“HOAM…” berkali-kali Hazel menguap bersiap memeluk kasur sehabis menyelesaikan pekerjaanya, sepanjang jalan yang ia pikirkan hanya tidur di kasur setelah 7 jam menguras energi bagi seorang yang introvert seperti dirinya. Sebelum ia menaiki seluruh tangga, ia menoleh ke lantai dasar yang remang-remang karena pantulan cahaya lampu ruang tengah yang ia sisakan menyala. “Hm, terasa lebih hangat daripada biasanya, dan suasananya jadi lebih nyegerin…” senyumnya mengingat sisa-sisa memori masa kecilnya dan waktu yang telah ia habiskan bersama kakaknya.
Saat sampai di kamar yang pertama kali ia periksa ialah balik pintu kamarnya, memastikan kalau posisi peralatannya berubah, peralatan yang selalu siaga yang siap ia gunakan ketika mendesak, satu tongkat bisbol dan senapan angin milik ayahnya. Senapan yang sengaja ia simpan di kamarnya untuk berjaga-jaga juga agar tidak rusak berdebu, benda yang awalnya sangat ingin ia jual namun untuk beberapa alasan ia urungkan niatnya.
Kamar Hazel yang berada di lantai dua, ia tidak ingin memasang teralis di jendelanya untuk alasan keamanan. Sebaliknya di pintu dan jendelanya ia pasang gembok berlapis dari dalam, itulah yang membuat ia tetap aman meski hidup sendirian. Meskipun lingkungan rumah Hazel cukup aman, ia pernah mendapati beberapa orang ingin membobol tidak lama setelah kematian kedua orang tuanya. Dikarenakan di sekitar lingkungannya, rumah Hazel yang cukup mencolok.
Di atas kasur yang sedikit berantakan, Hazel menghempaskan badannya setelah habis mandi ke tiga kali hari ini. Sesekali ia bersenandung tak beraturan sambil memandangi ponsel lamanya. Ia membuka aplikasi Utube mempersiapkan tontonan sebelum ia benar-benar terlelap. Tapi entah sejak kapan, moodnya berubah menjadi gelisah dan berkali-kali menghela nafas, jam sudah menunjukan pukul 23.00, dan besok ia harus ke restonya dari pukul 7, lebih awal dari hari biasanya karena hari pekan. Yang lebih ia tidak sukai ketika hari pekan ialah, ia akan sangat sibuk menjaga dive rental kecilnya di sela waktu yang ia habiskan membantu paman dan tidak dapat menikmati jam istirahat sore yang biasa ia ambil untuk berselancar sebentar.
“Ah sial, aku jadi tidak tenang karena tiba—tiba ingat orang itu,” Hazel menggerutu ketika tangannya sibuk meng scroll media tontonan, dan berpindah ke media sosial, lagi-lagi ia mendapati orang aneh yang terus mengaku teman lamanya, dan itu malah bercampur aduk dengan ingatan tentang orang asing yang memanggil namanya tadi sore. “Ack sial!” Hazle tidak sengaja membuka pesan yang awalnya ingin dihapus. Membaca pesan pertamanya malah membuat Hazel terkejut dan bangun dari kasur. Menatap serius – perasaan ragu-ragu namun tetap membalas pesan tersebut. Tidak lama setelah ia membalas, ia berdiri dari kasur dan memakai jaket rajut sepanjang lutut milik ibunya, menutupi pakaian tidurnya yang mulai kekecilan, ia berjalan keluar tergesa-gesa dan kembali lagi untuk mengambil tongkat bisbol dengan keyakinan.
“Sialan! Harus ku selesaikan perasaan yang mengganjal ini!”
Malam yang hampir mencampai puncak menyelimuti Hazel dengan angin yang membuat tiap buku kuduknya merinding, suara ombak yang berderu mengambil alih suara jangkrik di sekelilingnya, bulan purnama penuh yang cantik seperti lentera yang tidak dapat di gapai, oleh siapapun. Ia tidak perlu membawa senter yang memang ia lupakan atau ponselnya. Ia cukup dengan tongkat bisbol di bahunya.
Menyusuri bibir pantai, tak ia sangka, orang itu datang lebih dulu dari pada dirinya, ia tengah duduk di depan bibir pantai beralaskan sandalnya, “Sebentar lagi ombak bakal menyentuh kakimu loh,” Ucapnya memecah keheningan, berdiri di belakang seorang pria asing yang tak lagi asing. “kita duduk disana saja,” Hazel menyarankan pondok di belakang mereka, “Tidak, kita di sini saja Hazel, aku suka memandangi laut sambil di sampingmu. Tapi kita bahkan belum saling menyapa… Hai Hazel, apa kabar?” tanyanya yang masih membelakangi Hazel, “ya terserah mu aja deh, tapi aku gamau duduk disitu, bikin gatal,” ucapnya ketus karena kesal nasehatnya tidak diindahkan, ia berjalan dan dan berdiri di sampingnya.
“Kita langsung ke intinya saja ya-“
“Kau benar-benar tidak ingat aku?” ia memotong Hazel dengan nada yang murung, berharap sesuatu tidak seperti dugaanya, atau sebaliknya ia ingin sesuatu dari Hazel.
“Ya… maaf saja, aku bahkan tidak ingat aku lulus dari sd apa, tapi seingatku itu jauh dari sini. Aku juga tidak melanjutkan sekolah sejak itu. Bukan alasan ya.” Tidak, bukan permintaan maaf yang ia inginkan dari Hazel, ia ingin sesuatu yang lebih. Ia mulai berdiri, keheningan kini menyelimuti mereka bersama ombak dari laut yang terus melewati di sela-sela tubuh mereka.
“Itu?”
“Ya?” ia sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan lelaki di sampingnya yang kini mengubah posisinya, menghadap Hazel, mau tak mau dia pun ikut melihat kesamping agar suaranya terdengar lebih jelas.
“Maksudku, ceritakan yang kau maksud itu. Oh bagaimana kabar orang tuamu? Ceritakan semuanya tentang dirimu setelah perpisahan kita.” Hazel yang hanya mendengar pertanyaan terakhir bertambah bingung, antara bingung harus menjawab apa, ia yang ingin memastikan hubungan mereka. “Kan sudah kubilang aku ini lup-“
“JANGAN PURA-PURA! AKU YANG TERLUKA KARENA ULAHMU, KENAPA KAU YANG PURA-PURA AMNESIA!” Suara lelaki itu menggelegar menyaingi ombak yang berderu kencang di setiap beberapa detik. Hazel yang menjadikan tongkat bisbol menopang badannya mundur selangkah dari jaraknya, ia terkejut dengan bentakan lelaki di depannya. Wajah lelaki itu berubah ingatan yang samar di kepala Hazel, potongan-potongan ingatan seperti berterbangan ke sana kemari tapi tidak menyatukannya menjadi ingatan yang lengkap sehingga ia masih saja tidak ingat
“Apa ini, tidak perlu berteriak, aku memang lupa, dan aku tidak mengerti maksudmu.” Hazel tiba-tiba menoleh kebelakang, ia merasakan seseorang memperhatikan mereka – ia berlari setelah Hazel menoleh, memeriksa sekelilingnya.
“Hei, itu temanmu?” Tanyanya memecah suasana yang berubah di antara mereka sambil menunjuk ke belakang dirinya, terlihat bahu seorang yang membelakangi mereka dan berlari menjauh. Bulan yang memantul di laut mebuat sekitar Hazel tampak jelas – begitupun orang yang berlari tersebut terlihat seperti wanita muda.
Lelaki itu mengabaikan pertanyaan Hazel dan mengambil langkah mendekatinya, wajah mereka sangat dekat sampai sampai angin tidak ingin melewati di antara mereka. Hazel mundur lagi selangkah, “Hei, hei kau ga liat ini di sampingku, jangan sembrono atau kau bakal menyesal pernah mengiyakan pertemuan denganku.”
“Maaf udah meneriaki mu tadi, aku tidak bermaksud begitu.” Ia memeluk Hazel tiba-tiba saat Hazel menoleh kebelakang lagi menghkhawatirkan gadis yang berlari tadi. Hazel yang terkejut tidak dapat melayangkan pukulan seperti yang biasa ia lakukan, sebab ia dipeluk dengan tangan yang tidak siaga, alhasil ia hanya dapat melerai lelaki itu untuk menjauhi tubuhnya yang kedinginan. “Dasar b******k, dibaikin malah ngelunjak!” Pun jika ia ingin melayangkan kepalan tangan, sudah terlambat karena jarak di antara mereka.