"Semakin kau mencari tahu tentang sesuatu, semakin kau sadar akan kebodohanmu"-- Mizukawa Ishirou.
.
.
.
Kyoto, 2042
Hawa dingin merasuk ke tubuh Ishirou saat ia memasuki ruangan serba putih. Lantai dan tembok ruangan itu putih, di dalamnya hanya ada lemari besi yang memiliki laci besar berwarna putih juga. Langkah kakinya berjalan melewati ubin-ubin yang tampak bersih mengkilap, mengikuti seorang pria yang memakai baju khas laboratorium.
Ia berhenti tepat di sebuah laci besar. Pria yang bersamanya menekan sebuah tombol di samping salah satu laci besar. Tak lama kemudian, laci itu bergeser ke depan, memamerkan isinya. Seonggok mayat beku yang terselimuti kain putih pun tampak terbaring di atas laci itu.
Pria yang bersama Ishirou mempersilakannya untuk memeriksa mayat itu. Tangan kanan detektif kepolisian itu membuka kain putih yang menutup tubuh si mayat. Tampak lebam biru di d**a mayat pemuda itu. Walau sudah membeku, lebam itu masih tampak jelas.
"Ini korban yang terakhir kemarin, Pak."
Perkataan pria di seberangnya membuat Ishirou mengeluarkan buku catatan kecil. Kini jemarinya tampak erat dengan pena yang mulai menggoreskan sesuatu di buku itu. Sesaat setelah itu, sebuah senter kecil dikeluarkan dari saku jas hitam yang dikenakan pria berahang tegas itu. Mata mayat ditahan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan menyalakan senter tepat di depan mata itu.
"Sudah kuduga, ciri-cirinya benar-benar sama persis." ucapnya dengan seulas senyuman di bibir yang mulai memutih kedinginan. Senter dimatikan, kini ia menyentuh beberapa bagian tubuh mayat dengan tangan yang terbungkus sarung karet putih.
"Apa yang satu ini juga tidak mempunyai bekas luka?" tanyanya pada pria di seberang si mayat.
"Seperti yang anda lihat, memang begitu, tim forensik kami sudah memeriksa dengan teliti, namun tak ada bekas luka apapun."
"Apa itu berarti kondisi mayat sama seperti korban sebelumnya?"
"Benar, Pak. Walau pihak investigasi mengatakan bahwa korban dibunuh, tim kami tidak menemukan tanda yang membuktikan bahwa korban dibunuh, begitu juga di mayat korban-korban sebelumnya."
Bibir Ishirou tampak memamerkan senyuman kecilnya. Mata pria tampan itu berbinar seperti tengah mendapatkan hal yang amat berharga. Lantas ia mengakhiri pemeriksaan. Pria di seberangnya menekan kembali tombol dan laci mayat itu bergeser masuk kembali seperti sedia kala. Langkah-langkah kaki dua orang lelaki itupun pergi meninggalkan ruang penyimpanan mayat tersebut.
***
Wajah tampan milik detektif berumur tiga puluh tahunan itu tampak serius. Matanya tajam tertuju pada baris-baris kata di buku catatan kriminal. Beberapa kali, ia tampak menoleh ke layar proyeksi di depannya yang tengah memperlihatkan sebuah artikel berita.
"Sungguh suatu kesalahan besar, Ishirou."
Ia bergumam merutuki dirinya sendiri. Helaan napas tertiup pelan dari hidung mancung lelaki itu. Kini buku catatan ia diletakkan di meja. Mata tajamnya membaca setiap baris kata di artikel itu dengan teliti.
Jika ini sebuah pembunuhan, maka mungkin hanya manusia berkemampuan super yang bisa melakukannya.
Tangan kiri lelaki berjas hitam rapi itu menekan sudut kepalanya. Ia teringat dengan candaan salah satu rekan di bagian forensik.
Manusia super, ya?
Saat lelaki itu masih asyik dengan pikirannya, seorang pria mengetuk pintu ruangan kerja itu. Ishirou membolehkan pria itu membuka pintu dan masuk sendiri ke dalam. Kini pria berkemeja putih dengan tanda pengenal yang tergantung di leher sudah berada di depan meja Ishirou.
"Apa dia tetap tak mengaku?" ucap detektif yang cukup tinggi jabatannya di kepolisian Kyoto itu.
"Ya, Pak. Kami sudah membawa tersangka ke ruang penyelidikan berkali-kali, tapi dia tetap tak mengaku telah melakukan percobaan pembunuhan kepada mahasiswa di mini market itu."
"Apa ia terus mengatakan kalau ia tak mengingat apapun?"
"Benar, Pak."
"Baiklah, antar aku ke sana, biar aku yang berbicara dengan si tersangka."
Perkataan tersebut diucapkan Ishirou sambil beranjak dari kursinya. Ia dan pria tadi berjalan bersama keluar ruangan. Mereka berjalan bersisian di koridor menuju ruang penyelidikan tersangka.
"Bagaimana dengan kasus yang terakhir, Pak. Bukankah saat kasus itu terjadi, tersangka sudah kita amankan?" ucap pria yang berjalan bersama Ishirou dengan wajah penuh tanda tanya. Matanya menoleh ke arah Ishirou dengan tatapan penasaran.
"Itu juga yang sedang kupastikan. Ah, apa kau tahu tentang sebuah temuan pembentukan DNA sempurna dua puluh tahun yang lalu?"
"Maksud anda temuan seorang dokter di Moskow yang sempat meraih penghargaan Nobel?"
Mata Ishirou terbelalak. Ia menghentikan langkah, membuat pria yang berjalan bersamanya ikut berhenti. Buku catatan dikeluarkan detektif itu dari saku. Dengan panik, ia membuka lembaran-lembaran buku itu, lalu menghadapkan badan ke pria di sebelahnya.
"Beritahu padaku apa yang kau tahu tentang itu!"
Pria di depan detektif itu tergagap. Bola matanya memutar ke sudut atas. Ia tampak mengingat sesuatu.
"Saya pernah membaca berita ini dulu. Kalau tak salah seorang dokter terkenal di Moskow mencari dan mengambil beberapa janin dari seluruh dunia. Ada sepuluh orang tua yang rela jabang bayinya dijadikan percobaan oleh dokter itu. Lalu kudengar percobaan pertama tidak berakhir sempurna, anak-anak itu malah memiliki kemampuan-kemampuan aneh. Tapi, beberapa tahun kemudian percobaannya berhasil dan si dokter meraih penghargaan Nobel atas riset itu."
Kepala Ishirou terangguk-angguk. Mata pria itu menampakkan sinar berbinar saat tangannya terpaut pada kalimat-kalimat yang tengah tertulis di buku catatan. Kini tatapannya beralih ke pria di depan.
"Kurasa kau punya ingatan yang sangat baik. Penjelasanmu sama dengan apa yang k****a di artikel berita tadi."
Sebuah senyuman lebar tersungging di bibir pria tiga puluh tahunan itu. Ia tampak puas dengan penjelasan pria di depannya. Sebuah titik terang dalam penyelidikan telah ditemukan. Lantas pria itu pun mengajak rekannya kembali berjalan menuju ruang penyelidikan.
Sesampainya mereka di sana, seorang pria berjanggut lebat tak terurus telah menunggu mereka. Pria berbaju tahanan itu duduk bergeming di sisi meja penyelidikan. Ishirou mengambil tempat duduk di seberangnya. Sinar di mata pria itu melemah, barangkali lelah karena seharian terus menerus ditanyai hal yang sama oleh penyidik.
"Apa kau masih menyangkal fakta bahwa kau pelakunya?"
Ishirou mulai membuka pembicaraan dengan nada mengecam. Menuntut dan menyudutkan lawan bicaranya dengan tatapan tajam dan wajah dingin seperi es.
"Harus berapa kali kukatakan pada kalian, aku tidak tahu apa yang waktu itu kulakukan. Tiba-tiba aku ada di mini market itu dan seorang pemuda hampir memukulku. Aku sama sekali tak ingat apa yang terjadi sebelumnya."
Nada bicara tahanan itu sedikit meninggi. Tangan kanan Ishirou merogoh isi saku dan mengeluarkan buku catatannya. Berharap ada beberapa titik terang lagi yang akan ia temukan dalam kasus pembunuhan berantai ini.
"Apa kau ingat siapa orang yang kau temui sebelum kau kehilangan kesadaranmu?"
Pena di tangan kanan detektif tiga puluh tahun itu diketuk-ketuk ke meja. Si pria lawan bicaranya nampak berusaha mengingat sesuatu. Tak lama, ia menggelengkan kepala.
Ishirou menghela napas. Pikiran detektif kepolisian itu berkutat pada artikel berita yang ia baca sebelumnya. Matanya terpejam sesaat.
Yang kutahu dia bisa membunuh apapun, siapapun, di manapun.
Kesaksian mahasiswa yang terkahir ia temui terngiang di kepalanya. Lantas tubuh tinggi semampai itu beranjak dari kursi. Detektif itu kini meyakini satu hal, bahwa ia telah melewatkan sesuatu.
"Semakin kau mencari tahu tentang sesuatu, semakin kau sadar akan kebodohanmu." gumamnya dengan nada menyesal.
"Apa, pak?" Rekan yang menemani detektif itu ke ruang penyelidikan menatap heran. Rasanya ia mendengar Ishirou mengatakan sesuatu dan mengira itu perkataan untuknya.
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya merutuki kebodohanku sendiri. Ah, kembalikan saja tersangka itu ke ruang tahanannya, ada sesuatu yang harus kuselidiki sebelum membawanya ke pengadilan."
Setelah mengatakan itu pada rekannya, Ishirou melangkah dengan cepat keluar dari ruangan. Gerakan kaki pria berambut hitam itu dengan cepat menuju parkiran Kantor Polisi Kyoto. Lampu depan sebuah sedan hitam berkedip saat ia menekan tombol pada remote kecil yang digenggamnya. Dengan cepat, mobil itu melesat setelah sang pemilik mengendarai dengan wajah kesal dan sorot mata yang tampak panik.