Part 12-- Reuni

1114 Words
--Perpisahan pasti penuh kesedihan, walau kadang hanya luka yang ditinggalkan. . . . Kyoto, 2042 Bunga-bunga sakura berjatuhan dari ranting-rantingnya, menyisakan nuansa merah muda yang indah dinikmati mata. Seorang gadis kecil duduk di bangku taman tempat bunga-bunga itu berjatuhan. Kadang sehelai dua helai bunga jatuh ke atas rambut hitamnya yang dikucir kembar. Senyum bahagia dan siulan kecil dilagukan untuk menemaninya. Kedua kaki kecil gadis itu yang menggantung di pinggir bangku berayun bergantian. Tampak penuh kebahagiaan. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Kebahagiaan yang sejak tadi tampak di wajah gadis itu berubah menjadi aura penuh ketakutan. Detak jantungnya mulai terdengar rusuh. Ia mulai menoleh ke kiri dan ke kanan. Berharap tak ada hal buruk yang akan muncul. Tak lama kemudian, tubuh kecilnya pun bangkit dari bangku. Tas kecil yang sejak tadi ditaruh di atas bangku itu segera ia ambil dengan terburu. Bulu kuduknya seakan berdiri. Tatapan mata si gadis kecil menyiratkan ketakutan yang mendalam. Siapa? Dia! Orang itu ada di sekitar sini. Aku harus lari. Lari, aku harus bertemu kak Rei. Pikirannya meracau. Seakan memaksa pergi, suara-suara di hati gadis kecil itu terus saja bergema. Kaki-kaki kecil gadis kucir dua itu berlari sekuat tenaga, entah pergi ke mana. Jauh ia berlari. Napasnya tak beraturan. Rambut kucir dua berayun seirama dengan hentakan kedua kaki kecil si gadis. Hingga di ujung jalan ia berhenti, menahan tubuhnya yang limbung kelelahan dengan bersandar di batang pohon. Hembusan napas gadis itu terdengar jelas, membuat dia harus mengatur detak jantungnya. Ia memejamkan mata sesaat. Angin menyapu wajah mungil itu dingin. Tiba-tiba mata gadis kecil itu terbelalak. Ia mencoba menahan diri untuk tidak berteriak dan menutup mulut dengan kedua tangan kecilnya. "Kau takut denganku?" Terdengar suara seorang pria dari balik pohon tempat bersandar gadis itu. Detak jantung si gadis kecil itu semakin cepat. Kini, butir-butir keringat yang terasa dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Terdengar hembusan napas lelah dari pria asing di balik pohon. "Berhentilah berlari dan jangan merutukiku di dalam hatimu, Yui," ucap pria asing itu lagi sambil menampakkan wujudnya di depan si gadis kecil. Tampaklah wajah ngeri gadis itu. Bola mata yang membeku di tengah, napas yang ditahan terpaksa, dan badan yang bergetar hebat menggambarkan perasaan takut gadis itu. Kakinya mencoba untuk kembali berlari, tapi tangannya ditahan dengan kuat oleh si pria asing. "Sudah kubilang, berhentilah berlari, apa kau tidak akan mengasihani orang buta?" Mendengar perkataan si pria asing, gadis kecil itu menyerah melarikan diri. Seluruh tubuhnya dihadapkan ke arah pria itu. Sebuah keyakinan dan keberanian dipaksa menetap di pikiran si gadis kecil. Ia kini mentap si pria asing dengan mata berkedut, karena dipaksa menatap orang yang paling tak ingin ia temui. "A... apa mau... mu?" Mulut si gadis kecil mengeluarkan suara terbata. Terdengar hembusan napas kembali dari si pria sebelum ia menarik tangan si gadis dengan paksa. "Ayo bicara sambil duduk, aku lelah mengejarmu!" Terseret-seret menuju bangku yang tadi ia duduki, membuat si gadis terus mengaduh dan merutuki si pria asing. Tubuh kecilnya dipaksa menduduki bangku taman itu, sementara si pria asing mengambil duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan kanan gadis kecil itu erat. "Kau mencari 'anak itu', kan? Tapi, kenapa malah berlari sekencang itu saat menyadari kehadiranku, Yui?" Yui--nama gadis kecil itu-- bergeming. Bibir merahnya tak berniat terbuka untuk menjawab pertanyaan pria asing yang tampak kesal itu. Si pria kembali menghela napas. Namun, itu hanya menambah ketakutan di dalam hati Yui. "Katakan kenapa? Kenapa kau mencarinya? Apa kau merasakan perasaan saudara-saudaramu? Nada bicara si pria asing tampak dingin. Yui bergidik. Dengan paksa, dia menarik tangan kanannya dari genggaman si pria. Tatapan mata Yui tampak lelah dan takut namun seakan merasa bersalah. "Kak Hear, kau tahu jelas apa yang tengah terjadi, kan?" Dengan ragu, Yui menyebut nama pria asing itu. Tak sangka, ekspresi pria itu semakin dingin. Bola matanya yang kosong menambah kengerian di hati Yui. "Lalu kenapa? Apa kau ingin bilang kalau kau peduli?" Hear--pria itu-- bangkit dari duduknya. Bunga-bunga sakura jatuh di atas telapak tangan Hear yang ditadahkan. Aura seram dan ekspresi datar masih merajai raut wajah pria buta itu. Apa sekarang kau peduli?! Kau peduli ketika kita semua hampir saling membunuh?! Kenapa baru sekarang? Kenapa kau baru datang sekarang? Kemana kau? Kemana kau saat ayah mati di hadapan kami? Kemana? Kau bukan sang perasa! Kau bahkan tidak punya perasaan, Yui! Kata-kata amarah terngiang di kepala Yui. Kedua tangan gadis kecil itu langsung memeluk erat dirinya sendiri. Bola mata gadis itu menatap sekeliling dengan kaku. Bibir merah yang tadi sempat tersenyum sekarang tampak pucat dan kering. Saat Yui melawan suara-suara amarah dan pikiran yang menghakiminya, tangan besar Hear mengelus pucuk kepala gadis itu. "Jangan merasakan amarahku, aku tak pernah suka menatap wajah penuh ketakutan milikmu dan aku tak pernah suka membiarkan diriku terbawa emosi." Seulas senyum lembut menghiasi bibir si pria buta. Kepala Yui menengadah. Seketika hening dan sepi merajai suasana taman penuh sakura berjatuhan, hanya tangis si gadis kecil terdengar pedih, sesekali ucapan parau menyelingi tangisan itu. "Maafkan aku, maafkan aku, kak Hear, kak Rei, Kyouru, maafkan aku." *** Bunyi beraturan dari vital sign monitor memenuhi ruang rawat. Sejauh mata memandang hanya nuansa warna putih yang terlihat. Di atas kasur pasien, Rei berbaring. Selang-selang infus dan alat medis lainnya memenuhi sudut tubuhnya, termasuk alat bantu pernapasan menutup sebagian wajah pria berkulit pucat itu. Tiba-tiba mata pria berwajah pucat itu terbuka, napasnya tak beraturan, memecah kesunyian yang sejak tadi mengisi suasana. Tatapan matanya menerka keadaan. Seakan baru saja terbangun dari mimpi buruk, deru napasnya terdengar keras, meninggalkan titik-titik embun di alat bantu pernapasan yang lekat dengan hidungnya. Rei mencoba menggerakkan jemari tangannya, namun tubuhnya belum lancar merespon perintah dari otak pria itu, hanya gerakan kecil yang berhasil ia lakukan. Napasnya masih memburu. Pikirannya bercampur aduk. Terdengar suara-suara bising orang-orang yang tak dikenalnya. Tak lama kemudian, bayang-bayang semu orang-orang dan benda-benda asing memenuhi penglihatan pria yang tampak terkejut dengan kondisi dirinya. Ia mencoba melirik ke sekitar. Bola matanya bergerak perlahan dengan lemah. Deru napas yang semakin cepat membuat bunyi dari vital sign monitor menjadi tak beraturan. Sementara Rei masih saja menerima respon aneh dari kelima indranya. Semua suara, wujud, udara, dan segala hal yang tampak asing terekam di otak pria yang masih terbaring lemah itu. Rei Rei Rei, kumohon cepatlah sadar Rei! Terdengar jelas suara seorang wanita yang sangat ia kenal. Sosoknya terbayang di penglihatan Rei. Anehnya, suara dan sosok wanita itu mampu membuat Rei merasa lebih tenang. Napas yang terus tak beraturan sejak tadi kini mulai dapat ia atur. Matanya yang terbelalak, kini menatap dengan redup, sesekali tertutup, membuatnya mampu mengatur emosi di dalam diri. Beberapa saat kemudian, beberapa perawat masuk ke ruang rawat dengan terburu. Mereka bergegas mengecek tanda-tanda vital Rei, sementara dirinya masih terkulai lemas sambil terus berusaha menggerakkan badannya. Seorang dokter pun datang setelah beberapa saat, menanyakan beberapa hal mengenai kondisi fisik pada Rei yang hanya dijawab dengan diam. Seketika ruang rawat pria berkulit putih itu penuh hiruk pikuk dan bising suara para perawat dan dokter.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD