Part 11-- Khawatir

1488 Words
"Menangisi sesuatu yang telah terjadi, tak akan pernah mengubah apapun."-- Yuuki Hatsu. . . . Kyoto, 2042 Bau obat terasa pekat di udara. Nuansa putih memenuhi pandangan. Beberapa orang sibuk berlalu lalang, ada yang memakai kursi roda, memakai jas putih, menyeret tiang infus dengan kepala diperban, adapula yang tengah duduk di pinggir ruangan dengan mata sayu dan wajah kumal. Di sudut lain, tampak pula dua orang yang tampak gelisah di depan sebuah pintu kaca bertuliskan emergency room. "Berhentilah menangis dan menyalahkan dirimu sendiri." Yuuki, salah satu dari dua orang di depan ruangan kaca memegang pundak wanita di sampingnya--Haruna. Sejak Rei masuk ke ruangan itu, tak ada tanda-tanda ia akan keluar dari sana. Sunyi senyap melanda setiap harinya. Dokter-dokter yang keluar dari sana pun hanya mengatakan sepatah kata pada mereka lalu kembali sibuk dengan rutinitasnya. Mata Runa sudah amat sembap karena seharian menangis. Andai ada proyektor yang disediakan pihak rumah sakit untuk melihat keadaan pasien di dalam ruangan itu pastinya dia tak perlu menduga-duga keadaan Rei. Rasa bersalah mengubur hati dan pikiran wanita berambut sepundak itu. Menyadari bahwa dirinya tidak mampu menghentikan tangisan Runa, Yuuki menghela napas. Adik kandungnya ini terlalu sulit dihentikan jika sudah mulai menangis, dia sangat tahu itu, apalagi jika suatu hal buruk terjadi pada Rei, wanita itulah yang akan pertama kali menangis. Seketika, tangan lelaki berkacamata itu mengelus pucuk kepala adiknya yang terus mengulang nama Rei. "Menangisi hal yang telah terjadi tidak akan pernah mengubah apapun." Ucapnya datar. Pandangannya dingin nan sayu. Ucapan itu membuat mata cantik Runa menoleh ke arahnya. Tangan wanita tomboy itu menyeka air mata yang masih tergenang di pelupuk. Sepi kembali menemani mereka berdua. Tak lama kemudian, pintu kaca di depan mereka terbuka. Seorang lelaki paruh baya sedikit tambun berjas putih keluar dari sana dan menghampiri mereka. Kacamata bulatnya dilepas sebentar hanya untuk dibersihkan lalu dipakaikan lagi di sela telinga, lensanya kini menutup mata sipit lelaki paruh baya itu. "Tuan Yuuki Hatsu?" Suara bass pria itu sedikit tidak cocok dengan perawakannya, tapi membuat orang yang mendengarnya merasa segan. Mendengar namanya disebut, Yuuki menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Hm, dan nona Haruna Hatsu?" Kini giliran Runa yang mengangguk. Kedua tangannya tergenggam erat di depan perut, dia selalu melakukan itu jika merasa khawatir. "Boleh aku berbincang dengan kalian mengenai pasien Rei Harold?" "Bagaimana keadaanya, dok? Kenapa dia masih di ruang emergency walau sudah dua hari berlalu? Apa terjadi sesuatu yang fatal pada dirinya?" Tanpa menjawab pertanyaan si dokter, Runa menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Tangan kanan Yuuki segera menggenggam tangan kiri Runa sebagai isyarat agar ia menghentikan pertanyaannya. "Itulah yang ingin saya bicarakan dengan kalian sebagai keluarga angkat pasien, silakan ikut ke ruangan saya." Setelah saling bertatapan sesaat, kedua saudara kandung itu pergi mengikuti si dokter yang sudah berjalan duluan di depan mereka. Tampak jelas kekhawatiran yang besar di rona wajah mereka. "Kami sudah melakukan MRI pada pasien, tapi keadaan pasien benar-benar sulit dimengerti." Pria paruh baya berjas putih menggenggam kedua tangannya di atas meja. Sesaat kemudian, ia menekan tombol di ujung mejanya. Sebuah proyeksi memenuhi dinding putih seketika tombol itu diaktifkan. Di proyeksi itu tampak gambar otak manusia, di sekelilingnya terdapat tulisan-tulisan yang menjelaskan keadaan otak itu. "Ini adalah hasil MRI dari otak pasien Rei Harold. Menurut pemeriksaan, pasien memang menderita retrograde amnesia, tapi yang kami tidak mengerti adalah kemampuan otak pasien yang memungkinnya mencegah amnesia. Maksudnya, otaknya sebenarnya mempunyai daya ingat yang kuat dan kemampuan yang membuat saya heran, setiap sel otaknya bekerja maksimal, seakan-akan pasien dapat melakukan semua hal, dan seharusnya amnesia tidak terjadi padanya." Yuuki dan Runa-- yang sejak tadi duduk berseberangan dengan si dokter-- bergeming. Mereka tahu dengan jelas mengapa Rei menderita amnesia. Sayang, tak ada sepatah kata pun yang bisa mereka ucapkan. "Apa kalian tahu tentang kemampuan pasien ini?" Napas berat keluar dari helaan Yuuki. Mata teduh di balik kacamata pria itu terpejam sesaat. Pikirannya memutar, meracau, bertengkar, penuh dengan pro kontra, antara memberitahu fakta atau diam menyembunyikan semua kebenaran. "Rei berbeda, dia tidak sama dengan kami, tidak juga dengan orang lain." Suara parau keluar dari lisan Yuuki. Lelaki itu menyerah dengan pikiran kontra yang mengatakan untuk menyembunyikan kebenaran. Tak dapat dipungkiri, keadaan ini membuatnya terpojok dan hanya berpikir untuk menyelamatkan Rei. Wajah pria baya berjas putih itu tertegun, menatap penuh tanda tanya ke arah Yuuki, begitu pula dengan Runa yang seakan tidak percaya bahwa kakaknya mau memberitahu rahasia mereka. "Apa maksud anda? Jadi pasien memang mempunyai kemampuan khusus? Tunggu dulu, apa ini ada kaitannya dengan Dokter Rajua Harold?" Bola mata Yuuki membeku di tengah. Detak jantungnya mulai tak beraturan saat nama ayah angkatnya disebutkan. Kini, semua fakta yang susah payah ia kubur sejak dua puluh tahun lalu akan terkuak perlahan. Tatapan lelaki bermata teduh itu seakan bertanya dari mana si dokter mengetahui perihal ayah angkatnya. Si dokter duduk dengan wajah yang penuh dengan antusias kepada dua orang di depannya. "Jangan terlalu heran jika saya tahu tentang riset DNA milik dokter Rajua Harold, apalagi nama lengkap pasien langsung mengingatkan saya dengan ilmuwan Moskow yang hebat itu. Jika benar pasien adalah hasil dari riset dokter Harold, apa kalian berdua juga terkait dengan riset itu?" Lagi-lagi hanya senyap yang memenuhi ruagan itu. Helaan napas keluar dari lubang hidung Runa, wanita itu kini menahan hasratnya untuk menjelaskan kondisi mereka secara detil. Pasalnya, bagi mereka, tidak ada perasaan yang kuat berhubungan riset dokter Harold, hanya ada rasa kecewa yang tersembunyi di lubuk mereka. "Ya, kami hasil risetnya yang gagal." Pernyataan Yuuki membuat mata indah adik kandungnya terbelalak. Sejak tadi, tak terpikir oleh wanita itu bahwa kakaknya akan mengatakan kondisi dan status mereka dalam riset itu. Pikirannya sempat terguncang mendengar kata 'hasil riset yang gagal' dari Yuuki. Kata-kata itu bagai beribu jarum yang menembus permukaan kulitnya. "Gagal? Hm. Aku mengerti jadi kalian tidak memiliki kemampuan sesempurna pasien Rei?" Yuuki mengangguk diikuti oleh Runa yang telah berdamai dengan rasa kecewanya. Pria paruh baya di depan mereka berdiri dan mengambil sebuah tablet, dia menyentuhnya dan keluarlah sebuah proyeksi. Di sana, artikel dan jurnal ilmiah milik Dokter Rajua Harold lengkap tertulis. "Tak ada dokter di seluruh dunia yang tak mengenal beliau, tapi bisa bertemu dengan anak-anak luar biasa hasil ciptaannya membuatku merasa terhormat." Lelaki berjas putih itu kinu tersenyum takjub pada dua orang yang masih duduk terdiam di depan meja kerjanya. Sebuah tatapan tajam diarahkan Yuuki ke arah lelaki itu, membuatnya tertawa kecil. "Apa yang kalian takutkan sampai harus menyembunyikan identitas kalian? Tapi itu jelas bukan urusanku, kami para dokter punya kode etik yang melarang memaksa seseorang untuk menjelaskan kondisi tubuhnya secara detil, kecuali jika mereka memang mengizinkan, jadi bolehkah saya mengambil sampel darah kalian?" "Untuk apa? Bukankah pasien anda adalah Rei Harold dan bukan kami, dan seharusnya anda juga sudah melakukan tes darah pada Rei, bukan?" "Hem, ada benarnya, baiklah, sekarang saya akan beritahu hasil tes darah pasien. Tentu itu membuat saya terkesan, saya tidak pernah melihat langsung hasil riset DNA milik Dokter Harold, dan saat melihatnya, saya akhirnya memutuskan untuk berbincang dengan kalian." Bola mata Yuuki dan Runa tampak bingung. Pria paruh baya yang masih melihat proyeksi jurnal Dokter Harold tersenyum kecil. "Kau... Kau sudah tahu semuanya sejak awal dan sengaja berbincang dengan kami hanya untuk mengakui identitas kami?!" Sorot mata lelaki berkacamata bertubuh tinggi itu tampak marah. Tangan kirinya tergenggam kuat, sementara tangan kanannya mencengkram pinggir meja. Runa yang ada di sebelahnya mengerutkan kedua alisnya, rasa takut menguasai jiwa dan tubuhnya. Pikirannya meracau tentang kemungkinan buruk yaitu dijadikan bahan eksperimen dokter ini. Si pria berjas putih nan tambun itu tertawa. "Tenanglah, saya melakukan hal itu karena tidak percaya dengan hasil pemeriksaan dan mencoba untuk meyakinkan diri saya," Tubuh tambunnya sekarang kembali berjalan ke depan mejanya, mengambik duduk tepat di belakang meja itu. Matanya kini tampak serius mengarah pada dua orang di depannya. "Yang terpenting, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Semua hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pasien Rei Harold seharusnya tidak mengalami amnesia, kecuali dirinya sendiri yang sengaja menghilangkan semua memori yang tidak ia inginkan, dengan kata lain amnesia karena trauma psikis. Apa saya boleh tahu apa yang menyebabkan trauma ini?" "Apa yang akan kau lakukan jika mengetahuinya?" Lagi-lagi tatapan tajam Yuuki mengarah pada pria berjas putih itu. Kini, pria itu mencoba tersenyum manis dan meyakini pemuda berkacamata itu. "Saya adalah dokter yang bertanggung jawab atas pasien Rei, jadi saya perlu mengetahui hal itu. Tenang saja, sebagai dokter, saya tentunya tidak akan membocorkan informasi pribadi pasien." Setelah terdiam sejenak, Yuuki menceritakan kisah panjang tentang Rei. Setiap kata yang diucapkannya seakan satu jarum yang menusuk hatinya, karena sekali lagi dia harus mengingat kematian ayah angkatnya, ayah kandung Rei dan awal dari kehilangan saudara-saudaranya. Fakta yang terkubur sekian lama di hatinya kini muncul ke permukaan, membuat detak jantungnya tak beraturan, dan seluruh tubuhnya merasakan sakit yang berpusat di otaknya. "Jadi begitu, baiklah, saya sekarang mengerti kondisi pasien Rei dan juga kalian berdua. Jika tidak keberatan, saya mengajukan diri untuk menjadi dokter pribadi pasien Rei Harold setelah kondisinya pasca siuman nanti," Pria tambun berkacamata bulat itu mengulurkan tangannya dengan seulas senyum. Pikiran Yuuki yang curiga berubah menjadi percaya. Raut wajahnya tampak lega, begiti pula degan Runa yang ada di sampingnya. Dengan senyum tulus, tangan kanan Yuuki menyambut tangan si pria berjas putih. "Ah, saya hampir lupa memperkenalkan diri, saya Dokter Takashima Hori, spesialis bedah saraf dan seorang neurolog di rumah sakit ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD