Part 36-- Prolog (2)

1085 Words
“Saat seseorang meninggalkanmu, kau tidak akan pernah punya waktu untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal.”—Hear Saber. . . .   Angin musim semi bertiup lembut. Bunga-bunga sakura berterbangan menghiasi jalan-jalan Kota Kyoto. Di sebuah gedung penyimpanan abu, Hear berdiri di depan bingkai foto. Sang Diva, Illiana Grande terpampang sangat menawan di dalam gambar. Sudah hampir sejam, lelaki buta bercardigan biru gelap itu terdiam di sana. Kedua kakinya tanpa lelah terpaku. Setelah pagi tadi sempat dihalangi Yui untuk pergi, wajah sang Pendengar itu tak lagi bersahabat. Beberapa kali, tangan kanannya mengusap wajah Illiana di dalam bingkai. Ia tidak mampu melihat wajah wanita itu, bahkan sampai ia tiada. Mungkin, itulah hal yang paling disesali Hear.   “Sampai kapan kau akan mematung di sana, Hear?” Sora muncul di ambang pintu ruangan abu. Wanita berjaket jeans itu menyedekapkan kedua tangannya. Ia hendak bersimpati pada adiknya, tetapi melihat lelaki itu tampak amat menyedihkan, ia menjadi jengkel. Sora tahu apapun yang akan dikatakan olehnya untuk menghibur Hear tidak akan pernah ia dengar. Sudah jelas, bahwa Hear Saber adalah orang yang sangat keras kepala dan kakaknya itu malas jika harus berhadapan dengan sikapnya itu. Hear tidak menoleh, tidak juga menjawab pertanyaan Sora. Mau tidak mau, helaan napas berat mesti keluar dari mulut Sora. Wanita bersepatu boots itu pun berjalan mendekati Hear dan menggenggam tangannya.   “Berhentilah meratapi kepergiannya, kau bahkan belum makan apapun sejak pagi tadi. Aku akan mentraktirmu nasi tempura, jadi ayo per—”   “Ketika seseorang meninggalkanmu, kau tidak akan pernah punya waktu untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal.” Sora terpaksa menghentikan ajakannya saat mendengar ucapan haru dari mulut Hear. Bola mata putih milik lelaki itu bergeming. Tak ada air mata yang mengalir dari sana. Sora tahu, hal yang paling dibenci Hear adalah ia tak bisa menangis meski situasinya membuat hati lelaki itu menjerit sekali pun. Genggaman tangan Sora kini semakin erat. Dengan memegang tangan adiknya, wanita itu mengetahui betapa Hear sangat tertekan dengan kematian Illiana. Awalnya, ia tidak percaya jika sang Pendengar itu terpuruk saat Illiana tewas. Yang diketahui oleh Sora, Hear tidak pernah tertarik untuk membicarakan hubungan serius dengan Illiana. Apapun yang dilakukan Sang Diva untuk menggoda Hear sama sekali tak digubrisnya. Namun, melihat betapa muramnya wajah lelaki itu sekarang, Sora paham bahwa sebenarnya Hear menyembunyikan perasaannya. Itulah yang pasti membuat adiknya itu amat sangat menyesal.   “Aku mungkin tidak tahu sesakit apa perasaanmu saat ini, Hear. Namun, aku ingin kau cepat sadar dan kembali ke dirimua yang biasanya. Kau tahu, Hear, Illiana juga pasti tidak suka melihatmu bersikap begini.” Sora semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Hear. Lelaki di sampingnya kini menghela napas sambal memejamkan matanya sesaat. Ia mulai mampu mengendalikan kemampuan pendengarannya seperti sedia kala. Awalnya, saat insiden kematian Illiana, kemampuannya itu sempat terdistorsi. Entah kenapa dirinya tak dapat mendengar hal-hal selain suara-suara bayangan Illiana yang menghantui pikirannya. Namun, lelaki itu kini tersadar. Suara kakaknya mulai terdengar. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Hear. Menyadari respon tak terduga dari adiknya itu, mata Sora berbinar. Kini, hati wanita itu akhirnya lega.   “Kita pergi?” kata Sora sambal menarik sedikit lengan adiknya. Hear mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan tempat penyimpanan abu Illiana.   Saat akan memasuki mobil, Sora tiba-tiba melihat seseorang yang dikenalnya memasuki gedung. Mata wanita itu tampak terbelalak. Hear yang menyadari kakaknya tak kunjung masuk kembali keluar.   “Ada apa?” tanya Hear penasaran. Sora menelan salivanya. Ia kini tampak seperti orang yang ketakutan. Mendengar ada yang tidak beres dengan perubahan detak jantung Sora, Hear mencoba memanggil wanita itu. Namun, Sora tak menggubrisnya. Ketika suara Hear semakin keras, barulah Sora merespon.   “Aku …, seperti melihat polisi yang menyelidiki kita waktu itu masuk ke sana.” Tatapan mata Sora masih memandang tajam kea rah gedung. Hear bergeming. Pikirannya mencoba menerka situasi yang mungkin terjadi, tetapi ingatannya akan polisi yang ia kenal tidaklah buruk. Ia lalu membuang semua praduga buruknya.   “Mungkin, ada seseorang yang juga ingin ia kunjungi. Ayo pergi, perutku lapar, kau bilang akan mentraktirku nasi tempura.” Hear kembali bergegas masuk ke mobil. Sora menatap lelaki itu sambal terkekeh.   “Wah …, Sepertinya kau sudah kembali menjadi dirimu yang menjengkelkan, ya!” Seakan lupa dengan apa yang baru saja ia lihat, Sora segera masuk ke dalam mobil dan mengaktifkan kemudi otomatis alat transportasi itu.   Setelah kepergian kakak beradik itu, sebuah Mercedes biru gelap berhenti di parkiran gedung penyimpanan abu. Angin berhembus cukup keras saat kaki seseorang melangkah ke luar dari mobil itu. Seorang lelaki berkacamata, berwajah cekung, dan berjubah putih tampak berdiri di sana. Ia memperhatikan sesaat pemandangan di depan matanya. Dengan apik, ia pun menekan tombol kunci mobilnya. Setelah memastikan kendaraannya itu aman, lelaki itu tampak melepas tanda pengenal di saku jasnya lalu masuk ke dalam gedung. Langkahnya cukup cepat seakan sudah tahu ke mana ia harus pergi. Di sebuah ruangan penyimpanan abu, kaki lelaki itu berhenti. Ia menmukan seorang lelaki lain berjas cokelat tengah berdiri di depan lemari yang berhiaskan guci abu dan sebingkai foto.   “Kau sudah datang, Odo?” Tanpa menoleh, lelaki berjas cokelat itu menyapa kedatangan sang pria berjas putih. Serta merta sebuah anggukan hormat dilakukan orang itu—yang dipanggil Odo—kepada seseorang yang ia kenal di depan sana.   “Apa kau kemari untuk memberi salam, Mizukawa-san?” tanya Odo pada lelaki yang kini tepat membelakanginya. Terdengar jelas helaan napas dari orang itu. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh wajah orang yang ada di foto. Ia mengelus bingkai itu berkali-kali sesekali matanya berkedip sambal bibirnya terus saja tersenyum. Lelaki itu seakan mengagumi wajah wanita yang terpajang di samping guci abu.   “Memberi salam, ya? Aku bahkan tak mengenalnya, tapi mendengar kesaksian orang itu membuatku sangat menyayangkan kepergiannya. Bukankah dia akan berguna untuk kita jika masih hidup, Odo?” Mendengar pertanyaan lelaki itu, Odo mengangguk. Ia merogoh sakunya untuk meaih sesuatu yang kemudian diserahkan pada si pria berjas cokelat.   “Wah, padahal aku lebih membutuhkan rokok saat ini, tapi sepertinya kau membawa sesuatu yang lebih menarik, Odo.” Sebuah kantung plastik kecil berisi serbuk berwarna ungu kini berada di tangan sang lelaki berjas cokelat.   “Meski saya tidak yakin apakah akan menjadi hal yang sama persis seperti penelitian Dokter Harold, saya sangat percaya bahwa serbuk itulah kunci untuk formula yang dirancang olehnya.” Odo kembali membungkukkan badannya sedikit. Di kaca lemari penyimpanan abu kini tampaklah wajah sang pria misterius berjas cokelat. Senyuman menghiasi bibirnya. Dia adalah lelaki yang dulu hanya mampu melihat Illiana—wanita yang kini fotonya terpajang di samping guci abu di hadapan sang lelaki—telah tewas. Kini, tangan kanan pria itu menyentuh bibirnya perlahan sambal mengamati serbuk ungu dalam kantung.   “Kau bekerja sangat baik, Dokter Katsuragi Odo, ah, bukan Dokter Takashima Hori." Mendengar nama lamanya kembali dipanggil, Odo menghela napas gusar. “Saya harap anda tidak lagi memanggil saya seperti itu, De—bukan, mantan Detektif, Mizukawa Ishirou.” Wajah serius Odo terpantul di kaca. Ishirou pun berbalik dan mengajak lelaki berjas putih itu pergi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD