Part 33-- Penyesalan

1070 Words
“Masa lalu hanya pantas untuk dikenang, tidak untuk disesali.”-- Shizuya Yui . . .   Aura dingin menyelimuti Hear saat Yui dan Kyouru menghampirinya. Tak butuh lama untuk mencari keberadaan lelaki buta itu karena rasa sedih dan penyesalan dalam hatinya terlalu kuat sampai membuat air mata Yui tak berhenti mengalir. Kyouru hanya mengamati adik kandungnya itu dalam diam. Ia belum berani mengatakan apapun sejak pertama kali sadar ada di atas pangkuan Yui. Masih teringat kapan terakhir bocah itu menyadari bahwa ia telah menyerang Yui dan Hear dengan bonekanya sendiri. saat itu, pikirannya belum sepenuhnya terhipnotis oleh kata-kata thinker. Memikirkannya saja membuat ia bergidik. Bagaimana bisa ia mneyerang dengan tega orang yang selama ini paling ingin ia temui? Apalagi sekarang ia mesti melihat lelaki yang berjanji melindunginya telah kehilangan orang yang paling disayanginya. Dalam hati, Kyouru berkali-kali merutuki dirinya sendiri. Seharusnya, ia tak pernah pergi ke tempat Hans, atau dengan mudahnya percaya bahwa monster itu akan mempertemukannya begitu saja dengan Yui. Maka, sekarang ia hanya bisa terdiam, bergelut dengan pikirannya sendirir saat Yui menyeret bocah itu ke tempat Hear yang juga menderita.   “Hear-nii …,” ucap Yui lirih. Gadis kecil itu menatap lekat-lekat tubuh Hear yang memangku Illiana. Wanita di pangkuan Hear bergeming. Yui tahu, Illiana sudah tak bernapas. Tak ada perasaan yang dapat diterima Yui dari sang diva. Hal itu membuat tubuh Yui gemetar. Perlahan, ia mendekati Hear yang masih terpaku. “Bukankah aku ini bodoh, Yui?” Pertanyaan Hear membuat langkah sang perasa berhenti. Gadis kecil bergaun merah muda dengan aksen pita di tangan itu terisak. Ia tak bisa menguasai rasa sakit yang mendalam dari Hear. Dirinya belum pernah mendapatkan perasaan kehilangan yang sedemikian rupa dan ia tak sanggup menahan sakit di hatinya. Kata orang, manusia akan aman saat ada orang lain yang juga merasakan emosi dalam dirinya, mengerti tentang apa yang ia hadapi, tetapi nyatanya hal itu tak merubah apapun. Meski ada seribu orang lain yang mengerti akan rasa sakit yang mendera seorang manusia, hal itu tidak akan hilang dan tidak akan mampu dibendung oleh orang lain. Tentu saja, karena kapasitas manusia dalam memikul cobaan dan ujian itu berbeda. Kini, Yui mengerti akan hal itu, ia tidak akan pernah bisa sanggup menahan semua kesedihan yang membebani diri Hear, meski ia merasakan semua itu dengan kemampuannya.   “Hear-nii, jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau tidak harus tenggelam dalam kesedihan seperti I--” ucapan Yui harus berhenti karena lagi-lagi tersadar akan emosi sedih, pasrah, kesepian yang bercampur menjadi satu. Aura negatif dari diri Hear membuat gadis kecil itu limbung. Ia pun terduduk pasrah di samping Hear. Kyouru hampir saja mencoba menolong membopong tubuh adiknya itu, tapi ia urungkan. Masih ada rasa bersalah dalam hatinya, walau ia tahu Yui tidak akan merasakannya karena keadaan Hear lebih memilukan dari dirinya. Kemampuan Yui pasti hanya sanggup fokus pada Hear. “Kau tahu, Yui? Aku membenci pandangan orang-orang tentang diriku. Orang buta yang tak bisa melakukan apapun. Anak cacat yang mesti dibuang karena tak dapat melihat warna-warni dunia. Aku selalu saja menertawakan kemalangan diriku sendiri. Namun, mendengar nyanyian Illiana adalah hiburan bagiku. Ia dengan senang hati melantunkan nada-nada indah agar aku mendengarnya. Ia selalu ada di sisiku saat aku tak percaya pada diriku sendiri. Tapi, aku? Aku tak berani mengutarakan semua perasaanku padanya. Aku terlalu egois untuk menerima semua yang ia berikan tanpa mau memberikan apapun padanya. Aku selalu berbohong di hadapannya tanpa mau jujur sekali pun. Bahkan, sampai ia mengorbankan nyawanya demi diriku pun, air mataku cepat sekali mengeringnya. apa orang sepertiku memang pantas dicintai?” tak ada seulas senyum pun di bibir Hear. Lelaki itu mengusap rambut cokelat gelap Illiana yang tergerao di pangkuannya. Yui mencoba memeluk tubuh Hear, berharapa kakak angkatnya itu bisa lebih tenang. “Jangan mengatakan hal itu, Hear-nii. Tidak ada manusia yang tak pantas dicintai. Semua sayang Kak Hear. Aku juga, Kyouru juga, ka Hear tidak sendiri. Jangan pedulikan pandangan orang lain dan tentang sikap kakak pada Illiana-nee tidak perlu disesali, kak Illiana juga pasti tak ingin Kak Hear menyesalinya.” Isak tangis Yui membuncah. Gadis kecil itu seperti mewakili kesedihan dan rasa sakit dalam diri Hear.   “Bagaimana bisa aku tak menyalahkan diriku sendiri, sedangkan alunan suara Illiana terus berdenging di kepalaku? Kata-katanya yang memnenangkan dan nada menggodanya yang hanya ditujukan padaku. Suaranya terus bergema di kepalaku.” Hear mencoba mengeratkan headsetnya ke telinga. Ia amat berharap tak lagi mendengar apapun.   “Hear-nii,  masa lalu hanya pantas untuk dikenang, tidak untuk disesali.” Pelukan Yui semakin erat. Kyouru yang menonton pemandangan itu tampak mulai jengah. Ia menghela napas berat. Mathryoshkan di tangannya berkali-kali diutak atik oleh bocah itu, tetapi tetap saja ia merasa kesal saat Yui tak juga melepaskan pelukan Hear.   “Yui benar, tidak perlu ada yang disesali, bukankah kau juga masih berhutang penjelasan padaku? Kau bilang akan melindungku dari orang itu, tapi kau malah menghilang dan membuatku melakukan hal yang mengerikan pada kalian berdua,” ucap Kyouru sambil merengut. Hear tercekat. Sejak tadi perhatiannya hanya fokus pada kenangan Illiana dan suara hangat Yui. Lelaki berjaket hijau itu sama sekali tak menyadari keberadaan Kyouru di dekatnya.   “Benar. Aku menjanjikan hal itu padamu. Maaf, Kyouru, nyatanya aku bukanlah orang yang mampu melindungi orang lain.” Baru saja Kyouru mau menyanggah ucapan tak bertanggung jawab yang dilontarkan Hear, tiba-tiba Rei datang dengan tergesa. Napas lelaki berkemaj biru itu tersengal. Serta merta Yui dan Kyouru memanggil nama Rei dengan serempak.   “Kalian tidak apa-a--” Rei tak meneruskan ucapannya saat menatap jasad Illiana yang terbujur kaku di pangkuan Hear. Ia menghela napas berat. Rupanya perasaan penyesalan dan kesedihan akan kematian yang menganggu lelaki itu berasal dari Hear. Pantas saja, nyanyian Illiana yang membuat ia kesakita tiba-tiba hilang begitu saja. Tanpa meneruskan perkataannya, Rei segera mengirim telepati pada Yura untuk menemui mereka.   “Yura? Siapa?” tanya Hear saat mendengar telepati yang diberikan Rei. Sang Sense berjalan menuju Hear dan Yui. Namun, matanya juga mengamati Kyouru yang masih terdiam di tempatnya berdiri.   “Orang yang menjadi kunci semua yang kita alami. Dialah Sense yang pertama. Sulit menjelaskannya. Aku akan menelepon polisi untuk membereskan semua ini,” Rei menyentuh kulit Illiana yang semakin dingin. Ia mengutak-atik arloji di tangannya dan memanggil kontak Detektif Ishirou di layar protektor yang kini berada di hadapannya.   “Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Hear. Ah, dan Kyouru, senang melihatmu di sini.” Seulas senyum dilontarkan Rei pada bocah lelaki berbaju kodok yang masih saja mematung itu. Ia langsung berlari menuju Rei dan memeluk sang Sense. Tak lama, Yura datang menyeret seseorang yang tampak mereka kenal. Tatapan para pemilik kemampuan itu pun seakan tak percaya apa yang mereka lihat. Yura baru saja akan mengatakan sesuatu tentang orang yang ia bawa, tetapi Rei dengan gemetar menyebut satu nama.   “Ki …, KIller?!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD