Part 19-- Benih Benci

1025 Words
Cinta berasal dari hal kecil yang menyentuh hati, begitu pula dengan benci. . . . Moskow, Rusia, 2029 Aku tak pernah melihatmu menangis Karena tak ingin Aku tak pernah mendengarmu marah Karena tak mau Aku tak pernah mencium bau anyir darah dari kulitmu Karena tak sudi Aku selalu, dan akan begitu Melindungimu Seumur hidupku Runa menyimpan penanya di bawah meja, dan pena itu menempel di sana dengan magnet di bawah meja itu. Gadis kecil itu menghela napas. Lega. Ia telah menyelesaikan satu bait perasaan hati yang tak pernah ia sampaikan. Tak akan pernah, entah jika suatu saat nanti ia bisa menyampaikannya. Puisi itu murni dari hati seorang gadis kecil sembilan tahun. Tertulis dengan jujur tanpa hal-hal terselubung. Gadis itu menatap ke luar jendela. Seperti biasa, musim dingin di Moskow amat ganas, membuat dirinya mendekam di dalam rumah seharian. Beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari luar kamar. Suara anak kecil berlari riang. Mereka tertawa, bercanda, dan entah apa lagi, yang jelas itu mampu membuat Runa tertarik dan beranjak dari meja belajarnya.  Gadis itu membuka pintu dengan terburu. Ia bahkan melupakan syal berwarna merah muda yang masih menggantung di kursi. Ia tertawa riang melihat anak-anak di luar kamar, lalu ia keluar berbaur dengan mereka. Lama mereka tampak berlarian di ruang utama rumah besar itu. Mengelilingi meja, kursi dan beberapa pajangan kerangka robot. Dua orang anak lelaki dan tiga orang anak perempuan–termasuk Runa di dalamnya– terus berlarian seakan tak akan pernah lelah. "Jaga!" Ucap seorang anak lelaki sambil menepuk pundak Runa. Gadis itu menggembungkan pipinya, kini ia tampak seperti kue mochi bulat. Bocah lelaki yang tadi menepuk Runa langsung berlari sekencang-kencangnya. Tak kalah kencang, anak yang lain pun berlarian memencar menjauhi Runa. Gadis itu gelagapan. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Siapa yang ia kejar duluan? Itulah yang terngiang di kepala gadis itu, sebelum mendengar suara pekikan yang keras. Semua anak yang bermain terdiam. Terpaku sesaat, lalu berlarian menuju sumber suara. Mereka ke luar rumah, tergesa menuju halaman yang tertutup salju putih. Dingin? Tentu. Tapi, anak-anak itu seakan tak menyadari hawa dingin yang merasuk ke tulang-tulang mereka. Di sana, di tengah halaman penuh salju itu, seorang anak lelaki tersungkur, di depannya ada juga anak lelaki yang tampak lebih tua, memandang nanar pada bocah yang tersungkur. "Kim Hansel! Kau b*****h gila!" Si bocah yang berdiri meneriaki bocah yang tersungkur – Hans panggilannya. Kelima bocah yang tadi keluar menatap mereka dengan ngeri. Mereka tahu ini bukan pertengkaran yang biasa. Beberapa saat kemudian, Hans tersenyum. Bukan senyum yang menyenangkan. Lalu dua orang anak lelaki dan satu orang anak perempuan dari mereka yang keluar rumah berlarian menuju bocah yang tadi meneriaki Hans. Mereka memukuli bocah itu dengan beringas, seakan anak itu mengambil permen-permen mereka. Runa dan satu orang bocah lelaki yang lain menyeret kaki mereka mundur. Berusaha tak ikut melakukan hal yang dilarang ayah asuh mereka. Nahas, mata mereka bertatapan dengan Hans dan melihat senyumnya. Lalu, tanpa disadari mereka sudah ikut memukuli si bocah yang meneriaki Hans sampai ia pingsan. Kini, hanya tawa Hans yang mengisi halaman putih penuh salju itu. "Ayah tak mau hal seperti tadi terulang lagi! Kalian mengerti, Hans, Hear, Rei, Sora, Runa, Yuuki, dan Ravell?! Ah, kau Ravell, kau yang paling tua di antara mereka, kenapa malah kau yang memulai pertengkaran?!" Dokter Harold menatap anak-anak di depannya geram. Ia berdiri sambil terus mengawasi setiap mata-mata anak asuhnya. Jarang sekali ia marah sampai seperti ini, dan itu amat ia sesali. Dia menghela napas berat dan membenarkan letak posisi kacamatanya. Bau hangus samar-samar tercium, mengingatkan Harold akan menu makan siang yang sedang ia masak. "Renungkan kesalahan kalian di kamar sampai jam makan siang, oke, anak-anak?" Semua mengangguk, kecuali tiga orang, anak yang dipanggil Hans, Ravell dan Rei. Mereka terdiam, lalu bersamaan membuka mulut. "Aku tidak merasa bersalah, ayah! Dia monster, si b*****h gila!" "Ravell, jaga omonganmu!" "Dia akan membunuhku jika aku tak membela diri, ayah! Uh, bukankah itu mengerikan?!" "Hans, hormati kakakmu!" "Jangan marahi mereka, ayah, ini semua salahku!" "Rei, kau–" "Wah, hebat, kau mengaku, benar Sense, ini semua salahmu, coba kalau kau tak ada~" "Hans! Anak-anak berhenti bertengkar, kembali ke kamar kalian dan renungkan kesalahan kalian atau kita hanya akan makan makanan yang sudah hangus!" Ocehan-ocehan mereka berhenti saat mendengar perintah terakhir Harold. Dengan langkah gontai mereka menuju kamar masing-masing. Sementara Harold segera bergegas menuju dapur, menyelamatkan makan siang mereka. "Boleh aku masuk?" Bersamaan dengan ketukan pintu, terdengar suara Rei dari luar pintu kamar Runa. Pemilik kamar itu masih menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas bantal berseprei pink. Isak tangis terdengar jelas memenuhi kamar. Tanpa menunggu jawaban dari gadis kecil itu, Rei masuk ke dalam kamar Runa dan mengambil syal merah muda yang tergantung di kursi. Perlahan, ia mengalungkan syal itu pada tengkuk leher Runa yang terlihat di antara lekukan bantal. "Kau keluar mengikuti kita tanpa syal, pasti dingin sekali, maafkan aku, Runa." Seketika Runa berbalik, terduduk di atas kasur dengan mata sembap yang menatap tajam bola mata Rei. Titik-titik bekas air mata masih terlihat di pipinya, dan masih menggenang di pelupuk mata. Ia menatap geram dengan bibir yang dikatupkan sekuat mungkin. Rei masih terdiam terpaku dengan mata khawatir melihat Runa. "Berhentilah meminta maaf, Rei!" "Tapi itu memang salahku, Runa. Jika ayah tidak membuat gen ini ada di tubuhku, kalian pasti akan hidup tenang. Jika aku bukan hasil riset yang berhasil pasti kalian akan senang. Jika aku tak terlahir, kalian pasti–" Beberapa butir air mata mulai membasahi pelupuk mata Rei, lalu terjatuh mengalir di pipinya yang dingin. Ia menahan tangis, membuat Runa semakin gusar. Tidak, gadis itu tak mau melihat Rei menangis. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus melindungi Rei, hingga tak ada air mata yang keluar dari pelupuknya. Gadis itu benci hal ini. Melihat air mata dan membaca rasa bersalah Rei membuatnya marah. Setelah berusaha semaksimal mungkin melindungi Rei dari apapun, sekarang bocah itu malah menangis di hadapannya. Lebih buruk lagi, harapan Runa agar Rei tak pernah menyalahkan dirinya kini pupus begitu saja. Ia merasa gagal. Ia benci ini. Amat sangat membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri. "Jangan menangis, Rei! Jangan menyalahkan dirimu! Kak Hans lah yang salah!" "Tidak, Runa, Kak Hans tidak salah apa-apa, wajar dia membenciku, wajar kalian membenciku, harusnya aku memang tak perlu terlahir ke dunia." "Rei Harold!!" Mata Runa semakin sembap, menahan mati-matian air matanya yang ingin meluap kembali. Ia marah pada banyak hal. Ia geram pada hatinya yang amat menyayangi bocah lelaki di hadapannya. Hati anak kecil itu kecewa saat Rei menangis, menyalahkan keberadaan dan kelahirannya yang malah disyukuri gadis kecil itu. Bagi Runa, Rei adalah pangeran yang terlahir untuknya, harta karunnya, kesayangannya, dan tangis dan ucapan Rei hari itu menjadi benih benci dalam hati Haruna. Benci akan sikap Rei yang tak menyadari perlindungan dari gadis kecil itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD