Seiring berjalannya waktu, setiap manusia pasti berubah, entah semakin baik, atau semakin buruk.
.
.
.
.
.
Shibuya, Tokyo, 2042.
Runa keluar dari sebuah bangunan bergaya khas Jepang. Cukup aneh memang bangunan bergaya kuno tersebut masih saja ada di zaman milenial. Namun, di situlah uniknya. Pemilik rumah yang baru saja ditemui Runa juga sepertinya lebih menyukai rumah bergaya seperti itu.
Ada yang aneh pada raut wajah wanita itu. Seperti tidak menemukan siapa pun saat ia berada di dalam rumah. Matanya tampak kosong. Bibir merahnya bungkam. Tangannya tampak kaku, namun tubuhnya terus saja berjalan seperti dipaksa.
Di balik pintu rumah itu, seorang wanita lain melihat kepergian Runa. Ia menggigil ketakutan. Jari jemari miliknya memeluk badan erat. Tatapan mata saat melihat Runa yang semakin menjauh tampak khawatir. Sora, dialah wanita itu. Ia seperti tahu akan apa ayang terjadi nanti.
Apa Player sudah tiba?
Tiba-tiba sebuah suara merasuk ke dalam pikirannya. Sora terdiam. Tangan Sora meraih pintu untuk menutupnya, namun seorang anak kecil menahan pintu itu.
"Dia mencariku, 'kan?"
Bocah lelaki itu tersenyum manis. Ia memegang boneka panda dan menjinjing sebuah ransel biru muda di punggung.
"Kyouru!"
Sora langsung melompat memeluk bocah lelaki itu. Senyum bahagia menghiasi bibir merahnya. Ia melepaskan pelukan dan mengacak-ngacak rambut si bocah.
"Ah, kau tidak berubah. Tetap saja imut dan manis."
Perkataan Runa tersebut membuat Kyouru--bocah lelaki itu-- merengut. Ia berkacak pinggang dan menatap wanita di depannya dengan sinis.
"Kau mengejekku?"
Tangan Sora mendadak berhenti mengacak-ngacak rambut si bocah. Perlahan ia menarik tangannya kembali. Senyum bahagianya berubah menjadi senyum yang tampak dipaksakan.
"Maafkan aku, Kyouru. Aku tidak bermaksud begitu."
Meski Sora terkenal sebagai wanita tomboy di antara saudaranya, tapi ia bersikap berbeda saat bersama Kyouru dan Yui. Kakak adik itu adalah kesayangannya, bahkan melebihi sayang pada adik kandungnya sendiri.
Kyouru tersenyum kembali setelah mendengar kata maaf Sora. Mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
Aku senang kau datang, Player.
Kyouru berhenti sesaat. Sora memandangnya bingung. Namun itu tak lama, wanita itu segera mengerti setelah Kyouru memberi isyarat tentang 'orang itu'.Tanpa memperdulikan suara di pikirannya, Kyouru kembali berjalan. Kini mereka sudah tiba di depan sebuah kamar.
Sesosok pria yang memakai yukata duduk di meja tatami sambil menuangkan arak. Ia menuangkannya sambil tersenyum aneh. Cawan sudah penuh, tapi pria itu terus saja menuangkan arak ke sana.
"Player, selamat datang. Ah, apa kau melihatnya? Cawan ini tidak bisa menampung arak yang terus menerus kutuangkan, ah bagaimana ini?"
Kyouru dan Sora bergeming. Mereka tak ada minat untuk menanggapi perkataan pria itu. Mengetahui kedua tamunya tetap bergeming, lelaki itu berhentu menuangkan arak.
"Sama seperti tubuh manusia, mereka tak akan mampu menampung kemampuan dan berkah Tuhan yang dituangkan terus menerus dan banyak sekali. Kalau pun mampu, pasti jiwa mereka akan rusak atau minimal akan ketagihan dengan berkah itu. Benar 'kan, Kyouru?"
DEG! Kyouru merasa jantungnya berdegup saat pria itu menyebut namanya. Senyum khas milik lelaki yang kini hendak bangkit seakan meneror Kyouru.
"Anehnya, kenapa 'anak itu' malah baik-baik saja saat kelimpahan banyak berkah Tuhan? Aaahh~ apa jiwanya sangat besar untuk menampungnya. Tapi apa itu adil untuk kita? Kenapa kita tidak mempunyai jiwa sebesar milik anak itu?"
Sora mulai meremas-remas kedua tangannya yang bertautan. Lelaki beryukata itu berjalan mendekati mereka dengan perlahan.
"Kalau kita tidak punya wadah yang sebesar milik 'anak itu', bagaimana kalau kita pecahkan saja wadah anak itu? Maka semuanya akan kembali menjadi lebih adil, 'kan?"
Kayouru bergidik. Tangannya memeluk boneka panda erat. Mata lesu pria itu menatap lekat Kyouru. Tatapannya tampak menusuk jiwa Kyouru. Bocah lelaki itu terpaksa mundur beberapa langkah. Lelaki itu pun akhirnya menghentikan langkah setelah membuat Kyouru tersudut. Tak berani mengganggu mereka, Sora diam-diam keluar ruangan. Beruntung, pikiran lelaki itu terpusat seluruhnya pada Kyouru.
"Jadi player, maukah kau ikut bermain denganku?"
"Ma..ma...in?"
Lelaki itu menyeringai. Ia memiringkan kepala beberapa derajat. Senyum di bibir lelaki itu semakin tersungging.
"Iya, mari kita bermain sebuah permainan judulnya 'menghancurkan dan mengambil berkah dari si sempurna', tampak seru bukan?"
Pucuk kepala Kyouru dielus perlahan-lahan berulang kali oleh pria itu. Senyum semakin mengembang aneh di bibir lelaki itu. Beberapa saat kemudian, Kyouru beranjak dari ruangan itu dengan tatapan kosong.
3 jam berikutnya
Kyoto, Jepang, 2042
Angin yang berdesir mengelus wajah mungil Yui. Seluruh tubuh Yui amat terasa dingin. Tangan gadis kecil itu bergetar hebat. Meski ia sudah memegang ujung kemeja Hear di depannya, tetap saja rasa takut di sekujur tubuh mungil itu tak menghilang.
Di hadapan mereka, seorang anak lelaki yang memeluk boneka dan menjinjing ransel biru berdiri bergeming. Ya, ia tidak lain adalah Kyouru. Kehadiran ia di sana membuat Yui tak bisa berpikir jernih. Bahkan bagi gadis itu bernapas saja pasti terasa sulit saat ini.
"Kyouru, kau datang sendiri?"
Pertanyaan Hear tak digubris oleh anak itu. Ia lebih memilih mengeluarkan semua isi tasnya dibanding menjawab pertanyaan basa basi itu. Beberapa boneka binatang dikeluarkan dari ransel biru Kyouru. Beruang, singa, macan, bahkan dinosaurus. Ia tersenyum tipis setelahnya.
"Kyouru, kau tidak berniat menyerang kami dengan kemampuanmu, kan?"
Lagi-lagi tak ada jawaban dari Kyouru. Hear menghirup napas beberapa kali untuk menenangkan diri.
Hear-nii, aku tidak bisa merasakan perasaannya. Ia seperti mayat hidup!
Hear kembali menghirup napas dan mengeluarkannya berat setelah mendengar bisikan hati Yui. Namun, ia juga tak bisa mendengar hati Kyouru. Apa yang akan dilakukan bocah itu tak bisa ditebak olehnya.
Ia terpaksa menggenggam tangan Yui yang sedari tadi memegang ujung kemejanya. Aba-aba keluar dari mulut Hear.
"LARI!!"
Bersamaan dengan itu, seperti kebun binatang, hewan-hewan yang berasal dari boneka berlarian mengejar mereka. Sementara Kyouru menatap itu sambil memegang kedua tali ranselnya.
"Kyouru! Kyouru! Hentikan, dia Yui!"
Suara teriakan wanita mengalihkan pandangan Kyouru. Sora berlari menuju bocah itu dan memeluknya.
"Berhenti...., akh!"
Kau berpihak pada siapa, Sora-ku?
Kau tak akan mengkhianatiku, 'kan?
Sora menekan kedua sudut kepalanya. Tubuh wanita itu limbung dan terjatuh terduduk di jalan. Kyouru masih bergeming. Ia kemudian melangkah pergi tanpa memperdulikan Sora yang tampak kesakitan.
"Jangan ganggu," ucap bocah itu acuh sambil meninggalkan Sora di belakangnya.
Haneda, Osaka, Jepang, 2042.
"Rei, kenapa kau tampak gelisah sejak tadi?"
Rei berlari menggeret koper-kopernya. Yuuki mengikuti sambil terengah-engah. Fisik lelaki itu memang tak sekuat Rei.
"Rei! Tunggu sebentar!"
Yuuki menggapai pundak Rei sambil menghirup napas berkali-kali.
"Firasatku amat buruk tentang keberadaan Yui, Hear dan Runa. Kita harus bergegas!"