“Aku menginginkan kamu, sayang. Boleh aku melakukannya?” ujar Rifki dengan suara berat Melihat tatapan Rifki membuat Farah tidak tega. Mereka sama-sama ingin, namun di satu sisi Farah ingin segera pergi ke rumah sakit untuk melihat anak Cahaya. Farah mengelus pipi Rifki dengan lembut membuat laki-laki itu memejamkan mata menikmatinya. “Apa kamu sangat menginginkannya?” Perlahan mata Rifki kembali terbuka. Tatapannya bertemu dengan mata indah milik Farah. “Aku sangat menginginkannya.” “Tapi kita harus pergi ke rumah sakit.” “Kita bisa pergi setelah melakukannya. Aku tidak bisa menahan lagi, sayang.” “Tapi…” Cup Rifki mencium bibir Farah membuat perkataan perempuan itu terhenti begitu saja. Terlalu lama menunggu izin dari Farah, sedangkan dirinya sudah tidak bisa menahan diri

