Part 14-- Saksi

1006 Words
--Kebenaran memang sulit diucapkan, tapi jika kebohongan yang terucap, hanya akan membuat kesulitan lain. . . Paras Ishirou mulai lesu. Helaan napas keluar dari hidung pria asia itu. Setir mobil diputar sembilan puluh derajat. Setelah mematikan proyektor yang sempat memperlihatkan keadaan saksi pentingnya, pria itu kini merutuki diri sendiri. Ia tahu bahwa kebodohan yang telah diperbuatnya dulu akan mempersulit penyelidikan. Tak pernah terpikir, bahwa asumsi tentang manusia super sebagai pelaku pembunuhan berantai adalah sebuah kebenaran. Ya, manusia super, itulah kata yang terus diucapkan detektif kepolisian itu saat membaca artikel tentang riset Dokter Harold. Jadi kini jelaslah, bahwa Rei--saksi pentingnya-- adalah titik terang bagi penyelidikan pembunuhan berantai. Apalagi saat ia berbincang dengan Rei di proyeksi tadi, Rei mengatakan bahwa ingatannya telah kembali dan siap bersaksi lagi. Sembari menginjak gas mobil hitamnya, Ishirou bersenandung kecil. Segaris senyum tipis menghiasi bibir pria tampan itu. Ia menekan sebuah tuas, beberapa saat kemudian mobil hitam itu semakin cepat, lalu tampak melesat mengambang di jalan Kota Kyoto yang tak begitu padat Tidak lama bagi mobil canggih itu tuk sampai di rumah sakit yang diberitahu Rei. Akhirnya, setelah kebingungan mencari saksi penting itu selama tiga hari, Ishirou dapat menghubungi Yuuki dan mendapat informasi tentang mereka. Maka disinilah detektif itu melenggang dengan riang. Kasus yang tengah ia selidiki kini akan semakin jelas. Pria berumur tiga puluh tahunan itu menekan lift di tengah lobby rumah sakit yang penuh hiruk pikuk itu. Kedua kakinya melanglah ringan. Mata tajam milik detektif itu tampak tak bisa menahan antusiasnya. Keajaiban. Benar-benar suatu keajaiban ia dapar melihat hasil riset yang dulu ramai dibicarakan semua orang. Pria itu kembali menampakkan senyum di bibir. Namun, kini pikiran pria itu tengah meracau. Sesaat kemudian ekspresi bahagia di wajah putih itu berubah, dan sebuah seringai menggantikan senyum lembutnya. Pintu lift terbuka. Seorang dokter masuk. Entah mengapa, dokter itu memberikan sesuatu pada Ishirou. Setelah berbincang sebentar, dokter itu turun di lantai sembilan, tepat satu lantai di bawah lantai yang dituju si detektif.  *** "Apa kau akan mengatakan semua kebenaran tentang identitas kita?" Yuuki menopang tubuh semampainya dengan tangan kanan yang menekan sisi ranjang Rei. Pria itu sempat tak yakin dengan keputusan untuk membiarkan Rei menjadi saksi kembali. Ia tahu saudaranya itu bahkan akan dengan nekat ikut menyelidiki dan menyeret pelaku ke jeruji besi dengan tangannya sendiri. Namun, ia pun tak mau jika harus terus-menerus berbohong tentang identitasnya. Ia ingin bebas. Bebas dari status sebagai produk gagal. "Kau bahkan sudah tahu apa yang akang kulakukan, kan? Aku mendengarnya, jelas sekali." Yuuki menghela napas. Bodoh jika ia melupakan bahwa kemampuan Rei telah kembali, dan semakin bodoh jika ia terus menerus meracau dalam pikirannya sendiri yang akan dengan mudah dibaca Rei. Mata teduh pria itu kini menatap adik kandungnya yang hanya duduk pasrah di atas sofa tepat di sudut ruang rawat. Sejak Yuuki menghubungi Detektif Ishirou, Runa sudah memasang wajah lelah dan malas bicara. Pria itu tahu jelas alasan Runa bersikap seperti itu. "Berhentilah berwajah seperti itu, Runa. Rei sudah memutuskannya, dan kurasa lebih baik kita menemukan siapa dalang semua ini, dan kita dapat bebas dari teror ini." Sebelum Runa sempat menanggapi perkataan Yuuki, pintu ruang rawat terbuka otomatis. Sosok Detektif Ishirou masuk dengan tergesa. Senyum di bibir