--Sakit hati akan mengubah seseorang, menjadi jahat, atau pura-pura baik--
.
.
.
"Runa?"
Rei terhenyak. Ia baru saja sampai di depan apartemen kediamannya. Di sana Runa berdiri bergeming seakan menunggu kedatangan Rei dan Yuuki. Wanita berkemeja kotak-kotak abu itu menatap kosong pada dua lelaki di hadapannya. Senyap menguasai pertemuan mereka beberapa saat. Hingga tangan Runa tiba-tiba menggapai tangan Rei. Sontak, Yuuki menghalau Runa.
"Kau bukan Runa!" tegas Yuuki setengah berteriak. Mendengar sahabatnya itu, Rei menoleh dengan tatapan heran. Sementara itu, Runa tetap saja memandang senyap. Ia kembali berusaha menggapai tangan Rei. Yuuki pun kembali menghalaunya.
"Jangan mengganggu!" Sambil mengucapkan itu, tangan Runa meraih sebuah pisau kecil dari saku celananya. Dengan cepat, wanita itu mengayunkan pisau untuk menyerang Yuuki. Lelaki berkacamata itu refleks menghindar sambil menarik Rei ke belakangnya.
"Lari, Rei! Dia mengincarmu!" Tanpa melihat ke arah Rei, Yuuki mulai mengeluarkan buku catatannya. Sayang, belum sempat ia membuka buku saku itu, Runa mengayunkan pisau ke arah tangan Yuuki. Wanita itu berhasil membuat buku Yuuki terjatuh.
"Sial! Rei lari! Cepat!" Menyadari Rei yang masih berdiam diri di belakangnya, Yuuki segera menarik tangan lelaki itu.
"Apa-apan ini? Dia Runa, dia Runa yang kita kenal, Yuuki!" Rei mencoba menyangkal perkataan Yuuki sebelumnya. Lelaki itu mulai memfokuskan kekuatannya dan membaca hati Runa. Sesaat kemudian, matanya terbelalak.
Apa ini? Aku tidak bisa membaca pikiran Runa?!
Sambil terus berlari, kedua lelaki itu mencoba segala cara untuk menghalau Runa. Mereka tahu, wanita yang tengah mengejar mereka bukan lagi Runa yang biasanya. Wanita itu seperti kerasukan sesuatu.
"Yuuki, aku akan mencoba mengecoh Runa, aku yakin dia akan terus mengejar kita, dan aku yakin dia adalah Runa yang kukenal," ucap Rei tanpa menghentikan larinya. Yuuki mengangguk, meski di dalam hatinya ia mulai khawatir pada situasi ini. Lelaki itu berhenti sesaat. Ia menatap sekelilingnya, berharap ada sesuatu yang bisa ia pakai untuk melawan Runa tanpa melukainya. Ia harus menemukan alat lain untuk menulis sesuatu. Hanya itu satu-satunya cata untuk memakai kemampuannya.
Pakai handphonemu, Yuuki! Aku akan membaca pikiran Runa dan membuatnya tersadar. Saat aku berhasil menggapainya, hentikanlah waktu selama satu menit!
Semua perkataan Rei terdengar dalam pikiran Yuuki. Lelaki berkacamata itu paham bahwa ia tidak boleh mengingat perkataan Rei karena Runa pasti akan membaca strategi mereka. Beruntung, lelaki itu punya ingatan yang cukup tajam. Sembari Rei berlari kembali menuju Runa, Yuuki dengan cepat mengetik kalimat di catatan handphonenya.
Kini jarak antara Rei dan Runa hanya tinggal beberapa langkah. Wanita berkuncir itu tak tinggal diam. Meski ia gagal membaca strategi Rei dan Yuuki ia masih bisa mengetahui apa yang hendak dilakukan pria di hadapannya. Lagi-lagi, tangan wanita itu dengan cepat mengayunkan pisau kecil ke arah Rei. Dengan cepat, tangan Rei membuat refleks yang bagus. Ia berhasil menggenggam pergelangan tangan Runa dan menahannya. Wanita itu meringis.
"Runa, ini kami! Rei dan Yuuki! Kau tidak akan benar-benar mau menyerang kami, kan? Apa yang terjadi, Runa?!" Tanpa menjawab pertanyaan Rei, Runa berusaha untuk melepas cengkraman lelaki itu. Tak kehabisan akal, Rei menarik tangan Runa ke arahnya hingga tubuh wanita itu limbung.
"Maafkan aku, Runa!" Setelah mengucapkan hal itu, Rei mendekati wajahnya ke hadapan Runa dan mencium wanita itu sambil mengirim telepati pada Yuuki.
Hentikan waktunya sekarang, Yuuki!
Ucapan Rei yang terbesit di pikiran Yuuki saat lelaki itu baru saja menulis titik di kalimat ponselnya. Seketika semua yang ada di hadapan lelaki berkacamata itu terhenti. Dedaunan mapel yang berjatuhan pun ikut mengambang di udara. Kini, Yuuki hanya bisa menunggu sampai Rei berhasil membaca mata hati Runa dan melepaskan ciumannya.
***
"Lei!" Runa tersenyum menyapa Rei. Wanita itu lalu tertawa terbahak. Sesekali memukul-mukul pundak lelaki di sebelahnya. Yuuki mengabaikan adiknya yang selalu membuat Rei kesal. Namun, Rei pun demikian, ia hanya merajuk sementara. Namun, Runa selalu memanggilnya dengan panggilan itu berulang-ulang.
"Lei!"
"Lei! Ahahahaha ...."
"Lei, kamu Lei Lei si kecil Lei." Runa lagi-lagi tertawa terbahak setelah mengejek Rei. Lelaki itu pun sukses dibuatnya kesal.
"Kenapa kamu iseng banget, sih?" tanya Yuuki sambil membuka-buka bukunya. Runa menoleh ke arah kakaknya yang masih berkutat membaca diklatnya itu.
"Apa? Menggoda Rei yang cadel?" Runa balik bertanya. Lelaki berkacamata yang tak menoleh ke arah Runa itu hanya menjawab dengan anggukan.
"Eiii ..., kakak marah, ya, aku menggoda Rei kesukaan kakak?" Runa berjalan mendekati kakaknya yang mulai menoleh.
"Bukan. Kau bersikap seperti itu pasti ada sesuatu, kan?" Yuuki menatap Runa jengkel. Adiknya yang ia kenal tidak akan melakukan hal menjengkelkan sesering yang ia lakukan pada Rei.
"Menurut kakak? Ahahha ..., udah, ah, aku mau pulang, sebentar lagi Rei pulang, kan. Oh, aku tadi bawa macaroon kesukaan Rei. Aku titip ya! Dah, Kak!" Runa berjalan menuju pintu kamar Yuuki lalu menghilang.
Semua kejadian itu dilihat oleh Rei dari mata hati Runa. Lelaki itu memakai kemampuan 'membaca'nya untuk melihat semua kejadian yang dikenang Runa. Setelah itu, seperti dalam cuplikan film, adegan Runa bersama Rei berjalan mundur. Hingga saat di mana Runa dan Rei masih kecil. Rei diganggu oleh anak-anak Harold yang lain. Usai itu, ia pasti memgunci kamarnya dan hanya Runa yang diizinkan masuk olehnya. Begitu setiap harinya. Runa tidak pernah absen membuat Rei kembali tertawa setelah menangis karena anak-anak lain.
"Rei, Runa akan terus ada untuk Rei." ucap Runa sambil tersenyum lebar. Mata Rei yang melihat kilas balik kenangan itu mulai berkaca-kaca. Ia tahu, Runa selalu ada untuknya. Namun, saat itu, saat ayahnya bunuh diri, ia mencampakkan Runa. Adegan itulah yang kini sedang Rei lihat dari kenangan di hati Runa.
Gadis kecil itu menahan tangisnya di kamar Rei yang kosong. Ia menggumamkan kata yang sama berkali-kali.
"Rei menangis, Runa tidak bisa membuat Rei tertawa lagi. Rei menangis, Runa tidak bisa membuat Rei tertawa lagi." Begitu terus gumamnya. Dengan tubuh gemetar, Rei mencoba mengendalikan emosinya dan terus membaca mata hati Runa. Ia pun kembali melihat Runa yanh baru saja kembali setelah bertemu Yuuki.
"Hah, kenapa aku mengisenginya? Haha ..., kakak peka sekali, ya." Sesaat Runa terdiam. Ia lalu berjalan ke rak buku di sudut kamarnya. Sebuah buku harian berwarna coklat muda digenggamnya erat. Wanita itu 'membaca' nya dan semua yang ia lihat juga terlihat oleh Rei yang tengah membaca kenangan Runa.
Dalam buku itu, semua saat-saat berharga Runa bersama Rei tergambar jelas. Lelaki berkulit putih itu hampir limbung karena emosinya semakin meluap. Kenangan Runa akan Rei sangan melekat di hatinya. Senyum menghiasi wajah Runa saat menaruh kembali buku harian itu.
"Kenapa? Karena aku ingin terus membuat orang yang kucintai tertawa, haha ... Bodohnya, Runa, padahal Rei juga tidak akan kembali tertawa. Haha ..., huhuhu...." Runa tersungkur. Air matanya tak berhenti mengalir. Begitu juga air mata Rei. Lelaki itu kini sadar bahwa dia telah menyakiti gadis yang mencintainya.
"Wah, sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu ya, Reader? Pantas saja, aku jadi sulit mengendalikannya." Tiba-tiba, sesosok bayangan pria berjalan mendekati Rei. Senyuman pria itu membuat bola mata Rei bergetar.
"Kau .... Kau yang menghipnotis Runa, kan?!" sentak Rei. Pria berambut acak-acakan itu menggigit kuku ibu jari tangan kirinya. Ia lalu menatap Rei dengan tatapan bahagia.
"He ..., akhirnya kita bertemu, apakah sopan kalau kau langsung menuduh, Rei ..., ah, Sense?!" Ucapan dan raut muka lelaki itu menyadarkan Rei. Ia tampak amat familiar di mata Rei. Seketika, tubuh Rei gemetar.
"Hans ..." ucap Rei gentar.