Sebaik-baiknya manusia pasti pernah memikirkan perbuatan jahat, dan menyalahkan bisikan setan.
.
.
.
Moskow, Rusia, 2034
Aroma obat nan pahit memenuhi ruangan, tercium pekat di antara wangi bunga lavender yang terhias di bingkai jendela. Rei masih memejamkan matanya. Kesadaran pria itu hilang sejak dua hari yang lalu, membuat mata-mata penuh rasa khawatir menatapnya sendu. Tak ada suara dalam ruang itu. Hening. Hanya suara desau angin dan kicau burung gereja yang terkadang terdengar dari luar.
Runa menangkupkan tangannya di pinggir ranjang Rei. Ia berharap dapat tertidur pulas sambil mengamati pria yang dicintainya. Umur mereka sekarang hampir menginjak dewasa. Mata-mata mereka kadang mengisyaratkan saling cinta, walau Runa harus mengalami kesedihan tiada tara setiap lima tahun berlalu.
Seperti dua hari yang lalu, pas lima tahun sejak terakhir Rei kehilangan ingatannya. Jadi kini, saat lelaki itu bangun nanti, ia akan kembali merasakan kekuatan yang dibencinya. Tentu tidak dibenci Runa, karena wanita itu amat sangat memahami kondisi lelaki itu.
Tak berapa lama, angin sepoi membelai wajah Runa yang masih memendamkan kepalanya di pangkuan tangan. Wanita itu menengadah. Mata indahnya memancarkan bias cahaya matahari yang mulai meninggi, lalu kulit tangan wanita itu merasakan gesekan kulit lain. Tangan Rei bergerak, menyentuh tangannya.
Runa terkesiap. Ia menahan tangis dan memeluk tangan pria yang baru saja tersadar itu. Tangan orang yang ia cintai, hangat bahkan saat ia memeluknya, tubuh wanita itu seakan merasakan kehangatan yang menjalar. Titik air mata mulai membasahi kelopak wanita yang hampir menginjak tujuh belas tahun itu.
Suara wanita itu terdengar parau saat nama lelaki di hadapannya terucap. Hanya satu kata. Rei-nama pria yang ia cintai, namun mampu membuatnya terisak. Sebuah tombol di bawah ranjang ditekan Runa atas permintaan Rei, membuat ranjang tempat lelaki itu berbaring sedikit lebih tegak. Mata Rei masih amat sayu, menatap datar sekelilingnya. Lagi-lagi ia terbangun di ruangan bernuansa putih ini. Dengan peluh yang membasahi sekujur tubunya, ia terbata. Runa yang masih terisak menggenggam tangan Rei erat. Tak ada suara yang bersaut di antara mereka.
"Rumah sakit?"
Gelengan kepala Runa menjawab pertanyaan pertama lelaki itu. Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, wanita itu membenarkan letak selimut Rei. Tangan halusnya menyeka keringat Rei yang bercucuran sejak ia terbangun tadi. Ada kehangatan di setiap sekaannya, namun lelaki itu hanya terdiam.
"Rumah induk?"
Lagi-lagi Runa menggeleng. Helaan napas berat keluar dari hidung Rei. Tak ada tempat lain yang terlintas di benaknya, atau lebih tepatnya dia tidak ingat.
Sesaat kemudian, raut wajah Rei berubah masam. Kerutan dahi dan peluh yang semakin banyak membuatnya meringis. Runa mulai gusar. Lelaki itu kembali merasakan kemampuan yang ia miliki. Tanpa aba-aba, genggaman Runa dilepasnya. Kedua tangan Rei kini menekan keras kedua sisi kepalanya. Runa gelagapan. Gadis itu melihat sekitar, lalu memejamkan mata. Bola mata Rei kini terbelalak, tangan kanannya dengan ringan dihempaskan ke wajah wanita di hadapannya. Rintihan kesakitan terdengar memekik dari mulut Runa. Gadis itu meraba pipinya yang tampak merah ruam. Rei masih menatap tajam pada Runa, menahan emosi akan hal yang entah apa.
"Jangan baca pikiranku! Jangan baca perasaanku! Kau pembohong!"
Dengan tangan yang masih menahan nyeri di pipi, Runa menatap sendu ke arah Rei. Ingatan lelaki itu telah kembali. Ada banyak informasi yang kini memenuhi pikirannya, Runa tahu itu. Sungguh, Runa mengerti apa yang tengah dialami pria di hadapannya. Kesedihan, kemarahan, kebencian, dan rasa kebingungan akan kemampuan besar yang memaksa indranya untuk bekerja lebih banyak dari orang lain. Runa kembali terisak.
"Rei, tenangkan dirimu. Aku ada di sini untuk melindungimu."
Geram, Rei menarik jarum infus yang erat dengan punggung tangannya. Runa menahan, tapi apalah daya seorang wanita melawan kekuatan seorang lelaki yang tengah emosi. Tak ada pilihan lain, selain menghentikan dengan paksa.
Angin sepoi kembali membelai halus wajah Runa. Kedua tangannya kini mendekap tubuh Rei. Erat. Hangat. Lalu tangisan amarah terdengar dari sela leher Runa.
"Kenapa kalian menuduhku membunuh ayah? Kenapa kalian melindungiku? Kenapa kalian membohongiku? Aku tidak pernah ingin menjadi manusia sempurna, aku tidak pernah ingin memiliki kemampuan sempurna ini, aku tidak pernah ingin dilahirkan seperti ini!"
Jeritan itu terdengar parau. Menyayat hati Runa yang kini diliputi rasa bersalah. Beberapa saat mereka berpelukan, kini diam menyelimuti mereka.
"Aku tidak pernah mau dan tidak butuh perlindunganmu, Haruna Hatsu."
Perkataan itu terdengar datar. Memecah sepi dan meninggalkan luka. Cinta itu buta, cinta itu derita, tapi Runa tetap bertahan di sana. Ia menyembunyikan tangisnya hingga tak ada lagi suara dari Rei.
Setahun lamanya gadis tujuh belas tahun itu hidup dalam penolakan kekasih hatinya. Lalu Rei kembali amnesia, kembali tersenyum pada Runa, kembali memercayainya. Sedang luka terus menganga di hati wanita itu. Luka akan cinta yang dibalas dengan amarah.

***
Shibuya, Tokyo, Jepang, 2042
Suara tepukan tangan bergema di ruangan berdesain zaman edo. Lelaki berambut acak-acakan menyunggingkan senyum. Tangisan seorag wanita menambah ricuh suara tepukan lelaki itu.
"Kisah cinta yang sedih sekali, Runa. Ah, Rei tidak pernah menginginkanmu di sisinya, jadi berdirilah di sampingku dan luapkan perasaan kecewa dan bencimu itu padanya, buat dia tersiksa, atau bagaimana kalau kau menghilangkan lelaki itu dari muka bumi, jadi kau tidak perlu merasakan perihnya luka lagi, hm~?"
Kepala Runa mengangguk pelan. Seketika ruanga berbau sake itu dipenuhi tawa dan tangis bersamaan. Wanita itu telah kalah. Ia telah berdiri di sisi setan. Mengiyakan bisikan moster pembunuh yang mengerikan.
Sora bergidik ngeri melihat situasi ini. Runa yang terduduk pasrah sambil menangis mulai menajamkan matanya, namun Sora tak melihat cahaya di nira coklat wanita itu. Kosong, bagai orang yang dihipnotis.
Sora memejamkan mata sesaat. Angin dari pendingin udara terasa lebih dingin merasuk ke tulang-tulangnya. Ia harus memikirkan jalan untuk menghentikan hal gila ini. Memang tidak mudah merubah seorang iblis menjadi malaikat, tapi itu adalah tekadnya, mimpinya. Sebuah kewajiban bagi Sora untuk merubah pria yang ia cintai, meski harus mengorbankan nyawa sekalipun.
Dengan perlahan, Sora melangkahkan kaki. Tangan kanannya menekan acak beberapa tombol di arloji hitam yang melingkar di tangan kiri. Naas, sebuah bisikan merasuk ke bawah alam sadarnya.
Panggilkan Singer dan Player untukku, kita akan mulai bersenang-senang.
Sontak tangan gadis itu berhenti, lalu kembali menekan acak arlojinya dengan nomor yang berbeda.

***
Hiro mengambil beberapa boneka binatang dari sebuah rak besar. Bocah itu melihat keempat boneka di tangannya; kucing, kelinci, burung hantu, dan anak anjing. Mulutnya komat-kamit sambil mengelus lembut boneka-boneka itu. Seketika keempat boneka itu berubah bentuk. Lebih besar. Semakin besar. Lalu masing-masing mulai bergerak. Nyata, boneka itu berubah jadi nyata.
Belum lama Hiro bermain, tabletnya bergetar. Bergegas ia mengambil earphone bluetooth di saku, lalu disematkannya di kedua telinga. Samar-samar terdengar suara, lalu semakin jelas. Mata Hiro kini berubah dingin dan bola matanya membesar.
"Kalian menemukan Sense?! Bagaimana dengan Yui?!"
Kucing di depan kaki Hiro menempel manja. Tangan kiri bocah itu mengambil dan menggendongnya. Suara-suara ricuh binatang lain pun terdengar iri.
"Benarkah?! Baik, aku ke sana."
Hiro mengembalikan earphone bluetooth nya ke dalam saku. Lalu siulan merdu terdengar dari mulut itu. Dengan sigap, Hiro berlari ke luar kamar sambil memeluk empat bonekanya yang telah kembali menjadi benda mati.