De Javu

1109 Words
“ARGH sial, rumahmu gabisa lebih kotor dari ini!” teriak Nadya kesal dan membanting kain lap ketika ia berhasil membersihkan keramik antik terakhir. Sekitar 60% telah mereka bereskan, kini sisa tenaga Nadya hanya menyisakan sepertiga persen. Hazel yang berada di lantai dua hanya mendengarkan tak bergeming. “yah memang salahku, selama ini aku pura-pura ga liat dengan keadaan rumah ini.” “Tapi… Ibumu pasti bangga dan senang, akhirnya kamu mau peduli lagi. Sekali lagi, kamu mau merasakan sekitarmu” lirih Nadya pelan sembari berbaring menatap langit-langit yang mulai usang dan lampu gantung yang sudah lama tidak dinyalakan. “Hei! Lampu gantung ini udah berapa lama ga dinyalain?” Suara Nadya memenuhi ruangan yang luas dan kosong. Suaranya yang mengejutkan Hazel yang tengah termenung memikirkan sisa-sisa ingatan saat ia kecil, saat masih ada kedua orang tuannya. “Entahlah, semenjak itu aku ga nyalain banyak lampu, hemat listrik.” Hazel menjawab dengan nada datar – keadaan sunyi menyelimuti mereka – rasa mencengkam di seluruh sudut rumah yang kosong dan penuh benda mati. “PADAHAL SUDAH KUBILANG, KALAU KESEPIAN PANGGIL AKU, BODOH!” Nadya tahu, Hazel tidak akan menjawab, ia sangat tahu, sejak umurnya menginjak 15 tahun, ia tidak sekalipun meminta orang dewasa menemaminya atau menerima tawaran adopsi. “Aku tidak mengerti, kau ini sudah dewasa atau semakin kekanak-kanakan, karena kau terlalu keras kepala.” Nadya memiringkan badannya melihat ke tangga lantai dua. “Kalau kau punya banyak tenaga untuk berteriak, lebih baik kau buatkan aku makan siang – jam makan siang nih.” Ucap Hazel sekenaknya. “AHH, kita pesan sajalah makanan dari kota, atau ke kedaimu” Nadya mengelak dengan nada manja. “Aku bosan makan-makanan laut,” tanpa Nadya sadari Hazel hampir menyelesaikan seluruh pekerjaan, menyisakan lantai-lantai yang perlu dibersihkan. Ia membawa dua kantong hitam besar. “GILAK YA! emangnya kau beruang? Itu sampah berapa bulan sialan? Nadya merebut satu kantong hitam yang Hazel pegang, dan membukanya, “sudah aku duga, dari kapan kau makan pop mie terus-terusan? Raut wajah Nadya yang sangat kesal dengan lemparan pertanyaannya hanya dibalas dengan raut wajah datar adik sepupunya. Nadya hanya menghela nafas panjang, ia tidak mengerti bagaimana menasehati adiknya ini. Hanya ada cara itu, “ya hanya itu,” ia menyiapkan segudang rencana. “Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. – hari ini makan di rumahku aja ya Zi. Pokoknya ga menerima jawaban Tidak!” Sela Nadya yang sudah memeluk tongkat pel dan diam-diam mengirim pesan melalui ponselnya. Ia dengan tenaga yang sudah terisi setengah dengan gerakan cekatan menyelesaikan lantai dasar. Sembari bersenandung membuat rumah yang tadinya kosong, sunyi dan dingin seketika suasana jadi lebih riang dan hangat – ya memang pendingin ruangan ini perlu diganti. Hazel yang sedari tadi menatap Nadya dari balik tangga dan menunggunya selesai tiba-tiba tersenyum, “Terima kasih ya, Ka” ucapan itu yang awalnya ingin ia ucapkan dalam hati tiba-tiba keluar dari mulutnya tanpa sadar – pipinya memanas – ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke atas. “SAMA-SAMA SIALAN! “ jawaban itu membuat Hazel berhenti dan dari atas menatap Nadya tersenyum. Tak kuasa menahan malu dan mendapatkan senyuman manis sepupunya, membuat ia harus menahannya dengan senyum simpul. “Ya ampun, pelit senyum banget ini anak!” sahutnya kesal ketika tidak mendapatkan apa-apa setelah senyuman termanisnya. Ia kembali menggosok sana dan sini sambil bersenandung. Dua sosok yang saling terikat dan bertolak belakang, meski mereka tidak terikat darah maupun hukum, hati mereka saling terikat satu sama lain. Hazel tidak selalu bisa merasakan dan peka terhadap sekitar, kepribadiannya tertutup, dan penyendiri. Sebaliknya, Nadya sangat ceria dan terbuka, ia bisa meluapkan isi hatinya dengan mudah tanpa menahan malu atau rasa mual. Ia juga yang selalu mengenalkan Hazel kepada orang-orang baru yang bisa disebut teman. “Akhirnya, beres juga.” Ia menyadari dirinya sangat berantakan dengan keringat yang menggumpal. Jam sudah menunjukkan waktu istirahat yang telah selesai 30 menit lalu. “Aku jadi pengen berenang.” Hazel datang dengan handuk di kepalanya, terlihat lebih segar dari sebelumnya, bahkan lebih segar daripada ketika ia selesai berselancar. “WAH, Aku juga ingin mandi, tapi aku ga bawa baju ganti.” Nadya basa basi, sambil melirik Hazel dengan senyum penuh arti. “Pake apa aja yang mu suka, Ka. Sudah sini sisanya aku bersihkan, mandi di kamar mandi atas saja. Sudah aku bersihkan semua.” Hazel mengambil seember dan air dan tongkat pel untuk dibersihkan di kamar mandi dapur. “aku ga punya apa-apa, Cuma pop mie sama chiki, kalau mau makan” Tawarnya. “HHH, ga perlu, habis mandi kita ke rumahku, siapa juga yang mau makan-makanan begituan. Belajar masak sana, bodoh. Kau selalu punya waktu ngurusin papan bodoh itu, tapi ga sama urusan perutmu sendiri, mau mati cepet ya?” Ocehnya yang tidak berhenti bahkan ketika Nadya sudah sampai di lantai atas. “Dasar orang tua,” Hazel yang melempar ember ke kamar kamar mandi dengan seenaknya – ia mengambil banyak camilan dan bersandar di sofa yang usang di depan tv, membiarkan handuk bersandar di rambutnya yang basah, memakan chiki sebanyak-banyaknya sebelum Nadya selesai mandi. “Apaya… sepertinya aku kelupaan sesuatu” Hazel mencari-cari sesuatu, ponsel yang ia ingin periksa sedari tadi ia duduki tanpa sadar. Layar ponsel yang ia duduki juga tanpa sadar telah membuka pesan dari orang asing aneh yang telah mengirimi ia pesan lewat sosial media yang baru-baru ini booming, Nicebook. Orang asing yang mengaku mengenal Hazel, tapi tidak memiliki profil, Hazel mencoba mengabaikannya. “mungkin turis yang pernah mampir ke rental atau resto.” Meski telah meyakinkan dirinya sendiri, ada yang mengganjal hatinya, ketika orang asing itu menyinggung tentang ibunya – menanyakan kabar ibunya. Bukan seperti turis yang pernah ia jumpai. Saat Hazel ingin membaca ulang untuk memastikan, tayangan kartun favoritnya memekakan telinga, membuat fokus Hazel teralihkan – ia lupa perihal orang asing itu. Hazel menikmati tontonannya dengan wajah datar, bahkan bibirnya tidak membentuk senyum atau mengeluarkan tawa ketika adegan lucu, tapi hatinya sesekali tertawa terbahak-bahak. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan hampir pukul dua, dan suara tv yang masih memenuhi ruang dasar dengan iklan. Perutnya yang mulai keroncongan, tapi tenggorokannya sudah tidak bisa memakan keripik kering lagi. Hazel meraba sofa sampingnya, tempat ia menaruh sebotol mineral, tapi entah mengapa botol itu hilang. “Aku ingat betul, aku tadi bawa air. Kok tiba-tiba hilang. Aneh.” Beberapa kantung camilan bahkan telah memenuhi tempat sampah yang disiapkan di samping sofa tapi rasa laparnya masih belum terobati. Ketika Hazel ingin membuka kantung camilan selanjutnya, tangan seseorang yang entah dari mana merebut camilannya dengan kasar, membuat ia terkejut – badanya tergoncang bangun, “HANYA MIMPI!” dengan sisa sampah chiki di atas perutnya, ia melihat sekelilingnya, melihat ke arah tangga, mencari Nadya yang bahkan belum menunjukan batang hidungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD