bc

Bayi Rahasia Sang Raja Mafia

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
contract marriage
one-night stand
forced
dominant
badboy
mafia
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Blurb

Alana, seorang pelayan bar sederhana, tak pernah menyangka satu malam yang kacau akan mengubah hidupnya. Setelah tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Damian Volkov, mafia paling ditakuti di kota, ia menemukan dirinya hamil.

Ketika mendengar rumor bahwa Damian tak segan menyingkirkan siapa pun yang mengancam kekuasaannya, Alana panik. Yakin bahwa bayi itu akan dianggap sebagai kelemahan yang harus dihapuskan, ia melarikan diri tanpa jejak.

Lima tahun kemudian, Damian menemukan fakta mengejutkan: wanita yang menghilang itu menyembunyikan seorang anak laki-laki yang memiliki mata persis seperti miliknya.

Kini Damian menginginkan satu hal.

Membawa pulang pewarisnya.

Namun Alana bersumpah akan melindungi putranya dari dunia gelap mafia, bahkan jika itu berarti harus melawan pria paling berbahaya di kota.

chap-preview
Free preview
1.Sang pelayan cantik
Klub Milik Sang Raja Mafia Dentuman musik elektronik mengguncang seluruh ruangan. Lampu-lampu berwarna biru dan ungu berputar di langit-langit, memantulkan cahaya berkilauan ke lantai marmer hitam yang mengilap. Aroma parfum mahal, alkohol, dan asap rokok bercampur menjadi satu, menciptakan suasana khas yang hanya bisa ditemukan di klub malam paling eksklusif di kota. Di tengah keramaian itu, Alana Hartono berjalan cepat sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. "Mohon permisi." Ia menyelip di antara para tamu dengan hati-hati. Senyum profesional selalu terpasang di wajahnya meski kedua kakinya mulai terasa pegal. Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Artinya, pekerjaannya bahkan belum mencapai setengah jalan. Sebagai pelayan di Black Crown, ia harus siap bekerja hingga dini hari. Black Crown bukan klub malam biasa. Tempat itu terkenal sebagai klub paling mewah sekaligus paling sulit dimasuki di kota. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke area VIP. Pebisnis besar. Politikus. Artis terkenal. Orang-orang kaya yang datang untuk menghabiskan uang mereka. Dan terkadang... Orang-orang yang tidak ingin identitas mereka diketahui. Alana tidak pernah bertanya terlalu banyak mengenai pelanggan. Ia sudah belajar bahwa rasa ingin tahu bisa membawa masalah. Apalagi di tempat seperti ini. "Alana!" Suara supervisor membuatnya menoleh. "Ya, Kak?" "Meja tujuh minta tambahan minuman premium." "Baik." Alana mengangguk lalu segera berjalan menuju area bar. Di balik meja panjang yang dipenuhi botol-botol mahal, para bartender sibuk meracik minuman. Salah satu dari mereka meletakkan beberapa gelas di atas nampan. "Untuk meja tujuh." "Terima kasih." Alana mengambil nampan itu dan kembali menuju area VIP. Namun baru beberapa langkah, seorang pria paruh baya yang tampak mabuk tiba-tiba meraih tangannya. "Hei, cantik." Alana menahan napas. Situasi seperti itu bukan hal baru. Tetapi tetap saja membuatnya tidak nyaman. "Maaf, Pak. Saya sedang bekerja." Pria itu tersenyum miring. "Duduklah sebentar denganku." "Saya tidak bisa." "Tidak bisa atau tidak mau?" Cengkeraman di pergelangan tangannya semakin erat. Alana berusaha tetap tenang. "Pak, tolong lepaskan." Untungnya salah satu petugas keamanan segera datang. "Apakah ada masalah di sini?" Pria mabuk itu mendecak kesal lalu melepaskan Alana. Tanpa mengatakan apa pun, ia kembali ke mejanya. Alana mengembuskan napas lega. "Terima kasih." Petugas keamanan hanya mengangguk sebelum kembali berjaga. Setelah mengantar minuman ke meja tujuan, Alana berjalan menuju area belakang klub. Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Begitulah pekerjaannya. Tidak semua pelanggan bersikap sopan. Kadang ada yang menganggap para pelayan sebagai barang yang bisa diperlakukan sesuka hati. Namun Alana tidak punya banyak pilihan. Ia membutuhkan pekerjaan ini. Sangat membutuhkan. Saat tiba di ruang staf, ia mengeluarkan ponselnya. Layar menunjukkan satu pesan masuk. Dari rumah sakit. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Dengan gugup, ia membuka pesan tersebut. Tagihan perawatan ibunya kembali bertambah. Alana memejamkan mata beberapa saat. Jumlahnya jauh lebih besar dari yang ia perkirakan. Tabungannya tidak akan cukup. Setidaknya tidak bulan ini. Ia menatap angka di layar ponsel cukup lama. Dada terasa sesak. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, semua beban keluarga berada di pundaknya. Dulu ia memiliki banyak impian. Ia ingin menyelesaikan kuliah. Ingin bekerja di perusahaan besar. Ingin membelikan rumah yang nyaman untuk kedua orang tuanya. Namun hidup ternyata memiliki rencana lain. Kecelakaan kerja merenggut nyawa ayahnya. Tak lama kemudian ibunya jatuh sakit. Semua tabungan habis untuk biaya pengobatan. Dan Alana terpaksa berhenti kuliah demi mencari nafkah. Black Crown bukan pekerjaan yang pernah ia impikan. Tetapi tempat itu menawarkan gaji yang jauh lebih besar dibanding restoran atau kafe biasa. Karena itulah ia bertahan. Meski harus pulang setiap pagi dengan tubuh kelelahan. Meski harus menghadapi pelanggan yang menyebalkan. Meski terkadang merasa tidak nyaman berada di lingkungan seperti ini. "Bu, aku janji akan cari uangnya," gumamnya pelan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku. Air mata tidak akan membayar tagihan rumah sakit. Ia harus terus bekerja. "Sedang melamun lagi?" Alana menoleh. Mia, salah satu pelayan lain, berdiri di sampingnya. Mia adalah teman terdekatnya di klub. Mereka hampir selalu mendapat jadwal yang sama. "Rumah sakit lagi?" tanya Mia. Alana tersenyum kecil. "Kelihatan ya?" "Jelas." Mia duduk di sampingnya. "Kondisi ibumu bagaimana?" "Masih harus kontrol rutin." "Semoga cepat membaik." "Terima kasih." Mia menepuk bahunya pelan. "Kamu kuat banget." Alana hanya tersenyum. Bukan karena ia kuat. Tetapi karena ia tidak punya pilihan selain bertahan. Tiba-tiba salah satu manajer berlari melewati lorong staf. Wajahnya terlihat tegang. Tak lama kemudian beberapa petugas keamanan juga bergerak lebih cepat dari biasanya. Suasana klub yang tadinya santai mendadak berubah. Alana mengernyit. "Ada apa?" Mia langsung berdiri. Matanya melebar. "Oh tidak." "Apa?" "Bos datang." Alana mengangkat alis. "Bos?" Mia menatapnya seolah pertanyaan itu sangat aneh. "Bos besar." Alana langsung mengerti. Hanya ada satu orang yang disebut begitu di Black Crown. Damian Volkov. Nama itu sudah seperti legenda di kota ini. Semua orang mengenalnya. Semua orang takut padanya. Rumor yang beredar tentang dirinya bahkan lebih banyak daripada berita selebritas. Konon ia memimpin organisasi mafia terbesar di kota. Konon ia mampu menghancurkan bisnis seseorang hanya dalam hitungan jam. Konon tidak ada yang berani menentangnya dan tetap hidup dengan tenang. Alana tidak tahu mana yang benar. Ia juga tidak tertarik mencari tahu. Yang ia tahu hanyalah Damian Volkov adalah pria yang sangat berkuasa. Dan orang seperti itu berada jauh di luar dunianya. "Dia jarang datang ke sini," bisik Mia. Alana ikut melihat ke arah pintu masuk utama. Musik masih berdentum. Para tamu masih menikmati malam mereka. Namun para pegawai kini berdiri lebih tegak. Seolah seseorang yang sangat penting baru saja tiba. Beberapa pria bertubuh besar berpakaian hitam memasuki klub lebih dulu. Mereka bergerak seperti pasukan yang telah terlatih. Tatapan mereka tajam ke segala arah. Kemudian seorang pria tinggi muncul di tengah-tengah mereka. Seluruh ruangan seakan berubah. Tidak ada yang berbicara terlalu keras. Tidak ada yang berani menghalangi jalannya. Jas hitam mahal membungkus tubuhnya dengan sempurna. Rahangnya tegas. Tatapannya dingin. Dan langkahnya penuh wibawa. Damian Volkov. Untuk pertama kalinya Alana melihat pria itu secara langsung. Bahkan dari kejauhan, aura yang dimilikinya terasa menekan. Seolah ia terbiasa memerintah dan semua orang terbiasa mematuhinya. Tanpa sadar Alana menahan napas. Entah mengapa pria itu membuatnya merasa gugup. Bukan karena kagum. Melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang terasa berbahaya. Sangat berbahaya. Seolah satu keputusan darinya bisa mengubah hidup seseorang dalam sekejap. Damian berjalan melewati area utama menuju lift pribadi di bagian belakang klub. Saat itulah, untuk sepersekian detik, kepalanya menoleh. Tatapan gelapnya menyapu ruangan. Dan tanpa sengaja bertemu dengan mata Alana. Jantung Alana langsung berdegup keras. Hanya sesaat. Sangat singkat. Namun cukup membuat bulu kuduknya meremang. Damian tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia segera melanjutkan langkahnya dan menghilang ke dalam lift. Tetapi entah kenapa, Alana tidak bisa melupakan tatapan itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
744.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
977.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
358.0K
bc

Not just, the Beta

read
347.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook