Hazel yang menghindari Nadya dan memilih lewat belakang tak sadar langkah larinya memberat, karena sepatunya menempel tanah yang cukup tebal, “ah b*****t, aku lupa di sini berlumpur, Nadya sialan.”
Tapi ia tidak peduli, ia akan tetap berlari, hanya butuh beberapa meter lagi untuk sampai ke belakang restorannya. “seingat aku, ada sandal yang aku tinggal di resto. Lewat pintu dapur saja, bisa kotor lantai depan nih,” ia mulai merasa menyesal dengan pilihannya berlari di tanah basah.
“Paman,” panggil Hazel yang terengah-engah memegang dibalik pintu dapur. “Kenapa lewat dapur Zy?” Tanya lelaki paruh baya yang tengah sibuk mengangkat penggorengan. “Maaf paman, aku ga bantuin dari pagi, bisa tolong cariin sandal yang aku bawa dari rumah kemarin?” Hazel menatap sepatunya yang telapaknya penuh dengan tanah hitam menempel. “Ya ampun, kamu lari lewat belakang… Oh sebentar,” lelaki paruh baya itu menjawab sembari sibuk dengan penggorengan di depannya yang masih menyala, ia ingin langsung mengindahkan permintaan Hazel, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali untuk mematikan kompor agar tidak menggosongkan penggorengan.
Melihat gelagat Paman yang seperti tidak fokus dan sangat sibuk, membuat Hazel merasa bersalah. Di restoran ini hanya memiliki 3 orang tetap, 2 chef dan 1 kasir. Chef juga bertugas mengantar makanan ketika pesanan tidak ramai. Jika hari libur, maka akan ada tambahan 1 orang lagi yang menjadi asisten paman, fokus pada tugas menata atau juga mengantar, dan kadang-kadang dibantu yg menjaga kasir. Kasir juga sering kali membantu mengantar, jika di depan kasir sepi dan makanan harus ada yang di antar.
Sedangkan Hazel sering kebagian membersihkan peralatan yang kotor, mengantar makanan di penginapan sekitar, dan jika sedang sepi dia membantu paman menata makanan dan mengantar, meski begitu ia juga pernah memasak langsung untuk pelanggan, namun karena ia tidak percaya diri dengan hasil masakannya, ia memberikan salinan buku resep utama milik ayahnya untuk di tempel di dinding dapur.
Pekerjaan di restonya tidak sistematis seperti di café yang baru saja ia kunjungi. Karena ini adalah restoran yang ia dan pamannya kelola sendiri, sedangkan kasir ialah bibinya, adik dari paman dan karyawan tambahan ini adalah suami bibi kasir yang seorang nelayan. Jika suami dari bibi kasir sedang turun ke laut, maka kenalan pamannya yang lain akan membantu dan dibayar harian.
Nadya tidak dapat banyak membantu, karena ia menjaga ibunya yang hanya sendirian di rumah. Ibu Nadya adalah wanita yang tangguh, saat kecelakaan orang tua Hazel, saat itu ia banyak berperan sebagai ibu pengganti untuk Hazel, meskipun kini aktivitasnya terbatas di atas kursi roda.
Paman datang dengan sandal yang Hazel maksudkan, dan kembali ke penggorengan yang sempat ia tinggalkan. “Nak bisa tolong antarkan ini untuk meja no 5,” pinta pamannya, “sisanya sedang dimasak ya, jangan lupa airnya di sana tolong diisikan es batu, jangan terlalu penuh. Botol kecap dan sausnya di isi ulang juga. Oh ia, mereka minta garam lebih, tolong taruh di mangkuk kecil.” Tambahnya. Saat seperti ini, insting cekatan Hazel tidak perlu ditanyakan lagi ia tidak akan banyak bicara dan hanya bergerak sesuai irama.
Sejak kematian orang tuanya, setelah berbulan-bulan ia yang hanya menyendiri dengan papan selancar, akhirnya tersadar dan ikut membantu pamannya walaupun saat itu hanya dimulai dengan mengantar makanan. Hazel selalu kagum dengan cara kerja pamannya yang tradisional meskipun tidak sistematis seperti café estetik yang tadi. Terkadang ia sedikit menyesal tidak memulai mengamati ketika ayahnya ialah chef utama di sini.
Hazel yang telah memasang celemek di badanya kini siap dengang nampan di tangannya yang penuh dengan berbagai macam makanan, ia mendorong pintu dengan badan belakangnya untuk membuka pintu lebih lebar. Matanya langsung menemukan meja no 5, kumpulan muda mudi yang sedang menikmati akhir pekan mereka. Semakin mendekat, semakin terdengar suara ocehan liburan mereka yang berisik.
Saat mengantar makanan, fokus Hazel hanyalah tiga, keseimbangan makanan, depannya dan tangan yang diangkat sebagai meminta pelayanan. Saat di meja no 5, Hazel melakukan SOP seperti biasa, “sisanya sedang disiapkan ya… ,” ucap Hazel dengan nada datar. Saat ia berbalik untuk menuju meja no 7 yang memanggilnya, tangannya ditahan oleh genggaman tak terduga, ia menoleh kebelakang menatap wajah asing yang tersenyum padanya. “ Kau Hazel alumni SD 8, kan?” Tanya lelaki asing di depannya.
“Ada pesanan lain?” Tanyanya singkat, membuat teman dari si lelaki asing berbisik-bisik, mencemooh Hazel yang katanya terlalu dingin. Telinga Hazel yang sensitif akan suara kecil, tak mengindahkan apapun, “Jika tidak ada yang lain, saya mau ke meja no 7, silakan menikmat dan menunggu sisanya.” Ia mencoba sebisa mungkin bersikap wajar, meski tangannya dipegang tanpa izin.
“fokus, fokus” ia menyakinkan dirinya, “hari ini banyak yang terjadi, meskipun hari ini lebih baik dari hari kemarin” Hazel mengingat-ingat hari ini ia bertemu 3 lelaki sekaligus yang mencoba mendekati dirinya. Sedangkan kemarin, ia hampir memukul dua wisatawan lelaki yang satu karena berhasil melecehkan dirinya, yang satu mencoba memfitnah pamannya, belum lagi ibu-ibu berisik yang tidak berhenti marah-marah karena anaknya terjatuh ketika berlari menyenggol meja di restoran miliknya.
Bekerja di tempat yang harus membuatnya melayani banyak orang, membuat ia menyadari sesuatu yang sulit ia ungkapkan. Sesekali ketika melihat pemuda yang bercerita tentang bersekolah atau berkuliah, kadang ia merasa tidak peduli, kadang ia merasa ingin mencicipi bangku pendidikan lagi.
Hazel kembali ke dapur setelah memberikan sebotol es teh pesanan meja no 7, ia membantu pamannya menyiapkan makanan untuk meja selanjutnya. Sebelum pamannya selesai dengan makanan selanjutnya, yang ingin membersihkan peralatan yang kotor mencari spon ke sana kemari sehingga tidak sengaja tersenggol seorang gadis yang baru keluar dari toilet di dekat wastafel cuci tangan.
Hazel ingin meminta maaf, namun gadis dengan mata sembab itu melalui dirinya tanpa sepatah katapun. Hazel mengamati punggung gadis itu yang menuju ke meja no 5. “Oh sekumpulan orang aneh,” ucapnya pelan. Lelaki yang baru saja keluar dari toilet pria tiba-tiba memanggil nama Hazel, membuat ia sedikit terkejut dan menoleh, “mumpung kita ketemu di sini, aku mau bertanya, kau alumni SD 8 kan?” Hazel tak ingin memperpanjang urusan dengan sekumpulan orang aneh, “Aku ga ngerti maksudmu apa, aku lupa dulu aku SD mana.” Jawabnya singkat dan meninggalkan lelaki dengan spon di tangannya.
Hazel melihat pamannya yang telah menyelesaikan hidangan terakhir, ia ikut membantu menyusun di atas piring. “Hazel, apa kau mau mencuci piring? Kalau begitu biar paman yang urus ini, oke. Oh lukamu yang tadi pagi sudah tidak apa?” jika tidak ditanya tentang luka itu, Hazel bahkan sampai lupa ia sempat cedera tadi pagi. “tidak apa paman, cuma tergores,” jawabnya yang langsung menuju ke tempat pencucian dapur. Ia ingin menanyakan sesuatu kepada paman tetapi ia urungkan niatnya.