Sofia mulai berayun mengikuti irama, rambutnya yang tergerai indah mengikutinya dari belakang. Raut wajahnya yang tadi sedih berubah menjadi gelak tawa bahagia. Ia sangat menikmati tiap terjangan angin yang menyentuh kulitnya, dan tiap helai rambutnya yang tergerai.
“Betulkan aku bilang. Seseru itu.” Hazel kembali ke tempat duduknya dan ikut menarik dirinya dan mendorong sekencang-kencangnya mengikuti irama ayunan. Mereka berdua saling beradu gelak tawa, “Pake kakimu, bertumpu lalu lepaskan,” Hazel antusias mengajari Sofia caranya berayun seperti anak kecil yang sok pintar mengajari satu sama lain.
“Haa.. ini seru banget, tapi udah berapa lama kita bermain.” Tanyanya sambil masih tertawa. Para penduduk lokal bahkan sudah berlalu lalang memperhatikan dua orang dewasa yang berlomba-lomba berayun seperti bocah yang baru pertama kali mengenal ayunan.
“Sudah jam berapa ini,” Hazel bertanya tanpa memberhentikan ayunannya. Ia seperti sedang di kejar oleh sesuatu.
“6.30” Sofia memeriksa handphonenya, ia mendapatkan pesan dari Nadya, tapi ia memilih untuk mengabaikannya.
“Kita masih punya 30 menit lagi kok. Tenang saja. Lanjutkan mainnya,” pekik Hazel.
“Ga ah, aku mulai mual..”
Ia juga mulai menyadari sesuatu dan langsung memberhentikan ayunannya, kepalanya pusing. Hazel mencoba menjauh dari Sofia dan terjatuh di atas pasir putih, memuntahkan sedikit minuman yang ia minum tadi pagi.
“Ha-zel. Kau gapapa?” Sofia langsung menuju ke Hazel dan mengelus pundaknya.
“Ah maaf Sof. Aku ga tahan.” Wajahnya memerah setelah memuntahkan semuanya. Mereka mulai tertawa lagi. Sofia memberikan sapu tangannya untuk membersihkan wajah Hazel yang penuh keringat dingin.
“Udah ga papa? Apa mau pulang aja?” tanyanya mengkhawatirkan keadaan Hazel yang terus memegang perut. “Jangan, kita tunggu warung makan di sini buka. Dan sarapan di sini. Aku ada kenal seseorang yang punya warung sarapan yang enak” ucapnya meyakinkan Sofia untuk tidak khawatir. “Gak papa kan?” untuk memastikan Sofia tidak sedang memiliki janji lain.
“Gapapa kok. Aku pulangnya masih sore nanti.”Sofia dan Hazel akhirnya berhenti mengayun, dirinya sudah kapok karena mual yang ia dapat dari banyak mengayun.
“Hazel, kalau aku tanya tentang sekolahmu, apa kau akan marah?” Sofia mulai membuka pembicaraan yang tak terduga tanpa ragu-ragu. “Tergantung, kalau kau mencoba mengejekku karena aku hanya lulusan sd, aku akan marah,” jawabnya sekenanya di sambung dengan tawa. Pernyataan Hazel ikut membuat Sofia mengundang gelak tawa. Sofia, gadis polos itu tidak sadar jika dia sedang dipermainkan oleh Hazel.
“Oh begitu ya… aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku penasaran alasan tidak melanjutkan pendidikan wajib 12 tahun. Dan aku yakin itu bukan karena finansial kan, sebab banyak sekolah negeri yang gratis,” Sofia menjelaskan dengan seksama, “Aku tidak bermaksud untuk menyamakan kamu dengan orang lain. Tapi salah satu dari banyak hal yang ku dengar, ibumu sendiri adalah seorang terpelajar tinggi sebelum dengan ayahmu.”
“Penjelasan kedua itu, betul.” Hazel menjawab singkat yang membuat mereka diam selama beberapa menit.
“Kalau kau nggak mau menjawabnya, juga gapapa,” Ucap Sofia memecah keheningan. “Bukan, aku masih memikirkan. Maksudku mengingat-ingat alasan kenapa aku tidak ingin sekolah. Beri aku waktu ya…” dan lagi-lagi diam menyelimuti mereka.
“Apa pertanyaanku terlalu berat dan terkesan ikut campur ya. Aku jadi tidak enak. Karena aku tidak banyak bertanya seperti Nadya, dia pasti mengira aku bakal terluka jika tidak mendapatkan jawaban. Padahal sebenarnya tidak apa jika dia menolak memberi tahu,” Sofia sedang bergelut dengan rasa penasaran dan rasa bersalah yang telah membuat Hazel berpikir keras.
“Nah aku ingat!” teriak Hazel sambil memukul telapak tangannya membuat Sofia yang sedang melamun mengkhawatirkan sesuatu, kaget seketika. Sofia mulai mengubah posisi duduknya agar lebih condong ke Hazel, tanda ia siap mendengarkan dengan seksama.
“Jadi waktu itu jika tidak salah, sebelum kecelakaan itu, aku ingin masuk ke SMP di kota pusat, ibu dan ayahku berkendara setengah hari, lalu mereka mengalami kecelakaan. Itu membuatku sangat syok, aku masih 13 tahun, itu membuatku berfikir semuanya salahku. Aku merasa tidak pantas hidup, dan ingin menukar kehidupanku dengan mereka. Banyak yang kehilangan. Aku merasa mereka semua menyalahkanku meskipun mereka tidak bilang begitu. Jadi aku tidak ingin meminta apa-apa pada siapapun lagi. Begitu.”
Hazel masih belum sadar jika teman di sampingnya terus saja menitikan air mata dengan cerita Hazel. Ia menengok ke arah Sofia yang hanya diam saja, tak menjawab apa-apa bahkan ketika ceritanya selesai. “Kau lagi kemasukan pasir ya? Tanyanya polos sambil menunjuk ke arah mata. “Ti-tidak. Itu kisah yang menyedihkan walaupun kau jelas menceritakannya tanpa emosi.” Sofia berusaha menjelaskan dengan tersedu. “Begitu ya. Tapi aku tidak berpikir begitu sekarang. Itu adalah takdir. Mau seberapa sedih aku, mereka tidak akan kembali. Iya kan? Coba yakinkan aku apa mereka akan kembali jika aku terus berputus asa atau menyalahkan diriku?” Hazel membuang muka ke arah lautan, langit yang tadinya merah muda kini biru bersih dengan bercak putih seperti bulu domba melayang.
Tidak ada jawaban dari Sofia, dan Hazel tidak memaksa dirinya untuk menjawab. Hazel membiarkan Sofia menenangkan dirinya sendiri setelah tersedu-sedu. “Dasar aneh. Menangisi cerita orang lain yang kau tidak ketahui dengan pasti, bukannya itu aneh? Yah… Mungkin orang aneh hanya bisa berteman dengan orang aneh.” Hazel tidak ingin mengatakan itu secara langsung kepada gadis yang memiliki hati yang lembut dan rapuh seperti Sofia.
“Hm.. maaf ya, ini kan kisahmu, tapi aku yang malah menangis. tapi… kalau kau ingin menangis juga, aku akan rahasiakan dari siapapun.” Tawar Sofia dengan polosnya. “Kau gila ya!” Nadya Hazel meninggi, dan terkekeh membuat Sofia ikut tertawa kecil.
“Tapi jika aku boleh jujur, aku sebenarnya juga ingin melihat dunia yang ibuku pernah lihat,” Sambung Hazel, wajah nya masih menatap lurus ke arah laut, dengan kedua tangan yang ia topang di atas pahanya.
“Maksudmu berkuliah?”
“Itukah sebutannya?” Tanya Hazel dengan wajah polos. Sofia mengangguk kepada Hazel.
“Tapikan aku hanya lulusan SD. Memang bisa? Dan jika aku mulai dengan mendaftar SMP, bukannya itu akan sangat memalukan,” Wajah Hazel memerah membayangkan dirinya di antara anak sekolah menengah pertama. Sofia menahan tawa dengan tangan kanannya, ia tidak mengira jika betul Hazel hanya memikirkan pekerjaan dan hobinya selama ini. “Bisa tapi mungkin akan butuh waktu sedikit lama, ada namanya sekolah paket untuk mempercepat dari 3 tahun menjadi beberapa waktu.” Jelas Sofia yang masih membuat Hazel bingung tentang banyak hal.
“Tenang…” Sofia memegang pundak Hazel, “Jangan berpikir terlalu keras, kau bisa memikirkan ini pelan-pelan..” Sofia menambahkan, “Dan kalau kau butuh informasi lainnya, bertanyalah, kepadaku atau Nadya. Dan aku akan mencoba mencari informasi terkait tempatnya. Hazel hanya menganggukan kepalanya, ia merasa sedikit khawatir membuat banyak orang melakukan sesuatu untuknya.