"Aku tidak tahu arti membenci, aku hanya tahu bahwa aku merasa sepi dan sendiri."-- Kim Hansel
.
.
.
"Killer?!" seru Rei tak percaya. Namun, Yui menatap kakak angkatnya itu penuh keheranan. Gadis kecil yang mempunyai kemampuan merasakan kehadiran dan perasaan saudara-saudaranya sama sekali tidak menemukan keberadaan Killer. Setahu Yui, sang pembunuh itu tidak akan serta merta muncul di hadapan mereka. Selama ini, meski Yui tidak tahu di mana Killer berada, dirinya selalu merasa bahwa kakaknya yang pendiam itu terus bersembunyi, entah apa alasannya. Merasa terganggu dengan apa yang ia sadari, Yui menarik kemeja belakang Rei dan menatap lelaki itu lekat-lekat.
"Rei-nii, coba gunakan kemampuan 'perasa'mu, aku rasa dia bu--"
"Memang bukan, tapi ia sengaja membuat kita mengenalinya sebagai Killer, benar 'kan?" Yura memotong kalimat Yui. Sejak menyadari orang yang diam-diam membuntutinya, ia menahan tanda tanya yang besar. Yura tidak mengenal semua anak hasip uji coba Harold, yang ia tahu hanya Rei, Sora, dan adiknya sendiri. Namun, wanita yang memiliki DNA sempurna itu jelas menyadari bahwa sang penguntit itu bukanlah Killer.
Menyadari dirinya berada di posisi yang tidak baik, orang misterius itu mengalihkan pandangannya. Ia mengibaskan tangan Yura yang masih berusaha menjegalnya. Namun, Yui terus memandang orang itu dengan saksama. Si pria misterius itu pun salah tingkah.
"Hm, ia tampak seperti lelaki, tapi kenapa gerak-geriknya tampak seperti wanita." Tiba-tiba, Kyouru membuka suara. Bocah itu ikut mengamati sang pria misterius. Sekarang, di dalam pikiran para pemilik kemampuan itu sedang menebak apakah orang itu berbahaya atau tidak untuk mereka.
Beberapa saat kemudian, Yui pun berseru kencang. Ia seakan lupa dengan Hear yang masih saja bergeming di depan jasad Illiana.
"Rie-Nee-chan!!" seru Yui dengan mata berbinar, membuat yang lain menatap orang yang dimaksud penuh intimidasi. Pasrah akan penyamarannya yang terkuak, lelaki yang kini tampak menjadi wanita kembali itu menghela napas kesal.
"Ah, aku memang tak bisa menipu kalian dengan kemampuan 'akting' ini," ucap Elriena-- Sang Aktris. Ia merasa sia-sia telah berusaha menipu penjaga bandara sampai wanita yang menggeretnya dengan kemampuan penyamaran dan aktingnya yang senpurna.
"Kau benar-benar buang-buang waktu dengan menggunakan kemampuanmu itu." Kyouru langsung bersikap tak acuh pada wanita berambut pirang di hadapannya. Sedangkan Yura, masih berkutat dengan alasan si wanita mengikutinya. Seakan tahu apa yang dipikirkan Yura, Elriena pun tersenyum kikuk.
"Maaf, aku mengikutimu karena merasa tak asing dengan wajahmu, apalagi saat kulacak taksi yang membawamu ternyata menuju Kyoto, kota tempat Rei berada." Mendengar namanya disebut, Rei terbelalak. Ia tidak mengerti bagaimana Elriena bisa mengetahui keberadaan dirinya.
"Aku tahu dari berita ada pembunuhan berantai di sini dan dugaanku tepat itu ada kaitannya dengan dirimu, Rei," Elriena tersenyum lembut pada Rei. Ia merasa lelaki itu kini tumbuh sangat mirip dengan ayahnya.
"Kak u was dela, Rei?" tanyanya kemudian. Rei sendiri hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang menggambarkan situasi ini. Satu persatu saudara angkatnya berkumpul lagi, tapi mereka juga harus kehilangan salah satunya. Entah ini adalah hal bahagia atau menyedihkan.
Saat Rei ingin menjawab pertanyaan Elriena, suara sirene mobil ambulans dan polisi terdengar. Tak lama, para tim medis dan beberapa polisi keluar dari mobil dan menghampiri mereka yang masih terpaku. Di antara para tim medis dan polisi itu, Detektif Ishirou juga tampak terlihat keluar dari mobilnya sendiri. Lelaki berjas cokelat gelap itu langsung berlari menuju Rei. Pertanyaan-pertanyaan mendasar diajukan pada sang Sense. Rei menjelaskan semua kondisinya dan siapa saja orang-orang yang kini bersamanya. Jenazah Illiana langsung diotopsi oleh tim forensik. Hear hanya terdiam saat mereka menyatakan bahwa kematian Illiana dikarenakan tercekik rantai ayunan. Hear pun mesti ikut diperiksa karena sidik jarinya tertempel di rantai tersebut saat menurunkan jasad Illiana. Yui dan Kyouru berusaha menjelaskan kondisi Hear, tetapi lelaki buta itu tetap mengikuti arahan para tim kepolisian.
***
Belum sempat Runa tersadar benar-benar, para polisi sudah masuk dari pintu atap gedung. Di belakang mereka, tampak Yura, Rei, dan Detektif Ishurou yang mengordinir timnya. Mereka mengamankan Hans yang sudah tersadar sepenuhnya. Lelaki itu menyeringai. Ia menatap Rei dengan tatapan intimidasi.
"Kau sudah kalah, Hans. Sudah waktunya kau berhenti membenciku." Rei menatap tajam Hans yang dipasangkan pengunci tangan elektrik oleh petugas polisi. Benda itu berbentuk mirip dengan borgol tetapi dengan warna yang transparan dan berisi tenaga elektro magnetik. Alat itu mampu melumpuhkan semua saraf orang yang memakainya, sehingga kemampuan Hans mengendalikan pikiran pun dapat dikunci. Kini, Sang Thinker hanya bisa tersenyum sinis pada Rei.
"Aku tidak tahu arti membenci, aku hanya tahu bahwa aku merasa sepi dan sendiri. Karena itu aku ingin membunuhmu yang terlahir sempurna, tapi kau masih saja merebut semuanya dariku, bahkan sekarang kakak kandungku memihakmu setelah membuangku, ha-ha," Hans tertawa pelan. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Lelaki itu bahkan tidak pernah tahu bagaimana rasanya menyayangi atau disayangi orang lain. Ia tahu bahwa dirinya dilahirkan tanpa bisa merasakan empati. Meski sudah sejak lama ia mencari-cari kakak kandungnya, saat kini orang itu tepat berada di depannya, Hans sama sekali tak merasa apa pun. Menatap wajah adik kandungnya, Yura tahu apa yang ada dalam diri Hans. Lelaki itu adalah bocah yang dulu membuat ibunya bunuh diri karena tahu ia telah dibuang. Yura juga tahu bahwa Hans tidak pernah mencoba untuk menumbuhkan empati yang tidak pernah ia miliki sejak lahir. Yang Yura tahu, adik lelakinya hanya mencari alasan agar orang lain berada di sisinya.
"Kau merasa sendiri karena kau memilih begitu. Kau tidak pernah mau mengerti orang lain dan tak mau mencobanya. Berhentilah menerima fakta bahwa kau terlahir tanpa empati. Kau hanya perlu merubahnya, Hansel!" Yura menatap tajam lelaki yang kini melihatnya sendu. Akhirnya, tiba juga saat Yura mampu membuat adik kandungnya terdiam. Hanya seulas senyum dan tatapan pilu Hans yang kini dihadapi Yura.
Para petugas polisi segera membawa Hans menuju mobil. Berkali-kali Yura mengirim telepati pada adik kandungnya itu. Ia mengatakan bahwa Hans bisa berubah, ia bisa berusaha untuk melawan dirinya sendiri, tetapi adiknya itu sama sekali tak menjawabnya. Hingga suara sirene mobil polisi yang membawa Hans pergi, Yura masih saja mengharap adanya telepati balasan dari keluarga satu-satunya itu.
Detektif Ishirou pun mendatangi Yura. Ia meminta kesediaan wanita itu sebagai saksi. Lelaki berambut cepak itu juga meminta keterangan dari Rei serta Yuuki, Runa, dan Sora yang sudah siuman. Meski wajah-wajah mereka masih tampak lelah dan berusaha menyembunyikan sesuatu, para anak-anak Harold itu kini mengira bahwa teror telah benar-benar berakhir.