Rencana Nadya II

1114 Words
Tak terasa juga Hazel telah menambah nasi kedua kalinya, saat ia melirik makanan yang jauh dari jangkauannya, ia tidak tahu bagaimana mengambil atau enggan meminta tolong kepada pria di depannya yang sempat menanyai namanya. Tetapi di luar dugaan, pria yang duduk di kirinya juga mengincar piring yang sama, dan ia mudah mendapatkanya ketimbang dirinya yang banyak menahan diri. Hazel memutuskan menyerah dan mencoba mengambil yang di dekat dengannya saja. “I thought you were after this,” suara berat setengah berbisik terdengar di telinga kirinya dan menyodorkan piring lebih dekat kepada Hazel. “thanks,” spontan Hazel menjawab dengan ceria, tanpa sadar ia menunjukan kelemahannya kepada pria asing yang wajahnya saja ia tidak ingat. Ia mendongakkan wajahnya kekiri memastikan wajah turis dengan suara berat, ia berambut cokelat, beralis lebat, dan berahang tegas, bibirnya tipis dan senyumnya damai. Mata mereka bertemu dan Hazel melemparkan senyum tanda terima kasih, tanpa sadar senyumannya ini tidak dibatasi seperti biasa. “wah gile, langsung berhasil, tanpa campur tanganku,” hati Nadya seperti berbunga-bunga memandangi Hazel mengendorkan pengawasannya, terbukti dengan dia melempar senyum yang tidak biasa. Walaupun itu hanya berlangsung beberapa detik. Rencana Nadya yang ia pikir berjalan dengan baik akan menghasilkan hubungan baru, hanya berakhir mereka melempar senyum, dan bertukar nama. Hazel yang telah mengisi tenaga dengan makanan kini tidak lagi bagai kelinci imut yang siap memberi senyum lembut ke siapapun yang memberinya makan, ia kini bagai Harimau yang siap menyerang apapun yang menghalangi dan kembali dengan menyendiri. Terbukti dengan Hazel yang tiap menit menatap ponsel, mencari waktu yang tepat untuk meninggalkan kawanan. Kegelisahan Hazel membuat Nadya khawatir, ia takut Hazel akan langsung pergi dengan meninggalkan kesan tidak baik kepada pemuda yang sedari tadi memperhatikannya diam-diam, saat ia ingin memberitahukan kepada tunangannya, seorang lain yang memperhatikan Hazel sejak tadi mencairkan suasana, “do you have another appointment after this?” “No, I just…” Hazel berdiri dari tempat duduknya, “Thanks for the delicious meal, but I truly sorry guys, need to go back to work, there are some waiting to be fed. If y’all looking for a place full of taste, just stop by my homely restaurant, at the end of the beach opposite from here, you'll know from the first sight.” Setelah mengatakan itu Hazel berjalan ke arah Nadya, menepuk pundaknya, “Sis, please let me know the bill, later.” Dan berjalan menjauh dari meja melewati segerombolan orang asing yang baru sampai dan bersiap mencicipi masakan di café estetik ini. “Ah Hazel!” Suara Nadya ditelan oleh keramaian yang baru masuk dan yang akan keluar, Ia berdiri di balik belakang kursi hendra dan memegang bahunya seolah tak ingin pergi dari sana tapi harus pergi, “I think I’d catch up her. Thanks for the food and story, I had a great time here. In addition to taking care of restaurants, she also has a dive rental, if you guys are interested in diving. She is actually a nice person, just an introvert, Hendra will explain the rest. Thanks again for the food.” Nadya menjelaskan buru-buru dan mencium pipi Hendra sebelum pergi mengejar Hazel, ia berharap penjelasan singkat Hazel di tangkap oleh pria yang sedari tadi diam saja memerhatikan Hazel di ujung meja mengamati temannya memberikan sepiring makanan yang Hazel incar. “Sialan, Nadya membuat aku harus mengatakan hal seperti itu.” Hazel terus melihat jam yang sudah pukul 14.40, ia terlalu lama di sana, ini sudah sore, waktu di mana restoran akan ramai oleh pengunjung yang datang dari jauh untuk menginap atau menjadikan pantai spot berkemah. “paman pasti kerepotan, kalau aku makan pop mie atau langsung ke resto, ga akan makan waktu sebanyak ini,” gerutu Hazel sambil berjalan ke arah barat mencapai ujung pantai. Butuh sekitar 7 sampai 8 menit jika berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata, atau 15 menit jika berjalan dengan santai. Pantai yang menjadi primadona di sini sangat luas, lautnya biru, pasirnya putih. Tidak hanya menjadi primadona wisatawan lokal tapi juga turis asing. Orang yang datang pun memiliki banyak tujuan, dari hanya berenang, berjemur, berkemah atau menyelam di teluknya untuk melihat biota laut. Untuk di beberapa musim, pantai ini juga dapat menjadi tempat yang pas untuk belajar berselancar, dengan ombak yang tidak terlalu besar sangat pas untuk pemula. Saat Hazel hanya sibuk dengan ponselnya, memeriksa pesan-pesan di Witapps, ia tidak sadar Nadya mengikutinya dengan skuter yang melambat, ditambah suasana yang ramai membuat suara skuter terpendam dan samar dari pendengaran Hazel. Nadya dengan jahil menghidupkan Klakson dan membuat Hazel begitu terkejut dan menepi, saat Hazel sadar yang menjahilinya Nadya, ia melanjutkan langkahnya, mengabaikan Nadya yang mengoceh di belakang. Hazel sibuk membaca satu-satu pesan yang entah dari siapa di aplikasi sosial media Nicebook, aplikasi yang sedang booming untuk mengiklankan sesuatu pada khalayak umum dan pengguna dapat saling mengobrol. Pesan dari orang asing yang mengaku temannya, kini menumpuk, membuat Hazel tidak tahan dan memblokirnya tanpa basa-basi. “Toh dia ga tertarik sama resto atau rental dive ku, block aja!” namun entah angin apa yang menyambarnya, Hazel mulai ragu dan membuka blokirannya, dan menghapus pesannya. “kupikir, kalau di benar-benar kenal aku, dia akan kirim pesan lagi. Pesan yang lebih serius bukannya basa-basi.” Pikirnya sederhana seperti biasa. “Jangan ikuti aku, balik sanah!” tegas Hazel yang dilayangkan untuk orang belakang yang sedari tadi mengikutinya dan terus bercerita tentang dua pemuda yang menarik perhatiannya, “Jangan bilang kau mau selingkuh, dasar murahan,” ledek Hazel sekenaknya, membuat Nadya marah dan menaikan kecepatan untuk menyamai kecepatan langkah Hazel dan menarik telinganya. Hazel yang tertarik telinganya, mengikuti kecepatan skuter yang sedikit lebih cepat, “Hei b*****t, lepas!” tingkah absurd dua wanita dewasa ini mengundang pandangan aneh di sekeliling mereka. Nadya bukan tipe wanita yang kasar, sebaliknya ia wanita yang sangat anggun, dari sikap dan tutur kata sangat lembut. Gayanya selalu manis dan terawat, bahkan hanya dengan menaiki skuter pink dan gaun berwarna coklat muda sangat senada dan membuatnya tetap cantik. Namun sesekali ia berkata kasar di depan Hazel, untuk membuatnya tetap nyaman menjadi dirinya sendiri. Sedangkan Hazel yang tidak dapat mengungkapkan hatinya, sangat sulit berekspresi, sering kali ketika marah, jika dia tidak berkata kasar, ia akan mendiamkan lawannya sampai mental lawan tertindas. “Ia-ia ampun Ka, tolong lepas telingaku, ini sakit banget,” jawabnya memelas sembari berlari mengikuti irama laju sekuter. Melihat raut wajah Hazel memelas, Nadya melepas cubitan di tangannya. Hazel yang melihat skuter berhenti di depannya mengacungkan jari tengah dan berlari melewati jalan belakang setiap bangunan sepanjang jalan untuk menghindari Nadya dan skuternya. “Dasar Hazel, dia ini bikin kesal saja, tapi aku gabisa benar-benar marah dengannya,” Nadya terheran-heran melihat tingkah Hazel yang sangat ceroboh memilih melewati jalan belakang yang sedikit berlumpur dan bakal membuat sepatunya kotor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD