Kenyataan dan harapan seringkali bertentangan, tapi hidup harus terus berjalan.
.
.
.
.
.
Gadis kecil yang sejak tadi masih dalam pandangan Rei sekarang sudah berpindah tempat. Ia terbaring di sebuah ranjang laboratorium. Harold ada di sisinya dengan segala peralatan medis.
"Apa ini berbahaya?"
Suara gadis kecil itu amat pelan hampir tak terdengar. Harold memakai maskernya, lalu mengangguk pasti ke arah gadis kecil itu. Ia seakan berkata semua akan baik-baik saja.
Dengan sebuah suntikan ke dalam selang yang tersambung ke gadis itu, tak berapa lama gadis kecil itu pun tertidur. Sementara Harold menusukkan beberapa jarum yang terhubung dengan alat-alat lain. Ia tampak mengambil sampel darah si gadis dan melihat unsurnya di dalam mikroskop.
Kini apa yang dilihat Rei adalah sebuah penerapan CRISPR Cas 9. Namun, anehnya resipien adalah orang yang sudah hidup sebelumnya, bukanlah sebuah DNA dalam janin. Dahi Rei mengkerut. Ia tampak heran dengan apa yang dilakukan ayahnya. Ia tahu Harold memang terkenal sebagai dokter yang hebat, tapi ini di luar ekspektasi Rei.
Setelah pengecekan darah, Harold memasukkan darah gadis kecil itu ke dalam sebuah alat. Dengan sekejap jaringan DNA dalam darah gadis kecil itu terpampang di layar alat tersebut. Harold mengutak-atik alat itu beberapa lama sebelum akhirnya ia pergi ke sebuah benda milik brangkas di salah satu sudut laboratorium. Kilauan sinar ungu bersinar dari dalam brangkas itu saat dibuka. Beberapa bungkus serbuk berkilau ungu diambil Harold dari brangkas.
Mata Rei terbelalak saat melihat proses selanjutnya. Ayah pemuda itu mencampur serbuk ungu itu ke dalam darah gadis kecil. Lama ia berkutat di depan layar alat pendeteksi DNA itu. Bola mata Harold tampak bersinar. Ia tampak baru saja menemukan kunci dari penelitiannya. Rei berjalan mendekati memori ayahnya itu. Mata pemuda terpaku saat melihat layar yang menampilkan benang DNA yang luar biasa. Itu bukan seperti DNA manusia biasa. Dengan hanya melihat bentuknya saja, ia tahu rancangan dalam DNA itu.
Harold beralih dari layar DNA tersebut. Ia memasukkan sampel darah si gadis yang telah dicampur dengan serbuk ungu misterius itu ke dalam ampul. Beberapa menit kemudian, ampul itu sudah disuntikkan habis ke dalam tubuh si gadis.
Mendadak, tubuh gadis kecil itu bergetar hebat. Alat pendeteksi jantung yang dipasang di tubuh gadis itu menunjukkan detak tak normal di layarnya. Harold tampak panik. Ia menyuntikkan beberapa cairan penenang kepada gadis kecil itu. Lagi-lagi matanya mengamati alat-alat yang ia pasang di tubuh si gadis kecil. Syukur, tubuh gadis kecil itu kembali tenang, begitupun detak jantungnya.
Harold memejamkan mata sesaat. Tangan kanannya mengelus tangan si gadis. Lelaki itu kemudian membuka maskernya dan keluar dari laboratorium.
Sekeliling Rei kembali berubah. Ia sekarang tengah melihat Harold memeluk istrinya.
"Kita berhasil Risanna. Formulanya! Kita berhasil menemukan formula DNA yang sempurna!"
"Bukan kita, Harold. Kau lah yang menemukannya."
Memdengar ucapan istrinya, Harold mencium bibir wanita itu.
"Tidak. Ini keberhasilan kita. Karena tanpa kau, aku tak akan bisa sampai dalam kesimpulan ini. Tapi, Risanna, aku akan kehilangan kau demi semua ini."
Mata Risanna menatap suaminya heran. Namun itu tak lama, senyum tipis menghiasi bibir wanita asia itu. Wanita itu menggenggam tangan Harold.
"Kematian bukan sebuah perpisahan....,"
Risanna mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit karena kehamilannya.
"Kematian hanya sebuah takdir Tuhan yang mungkin membawa kebahagiaan yang lain."
Setelah mendengar ucapan itu, pemandangan di hadapan Rei berubah lagi. Ia kembali ke laboratorium. Gadis kecil yang menjadi bahan percobaan Harold sudah tersadar. Harold membawakan secangkir teh untuk gadis kecil itu.
"Siapa namamu, nak?"
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya. Mata coklat yang bersinar menatap lekat Harold.
"Yura, Kim Yura, dan adikku, kuharap namanya bermarga sama dengan....,"
"Menemukan sesuatu, Rei?"
Terkejut, Rei membuat penglihatan memori ayahnya dalam buku harian menghilang. Ia menoleh ke asal suara yang ia kenal. Yuuki tengah berjalan menuju pemuda itu sambil membawa sebuah kunci aneh.
"Kau membuyarkan konsentrasiku!"
Yuuki tampak heran, tapi kemudian memahami maksud perkataan itu dengan melihat buku harian di tangan Rei.
"Buku harian ayah? Kau menemukan sesuatu di sana?"
"Bukan hanya sesuatu, aku menemukan semua jawaban dari semua pertanyaanku dalam buku ini."
"Kau melihatnya dengan kemampuanmu?"
"Ya, dan itu terasa seperti nyata."
Rei mengucapkan kalimat tersebut sambil memperhatikan kedua tangannya. Ya, andai saja ia bisa menyentuh ayahnya saat memori tersebut bergulir, pasti akan terasa nyata sekali.
"Lalu apa yang kau lihat?"
Rei menatap Yuuki. Ia menghela napas tuk meyakinkan hatinya. Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah tenggelam dalam perbincangan panjang. Rei menceritakan semuanya. Tentang awal penelitian Harold, meteor, serbuk ungu misterius, gadis kecil yang menjadi awal percobaan hingga hal yang mungkin menjadi alasan kenapa ibunya meninggal saat melahirkan pemuda itu. Sampai di akhir cerita panjang tersebut, detak jantung Rei berpacu cepat. Ia menahan emosi dan tangisnya yang hampir meledak. Bahkan saat ia akhirnya melihat wajah wanita yang melahirkannya ke dunia, ia tak mampu menyentuh atau memeluk wanita itu. Perasaan bersalah bercampur kecewa atas sikap Harold sebagai ayahnya yang mengorbankan berbagai hal untuk percobaan itu membuat Rei terguncang hebat. Yuuki menepuk-nepuk pundak Rei berkali-kali untuk menenangkan.
"Kita harus mengakhiri ini, Yuuki."
"Bagaimana caranya?"
"Kim Yura, kita harus menemukan gadis kecil itu, dan serbuk ungu itu juga."
"Rei, bisakan kita berdiam dulu semalam di sini. Aku.... ada perasaan aneh yang seharusnya tak ada dalam diriku."
Ucapan Yuuki membuat wajah Rei sendu. Ia tahu sahabat yang merupakan saudara angkatnya ini juga pasti merasa kecewa akan sikap Harold.
"Ya. Kita bisa kembali besok, mungkin juga kita bisa menemukan serbuk ungu misterius itu di sini dan menelitinya lebih lanjut."
Yuuki menyetujui keputusan Rei. Ia tampak menyeka diam-diam air yang menggenang di bawah matanya. Mereka lalu keluar dari perpustakaan itu dengan wajah muram.
Kyoto, 2042
Yui mengetuk-ngetuk jemari kecilnya ke atas meja. Baru beberapa hari kepergia Rei dan Yuuki ke Mosko, tapi sudah membuat perasaan sang perasa itu tidak karuan. Gadis kecil itu menelengkupkan kepalanya di meja. Posisi itu selalu ia lakukan jika banyak hal yang dipikirkan, atau saat ia lelah dengan perasaan-perasaan orang lain. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia mendengus kesal. Bibir mungilnya merengut saat ia kembali mengangkat kepala.
"Hear-nii!!"
Lelaki yang diteriaki namanya oleh Yui hanya tersenyum simpul. Tangan kanan pria buta itu menepuk pucuk kepala Yui yang masih merengut.
"Aku lapar, kau kan ahli dalam hal memasak."
"Ayolah, kak. Apa kau tidak bisa serius sedikit?"
Yui memasang wajah jengkel. Hear malah tertawa. Namun, tawanya berhenti. Ia melepas earphone birunya. Pemuda yang mempunyai indra pendengaran yang kuat itu tampak tengah memperhatikan sesuatu.
"Sepertinya kita harus mencari tempat persembunyian lain."
Yui bergidik mendengar ucapan itu. Ia meremas tangannya kuat.
"Tenanglah, kurasa kau akan segera bertemu dengan kakakmu, Yui."
Mata Yui kini menatap Hear lekat-lekat. Ada bias ketakutan di sana.
"Itu yang paling tidak kuharapkan, Hear-nii."