Menjadi Pusat Dunia (?)

1054 Words
“Lagipula, aku senang bisa mengobrol banyak tadi, dan bahkan kita masih menyambungnya di perjalanan. Bukankah ini membuktikan hubungan kita berkembang jauh.” Sambung Hazel tiba-tiba memecah kesunyian di antara mereka dan terkekeh kecil. Sofia yang melihat Hazel tanpa alas kaki ikut melepas sandalnya, membiarkan kakinya menyentuh pasir-pasir putih yang lembut. “Aku juga senang, aku berharap bisa mengobrol lebih banyak. Aku ini pemalu, tapi aku juga sangat senang bisa kenal kamu.” Tambahnya. “Ayo bertukar nomor,” ajak Sofia antusias. Dan diindahkan olh Hazel. “Aku biasanya selalu dikenalkan orang baru oleh kakakku, tapi kali ini aku sangat senang aku tidak bergantung padanya.” Pernyataan Sofia tidak mengejutkan Hazel, ia paham tentang situasi yang dialami Sofia. betapa menyebalkannya mempunyai kakak yang ingin ikut campur dalam banyak hal, tapi hanya dia satu-satunya keluarga yang Hazel punya saat ini. “Kau pasti bisa, tanpa bergantung padanya.” Hazel menambahkan sebelum ia berpamit karena arah mereka yang akan terpisah. “Aku boleh langsung mengirimi kamu pesan kan?” Tanya Sofia ragu-ragu, “Tentu, aku akan balas jika aku sedang tidak sibuk.” Berenang di sore hari benar-benar meningkatkan hormon endorfin miliknya, memicu hatinya yang berbinar bahagia, rasanya ia ingin bernyanyi ketika sedang membersihkan diri. Dan bercerita lebih banyak dengan Sofia, teman barunya. * Keadaan resto yang sepi tidak buruk juga, ia bisa sedikit bernafas lega, tapi tidak dengan pemasukan harian. “Hazel, hari ini kita makan malam bersama ya, nanti Nadya datang bawain masakan dari rumah.” Tiba-tiba ajakan paman mengagetkannya, ia yang sedari tadi hanya duduk di depan tv yang biasanya digunakan menonton berita – Ia tidak benar-benar menontonya. Jam menunjukan pukul 19:00, kami memulangkan bibi kasir lebih awal, karena memang resto akan sepi saat Minggu malam. Kamipun sebenernya hanya akan buka sampai jam 20:00. Setelah membalas dengan anggukan Hazel melanjutkan lamunanya yang ia tutupi dengan menonton televisi. 10 menit berlalu, samar-samar suara gaduh mulai mendekat dan membuyarkan lamunan Hazel. Benar kata Paman, Nadya datang dengan suara ributnya, seperti biasa. Bahkan ada Hendra juga. Dan gadis asing yang Hazel sudah kenali – ya si gadis pemalu, Sofia. Hazel tidak begitu terkejut, ia sering dihadiahi Tuhan dengan pertemuan dan takdir yang tak menentu. Ia menyukai aliran air yang damai dan bergelombang – ombak besar pun tak masalah. Sejak dulu, sebesar apapun ombak itu, ia akan tetap berdiri lagi, meski jatuh berkali-kali. Tapi tidak dengan Sofia, ia terkejut mendapati adik yang Nadya selalu ceritakan ialah Hazel itu sendiri. Mengingat ia pernah sedikit mengolok orang yang sama, mereka tersenyum penuh arti; seperti, ayo kita rahasiakan bersama cerita kita. Nadya yang terheran mengamati mereka berdua tersenyum ketika mata mereka bertemu. “Hazel, ini sepupuku, Sofia. Sof, ini Hazel,” mereka saling mengangguk dan penuh arti; kita pura-pura baru mengenal ya! Nadya membawa Nenek, Ibu, Hendra dan Sofia ke resto, mereka akan makan bersama. Meski restorannya sepi pengunjung, ada banyak kehangatan di sini, di tiap bangku dan di satu meja. Tawa mereka beriringan dengan deru ombak yang samar-samar tertelan hangatnya kebahagiaan yang di ciptakan oleh sekumpulan manusia yang berbagi kasih dan suapan. Meski kebahagian ini juga dibagi oleh Hazel, ia tidak benar-benar bahagia – bukan ia tidak senang dan tidak bersyukur. Ia hanya merasa ia tidak pantas menerima. Sebab ia bukan siapa-siapa, ia sama dengan Hendra, tapi Hendra akan terikat dengan keluarga Nadya oleh hukum, sedangkan dirinya tidak akan terikat sampai kapanpun. Mereka hanya menggenggam kepercayaan satu sama lain. Sampai kapan kepercayaan itu akan abadi? Hazel mengikuti irama yang diciptakan Nadya, humor dan candaanya, ia ikut tertawa – tapi tidak bahagia. Hazel tidak sadar, Sofia duduk di sampingnya menyenggol sedikit lengannya dengan lembut seolah memberi kode; aku melihatmu berpura-pura. Hazel hanya membalasnya dengan senyuman, mengisyaratkan ia baik-baik saja, jangan pedulikan dirinya. Ia akan terus larut entah sampai kapan tapi ia pasti akan terus bertahan di sini. Atau tidak. Tapi jika tidak, maka ia harus mencari tujuan baru. * Hazel menatap ponsel lebih lama hari ini sebelum tidurnya, memikirkan apa yang harus ia balaskan kepada Sofia agar hubungan mereka berlangsung lebih lama. Tiba-tiba pesan kedua Sofia muncul; Hazel, di mana aku bisa melihat matahari terbit? Jika di sini lokasi matahari terbenam. Hazel membalasnya; Ada pantai yang tidak jauh dari sini, kau bisa melihatnya di sana. Ia membalas dengan apa adanya, namun tak kunjung mendapatkan balasan kembali, kemudian Hazel mengirimkan pesan lagi; Kau mau aku membawamu ke sana? Pesan terakhir yang disambut antusias oleh Sofia. Hazel; Ok, besok aku tunggu di depan resto jam 5.30, jangan lupa membawa helm. Pesan terakhir yang Hazel kirimkan membuat ia terlelap setelahnya. Perasaan lega dan tidak khawatir berteman lebih jauh dengan Sofia membuatnya penasaran seberapa jauh mereka akan berteman. Ia menantikan takdir selanjutnya. * Pandji yang sudah berada di balkon rumahnya sedari tadi memandangi setumpuk pesan yang ia kirimkan kepada Hazel sejak pagi yang tidak kunjung mendapatkan balasan, entah kenapa ini membuatnya kesal dan gelisah. Ia ingin langsung datang menemui Hazel. Ia ingin menelpon langsung melalui nomor yang tertera di status iklan miliknya tetapi entah mengapa, ia ingin mendapatkan nomor itu langsung darinya. Kegelisahannya yang bercampur dengan rasa bersalah karena meneriaki Hazel membuat ia berfikir, “Mungkinkah ia sekarang membenciku,” ia termenung sesekali terlelap dalam lamunan dan pikiran yang ia buat-buat, “Haruskah aku kembali kesana lagi? Tapi besok aku ada kuliah di jam pertama” ia memegangi kepala menatap langit yang hari ini bulan tidak sendirian – beberapa bintang menemaninya – membuat kelompok kecil melingkari sang rembulan. “Sial!” ia menggerutu dalam diam. Pandji sedikit menyesal ia pulang lebih awal dari campingnya, ia harus mengantarkan teman-temannya. Ia yang membawa vannya, merasa tidak enak jika harus menolak permintaan pulang lebih awal yang teman-temannya minta. Ibunya yang sedikit posesif juga tidak akan mengizinkan dirinya membolos perkuliahan. Ayahnya yang strict pasti akan marah besar jika tahu ia lebih mementingkan perkemahan dibanding perkuliahan, bisa-bisa ancaman ayahnya akan benar-benar dilayangkan untuknya. Di saat ia menemukan Hazel yang telah lama ia cari. * Sofia merasa senang dengan ajakan Hazel, ia tidak sabar. Entah kenapa rasanya seperti perjalanan wisata saat musim liburan di sekolah – menegangkan. Sofia menyiapkan beberapa topik yang besok akan menjadi bahan percakapan dengan Hazel, ia sadar Hazel tipe yang sangat cuek, ia pasti tidak peduli dengan beginian. Tapi sebenarnya ia bisa lembut juga, terbukti saat ia memperlakukan papan selancarnya. Aneh, entah mengapa Hazel ada dipikiran semua orang. Padahal ia bukan pusat dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD