“Bukankah hal yang berharga adalah dapat hidup dengan damai dan tenang?”—Kim Yura.
.
.
.
Kyoto, 2043.
Bunyi lonceng dari kuil Kiyomizudera terdengar merdu. Kicau burung yang menandakan matahari akan terbenam sebentar lagi pun menambah dentingan di rumah ibadah itu. Kata orang, belum sempurna rasanya jika pergi ke Kyoto tanpa mengunjungi kuil tersebut. Meski zaman sudah banyak berubah, tempat yang tak asing bagi warga itu tetap saja berdiri dengan megah di atas gunung sebelah timur Kyoto. Bagi warga prefektur yang mempunyai banyak situs bersejarah itu, Kuil Kiyomizudera tetap istimewa, walau untuk pergi dan berdoa di sana mereka perlu berdesakan dengan para wisatawan. Begitu juga halnya, Rei. Lelaki itu tetap saja memaksa Runa dan Yuuki untuk pergi ke sana meski mereka harus bersusah payah. Setelah turun dari taksi otomatis di kaki bukit, mereka melewati jalan yang dipenuhi pohon maple dan sakura. Musim semi adalah waktu yang paling indah untuk berjalan di sana.
Rei menghela napas lega. Entah berapa lama ia tak merasakan ketenangan ini. Semua memori yang telah kembali padanya membuat lelaki itu kini mengenal dirinya sendiri. Memang, masih banyak hal yang berputar-putar terus di kepala Rei, tetapi paling tidak ia mampu menghirup udara segar dengan damai saat ini. Di belakang Rei, Yuuki dan Runa mengikutinya. Walau mereka pergi bertiga, entah kenapa sejak kejadian p*********n Hans, Runa lebih banyak diam. Wanita yang sering mengikat rambut panjangnya itu bahkan sudah tak pernah menyapa Rei atau meledeknya. Hal itu membuat Rei merasa aneh. Beruntung, putra Dokter Harold itu selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Runa punya alasan akan hal itu. Ia percaya suatu hari sikap sahabatnya itu akan kembali seperti biasa. Alhasil, kini mereka bertiga berjalan seperti tak saling mengenal. Yuuki merasa dirinya menjadi tameng Runa untuk berhadapan dengan Rei. Sang Penulis itu tahu bahwa adiknya tidak akan suka kalau dirinya tak membela keinginan Runa, tetapi Yuuki pun ingin menemani Yuuki dan bersikap seperti biasa.
“Mau minum air di Otawa?” Rei menoleh ke belakang. Sense itu kini berjalan mundur, ia menghadap Yuuki dan Runa di belakangnya tanpa menghentikan langkahnya. Beberapa saat tak ada jawaban akan pertanyaan Rei itu. Namun, tatapan menunggu Rei membuat Yuuki serba salah. Sedangkan Runa semakin menyembunyikan diri di belakang kakaknya.
“Boleh. Aku rasa kita perlu berdoa untuk hubungan kalian berdua,” ucap Yuuki serius. Ia pun mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan Rei. Putra Harold itu kembali berjalan dengan benar, meski Runa tetap tak mau menatap lelaki itu. Sang Pembaca lebih memilih menatap batu-batu kerikil atau sakura yang mulai bermekaran.
Tak butuh lama bagi tiga orang pemilik kemampuan itu untuk sampai di depan Kiyomizudera. Gerbang masuk berwarna merah bata dengan atap cokelat megah berdiri gagah di atas tangga-tangga yang harus dinaiki para pengunjungnya. Dua patung singa penjaga—komainu—seakan berjaga di sisi kanan dan kiri pintu masuk kuil itu. Rei, Yuuki, dan Runa menaiki tangga sambal sesekali bersenggolah dengan para wisatawan. Beberapa kali juga, Rei mengaktifkan layar arloji dan mengambil beberapa foto, tetapi putra Harold itu tetap merasa segan untuk meminta kedua sahabatnya berpose bersama. Jadilah dirinya hanya memotret pemandangan-pemandangan senja di kuil itu.
Sesampainya di Otowa, sudah banyak sekali orang yang mengantri untuk minum di sana. Mereka mengulurkan gayung bergagang panjang untuk kemudian menampung air terjun yang katanya berisi berkah dari dewa. Konon, orang yang meminum air tersebut akan dimudahkan dalam urusan cinta, sahabat, dan kesuksesan hidup, benar-benar cocok untuk dikunjungi saat hubungan renggang seperti halnya Runa dan Rei. Hal yang dipikirkan Rei juga begitu. Ia mengajak dua sahabatnya untuk datang ke kuil ini semata-mata untuk berdoa agar persahabatan mereka tetap terjaga. Sebenarnya, dalam hati Rei, ia sangat takut akan sikap Runa yang tiba-tiba menjadi diam dan seakan menjauh darinya. Lelaki itu berkali-kali mencoba membaca pikiran Runa saat berada di dekatnya, namun sahabatnya itu seakan berusaha mengosongkan pikirannya saat berada di sekitar Rei. Seperti saat ini, meski mereka hanya dibatasi Yuuki yang berdiri di tengah antara dua orang canggung itu, Rei tetap saja tidak bisa membaca pikiran Runa.
Jangan mencoba membaca pikiranku, Runa!
Tiba-tiba, ucapan kasar Rei pada Runa terbesit di pikiran lelaki itu. Ia pun menghela napas berat. Sepertinya tidak akan menjadi baik jika dirinya terus saja berusaha memaksa mengetahui pikiran Runa. Rei pun berniat menyerah saat meneguk air dari Otowa. Ketiga sahabat itu pun kembali menuju gerbang Kiyomizudera.
“Mau coba berjalan ke batu buta atau peramal cinta?” Yuuki menatap lekat-lekat dua orang canggung di samping kanan dan kirinya. Sontak, langkah mereka terhenti. Dengan cepat Runa menggelengkan kepalanya. Ia pun bergegas mempercepat langkahnya meninggalkan kakak dan sahabatnya itu. Rei kini balas memandang Yuuki yang akhirnya mengangkat bahu.
“Ayolah, kalian tampak aneh!” Baru kali ini Rei mendengar saudara angkatnya itu mengeluh. Pria bercardigan biru langit itu pun tertawa pelan.
“Ha-ha, aku juga merasa begitu, Yuuki. Tapi, aku rasa jika waktunya sudah tiba, Runa akan kembali bersikap seperti dulu lagi. Kita hanya perlu menung—”
“Kau yang perlu sabar menunggu, ingat, dia tidak menjauhiku.” Yuuki pun mengejar langkah Runa setelah mengatakan hal itu sambal memukul pelan pucuk kepala Rei. Sang Sense pun melongo sesaat dan mengejar kakak beradik tersebut.
***
Shibuya, Tokyo, 2043
“Sebentar!” Sora bergegas menuju pintu apartemennya saat mendengar bel yang berdering beberapa saat lalu. Setelah mengetahui orang yang mengunjunginya dari intercom, mata wanita itu berbinar-binar. Ia segera membuka pintu lebar-lebar tanpa rasa curiga. Dirinya langsung memeluk Yura yang berdiri menyapa.
“Yura! Cintaku!” Mendapat perlakuan tersebut dari Sora, Yura terkekeh. Sudah lama sekali sejak ia bertemu muka dengan sang Penglihat itu saat di Korea. Meski mereka kembali bersua ketika Hans menyerang, dua orang wanita itu belum sempat mengobrol banyak.
Yura melepaskan sepatunya dan membuka cardigan marunnya. Perempuan berdarah Korea itu segera duduk di tempat yang dipersilahkan Sora. Matanya menatap ke sekeliling apartemen bernuansa minimalis itu. Yura tersenyum saat mengetahui bahwa sahabatnya itu memiliki selera tata ruang yang beda jauh dari penampilanya.
“Aku benar-benar senang kau mengunjungiku. Kau sudah berniat akan tinggal di Jepang? Atau kembali ke Korea?” Sora datang sambal membawa dua cangkir berisi ocha. Sang Penglihat itu pun duduk berseberangan dengan Yura dibatasi sebuah meja kayu pendek.
“Aku belum memutuskan. Aku masih mengkhawatirkan Hans. Melihatnya hari ini di sel membuatku sedikit goyah.” Setelah menyeruput tehnya, Yura memainkan gagang cangkir sambal matanya menerawang. Sora menghela napas berat. Menyadari sahabatnya tampak ikut terbebani, Yura segera mengangkat kepalanya.
“Ha-ha, aku tak bermaksud merusak ketenangan ini. Bukankah hal yang berharga adalah dapat hidup dengan damai dan tenang?” ucap Yura mencoba menenangkan Sora. Sahabatnya itu pun ikut tersenyum.
“Ya, aku harap tak ada lagi hal yang menyulitkan kita.” Sora tertawa senang setelah mengatakan hal itu. Tiba-tiba, suara televisi membuat mereka terdiam seketika.
“MK, Seorang narapidana di penjara Fuchu, Tokyo, ditemukan meninggal di dalam sel. Teman sekamar MK menyatakan bahwa MK tiba-tiba mengerang setelah makan siang dan langsung tak sadarkan diri, para sipir tengah mencari bukti terkait kematian korban – bla bla bla”