--Jangan pernah ragu mengatakan kebenaran, bisa jadi itu adalah jalan menuju kebaikan.
.
.
.
"Kau sudah gila, ya?!"
Yuuki menahan bahu Rei yang tengah berjalan ke arah mobil polisi di seberang jalan. Wajahnya merah padam, menahan amarah pada sahabat sekaligus saudara baginya itu. Rei menapis tangan Yuuki di bahunya lantas menatap pria itu jengah. Ia bosan, bosan dengan segala larangan Yuuki untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Gila? Aku? Lalu jika aku tidak tahu seberapa berbahayanya diriku apa itu waras? Bukankah orang yang tidak dapat mengenali dirinya sendiri termasuk orang gila, hah?"
Mata Yuuki menajam, ia menghela nafas, bingung hendak mengatakan apa pada pria di depannya yang ia anggap adiknya sendiri. Sementara tatapan Rei masih menuntut Yuuki untuk menyanggahnya. Beberapa detik ia menunggu, tapi tak ada jawaban. Ia membalikkan tubuhnya dan hendak kembali berjalan ke arah mobil polisi. Seketika, seseorang menggenggam tangan kanannya dengan lembut.
"Rei aku mohon, jangan pergi....,"
Mata Runa berkaca-kaca. Genangan air di ujung matanya ditahan semampunya agar tak terjatuh. Wanita itu amat tak ingin melihat pria di depannya melakukan hal gegabah.
"Aku mohon Rei, jangan sia-siakan perlindungan kami padamu selama ini, sebentar lagi, sebentar lagi sampai memorimu akan kembali dengan sendirinya."
Tangan kiri Rei memegang lengan Runa yang menggenggam tangan kanannya. Ia hendak melepas tangan wanita itu, menolak semua permintaannya.
"Rei, aku mohon...."
"Lepaskan, Runa, sampai kapan kau harus menyuruhku bertahan? Sebentar lagi itu kapan? Tidak ada memori yang akan kembali pada seseorang jika dia tidak mencoba mengingatnya sendiri."
"Tidak, kau berbeda Rei, kau memiliki kemampuan seperti kami. Karena itu kami berjanji pada ayahmu untuk melindungimu dari killer."
"Kalau begitu aku akan menemui orang itu sendiri, dan kalian, berhentilah memegang teguh janji itu."
"Bagaimana kalau yang melakukan ini semua bukan killer?"
Wajah Rei tampak bingung mendengar pertanyaan Runa. Ia tak mengerti itu dapat dibilang pertanyaan atau pernyataan. Dia menghela napas, mencoba mengatur pikirannya dan meneguhkan tekadnya. Kini ia benar-benar melepas tangan Runa yang menggenggamnya.
"Kalau itu bukan dia, maka aku akan mencari tahu siapa orangnya, paling tidak aku harus tahu mengapa dia menginginkanku."
Rei kembali membalikkan badannya dan melangkah ke seberang jalan.
"Tapi, Lei...."
Ucapan Runa terhenti saat Yuuki memegang bahunya. Ia menggelengkan kepalanya pada Runa, memberi isyarat untuk membiarkan Rei pergi. Ia menyerah untuk melarang Rei. Wajah Runa terlihat tak rela, tapi apa daya, ia juga tak tahu harus mengatakan apalagi untuk menahan Rei pergi. Kini mereka hanya mampu melihat Rei yang masuk ke dalam mobil polisi lalu mobil itu mulai melaju menjauhi area kampus.

***
Beberapa mobil melintas di jalan utama Prefektur Kyoto. Dua mobil polisi berada di depan sebuah mobil dinas SUV di belakangnya, di mobil SUV itulah Rei berada. Ia duduk di kursi belakang ditemani dengan seorang polisi berjas hitam, sementara kursi pengemudi diisi seorang polisi berseragam. Sedangkan, di kursi depan diisi oleh pria berjas hitam rapi yang tengah membolak-balik buku catatan kasus kriminal; tepatnya ia melihat catatan kasus pembunuhan yang baru saja terjadi.
"Hm, jadi Tuan Harold, apa menurutmu ini sama seperti kasus pembunuhan berantai yang sedang marak akhir-akhir ini?"
Pria berjas hitam rapi melihat Rei melewati kaca spion depan. Rei mengalihkan pandangannya dari arah luar jendela lalu menatap balik pria itu. Ia terdiam sesaat. Ada beberapa hal yang ia ragukan, terutama sebagai saksi, tentu dia harus menjelaskan semua yang ia tahu.
"Bisakah kita membahasnya di kantor polisi saja?"
Pria itu terdiam, sejenak ia menghela nafas, bibirnya dikuncupkan dan pandangannya kembali ke depan. Tanpa mengatakan apapun pada Rei, sikapnya cukup menandakan persetujuan.
Setelah satu jam perjalanan, mobil itu kini tengah berada di parkiran kantor polisi pusat Prefektur Kyoto. Rei keluar dari mobil itu disertai dengan beberapa polisi yang menunjukkan jalan ke dalam kantor. Ia melihat langit sekilas. Tampak mendung, sepertinya akan turun hujan. Ia mulai melangkah sambil kembali meneguhkan hati dan pikirannya.
"Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku di mobil tadi, Tuan Rei Harold?"
Pria berjas hitam duduk di kursi yang berseberangan dengan Rei, dibatasi dengan meja kayu khusus untuk penyelidikan. Ya, sekarang mereka tengah berada di ruang penyelidikan.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bukannya lebih baik memperkenalkan dirimu dulu."
Pria berjas hitam itu menaikkan sebelah alisnya. Sontak ia sedikit tertawa, memamerkan gigi-giginya yang putih rapi.
"Maafkan aku. Aku detektif Mizukawa Ishirou yang bertugas di divisi satu bagian pembunuhan dan penculikan. Karena kasus kali ini mirip dengan kasus pembunuhan berantai yang tengah kuselidiki, aku jadi terlalu semangat sampai tidak memperkenalkan diri."
Rei hanya terdiam mendengarkan perkenalan dari detektif Ishirou. Di dalam pikirannya masih berkutat pikiran-pikiran tentang keraguan untuk mencari tahu jati dirinya.
"Kalau begitu, apa kita bisa mulai penyelidikannya, Tuan Harold?"
Setelah Rei mengangguk, penyelidikan dimulai. Detektif Ishirou membuka buku catatannya. Ia menanyakan beberapa pertanyaan biasa seperti keadaan saksi saat kasus terjadi, alibi saksi, dan kedekatan saksi pada korban.
"Hm, ternyata anda tidak begitu mengenal korban, lalu kenapa anda mengatakan jika anda mengenalnya bahkan mengetahui siapa pembunuhnya?"
"Saat di mobil tadi, anda bertanya padaku apakah pelakunya sama dengan pelaku pembunuhan berantai yang tengah anda selidiki, kan? Ya, pelakunya sama. Aku yakin itu, dan motif pembunuhannya juga sama, yaitu memancingku untuk mencarinya."
Ishirou mengernyit. Ia mencoba mencerna perkataan Rei, tapi ia tidak menemukan titik terang di sana.
"Maksud anda? Sebentar, jadi maksudnya pelaku sebenarnya mengincar anda? Atau menginginkan andalah yang datang mencarinya, begitu?"
Rei kembali mengangguk yakin. Kini segala keraguan di hatinya telah ia hapuskan. Ia tengah bertekad ikut campur dengan penyelidikan polisi untuk menemukan 'orang itu', orang yang menginginkan dirinya.
"Jika benar pelaku menginginkan anda, lalu buat apa semua pembunuhan yang dilakukannya? Terlebih lagi semua kasus pembunuhan berantai ini memiliki kondisi kematian korban yang aneh. Jadi apa anda juga tahu bagaimana pelaku melakukan aksinya?"
Rei kembali terdiam. Isi kepalanya tengah menyusun kata-kata untuk menjaskan semua yang ia ketahui, tanpa membuat pria di depannya mencurigai dirinya.
"Sudah kubilang dia memancingku untuk mencarinya. Maksudku, orang yang mencariku ini tidak mengenalku, dia tidak tahu bagaimana wajahku."
Tatapan Ishirou semakin penuh rasa heran. Tak mengerti arah pembicaraan Rei.
"Lalu? Kenapa dia menginginkan anda? Apa ada sesuatu yang spesial dalam diri anda dan pelaku membutuhkan itu untuk melakukan suatu rencana?"
"Begini, yang aku tahu, dari apa yang dikatakan oleh saudaraku, bahwa aku diincar seseorang, panggilannya adalah killer. Dia bisa membunuh siapa pun, di manapun, kapan pun, dan dia bisa membunuh apapun. Hanya itu yang kutahu. Tentang alasan kenapa dia mencariku, aku juga tidak mengerti."
"Saya benar-benar tidak mengerti maksud anda. Anda tidak tahu kenapa pelaku menginginkan anda, tapi anda percaya bahwa pelaku pembunuhan berantai ini sama dengan orang yang mengincar anda?"
Rei mengangguk pasti. Melihat responnya, pikiran Ishirou semakin dipenuhi tanda tanya.
"Sebenarnya anda siapa? Dan apa hubungan anda dengan pelaku?"
Rei tertegun. Tatapannya langsung terpaku ke bawah, menatap lantai marmer yang terlihat dingin.
"Entah. Aku menderita amnesia sejak lima bulan lalu, jadi aku pun tidak tahu siapa diriku sendiri."