Pantai yang menjadi primadona lokal sebagai tempat menyapa mentari yang bangun dari tidurnya kini ada di hadapan Hazel dan Sofia, dengan ombak laut yang lebih tenang dari pantai di mana Hazel tumbuh besar. Jarak menuju ke pantai ini hanya sekitar 20 menit dengan kecepatan normal, dengan lebih sedikit pemukiman dan tidak lebih luas dari tempat Hazel tumbuh.
Keadaan sekitar lokasi pantai yang lebih sepi ketika hari kerja, membuat mereka lebih leluasa. Hazel memberi aba-aba untuk duduk di atas ayunan yang dibasahi embun dan menjadi lembab dengan semilir angin di antara mereka. Hazel mulai melepas alas kaki dan membiarkan telapak kakinya terbiasa dengan pasir putih yang lembut, mendorong badannya mundur dan membiarkan dirinya terbang dengan irama ayunan.
Lima menit lagi mentari akan muncul – Hazel tidak sabar. “Sejujurnya sudah lama aku tidak melihat matahari terbit,” Hazel sedikit berteriak saat ia sedang bermain ayunan. Sofia yang melihat dirinya yang sedikit kekanak-kanakan pun ikut duduk di sampingnya – ya ayunan itu memang di bangun sepasang. “Kalau aku, ini pertama kalinya.”
Hazel sedikit terkejut, ternyata ia bertemu orang yang tidak biasa. Ia masih asyik berayun-ayun maju dan mundur, yang semakin lama semakin melaju. “Hati-hati Hazy,” Sofia memperingati sambil terkekeh kecil. Spontan Hazel memberhentikan ayunannya. “Kau memanggilku apa tadi?” Tanyanya dengan memasang wajah serius.
“Ma-maaf, apa aku tidak boleh memanggilmu Hazy, kup-” Sofia sedikit gugup. “Ah bukan begitu. Sebenarnya aku sedikit terkejut. Nadya memanggilku begitu karena ia sering mendengar ibuku memanggilku begitu.” Hazel melanjutkan ayunanya pelan, ia sedikit mengangkat dan meluruskan kakinya, bergaya seolah terbang. “Bukan aku tidak boleh, tapi aku tidak terbiasa. Kadang aku juga melarang Nadya memanggilku begitu. Tergantung mood saja,” tambahnya.
“Oh begitu ya… Maaf ya aku tidak tahu. Aku juga- aku pikir lebih enak jika aku membuatnya jadi Hazy ketimbang vokal ‘El’. Aku tidak tahu kalau Kakak Sepupu juga memanggilmu begitu. Sekali lagi maaf jika lancang, aku bahkan be-”
“Sudah-sudah. Mau sampai kapan kau akan minta maaf?,” Hazel hanya tersenyum dan tak sekalipun ia memberhentikan ayunannya. Ia sangat menikmati angin yang ia terjang saat berayun, sebelum mentari benar-benar terang. Meski langit berwarna merah muda mulai menyelimuti langit di depan mereka dan memantulkan cahaya indah di laut biru, mentari masih belum juga menampakan keberadaannya – sepertinya ia malu.
Sofia hanya duduk di samping ayunan Hazel, ia sesekali membetulkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena terpaan angin yang diciptakan Hazel. “Aku tidak tahu banyak tentangmu, tapi tadi malam seluruh keluarga Nadya membicarakan mu dengan antusias. “Oh benarkah?” Tanyanya sambil tertawa kecil – bukan karena semua orang terus saja mengkhawatirkannya, tapi karena apa yang ia lakukan sangat menyenangkan. Ia tidak ingin sekalipun memberhentikan ayunannya yang semakin lama meninggi. “Memang cerita tentang apa? Pasti hal yang membosankan. Cuma dengerin cerita tentangku.” Tanyanya sekali lagi – meskipun jawabannya adalah iya, Hazel tidak peduli.
“Gak. Sebaliknya, ceritanya sungguh menarik. Dari cerita mendiang ayahmu ketika muda, dan ketika bertemu mendiang ibumu dan tumbuh besarnya kamu. Semua orang mengenal kamu dengan baik. Bahkan nenekku yang orang seberang juga mengenal mendiang ibu dan ayahmu dengan baik.” Sofia menjelaskan dengan khusyuk, wajahnya bersinar seolah menceritakan sang idola.
“Apanya yang menarik dari cerita orang yang sudah mati.” Jawabnya datar, “Dan gadis pantai yang biasa saja.” Hazel menahan setiap ingatan sedihnya jauh di lubuk hati dan mengunci agar tidak ada siapapun mengusik mereka – juga dirinya.
“Kenapa kau sangat dingin. Padahal tidak ada yang buruk dari cerita kehidupanmu.” Suara sofia menelan, saking pelannya terbawa oleh angin yang entah kemana. Matahari di depan mereka mulai menampakan dirinya perlahan, sedikit demi sedikit. Cahayanya yang memantul dengan permukaan laut, dan langit merah muda juga awan-awan yang putih bergerombol di sampingnya, membuat siapapun yang melihat takjub. “kau lihat itu Sof, cantik kan..” akhirnya Hazel memberhentikan ayunannya, bola matanya yang ke emasan memandangi karya Tuhan di depannya dengan seksama.
Hazel yang tidak mendapatkan respon dari Sofia, menoleh ke arahnya, memastikan sesuatu. Teman di sampingnya hanya diam termangu. “Sof,” panggilnya sekali lagi. Sofia mendongakkan wajahnya, dan melihat ke arah matahari yang bersinar, ”Ya… sangat cantik.” Ia mencoba mengabaikan hatinya yang gundah. “Jangan bohong,” balasnya menyadarkan Sofia.
“Maksudnya?” ia sedikit ragu dengan pertanyaan Hazel. “Aku bilang, jangan bohong. Orang yang sedih bagaimana bisa menilai. Kau kenapa? Walaupun suaramu tersamarkan dengan suara ombak dan angin, aku bisa dengar.” Ia tersenyum tulus kepada teman di sampingnya yang terlihat sendu.
“Maaf ya, aku sedikit iri dengan kamu…” Hazel tidak berkata apa-apa dan membiarkan teman di sampingnya melanjutkan seluruh keluh kesahnya – tidak peduli jika itu tentang keburukan dirinya.”Aku. Keluargaku, ayahku yang di penjara, ibuku meninggal setelah lama menunggu ayahku keluar dari penjara. Sekarang aku hanya tinggal dengan nenek. Aku iri, kau dikenal banyak orang, ayahmu, ibumu adalah orang baik yang membuat semua orang memuji mereka. Tapi tidak dengan ayahku. Semua orang mencemoohnya.”
“Itu bukan salahmu kok Sof…” Hazel meyakinkan Sofia dengan sungguh-sungguh, sembari menatap langit yang matahari semakin penuh keluar dari persembunyiannya.
“Mengenai ayahku, mungkin memang bukan salahku. Tapi tentang ibuku, itu salahku. Aku bahkan tidak bisa mengabulkan satu permintaanku. Aku sadar aku sangat egois.” Mendengar hal itu Hazel menjadi teringat berapa banyak keegoisan yang ia lakukan ketika Ibunya masih hidup – berapa banyak kenakalan dan ketidak aturan yang telah membuat ayahnya sakit kepala. Ia ikut menunduk merasakan dadanya memanas. Ia ingin ikut menangis, tapi ia sadar ini bukan waktunya. “Dasar bodoh, yang berlalu biarlah berlalu!”
“Aku hanya bisa mengatakan, aku turut berduka atas mendiang ibumu Sof dan hal lainnya, itu bukan kesalahanmu. Itu adalah takdir. Mau tidak mau kau harus menerima nya.” Ia hanya tertunduk lesu dengan tangan yang bertumpu di pahanya. “Merasa kehilangan itu hal yang wajar, tetapi jika kau terus berlarut-larut, maka kau juga bisa kehilangan dirimu sendiri.”
“Maafkan aku ya…” Sofia sedikit tersedu-sedu, “Aku mengacaukan ini.”
“Kau bilang apa. Jangan konyol. Kau bisa cerita apa saja yang kau mau. Tapi satu hal yang kau tidak boleh. Iri. Apalagi iri padaku. Itu hal bodoh, aku ini bahkan hanya lulus sd.” Hazel menenangkan Sofia yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia mengajak Sofia ikut tertawa.
“Kenapa?” Tanyanya masih tersedu dengan sisa mata yang sedikit memerah. “Maaf, maksudku bukan bermaksud lancang.”
“Tidak apa Sof. Berhentilah meminta maaf dan bersikap santai saja denganku. Kita kan teman.”
Hazel tiada hentinya tersenyum. Hazel berdiri dan menuju ke belakang Sofia, mendorong bahunya pelan meski telah di tolak beberapa kali olehnya.
“Tidak apa, kau harus merasakan bagaiamana enaknya berayun.” Ucapnya santai dan menyakinkan.