melengkapi kedatangan pria itu. Beberpa kata sapaan terdengat dari mulut pria itu sebelum duduk di samping ranjang Rei. "Tidak kusangka aku malah merengek untuk bertemumu kembali setelah tidak mempercayai kesaksianmu tempo lalu." Detektif kepolisian itu mengeluarkan buku catatan dari saku jasnya. Sebuah pena juga telah siap di tangan kanan pria itu. Sementara Rei sudah berada dalam posisi duduk sejak sebelum detektif iti datang. Yuuki dan Runa memutuskan untuk tidak mengganggu kesaksian Rei dan duduk di sofa sambil tetap mengamati keadaan. "Tak apa, salahku karena bersaksi dalam keadaan hilang ingatan. Namun, melihat kau yang mencariku dengan giat seperti itu, sepertinya kau telah mengetahui identitas kami sebenarnya." Ishirou tertawa kecil mendengar perkataan tajam Rei. Ia sudah tahu bahwa pria lawan bicaranya itu memang sedikit dingin dan selalu tepat sasaran. Sejak ia memberi kesaksian tempo lalu, Ishirou tahu lelaki itu punya kepribadian yang sangat nekat dan tak peduli dengan tanggapan orang lain. "Hm. Baiklah, kau pasti tahu jelas apa yang ada di pikiranku, aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya jika kau tidak mengatakannya dengan detil, kan? Jadi berikan kesaksianmu dengan detil dan tolong jawab pertanyaanku dengan jelas." Rei menatap pria di hadapannya dengan tajam. Sekilas terdengar suara di pikiran pemuda itu. Suara itu menyanggah pernyataan Ishirou tentang dirinya yang tidak mengetahui apa-apa. "Aku tahu kau pasti sudah tahu siapa aku sebenarnya, namun aku mengatakannya dan bersedia menjawab pertanyaanmu dengan satu syarat." Mata Ishirou menatap Rei heran. Sebuah syarat? Seorang saksi yang meminta sebuah syarat. Tentu bisa dikabulkan, namun detektif itu curiga dengan syarat yang akan diberikan. Setelah berpikir sesaat, detektif itu mengangguk, mengiyakan pengajuan syarat Rei. "Setelah aku memberikan kesaksian, izinkan aku untuk ikut menyelidiki dan mencari pelaku." "Kenapa? Biasanya saksi akan meminta perlindungan setelah memberikan kesaksian, tapi kau sebaliknya?" "Karena pembunuh itu sengaja melakukan hal ini untuk menyeretku keluar, maka aku yang akan menyeretnya ke penjara dengan tanganku sendiri." Seketika ruang rawat itu diserang kesenyapan. Yuuki dan Runa terkesiap, walau sebenarnya mereka sudah tahu bahwa Rei akan melakukan itu, tapi mendengar sendiri dari mulut Rei menambah kengerian yang dibayangkan oleh mereka. Sedangkan Ishirou tersenyum tipis, dan mengangguk. "Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku dengan benar, kau tahu kan hukum kesaksian palsu? Yang pertama, apa hubunganmu dengan killer, sang pembunuh?" "Dia saudara angkatku, hasil riset ayahku yang gagal." "Kenapa saat pertama kali bersaksi kau berasumsi bahwa dialah pelakunya?" "Dulu aku hanya tahu dia karena cerita Yuuki, tapi kini aku ingat, dialah orang yang pertama kali keluar dari rumah ayah dan memecah belah kami. Dia juga pernah mengatakan bahwa dia akan melenyapkanku?" "Kenapa kau yakin jika kasus pembunuhan berantai ini berhubungan denganmu?" Rei terdiam sesaat. Ia menghela napas berat. "Ciri-ciri korban mirip denganku dan lokasi pembunuhan selalu bergerak semakin dekat dengan posisiku." "Hm. Saat kesaksian pertama kau bilang dia dapat membunuh siapapun, apapun, kapanpun dan dimanapun, lalu kenapa dia repot-repot membunuh banyak orang jika hanya mengincarmu?" "Karena bukan Kak Ravell pelakunya, pelaku sebenarnya lebih monster daripada monster." Sesosok gadis kecil berdiri di depan pintu ruang rawat yang tengah tertutup otomatis. Dia menjawab pertanyaan Ishirou sebelum Rei sempat membuka mulut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD