Part 13-- Siuman

1079 Words
--Seberat apapun masalah haruslah dihadapi, karena lari bukanlah sebuah solusi. . . . Seoul, 2042 Nae sarangeun saeppalgan rose (My love is like a red rose) Jigeumeun areumdapgetjiman (It may be beautiful now) Nalkaroun gasiro neol apeuge halgeol (But my sharp thorns will hurt you) Nae sarangeun saeppalgan rose (My love is like a red rose) Geurae nan hyanggiropgetjiman (Yes, I may be fragrant) Gakkai halsurok neol dachige halgeol (But the closer you get, the more I’ll hurt you) (Rose- Lee Hi) "Warna suaramu masih saja tampak indah." Seorang wanita berjaket kulit bertepuk tangan, mengakhiri alunan indah dari wanita bergaun salem yang tengah berdiri di panggung kafe. Tatapan wanita yang sejak tadi mencuri perhatian para pengunjung kafe teralihkan ke arah wanita berjaket kulit itu. Bibir merahnya tersenyum. Suara tepuk tangan lain yang lebih meriah menutup  penampilannya, lantas dengan anggun ia turun menghampiri si wanita berjaket. "Apa Jepang dan Korea sangatlah dekat? Kau datang terlalu cepat, Sora." Senyum manis masih menghiasi bibir wanita bergaun. Lawan bicaranya--yang tadi memuji penampilannya-- tertawa kecil. Tangan kanan wanita itu-- Sora namanya-- merangkul si wanita bergaun. "Cepat? Kurasa aku cukup telat karena tak bisa menyaksikan warna-warna suaramu yang sangat indah." "Kau merindukanku, ya?" Tatapan Sora menajam, aura wajahnya berubah serius. Wanita bergaun itu terdiam sejenak, lalu helaan napas kecil keluar dari hidung mancungnya. Dengan sebuah isyarat, wanita bergaun itu mengajak Sora keluar dari kafe. Seakan tahu tujuan Sora mendatanginya, ia memanggil taksi dan menyebutkan alamat apartemen tempat ia tinggal. Tak lama, taksi itu melaju membawa mereka ke tempat yang dituju. Sebuah apartemen yang tampak sederhana menjadi tempat perhentian mereka. Kaki-kaki mereka dengan cepat memasuki lift tanpa bicara. Hingga akhirnya sampai di depan pintu sebuah kamar berwarna salem. "Apa ini sudah saatnya? Ucap wanita bergaun sambil menutup dan mengunci pintu rapat. Tak ada jawaban, hanya anggukan kecil dari Sora yang membuat tatapan wanita bergaun menajam. "Kau tak bisa menghentikannya, Sora?" "Tak bisa, dan kurasa tak ada yang bisa menghentikan rencananya kecuali dirimu. Dia, meski aku melakukan semua yang diinginkanya, dia malah semakin berambisi. Tinggal kau satu-satunya yang bisa menghentikan pikiran jahatnya." Wanita di depan Sora terdiam. Posisi berdirinya kini menurun sampai ia terduduk pasrah di lantai, bersandarkan daun pintu. Kedua tangan wanita itu menekan sisi kanan dan kiri kepalanya. Tak lama, ia kembali menatap Sora. Tatapan tajam penuh arti dan keinginan kuat. "Baiklah. Aku akan kembali menemui monster itu." Seketika sunyi menyerang kondisi kamar apartemen itu. Dua wanita yang saling bertatapan meyakinkan itu kini tahu pasti apa yang akan mereka hadapi. Keputusan untuk menghentikan seorang monster yang tentunya tak akan mudah.  *** Kyoto, 2042 Kak Rei! Suara gadis kecil dalam pikiran Rei membangunkannya. Mata pasien itu terbuka lebar tampak amat terkejut. Seketika Runa yang sejak tadi duduk menemani di sebelah ranjang terkesiap. Mata sembap wanita itu kini berkilau berbinar bahagia. "Rei! Kau sudah sadar? Syukurlah, Rei!" Butir-butir air mengalir perlahan dari nira mata indah wanita berambut hitam itu. Hampir saja ia kalap memeluk pria yang terus menerus ia khawatirkan, tapi kesadarannya menghentikan niat gila itu. Maka hanya menggenggam tangan yang mampu dilakukan wanita itu. "Gadis kecil... Hm... Yui?" gumam Rei pelan. Mata sayu pria berkulit putih itu masih tampak linglung. Mendengar gumaman Rei, Runa terpaku. Tubuh gadis itu seakan membeku karena kenyataan bahwa keberadaan dirinya bukanlah yang pertama kali disadari lelaki itu. Kenapa Yui? Terdengar sebuah bisikan lagi di pendengaran Rei. Lelaki itu tersadar dan menatap wanita di sampingnya yang masih bergeming. Senyum manis lelaki itu kini mengembang. Tangan kanannya tanpa sadar menyentuh pucuk kepala Runa. "Kukira bukan kau, Runa. Karena Runa yang kukenal selalu dengan menyebalkannya memanggilku Lei." Runa bergeming. Wanita itu tidak mengira bahwa lelaki di hadapannya akan melakukan itu. Sesaat kemudian kesadarannya kembali, lantas ia menepiskan tangan Rei, membuat pria itu menurunkan tangan dan tertawa kecil. "Dimana Yuuki?" "Kau hanya peduli pada Yuuki, padahal aku yang menunggumu sampai siuman!" "Hem. Banyak hal yang harus kutanyakan padanya, termasuk suara gadis kecil itu, Yui? Benarkah namanya Yui, sang perasa?" Mendengar nama itu diucapkan lagi oleh Rei membuat Runa tampak kesal. Wanita itu merengut. Helaan napas kasar didenguskannya. Kini ia menatap Rei intens, namun pria itu segera mengalihkan pandangannya. "Jangan pernah mencoba untuk membaca pikiranku. Ingat itu, Runa! Aku sudah mengingat semuanya, termasuk kemampuan kalian dan cara melakukannya." Runa terdiam. Wanita yang memakai blus biru muda itu menutup mata sesaat. Tak lama, ia kembali duduk di kursi dan mengambil sebuah tablet. Belum sempat ia menghubungi Yuuki dengan tablet itu, pintu ruang rawat terbuka. Tampaklah sosok pria berkacamata yang sangat mereka kenal itu. "Kau sudah siuman rupanya." Kaki Yuuki mengantarnya perlahan menuju ranjang rawat Rei. Mata teduh di balik kacamata pria itu kini tampak tertuju lurus pada Rei. Setelah jarak mereka berdua amat dekat, Yuuki mengelurkan ponsel biru laut dan menyodorkannya pada Rei. Tampak simbol huruf 'R' di layar ponsel itu. "Tahan beribu pertanyaanmu untukku. Ada hal yang lebih penting yang harus kau selesaikan." Ucapan Yuuki menahan gerak mulut Rei yang hampir panjang lebar mengeluarkan beribu pertanyaan di otaknya. Dengan terpaksa, Rei mengambil ponsel miliknya itu. Di layar ponsel itu tampak pemberitahuan email dan panggilan yang tak terjawab. Bukan sekali dua kali, tapi sampai lima puluh kali panggilan dengan nomor yang sama. "Detektif Ishirou?" Pertanyaan Rei dijawab dengab anggukan kepala oleh Yuuki. Sedangkan Runa masih menyimak arah pembicaraan dua lelaki di hadapannya dengan heran. "Sepertinya dia menyadari kebenaran kesaksianmu, atau malah dia sudah mengetahui dengan jelas tentang ayah dan kita." Ucap Yuuki dengan pandangan yang menyudutkan Rei. "Kalau begitu aku akan menghubunginya kembali. Berhubung ingatanku sudah kembali, pasti kesaksianku akan lebih dipercaya kali ini dan tentu saja jalan untuk menemukan pembunuh berantai itu akan semakin terbuka, bukan?" Dengan gerakan santai, jari jemari Rei hendak menghubungi Detektif Ishirou kembali. Dengan sigap tangan Runa menahan ponsel pria itu. "Rei! Kau baru saja siuman, dan kau pasti tahu jelas kalau dirimu belum mampu mengkondisikan kemampuanmu, kan? Berhentilah bertindak gila!" Dengan nada tinggi, Runa berseru. Amarah mewarnai rona wajah wanita cantik itu. Melihat adiknya seperti itu, Yuuki memegang tangan Runa, membuat wanita itu menatap heran padanya. "Biarkan Rei yang memutuskan, aku ingin tahu sampai mana dia akan berani menghadapi situasi ini." "Tapi, Yuuki..." "Jadi bagaimana Rei? Apa kau akan membuktikan bahwa bukan kau yang membunuh ayah dan menemukan dalang atas semua teror ini? Atau kau akan kembali memaksa dirimu melupakan semuanya dan lari begitu saja?" "Yuuki--!" Tatapan Runa tajam mengarah pada kakaknya. Rei terdiam sesaat, lantas mengambil kembali ponsel miliknya dari tangan Runa. Wanita itu terpaksa berhenti merutuki kakaknya karena ia dapat menerka keputusan lelaki di ranjang rawat itu. "Aku akan memberi kesaksian lagi dan menyelidiki siapa sebenarnya pembunuh berantai itu, tapi aku membutuhkam kalian, jadi bisakah kalian terus bersamaku?" "Dari awal kami terus bersamamu, dan seterusnya pun akan begitu." Yuuki menatap Runa untuk meyakinkan ucapannya. Wanita itu tersenyum lebar dan mengangguk pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD