas yang ada di tanganku sekarang. "Ini semua data para investor yang anda minta, pak," ucapku dengan nafas sedikit tertahan. "Baik, terima kasih. Dan satu hal lagi, Natalie. Kau siapkan dirimu sebaik mungkin karena besok atau mungkin lusa ada rekan bisnisku yang akan datang dari Chicago untuk melihat proyek kita di Denver ini, dan jika kerjasama ini berhasil itu akan menjadi peluang besar bagi kita untuk mendapatkan calon investor baru untuk proyek besar ini," tutur Mr. Jones menjelaskan dengan berwibawa. "Chicago...?" ucapku tanpa sadar. Tentu saja aku terkejut mendengar kata Chicago, bagaimana tidak? Kota itu bagaikan mimpi terburukku selama ini. "Ya, benar. Chicago, apa ada masalah? Karena kebetulan aku baru mengingat, beberapa waktu lalu aku melihat CV mu kau berasal dari Chicago bukan? Mr. Jones bertanya dengan kedua mata menyempit. "Benar Pak," jawabku gugup. "Kalau begitu tidak ada masalah bukan? Justru itu bisa menjadi poin terpentingmu agar lebih mudah menilai dan dekat dengan calon investor kita nanti," tutur Mr. Jones dengan nada berwibawa dan aku hanya mengangguk tanda mengerti. "Baiklah kalau begitu, kau boleh pergi sekarang" perintah Mr. Jones kemudian. "Baik pak, saya permisi dulu," sahutku seraya membungkukkan setengah badan. Setelah aku keluar dari ruangan Mr. Jones entah kenapa pikiranku menjadi tak tenang. Itu karena yang beliau katakan tadi, investor dari Chicago yang besok akan datang. Semoga saja yang aku takutkan tidak terjadi, karena dari sekian ribu pengusaha besar dari Chicago bukan berarti itu 'dia' kan? Aku berusaha untuk tak memikirkannya dan tetap fokus untuk presentasi besok. Karena aku akan menjadi karyawan yang terbaik dan berdedikasi di perusahaan ini. Demi untuk masa depanku dan putraku, Aaron. "Hay, Natalie apa ada masalah?" tanya Asley, salah satu rekan kerjaku yang cukup dekat denganku sejak pertama kali aku bekerja di kantor ini. "Ah, tidak," jawabku spontan dengan sedikit senyum yang dipaksakan. "Aku pikir terjadi sesuatu padamu karena sejak kau keluar dari ruang kerja Mr. Jones kau tampak murung," ucapnya perhatian. "Benarkah?? Hahahaa, apa terlihat begitu??" aku bertanya gugup. "Ya, syukurlah kalau tidak ada hal buruk terjadi, karena seperti yang pernah aku katakan padamu sejak awal Mr. Jones adalah seorang CEO dingin dan kejam. Walaupun ia tampan tapi perangainya yang seperti itu jelas saja membuat kita takut bukan?" tutur Asley dengan suara seperti bisikan karena takut terdengar oleh karyawan lain. "Iya, terima kasih Asley atas perhatianmu," sahutku seraya tersenyum. "Baiklah kalau begitu kau lanjutkan saja pekerjaanmu, katakan saja jika kau butuh bantuan ya," tutur Asley dengan senyum ramahnya seraya berlalu pergi ke meja kerjanya kembali. Kejam dan dingin? Aku rasa tidak begitu, apa mereka hanya berlebihan saja atau aku yang memang belum cukup mengenal atasanku sendiri saat ini? Karena sejauh pandanganku tadi pada Mr. Jones, beliau tidak seperti itu. Ya, walaupun sikapnya memang dingin tapi bukankah itu wajar bagi seorang atasan agar terlihat berwibawa di depan karyawannya? Tapi untuk kejam, aku rasa beliau tidak seperti itu. .. .. Sekitar pukul tujuh malam aku baru bisa keluar dari kantor, karena hari ini aku begitu sibuk menyiapkan beberapa file dan berkas yang akan dipersiapkan untuk presentasi besok saat kedatangan para investor proyek di Denver. Hari yang cukup melelahkan, aku menghela nafas panjang dan merilekskan tubuhku sedikit yang terasa agak kaku karena berjam-jam duduk berkutat di depan komputer. "Apa hari ini melelahkan?" tanya sebuah suara mengejutkanku, seketika itu pun aku berbalik ke belakang mencari si pemilik suara itu dan aku cukup terkejut ternyata dia adalah Mr. Jones atasanku sendiri. "Ah, Pak CEO. Maafkan saya," ucapku canggung seraya menundukkan kepalaku sedikit. "Kenapa harus minta maaf? Kau tidak bersalah padaku. Justru aku senang kau bekerja dengan baik sejauh ini, hingga kau mau lembur untuk mempersiapkan presentasi kita besok. Aku harap besok hasilnya tidak mengecewakan, Miss. Mckent," tutur Mr. Jones dengan gayanya yang berwibawa. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Anda dan perusahaan ini," sahutku yakin. "Bagus, aku percaya padamu. Itu membuatku semakin yakin kalau aku tidak salah menilai dan memilihmu untuk menjadi sekretarisku," ujar Mr. Jones. Belum sempat aku memahami dan membalas ucapannya, Mr. Jones melanjutkan ucapannya kembali dan berjalan mendekat ke arahku. "Kau mau pulang kan? Jika kau mau, kau bisa ikut sekalian denganku karena kebetulan kita searah bukan?" tawar Mr. Jones dengan gaya coolnya. "Ah, saya rasa tidak perlu repot-repot, Pak, terima kasih atas tawarannya," jawabku sungkan. "Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai ketemu besok Natalie," ucap Mr. Jones sebelum ia berjalan pergi meninggalkanku yang menatapnya bingung dan berdiri termangu di depan pintu gedung Lennar Corporation. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD