Semua keraguan harus dituntaskan, karena ragu-ragu hanya akan menjadi belenggu.
.
.
.
.
.
.
Moskow, 2042.
Yuuki terpaku di ranjangnya. Kejadian hari ini seperti badai yang mengguncang lelaki itu. Meski sudah berkali-kali ia mencoba memikirkan banyak hal baik, tapi semua fakta dalam buku harian Harold melululuh lantakkannya. Tangan kanan pria itu mengambil kacamata di meja. Desahan berat terdengar dari mulutnya. Ia meraih belakang bantal dan mengeluarkan sebuah kunci dari sana. Benda yang dari siang tadi ingin ditunjukkan pada Rei kini diurungkannya. Dalam hati, lelaki berkacamata itu terus merutuki dirinya sendiri.
"Kau belum tidur?"
Suara Rei membuat Yuuku gelagapan. Dengan panik, ia mengembalikan kunci yang dipegang kembali ke balik bantal. Sayang, Rei sudah lebih dulu menyadari tingkan saudaranya itu.
"Ada yang kau sembunyikan dariku? Apa kau juga menemukan sesuatu saat aku membaca buku harian ayah?"
Sudah tertangkap basah, terpaksa Yuuki berlaku jujur. Ia menunjukkan kunci kecil yang memiliki mata yang unik. Seperti pola bintang terukir di mata kunci itu.
"Aku rasa ini adalah kunci tempat yang penting."
"Bukan. Kurasa itu adalah tempat penyimpanan serbuk ungu itu."
Dugaan Rei membuat kakak angkatnya mulai bergetar. Kunci itu langsung digenggam erat oleh Yuuki.
"Kita cari malam ini?"
Sesaat Yuuki menatap adik angkatnya dan kunci itu bergantian. Ada beberapa hal yang membuat hati lelaki itu ragu. Namun, tetap saja, mereka berdua beranjak dari ranjang dan pergi ke luar kamar.
"Apa kau tidak merasa aneh saat kita kembali ke rumah ini?"
Rei menyalakan arloji hitam di tangannya. Sekejap kemudian, sinar dari arloji itu sudah menerangi lelaki itu dan Yuuki. Keputusan untuk mencari sebuah tempat di malam hari ternyata merupakan hal yang buruk. Mereka harus berlaku selayaknya pencuri yang mengendap-endap. Andai saja Rei tidak memicu petunjuk dari pertanyaan barusan, mungkin mereka akan terus berjalan tanpa arah.
"Lavender? Aku mencium wangi lavender yang begitu pekat."
"Ya, tapi kita sangat tahu bahwa tidak pernah ada bunga lavender yang dirawat di dalam atau sekitar rumah ini."
Mata Rei dan Yuuki bertemu. Keduanya saling menatap, seakan mereka membaca pikiran satu sama lain. Tak butuh lama untuk memahami kesimpulan Rei tersebut, kedua lelaki itu langsung mencari asal wangi lavender yang terasa pekat dari rumah itu.
Penciuman membawa mereka ke laboratorium Harold di sisi kanan rumah utama. Lagi-lagi mereka saling berpandangan. Mengingat sejak kecil ayahnya tak pernah mengizinkan mereka mendekati laboratorium. Namun, sekarang beda urusan, bukan saatnya mengingat larangan Harold yang sudah tiada di dunia.
Rei dan Yuuki dengan langkah pasti memasuki laboratorium. Pintu otomatis yang hanya terbuka dengan pendeteksi kornea membuat hati dua lelaki itu sedikit khawatir.
Rei menghadapkan matanya ke alat pendeteksi itu. Otomatis si alat pendeteksi mengeluarkan sinar infra merah yang bergerak. Sekejap kemudian data mengenai diri Rei Harold ada di layar alat pendeteksi.
"Selamat datang, Profesor!"
Bunyi alat pendeteksi itu membuat mereka terheran-heran. Lagi-lagu pandangan seperti telepati antara Rei dan Yuuki mesti dilakukan.
"Profesor? Kau memiliki kornea yang sama dengan ayah?"
"Entah, kurasa iya.".
Rei masih merasa aneh dengan hal tersebut. Pikirannya lalu berujar pasti "mungkin aku benar-benar sangat mirip dengan ayah. Saat kaki-kaki mereka memasuki laboratorium, pikiran tersebut langsung menguap entah ke mana.
Wangi lavender semakin tercium kuat di dalam ruangan bernuansa putih itu. Rei kembali mencoba menangkap memori tempat itu dengan menyentuh barang-barang di sana. Hingga akhirnya mereka diantarkan oleh wangi yeng tercium ke arah sebuah brankas di salah satu sudut Laboratorium. Brankas besi berwarna silver dan memiliki sisi kunci pintu yang aneh. Bintang!
"Ini...., persis seperti dugaanmu, Rei."
Yuuki berucap pelan saat membuka brankas dengan kunci yang ia temukan. Beberapa botol sampel berisi serbuk ungu berkilauan dalam brankas. Kedua saudara tak sedarah itu membuka mata mereka lebar-lebar. Ini pastilah serbuk ungu yang berasal dari meteor di buku harian Harold. Tanpa basa-basi, mereka mengambil sekitar tiga sampai empat botol.
"Apa yang harus kita lakukan dengan serbuk-serbuk ini, Rei?"
"Apa lagi selain memeriksanya di sana!"
Rei menunjuk sebuah tempat penuh dengan peralatan riset di laboratorium itu. Air muka Yuuki tampak ragu saat mendengar keputusan Rei. Ya, meski begitu, tetap saja lelaki berkacamata itu mengikutinya. Kini, mereka mulai perlahan-perlahan menuangkan serbuk ungu ke sebuah wadah dalam alat pendeteksi unsur.
Layar alat tersebut melakukan penscanan material dalam serbuk ungu. Tak butuh lama untuk menunggu proses scanning. Layat tersebut menunjukkan benang-benang seperti partikel kromosom DNA. Rei dan Yuuki terpaku melihat partikel DNA itu.
"Rei, asam nukleatnya ...,"
"Ya, aku tidak yakin akan ada informasi seperti itu jika ini DNA manusia, bahkan asam aminonya tidak seperti yang kita kenal."
"Apa ini DNA alien?"
Yuuki menempelkan tangan kanan ke bibirnya. Ia baru saja melihat sesuatu yang tidak mungkin dan menemukan konklusi aneh dari apa yang ia lihat. Meski, lelaki berkacamata itu tak percaya alien, tapi melihat hasil scanning unsur dari serbuk ungu ini membuatnya mesti berpikir begitu.
Rei memejamkan mata sesaat sambil menghela napas berat. Jika memang ini bukan DNA manusia atau makhluk lain di bumi, mungkin kesimpulan Yuuki ada benarnya. Apalagi ia tahu benar bahwa ayahnya mendapatkan serbuk-serbuk ini dari sebuah meteor jatuh.
"Rei, coba perhatikan ini! Aku menaruh serbuk dari botol lain, dan asam nukleatnya ternyata berbeda!"
"Berarti ayah meneliti serbuk ini perbutir dan memilahnya sesuai asam nukleat di dalamnya?!"
"Hm. Aku tak terlalu terkejut mengingat Profesor Harold adalah pria paling teliti yang pernah kutemui dalam hidupku."
Yuuki sedikit tersenyum saat kembali mengingat ayah asuhnya. Teringat pernah suatu hari ia diminta Harold untuk memilah sekarung buah ceri dan memisahkan yang busuk. Ia gagal karena Harold mengetahui ada lima buah ceri tersebut yang mulai membusuk di pangkalnya. Kenangan itu membuat Yuuki kembali ingat cara ayahnya melihat satu-persatu buah ceri kecil itu dari sudut ke sudut. Benar-benar pria tekun dan teliti.
"Ya, kalau begitu kita tetap harus percaya kalau ini memang bukan DNA dari makhluk bumi, dan dengan kesimpulan itu keanehan dalam kesimpulan kita tentang CRISPR Cas 9 yang dilakukan ayah terjawab, 'kan?"
Jawaban dari penjelasan panjang lebar Rei hanya sebuah anggukan dari Yuuki. Rei memandang "kakak"nya itu dengan tatapan kesal. Namun, yang ditatap begitu lebih serius memperhatikan partikel-partikel asam nukleat dalam DNA yang ditampilkan layar.
"Ada baiknya kita membawa sampel-sampel ini, dan kembali ke Jepang besok. Aku mulai khawatir dengan keadaan Haruna, Yui, dan si kakak buta mengjengkelkan itu."
Lagi-lagi Yuuki mengangguk setuju.
"Ya, besok kita kembali. Kuharap kondisi tubuhmu juga akan semakin baik setelah mengetahui semua fakta ini, Rei."
Rei tersenyum lega. Perkataan Yuuki ada benarnya juga--pikir lelaki muda itu.
***
Chiba, Bandara Narita, Jepang, 2042.
Hiruk pikuk bandara internasional Jepang tak membuat seorang wanita yang tengah menggeret kopernga bingung. Tak butuh lama baginya untuk mengenal situasi tempat itu. Memang ia jarang bepergian ke luar negeri setelah pelariannya, tapi hal itu tak membuat wanita cantik itu linglung.
Langkah-langkah kakinya cukup cepat namun akurat. Ia tak menabrak apapun bahkan robot-robot pemeriksa yang terus berlalu lalang pun tak tertabrak. Sesekali ia mengecek arloji berwarna jingga di tangan kirinya. Amat terlihat seperti menunggu seseorang menghubunginya.
Di sebuah kedai kopi self service dia berhenti. Memesan lalu meneguk segelas latte dingin sampai habis. Ia kemudian duduk di bangku luar kafe. Kakinya tak bisa berhenti menghentak bumi bergantian. Beberapa saat kemudian, arlojinya berbunyi. Ia memasang earphone bluetooth di kedua telinga.
"Aku sudah sampai Jepang."
"........"
"Apa?"
"......."
"Aku segera ke sana, kirimkan lokasinya padaku."
"......."
"Ya, aku mengerti, aku tutup panggilannya. Dia ada cukup dekat denganmu!"
Wanita berjaket krem itu melepas earphonenya sambil beranjak. Ia lalu bergegas pergi dari bandara.