Rencana Nadya I

1090 Words
“Nadya belum tanda-tanda turun nih, lama banget, lagi dandan ya” Hazel kesal dan berencana membuka bungkus chiki lagi, tetapi dari belakang tangan tak terduga merebut makanannya. Ia kaget dan termenung “apa ini… terasa aneh, kapan ya?” Hazel mencoba mengingat sesuatu yang sama. “Oy” Nadya menoyor kepala Hazel yang mematung dan bukannya mendengar ocehannya. “Hah? Apa?” jawab Hazel dengan wajah polos. Nadya tidak menjawab apa-apa dan hanya memoleskan lipstik warna pink miliknya ke bibir Hazel yang kering, tetapi malah di seka Hazel dan membuat kesal Nadya. Sekali lagi ia mengoleskannya tanpa memberikan alasan dan malah mengancam Hazel, “Kalau kau hapus, hubungan kita selesai,” kali ini ancamannya dibalut dengan ekspresi serius membuat Hazel dengan mudah mengindahkan. Ancaman yang sering dipakai ketika melawan keegoisan tunangannya, ternyata berhasil untuk Hazel. “Eh, dia manut, ga nyangka” Nadya tertawa geli dalam hati melihat Hazel tak berkutik dan juga karena melihat wajahnya menjadi sedikit berseri dengan warna lipstik yang mampu meng-highlight warna kulitnya. Nadya menyeret tangan Hazel keluar, ia dengan polosnya mengikuti Nadya dari belakang, toh dirinya sudah sangat kelaparan. “Hari ini makcik masak apa Ka?” Tanya Hazel sambil mengingat kapan terakhir kali ia menerima jamuan makan bersama keluarga Nadya. Sejak ia berumur 15 tahun, ia memilih berhenti merepotkan siapapun atau menolak makan bersama ketika tidak ada hajat penting. Hazel terus membayangkan makanan apa saja yang akan tersaji di meja makan nantinya. “Ka, kita makan di rumah kan?” sekali lagi Hazel bertanya karena Nadya tidak menjawab pertanyaan pertamanya dan malah menunjukan sekuternya. “kita naik sekuter ya, biar cepet.” Baru saja Hazel ingin membuka mulut untuk melempar pertanyaan, “sudah gausah banyak Tanya, naik aja, atau aku tinggal kau di sini dengan perut keroncongan,” jawab Nadya tersenyum kejam dan menyimpan maksud tersembunyi. Nadya membawa hazel ke arah yang sama dengan rumahnya tetapi melewati rumahnya tanpa disadari Hazel, karena sedari tadi ia hanya menatap laut. Tak butuh waktu lama, hanya memakan waktu 6 menit dengan kecepatan skuter yang lambat Nadya menurunkan Hazel di café pantai yang bernuansa modern, café yang baru-baru ini juga menjadi alasan beberapa restoran menjadi sepi termasuk restoran milik keluarganya. Hazel yang menyadari maksud dari sepupunya itu memasang wajah kesal, “aku mau ngabisin duitku buat sainganku,” katanya singkat. “Haha, kejam banget, memang karena ini café baru yang baru-baru ini jadi primadona di sini, tapi kau ga boleh ngomong gitu. Rejeki itu sudah ada yang ngatur.” Nasihat Nadya membungkam Hazel dan membuatnya memantung memandangi laut sekali lagi. “rezeki sudah ada yang ngatur ya…” bayangan masa lalunya sedikit membuat rasa laparnya menghilang dan terasa sekilingnya menjadi sendu. Nadya yang tak tahan melihat Hazel merubah raut wajahnya menarik paksa tangannya untuk mengikutinya masuk ke dalam café yang bernuansa abu-abu dan putih, tiap dindingnya menjulur tanaman rambat, di luarnya disediakan meja terbuka dengan payung putih besar estetik. Tak heran bila café pantai ini digandrungi banyak turis dan membuat sebagian restoran keluarga kewalahan, tapi café seperti ini hanya membuat orang penasaran. Jika tidak memiliki chef yang mumpuni, orang-orang akan dengan bijak memilih tempat yang pas untuk memuaskan lidah dan perut mereka, terlebih untuk turis asing yang sudah lama menjadikan pantai ini seperti rumah kedua mereka. “tapi meskipun begitu tak dapat dipungkiri, restoran kami sudah kuno, renovasi nya juga seadanya, dibanding dengan ini memang seperti langit dan bumi untuk ukuran penampilan,” Hazel terus mengamati sekelilingnya seketika itu juga saat ia masuk di café itu dan membandingkan dengan restoran yang ia dan pamannya kelola. Hazel yang terus saja mengamati sekelilingnya tidak sadar nadya sudah berhenti di meja yang dipenuhi pemuda lokal dan beberapa turis muda yang dibawa oleh tunangannya. Ia menabrak sedikit badan Nadya, membuatnya mendapatkan tatapan mengerikan Nadya, “jaga sikap” bisiknya sambil menoleh kebelakang dengan nada menekan. “Hi, guys, this is my cousin, cute isn’t it?” Nadya menarik tangan Hazel ketepinya untuk mengenalkannya kepada teman-teman dari Hendra, tunangannya. Dan dibalas senyuman sebagai sambutan yang hangat. Sebagian wajah yang Nadya kenal ialah tour guide kenalan Hendra, dan sebagian ialah turis asing yang di bawa oleh teman Hendra si Tour Guide. Hazel hanya melihat sekilas wajah Hendra dan menatap kembali Nadya lalu membuang pandangannya ke arah konter café yang membuat hazel terpukau. Konter dapur dibiarkan terbuka dan dilihat orang-orang, membuat apapun yang mereka masak, aromanya akan menyebar keseluruh ruangan dan mengunggah siapapun yang masuk, bahkan aromanya akan tetap tercium meski kita lewat di depan café tanpa memandang nama café ini. “Oh seperti ini trik rahasia mereka ya, dasar curang, aku harus beritahu paman,” Hanya itu yang Hazel pikirkan sekarang, ia tak mengkhawatirkan Nadya sama sekali yang terlihat kesal karena dirinya. Cubitan kecil melayang di kulit lengan Hazel yang hanya berbalut kaos barong tipis yang warnanya hampir memudar. “Ack!” jeritan kecil yang membuat teman-teman di mejanya tertawa, mereka pikir Hazel terus memandangi konter dapur karena sudah sangat kelaparan. Kekesalan Nadya bertambah saat ia sadar Hazel hanya mengenakan kaos barong yang warnanya memudar, dan hanya menggunakan ripped jeans lusuh. “Sialan aku baru sadar anak ini lusuh banget, aku kaya abis nyeret gembel yang entah dari mana.” Nadya menarik tangan Hazel untuk duduk di kursi kosong di antara tour guide dan turis muda yang tampan, membuat hati Nadya sedikit puas, “Untung penampilan lusuhnya tertutupi sama wajahnya yang cakep, tambah cakep sama warna lipstiknya, pas!” Nadya mengacungkan jempol ke pada Hazel yang sedari tadi tidak perduli mau diseret ke kursi mana, kini fokusnya ialah ke pada makanan yang baru saja tersaji di meja makan. Suguhan yang besar dan lengkap membuatnya menelan ludah dan tidak memperdulikan rencana Nadya apapun itu, meskipun ia tahu dengan jelas, sepupunya sedang membuat ia dekat dengan banyak pria. Lelaki asing di depannya dengan badanya tinggi dan kurus, berwajah lonjong, kulit wajahnya sedikit memerah karena paparan sinar matahari yang entah kapan ia dapatkan, dengan basa basi menanyai namanya. Hazel hanya tersenyum ia ingin sekali langsung membuang wajah tapi ketika melihat wajah turis yang seperti memelas akan jawaban membuat ia kesal dan menjawab sambil menunduk berharap mata mereka tidak pernah lagi bertemu. Ia kesal dengan situasi yang memberatkannya, jika tidak ada Nadya atau Hendra, akan mudah untuknya menolak situasi ini dengan caranya yang biasa. Hazel sesekali melirik Nadya yang mudah mengikuti irama lainnya, ia ikut sibuk melempar pertanyaan membuat beberapa dari mereka mulai membahas sisa-sisa liburan mereka yang mereka nikmati sebelum datang ke pantai, pembahasan yang sangat panjang membuat Hazel tak sengaja ikut larut menyimak dan ikut tertawa kecil ketika beberapa dari mereka menceritakan cerita yang menarik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD